เข้าสู่ระบบ"Saya rasa, satu proyek drama saja tidak cukup untuk menandai kamu di industri ini, Lucia," ujar Alexander Valerius sembari menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran CEO.
Suasana di ruangan itu kini jauh lebih tenang setelah ketegangan di awal pertemuan mencair. Alexander menarik sebuah map perak dari laci mejanya dan mendorongnya perlahan ke hadapan Lucia. "Sebelum syuting The Criminal Family dimulai, saya ingin publik mengenal wajah kamu lewat karya yang lebih arJudul drama romansa melankolis modern bernuansa dewasa yang menjadi proyek comeback akting mereka kali ini adalah "The Last Palette for Clarissa". Berbeda jauh dari proyek-proyek ketat bertema aksi atau ketegangan psikologis yang biasa mereka ambil, drama ini menyuguhkan potongan cerita kehidupan nyata (slice of life) yang mendalam, dewasa, namun dibalut dengan atmosfer yang tenang dan hangat.Antusiasme publik meledak luar biasa sejak poster perdana dirilis. Pasalnya, penonton sudah sangat merindukan kombinasi romantis mereka setelah interaksi manis yang viral di variety show memasak beberapa waktu lalu. Meskipun Lucia sempat membawa pulang penghargaan Pasangan Terbaik bersama aktor Victor lewat film The Criminal Family, kembalinya duet Arthen dan Lucia dalam satu bingkai tetap menjadi momen yang paling dinantikan di industri hiburan.Hari ini adalah syuting perdana mereka. Sesuai dengan arahan sutradara, paruh awal syuting akan dibuka deng
Perjalanan menuju lokasi syuting terasa seperti siksaan tanpa akhir bagi Hana. Biasanya, atmosfer di dalam mobil eksekutif ini selalu dipenuhi oleh aura merah muda yang memuakkan dari interaksi manis antara Arthen dan Lucia. Namun pagi ini, ketegangan yang pekat membuat Hana bahkan takut untuk bernapas terlalu keras.Dari kaca spion tengah, Hana bisa melihat Lucia terus menatap keluar jendela kiri dengan tangan bersedekap dada, sementara Arthen melakukan hal yang sama di sisi kanan. Jarak di antara mereka di kursi belakang terasa seperti bentang samudra yang membeku.Begitu mobil berhenti sempurna di area parkir khusus VIP studio, Lucia langsung membuka pintu sendiri tanpa menunggu supir, lalu melangkah keluar dengan hentakan kaki yang anggun namun sarat akan emosi."Kak Lucia, tunggu!" cicit Hana panik, bergegas keluar dari kursi depan sambil menyambar tas perlengkapan dan tabletnya. Ia sempat membungkuk sekilas ke arah
Dinginnya udara kota Avantia seolah tidak mampu menembus kehangatan yang melingkupi apartemen mewah milik Arthen. Di ruang tengah yang luas, Lucia duduk bersila di atas sofa, memangku naskah dramanya yang sudah penuh dengan coretan stabilo.Di seberangnya, Arthen duduk santai dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, menampilkan kesan kasual namun tetap memikat."Arthen, bagian dialog yang ini terasa aneh," keluh Lucia, mengetuk naskahnya dengan ujung pulpen. "Kenapa karaktermu harus mengucapkan kalimat sekaku ini saat menyatakan cinta? 'Aku mengizinkanmu berada di sisiku.' Benar-benar tipikal Alpha yang menyebalkan."Arthen menurunkan tabletnya, menatap Lucia dengan binar jenaka. "Itu namanya otoritas, Lucia. Dan lagipula, bukankah kalimat itu terdengar sangat seksi jika diucapkan dengan nada yang tepat?""Seksi dari mananya? Yang ada aku malah ingin melemparmu dengan sepatu
