Share

7. Agensi V-ACE

Author: Fadiyah NK
last update publish date: 2026-02-16 10:00:06

Sekarang Lucia dibawa Hana ke agensi V-ACE. Itu karena Arthen sempat mengiriminya pesan agar Lucia datang ke sana segera setelah proses audisi selesai. Ada pembicaraan penting yang akan Arthen bahas dengannya bersama sang CEO, yang tak lain adalah ayah kandung Arthen sendiri.

"Kak Lucia, ada yang ingin saya tanyakan. Kakak juga boleh menolak menjawabnya. Karena pertanyaannya mungkin agak sensitif dan cukup pribadi." Hana melirik Lucia dari spion tengah. Saat ini Hana sedang menyetir mobil fasilitas khusus asisten yang diberikan langsung oleh Alexander Valerius sebagai fasilitas penunjang bagi aktris baru mereka.

Lucia mengalihkan matanya dari naskah The Criminal Family yang dipegangnya. "Hm, apa itu?"

"Aktris yang tadi menyapa Kakak dengan sikap yang kurang sopan... dia itu aktris Navy yang namanya cukup terkenal baru-baru ini, kan?" tanya Hana hati-hati.

Lucia mengangguk mengiyakannya. "Mau bertanya tentang hubungan kami?" tebak Lucia. Ia langsung tahu karena ia sudah merasa Hana pasti akan penasaran setelah melihat ketegangan di lokasi casting.

Hana tersenyum canggung. "Kalau Kakak tidak keberatan. Tapi kalau Kakak merasa terganggu lebih baik Kakak tidak usah cerita."

"Hana, apa saya bisa mempercayaimu?" ujar Lucia dengan senyuman manisnya, meski sebenarnya rasa percaya itu masih sulit ia berikan.

"Kak... apa saya perlu membuktikan agar saya bisa dipercaya? Kakak bisa memberikan pekerjaan berat, menyuruh saya apa pun sampai Kakak bisa percaya dengan saya. Atau, Kakak tanyakan saja mengenai apa pun kepada saya, soal pribadi pun akan saya sanggupi untuk menjawabnya, sekalipun itu mengenai status saya saat ini," Hana memelankan suaranya ketika di akhir kata, tampak tidak nyaman saat menyebut kata 'status'.

Lucia menyadari hal itu. "Apa yang membuatmu tertarik melamar pekerjaan sebagai asisten seorang artis di agensi V-ACE? Walau tentu bagian dari alasanmu saya yakin karena jaminan pekerjaan di agensi V-ACE lebih bagus dari agensi lainnya."

"Itu salah satu impian saya. Saya ingin bekerja di industri hiburan sekalipun itu sebagai asisten seorang artis. Lalu yang seperti Kakak bilang jaminan kerjanya membuat saya tertarik dan pasti yang utama soal gajinya yang besar. Namun ada satu lagi alasan saya bekerja di agensi V-ACE, sebenarnya... ah... saya ingin menghindari perjodohan," tutur Hana menjelaskan panjang lebar. Ia meringis saat mengatakan bagian terakhir.

Lucia mengangguk. Ia tak berharap Hana akan sejujur itu. Lucia pun lantas berkata, "Saya dan Navy berteman, tidak... bahkan lebih dari itu, kami sudah bersahabat sejak lama dan saya sendiri sudah menganggapnya seperti saudara. Tapi... dia menusuk saya dari belakang. Saya memergokinya sendiri di apartemen dia berselingkuh dengan kekasih saya. Dan seperti yang kamu lihat sendiri, bagaimana dia bertingkah sekarang. Tanpa rasa bersalah, tanpa rasa malu, dia bahkan berani menghinaku setelah semua itu. Tapi tidak apa, karena dengan begitu saya sadar bagaimana sifatnya sesungguhnya."

"Jahat sekali! Bisa-bisanya seorang sahabat seperti itu kepada sahabatnya sendiri." Hana sampai memukul setir mobilnya melampiaskan rasa kesal. "Kak, jika dia mengganggu Kakak, Kakak tinggal bilang saja ke saya, akan saya pastikan untuk membalas perbuatannya."

Lucia hanya tersenyum meladeninya. Meskipun Hana mengatakan itu, tetap saja rasa percaya masih sulit ia berikan. Karena Navy dulu pun selalu bersikap manis padanya, membuatnya merasa seolah Navy adalah pendengar terbaik, namun akhirnya berakhir seperti ini.

