เข้าสู่ระบบSekarang Lucia dibawa Hana ke agensi V-ACE. Itu karena Arthen sempat mengiriminya pesan agar Lucia datang ke sana segera setelah proses audisi selesai. Ada pembicaraan penting yang akan Arthen bahas dengannya bersama sang CEO, yang tak lain adalah ayah kandung Arthen sendiri.
"Kak Lucia, ada yang ingin saya tanyakan. Kakak juga boleh menolak menjawabnya. Karena pertanyaannya mungkin agak sensitif dan cukup pribadi." Hana melirik Lucia dari spion tengah. Saat ini Hana sedang menyetir mobil fasilitas khusus asisten yang diberikan langsung oleh Alexander Valerius sebagai fasilitas penunjang bagi aktris baru mereka. Lucia mengalihkan matanya dari naskah The Criminal Family yang dipegangnya. "Hm, apa itu?" "Aktris yang tadi menyapa Kakak dengan sikap yang kurang sopan... dia itu aktris Navy yang namanya cukup terkenal baru-baru ini, kan?" tanya Hana hati-hati. Lucia mengangguk mengiyakannya. "Mau bertanya tentang hubungan kami?" tebak Lucia. Ia langsung tahu karena ia sudah merasa Hana pasti akan penasaran setelah melihat ketegangan di lokasi casting. Hana tersenyum canggung. "Kalau Kakak tidak keberatan. Tapi kalau Kakak merasa terganggu lebih baik Kakak tidak usah cerita." "Hana, apa saya bisa mempercayaimu?" ujar Lucia dengan senyuman manisnya, meski sebenarnya rasa percaya itu masih sulit ia berikan. "Kak... apa saya perlu membuktikan agar saya bisa dipercaya? Kakak bisa memberikan pekerjaan berat, menyuruh saya apa pun sampai Kakak bisa percaya dengan saya. Atau, Kakak tanyakan saja mengenai apa pun kepada saya, soal pribadi pun akan saya sanggupi untuk menjawabnya, sekalipun itu mengenai status saya saat ini," Hana memelankan suaranya ketika di akhir kata, tampak tidak nyaman saat menyebut kata 'status'. Lucia menyadari hal itu. "Apa yang membuatmu tertarik melamar pekerjaan sebagai asisten seorang artis di agensi V-ACE? Walau tentu bagian dari alasanmu saya yakin karena jaminan pekerjaan di agensi V-ACE lebih bagus dari agensi lainnya." "Itu salah satu impian saya. Saya ingin bekerja di industri hiburan sekalipun itu sebagai asisten seorang artis. Lalu yang seperti Kakak bilang jaminan kerjanya membuat saya tertarik dan pasti yang utama soal gajinya yang besar. Namun ada satu lagi alasan saya bekerja di agensi V-ACE, sebenarnya... ah... saya ingin menghindari perjodohan," tutur Hana menjelaskan panjang lebar. Ia meringis saat mengatakan bagian terakhir. Lucia mengangguk. Ia tak berharap Hana akan sejujur itu. Lucia pun lantas berkata, "Saya dan Navy berteman, tidak... bahkan lebih dari itu, kami sudah bersahabat sejak lama dan saya sendiri sudah menganggapnya seperti saudara. Tapi... dia menusuk saya dari belakang. Saya memergokinya sendiri di apartemen dia berselingkuh dengan kekasih saya. Dan seperti yang kamu lihat sendiri, bagaimana dia bertingkah sekarang. Tanpa rasa bersalah, tanpa rasa malu, dia bahkan berani menghinaku setelah semua itu. Tapi tidak apa, karena dengan begitu saya sadar bagaimana sifatnya sesungguhnya." "Jahat sekali! Bisa-bisanya seorang sahabat seperti itu kepada sahabatnya sendiri." Hana sampai memukul setir mobilnya melampiaskan rasa kesal. "Kak, jika dia mengganggu Kakak, Kakak tinggal bilang saja ke saya, akan saya pastikan untuk membalas perbuatannya." Lucia hanya tersenyum meladeninya. Meskipun Hana mengatakan itu, tetap saja rasa percaya masih sulit ia berikan. Karena Navy dulu pun selalu bersikap manis padanya, membuatnya merasa seolah Navy adalah pendengar