"Kita benar-benar harus kembali sekarang?" Lucia bertanya pelan, jemarinya masih enggan melepaskan ujung jas Arthen saat mereka berdiri di dekat dinding kaca restoran.Arthen tidak langsung menjawab. Ia melirik jam tangan yang melingkar elegan di pergelangan tangan, lalu kembali menatap Lucia. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang selalu sukses membuat wanitanya terpesona."Kalau menuruti egoku, aku ingin menutup restoran ini sampai besok pagi, Lucia," bisik Arthen hangat, merapikan anak rambut Lucia yang sedikit berantakan dengan gerakan yang begitu lembut. "Tapi Rey pasti sudah menyusun ulang jadwal pertemuan darurat dengan investor pasca-makan siang ini. Aku harus kembali menjadi bos yang kejam sebentar."Lucia terkekeh, hatinya berdesir manis. "Baiklah, kalau begitu. Aku juga harus memeriksa beberapa lembar revisi skrip untuk adegan besok pagi bersama Hana."Sebelum mereka melangka
Pintu lift berdenting terbuka begitu mereka tiba di lantai basemen khusus eksekutif. Langkah Lucia masih sedikit tergesa-gesa, berusaha menghindari tatapan Hana yang sedari tadi terus menyunggingkan senyum penuh arti. Namun, begitu mereka sampai di depan mobil sedan hitam mewah milik Arthen, langkah Lucia tertahan.Supir pribadi Arthen sudah berdiri siap membukakan pintu, sementara Manajer Rey tampak berdiri di samping mobil dengan map dokumen tebal di tangannya. Ekspresi wajah manajer bertangan dingin itu, seperti biasa, tampak sangat serius, kaku, dan memancarkan aura kelelahan yang luar biasa akibat beban kerja yang melampaui batas normal manusia.Sebagai manajer utama yang tidak hanya mengurus jadwal padat Arthen sebagai aktor dan petinggi, tetapi kini juga harus membimbing Hana, Rey sering kali merasa seperti menanggung beban satu agensi sendirian. Terutama ketika bos sekaligus aktor utamanya itu mendadak memotong rapat investor demi ur
Langkah kaki Lucia dan Hana bergema pelan di koridor sunyi lantai tiga gedung V-ACE. Begitu Hana mendorong pintu menuju ruang VIP, atmosfer ruangan yang hangat dan berkelas langsung menyambut mereka. Di atas meja marmer hitam, beberapa kotak beludru gelap berlogo desainer perhiasan legendaris Avantia sudah tertata rapi.Seorang wanita paruh baya dengan sarung tangan sutra putih segera berdiri dan membungkuk hormat. "Selamat siang, Nona Lucia. Saya Evelyn, perwakilan yang diutus langsung oleh Nyonya Victoria Valerius untuk membantu Anda memilih dan mengukur lingkar cincin pertunangan.""Selamat siang, Madam Evelyn. Maaf membuat Anda menunggu lama," jawab Lucia ramah, mendudukkan diri di sofa beludru yang nyaman.Hana yang duduk di samping Lucia langsung menahan napas begitu Evelyn membuka salah satu kotak beludru terbesar. Di dalamnya, sebuah cincin platinum dengan mata berlian berpotongan emerald memancarkan kilau yang b
Udara di area parkir terasa membeku secara mendadak. Lucia masih terpaku di balik mobil boks, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging menyakitkan. Kalimat Arthen di telepon tadi terus menggema di kepalanya. Wanitaku... meninggalkannya... penguntit...Arthen mem
Pagi yang tenang di sebuah halte bus yang dikelilingi pepohonan hijau. Kamera menyorot sosok wanita dewasa dengan rambut hitam lurus yang tergerai indah, tertiup angin sepoi-sepoi. Ia adalah Elena, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang sedikit tersingkap, menatap kosong ke arah jalana
Malam itu, Lucia baru saja melepaskan gaun biru mudanya dan menggantinya dengan kaus kebesaran yang nyaman serta celana pendek. Ia baru saja selesai membersihkan wajah, namun bayangan pembacaan naskah tadi siang masih menari-nari di kepalanya. Tatapan Victor yang tajam, tepuk tangan Sut
Di dalam van hitam yang merayap pelan menembus kerumunan, Lucia duduk dengan jemari yang saling bertaut erat. Sesekali ia membuang napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sejak semalam tidak bisa diajak kompromi. "Jujur saja, Hana... semalaman aku sulit sekali tidur