Tak lama kemudian Lucia sampai di agensi V-ACE. Bangunan agensi itu sangat tinggi, besar, dan modern, membuat Lucia terpana melihatnya. Penjagaannya sangat ketat. Setiap karyawan wajib memiliki tanda pengenal agar bisa masuk, sementara artis memiliki jalur khusus.

Sebagai artis baru yang baru direkrut, Lucia mengikuti arahan Hana melewati lobi utama yang sangat luas.

"Walaupun saya sudah sempat masuk ke dalam, gedung V-ACE masih membuat saya takjub. Masuk ke dalam sini, semangat kerja saya pun langsung bangkit," ujar Hana, berjalan beriringan dengan Lucia.

Setelah melapor di resepsionis yang sangat ramah, kontras dengan pengalaman Lucia di agensi lamanya, mereka diarahkan ke lift khusus menuju ruangan CEO di lantai teratas.

Ting!

Pintu lift terbuka. Di dalam ruangan luas yang menghadap panorama kota, Arthen tampak sedang duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang tampil sangat berwibawa dengan kemeja putihnya yang digulung sampai sebatas lengan. Pria itu tampak fokus memainkan catur dengan Arthen.

"Sepertinya tamu kita sudah datang. Permainan kita harus diakhiri." Pria itu menegakkan duduknya dan menyuruh Arthen menyusun kembali caturnya.

Arthen tidak langsung menurut. Ia justru menggerakkan bidak terakhirnya dengan tegas, mengunci pergerakan lawan. "Permainan selesai saat skakmat, bukan saat tamu datang, Tuan Alexander," sahut Arthen dengan nada dominan yang sama kuatnya dengan sang ayah.

Pria itu terkekeh pelan, mengakui kecerdikan putranya sebelum menatap Lucia. "Duduklah kalian berdua," ujar pria itu dengan suara berat yang tenang. "Nama saya Alexander Valerius, CEO agensi ini."

Alexander meletakkan sebuah map hitam di meja. "Lucia, langsung saja. Masalah Anda dengan agensi lama sudah saya selesaikan secara hukum. Mereka telah menandatangani pemutusan kontrak sepihak dan menyadari kesalahan mereka. Dan ini, adalah hak kamu."

Alexander menyodorkan sebuah cek pembayaran. Lucia tertegun melihat angka yang tertera—itu adalah bonus dan kompensasi kontrak yang seharusnya ia dapatkan sejak lama. Tangan Lucia sedikit bergetar saat menerimanya.

"Fokuslah pada karier kamu mulai sekarang. Masalah apa pun di luar akting, biarkan pihak agensi yang menangani. V-ACE tidak merekrut orang untuk dibiarkan kesulitan sendiri," ucap Alexander tegas. "Saya setuju menerima kamu karena putra pembangkang saya ini sangat yakin dengan kemampuanmu. Maka, tunjukkan kualitas yang kamu miliki."

Alexander memaparkan berbagai fasilitas agensi. "Mulai besok, lakukan perawatan diri. Kami sudah menyediakan salon, tempat gym, dan berbagai fasilitas lainnya. Jika secara psikologis kamu merasa terganggu karena tekanan masa lalu, kamu tinggal konsul ke dokter psikiater yang ada di agensi kami. Saya ingin artis saya dalam kondisi prima."

Lucia mengangguk mantap, merasa sangat dihargai. Namun, suasana mendadak berubah ketika Alexander menyandarkan punggungnya dan menatap Lucia dengan sorot mata dingin yang mengintimidasi.

"Satu hal lagi yang harus saya pastikan, Lucia. Mengenai David, aktor pria dari agensi rival kita itu. Apakah kamu masih mengikat hubungan dengannya?"

Seketika ruangan itu menjadi sunyi. Hana tampak merasa tertekan dengan pertanyaan itu, sementara Arthen menoleh sepenuhnya ke arah Lucia, menunggu jawaban dengan tatapan tajam.

Lucia menarik napas dalam, mengangkat wajahnya, dan menatap lurus ke mata Alexander Valerius tanpa ragu sedikit pun.

"David?" Lucia mengucapkannya dengan nada datar yang dingin. "Bagi saya, dia hanyalah bagian dari masa lalu yang sudah saya buang jauh-jauh. Tidak ada hubungan, tidak ada perasaan, dan tidak akan pernah ada kerja sama pribadi dalam bentuk apa pun. Fokus saya saat ini adalah karier saya di V-ACE. Saya tidak akan membiarkan masa lalu menghancurkan kesempatan yang telah Tuan berikan."