terbaik, namun akhirnya berakhir seperti ini. Tak lama kemudian Lucia sampai di agensi V-ACE. Bangunan agensi itu sangat tinggi, besar, dan modern, membuat Lucia terpana melihatnya. Penjagaannya sangat ketat. Setiap karyawan wajib memiliki tanda pengenal agar bisa masuk, sementara artis memiliki jalur khusus. Sebagai artis baru yang baru direkrut, Lucia mengikuti arahan Hana melewati lobi utama yang sangat luas. "Walaupun saya sudah sempat masuk ke dalam, gedung V-ACE masih membuat saya takjub. Masuk ke dalam sini, semangat kerja saya pun langsung bangkit," ujar Hana, berjalan beriringan dengan Lucia. Setelah melapor di resepsionis yang sangat ramah, kontras dengan pengalaman Lucia di agensi lamanya, mereka diarahkan ke lift khusus menuju ruangan CEO di lantai teratas. Ting! Pintu lift terbuka. Di dalam ruangan luas yang menghadap panorama kota, Arthen tampak sedang duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang tampil sangat berwibawa dengan kemeja putihnya yang digulung sampai sebatas lengan. Pria itu tampak fokus memainkan catur dengan Arthen. "Sepertinya tamu kita sudah datang. Permainan kita harus diakhiri." Pria itu menegakkan duduknya dan menyuruh Arthen menyusun kembali caturnya. Arthen tidak langsung menurut. Ia justru menggerakkan bidak terakhirnya dengan tegas, mengunci pergerakan lawan. "Permainan selesai saat skakmat, bukan saat tamu datang, Tuan Alexander," sahut Arthen dengan nada dominan yang sama kuatnya dengan sang ayah. Pria itu terkekeh pelan, mengakui kecerdikan putranya sebelum menatap Lucia. "Duduklah kalian berdua," ujar pria itu dengan suara berat yang tenang. "Nama saya Alexander Valerius, CEO agensi ini." Alexander meletakkan sebuah map hitam di meja. "Lucia, langsung saja. Masalah Anda dengan agensi lama sudah saya selesaikan secara hukum. Mereka telah menandatangani pemutusan kontrak sepihak dan menyadari kesalahan mereka. Dan ini, adalah hak kamu." Alexander menyodorkan sebuah cek pembayaran. Lucia tertegun melihat angka yang tertera—itu adalah bonus dan kompensasi kontrak yang seharusnya ia dapatkan sejak lama. Tangan Lucia sedikit bergetar saat menerimanya. "Fokuslah pada karier kamu mulai sekarang. Masalah apa pun di luar akting, biarkan pihak agensi yang menangani. V-ACE tidak merekrut orang untuk dibiarkan kesulitan sendiri," ucap Alexander tegas. "Saya setuju menerima kamu karena putra pembangkang saya ini sangat yakin dengan kemampuanmu. Maka, tunjukkan kualitas yang kamu miliki." Alexander memaparkan berbagai fasilitas agensi. "Mulai besok, lakukan perawatan diri. Kami sudah menyediakan salon, tempat gym, dan berbagai fasilitas lainnya. Jika secara psikologis kamu merasa terganggu karena tekanan masa lalu, kamu tinggal konsul ke dokter psikiater yang ada di agensi kami. Saya ingin artis saya dalam kondisi prima." Lucia mengangguk mantap, merasa sangat dihargai. Namun, suasana mendadak berubah ketika Alexander menyandarkan punggungnya dan menatap Lucia dengan sorot mata dingin yang mengintimidasi. "Satu hal lagi yang harus saya pastikan, Lucia. Mengenai David, aktor pria dari agensi rival kita itu. Apakah kamu masih mengikat hubungan dengannya?" Seketika ruangan itu menjadi sunyi. Hana tampak merasa tertekan dengan pertanyaan itu, sementara Arthen menoleh sepenuhnya ke arah Lucia, menunggu jawaban dengan tatapan tajam. Lucia menarik napas dalam, mengangkat wajahnya, dan menatap lurus ke mata Alexander Valerius tanpa ragu sedikit pun. "David?" Lucia mengucapkannya dengan nada datar yang dingin. "Bagi saya, dia hanyalah bagian dari masa lalu yang sudah saya buang jauh-jauh. Tidak ada hubungan, tidak ada perasaan, dan tidak akan pernah ada kerja sama pribadi dalam bentuk apa pun. Fokus saya saat ini adalah karier saya di V-ACE. Saya tidak akan membiarkan masa lalu menghancurkan kesempatan yang telah Tuan berikan." Mendengar jawaban yang begitu lugas, Alexander Valerius terdiam sesaat sebelum akhirnya mengulas senyuman ramah. "Jawaban yang sangat memuaskan. Saya menyukai orang yang tahu cara meninggalkan beban masa lalunya." Arthen pun ikut tersenyum tipis, tampak puas dengan ketegasan Lucia. Ia menyandarkan tubuhnya dengan gaya dominan seolah berkata 'sudah kubilang dia berbeda'. Hana dan Lucia secara refleks mengembuskan napas panjang secara bersamaan. “Syukurlah...” batin mereka berdua lega. Ketegangan itu akhirnya mencair, menandai awal baru Lucia di bawah perlindungan agensi V-ACE. Bersambung...Pesta pernikahan megah berkonsep outdoor di tepi pantai Elysia berlangsung sangat anggun. Di hadapan keluarga, sahabat dekat, dan pendar lampu romantis, Arthen dan Lucia mengikat janji suci. Lucia tampil memukau dengan gaun putih yang merekah, sementara Arthen tak henti-hentinya menatap sang istri dengan binar mata penuh kebahagiaan. Malam itu, janji untuk saling melindungi dan mencintai sampai akhir hayat resmi terpatri.Beberapa bulan berselang, momen yang ditunggu-tunggu sekaligus menegangkan pun tiba. Di suatu dini hari di apartemen mereka, air ketuban Lucia mendadak pecah. Suasana tenang seketika berubah menjadi kepanikan luar biasa.Arthen yang biasanya selalu tenang memimpin ribuan karyawan di V-ACE, kini bertindak sangat panik. Pria tegap itu berlari kesana-kemari mengambil tas perlengkapan bayi, hampir menabrak pintu kamar, hingga memapah Lucia masuk ke dalam mobil dengan tangan yang gemetaran hebat.Di dalam ruang persalinan rumah sakit, ruang operasi riuh oleh suara rintihan
Kehidupan di apartemen Elysia berjalan sangat tenang dan hangat. Tanpa kilatan kamera jurnalis atau jadwal syuting yang memburu, Lucia menikmati hari-harinya dengan penuh kedamaian. Namun, kedamaian itu perlahan berubah menjadi kekacauan manis sejak suatu pagi ketika Lucia merasa mual luar biasa dan tubuhnya mendadak sangat lemas.Atas saran Sean—adiknya yang seorang dokter—melalui panggilan video, Lucia akhirnya melakukan tes kehamilan secara privat.Ketika dua garis merah tegas muncul di atas alat tes tersebut, Arthen Valerius—pria yang paling disegani di dunia bisnis Avantia—seketika membeku. Pria tegap itu berlutut di depan Lucia, menggenggam erat tangan istrinya dengan tubuh bergetar. Untuk pertama kalinya, mata elang Arthen yang biasanya dingin meneteskan air mata bahagia. Ia memeluk pinggang Lucia hangat, menyandarkan wajahnya di perut datar sang istri seraya berbisik penuh pengabdian dan rasa syukur.Namun, rasa haru itu hanya bertahan di minggu pertama. Begitu memasuki usia k
Gedung utama V-ACE Entertainment dipadati oleh ratusan wartawan dari berbagai media nasional dan internasional. Suasana ruang konferensi pers bergemuruh oleh bisik-bisik penasaran. Di atas panggung, Arthen Valerius berdiri tegap mengenakan setelan jas hitam elegan, berdampingan dengan manajer Lucia serta jajaran direksi agensi.Begitu Arthen melangkah mendekati mimbar dan menyesuaikan posisi mikrofoni, seluruh kilatan lampu kamera mendadak menyambar tanpa henti."Selamat siang semuanya," suara Arthen mengudara, berat, tenang, dan memancarkan wibawa yang tak tertandingi. "Saya berterima kasih atas kehadiran rekan-rekan media hari ini. Tanpa berbelit-belit, ada dua pengumuman resmi yang ingin saya sampaikan secara pribadi mewakili diri saya dan pihak agensi V-ACE."Arthen jeda sejenak, menatap lurus ke arah puluhan kamera yang menyorotnya."Yang pertama, mengenai rumor kehidupan pribadi aktris Lucia," ujar Arthen tegas. "Saya mengonfirmasi secara resmi bahwa Lucia telah sah menjadi istr