Mendengar jawaban yang begitu lugas, Alexander Valerius terdiam sesaat sebelum akhirnya mengulas senyuman ramah. "Jawaban yang sangat memuaskan. Saya menyukai orang yang tahu cara meninggalkan beban masa lalunya."

Arthen pun ikut tersenyum tipis, tampak puas dengan ketegasan Lucia. Ia menyandarkan tubuhnya dengan gaya dominan seolah berkata 'sudah kubilang dia berbeda'.

Hana dan Lucia secara refleks mengembuskan napas panjang secara bersamaan.

“Syukurlah...” batin mereka berdua lega. Ketegangan itu akhirnya mencair, menandai awal baru Lucia di bawah perlindungan agensi V-ACE.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   112. The Last Palette for Clarissa

    Judul drama romansa melankolis modern bernuansa dewasa yang menjadi proyek comeback akting mereka kali ini adalah "The Last Palette for Clarissa". Berbeda jauh dari proyek-proyek ketat bertema aksi atau ketegangan psikologis yang biasa mereka ambil, drama ini menyuguhkan potongan cerita kehidupan nyata (slice of life) yang mendalam, dewasa, namun dibalut dengan atmosfer yang tenang dan hangat.Antusiasme publik meledak luar biasa sejak poster perdana dirilis. Pasalnya, penonton sudah sangat merindukan kombinasi romantis mereka setelah interaksi manis yang viral di variety show memasak beberapa waktu lalu. Meskipun Lucia sempat membawa pulang penghargaan Pasangan Terbaik bersama aktor Victor lewat film The Criminal Family, kembalinya duet Arthen dan Lucia dalam satu bingkai tetap menjadi momen yang paling dinantikan di industri hiburan.Hari ini adalah syuting perdana mereka. Sesuai dengan arahan sutradara, paruh awal syuting akan dibuka deng

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   111. Profesionalisme di Balik Layar

    Perjalanan menuju lokasi syuting terasa seperti siksaan tanpa akhir bagi Hana. Biasanya, atmosfer di dalam mobil eksekutif ini selalu dipenuhi oleh aura merah muda yang memuakkan dari interaksi manis antara Arthen dan Lucia. Namun pagi ini, ketegangan yang pekat membuat Hana bahkan takut untuk bernapas terlalu keras.Dari kaca spion tengah, Hana bisa melihat Lucia terus menatap keluar jendela kiri dengan tangan bersedekap dada, sementara Arthen melakukan hal yang sama di sisi kanan. Jarak di antara mereka di kursi belakang terasa seperti bentang samudra yang membeku.Begitu mobil berhenti sempurna di area parkir khusus VIP studio, Lucia langsung membuka pintu sendiri tanpa menunggu supir, lalu melangkah keluar dengan hentakan kaki yang anggun namun sarat akan emosi."Kak Lucia, tunggu!" cicit Hana panik, bergegas keluar dari kursi depan sambil menyambar tas perlengkapan dan tabletnya. Ia sempat membungkuk sekilas ke arah

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   110. Kekacauan Pagi Hari

    Dinginnya udara kota Avantia seolah tidak mampu menembus kehangatan yang melingkupi apartemen mewah milik Arthen. Di ruang tengah yang luas, Lucia duduk bersila di atas sofa, memangku naskah dramanya yang sudah penuh dengan coretan stabilo.Di seberangnya, Arthen duduk santai dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, menampilkan kesan kasual namun tetap memikat."Arthen, bagian dialog yang ini terasa aneh," keluh Lucia, mengetuk naskahnya dengan ujung pulpen. "Kenapa karaktermu harus mengucapkan kalimat sekaku ini saat menyatakan cinta? 'Aku mengizinkanmu berada di sisiku.' Benar-benar tipikal Alpha yang menyebalkan."Arthen menurunkan tabletnya, menatap Lucia dengan binar jenaka. "Itu namanya otoritas, Lucia. Dan lagipula, bukankah kalimat itu terdengar sangat seksi jika diucapkan dengan nada yang tepat?""Seksi dari mananya? Yang ada aku malah ingin melemparmu dengan sepatu

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   108. Nanti Malam, Bersiaplah