Malam Penganugerahan Avantia Film & Drama Awards berlangsung dengan amat megah. Gedung pertunjukan utama Avantia dipenuhi kilatan lampu kilat wartawan, karpet merah yang membentang luas, serta jajaran selebriti papan atas yang mengenakan gaun dan setelan terbaik mereka.Di kursi barisan paling depan, Lucia duduk anggun mengenakan gaun malam berwarna perak yang berkilau lembut diterpa cahaya lampu. Di sampingnya, Arthen Valerius—dengan setelan tuksedo hitam yang presisi—memegang jemari Lucia dengan hangat, memberikan genggaman erat yang menyalurkan ketenangan."Gugup, hm?" bisik Arthen lembut tepat di samping telinganya.Lucia menoleh, mengulas senyum tipis. "Sedikit. Bukan karena takut tidak menang, tapi karena mengingat seberapa jauh aku sudah berjalan sampai bisa duduk di kursi ini."Arthen tersenyum bangga, mengecup punggung tangan istrinya pelan. "Kamu sudah menang sejak kamu memutuskan untuk tidak menyerah, Lucia."Di atas panggung, dua pembawa acara legendaris Avantia membacakan
Perjalanan menuju desa tempat tinggal sang ibu terasa begitu hangat dan menyenangkan. Di dalam mobil mewah yang dikendarai oleh Sean, suasana riuh oleh tawa Mika—adik bungsu mereka yang kini tumbuh menjadi gadis remaja cantik nan berbakat di sekolah musik Avantia. Namun, kejutan terbesar hari itu adalah ketika Sean memperkenalkan sosok wanita anggun yang duduk di kursi penumpang depan.Lucia sampai dibuat melongo ketika menyadari siapa kekasih adiknya. Maya Clarissa—sang pembawa berita papan atas yang wajahnya saban hari menghiasi televisi nasional."Astaga, Sean! Kamu benar-benar luar biasa," goda Lucia dari kursi belakang sembari menepuk bahu adiknya. "Jadi wanita beruntung yang kamu sembunyikan selama ini adalah Maya? Pembawa berita kesayangan publik?"Maya yang duduk di sebelah Sean menyunggingkan senyum anggun, sedikit rona merah merayap di pipinya. "Halo, Kak Lucia. Maaf ya baru bisa berkenalan langsung secara pribadi. Sean selalu menceritakan hal-hal hebat tentang Kakak.""Just
Sinar matahari baru saja merayap di sela-sela tirai penthouse. Lucia duduk di tepi ranjang sembari memegang ponselnya, menempelkan benda tipis itu ke telinga. Suara nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara berat khas bangun tidur di ujung telepon."Halo, Kak..." suara Sean terdengar samar, diiringi helaan napas lelah.Lucia tersenyum tipis, mengetuk-etuk jemarinya di atas paha. "Sean? Kamu baru bangun? Maaf ya kalau Kakak mengganggu waktu istirahatmu.""Ngg... tidak apa-apa, Kak. Aku baru saja memejamkan mata sejam yang lalu setelah keluar dari ruang operasi. Ada apa, Kak?" tanya Sean, suaranya perlahan mulai lebih jernih."Begini, lusa Kakak ada libur dua hari sebelum jadwal pemotretan berikutnya. Kakak rencananya mau pulang ke desa, mengunjungi Ibu di rumah Bibi," ujar Lucia lembut. "Kakak mau mengajakmu pergi bersama. Sudah lama sekali kan kita bertiga tidak berkumpul?"Di ujung telepon, Sean terdengar menggeser posisinya dari atas kasur asrama rumah sa