    "Kita benar-benar harus kembali sekarang?" Lucia bertanya pelan, jemarinya masih enggan melepaskan ujung jas Arthen saat mereka berdiri di dekat dinding kaca restoran.Arthen tidak langsung menjawab. Ia melirik jam tangan yang melingkar elegan di pergelangan tangan, lalu kembali menatap Lucia. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang selalu sukses membuat wanitanya terpesona."Kalau menuruti egoku, aku ingin menutup restoran ini sampai besok pagi, Lucia," bisik Arthen hangat, merapikan anak rambut Lucia yang sedikit berantakan dengan gerakan yang begitu lembut. "Tapi Rey pasti sudah menyusun ulang jadwal pertemuan darurat dengan investor pasca-makan siang ini. Aku harus kembali menjadi bos yang kejam sebentar."Lucia terkekeh, hatinya berdesir manis. "Baiklah, kalau begitu. Aku juga harus memeriksa beberapa lembar revisi skrip untuk adegan besok pagi bersama Hana."Sebelum mereka melangka

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   107. Sisi Lain sang Alpha

    Pintu lift berdenting terbuka begitu mereka tiba di lantai basemen khusus eksekutif. Langkah Lucia masih sedikit tergesa-gesa, berusaha menghindari tatapan Hana yang sedari tadi terus menyunggingkan senyum penuh arti. Namun, begitu mereka sampai di depan mobil sedan hitam mewah milik Arthen, langkah Lucia tertahan.Supir pribadi Arthen sudah berdiri siap membukakan pintu, sementara Manajer Rey tampak berdiri di samping mobil dengan map dokumen tebal di tangannya. Ekspresi wajah manajer bertangan dingin itu, seperti biasa, tampak sangat serius, kaku, dan memancarkan aura kelelahan yang luar biasa akibat beban kerja yang melampaui batas normal manusia.Sebagai manajer utama yang tidak hanya mengurus jadwal padat Arthen sebagai aktor dan petinggi, tetapi kini juga harus membimbing Hana, Rey sering kali merasa seperti menanggung beban satu agensi sendirian. Terutama ketika bos sekaligus aktor utamanya itu mendadak memotong rapat investor demi ur

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   106. Kedatangan Tak Terduga

    Langkah kaki Lucia dan Hana bergema pelan di koridor sunyi lantai tiga gedung V-ACE. Begitu Hana mendorong pintu menuju ruang VIP, atmosfer ruangan yang hangat dan berkelas langsung menyambut mereka. Di atas meja marmer hitam, beberapa kotak beludru gelap berlogo desainer perhiasan legendaris Avantia sudah tertata rapi.Seorang wanita paruh baya dengan sarung tangan sutra putih segera berdiri dan membungkuk hormat. "Selamat siang, Nona Lucia. Saya Evelyn, perwakilan yang diutus langsung oleh Nyonya Victoria Valerius untuk membantu Anda memilih dan mengukur lingkar cincin pertunangan.""Selamat siang, Madam Evelyn. Maaf membuat Anda menunggu lama," jawab Lucia ramah, mendudukkan diri di sofa beludru yang nyaman.Hana yang duduk di samping Lucia langsung menahan napas begitu Evelyn membuka salah satu kotak beludru terbesar. Di dalamnya, sebuah cincin platinum dengan mata berlian berpotongan emerald memancarkan kilau yang b

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   20

    Udara di area parkir terasa membeku secara mendadak. Lucia masih terpaku di balik mobil boks, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging menyakitkan. Kalimat Arthen di telepon tadi terus menggema di kepalanya. Wanitaku... meninggalkannya... penguntit...Arthen mem

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Bersinar setelah Diselingkuhi   15. Elena SMA

    Pagi yang tenang di sebuah halte bus yang dikelilingi pepohonan hijau. Kamera menyorot sosok wanita dewasa dengan rambut hitam lurus yang tergerai indah, tertiup angin sepoi-sepoi. Ia adalah Elena, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang sedikit tersingkap, menatap kosong ke arah jalana

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Bersinar setelah Diselingkuhi   14. Kelinci dan Serigala

    Malam itu, Lucia baru saja melepaskan gaun biru mudanya dan menggantinya dengan kaus kebesaran yang nyaman serta celana pendek. Ia baru saja selesai membersihkan wajah, namun bayangan pembacaan naskah tadi siang masih menari-nari di kepalanya. Tatapan Victor yang tajam, tepuk tangan Sut

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Bersinar setelah Diselingkuhi   9. Dialah Aktrisku

    Di dalam van hitam yang merayap pelan menembus kerumunan, Lucia duduk dengan jemari yang saling bertaut erat. Sesekali ia membuang napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sejak semalam tidak bisa diajak kompromi. "Jujur saja, Hana... semalaman aku sulit sekali tidur

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status