แชร์

Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!
Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!
ผู้แต่ง: SAKABIYA

1. Video Call Gila

ผู้เขียน: SAKABIYA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-15 16:14:12

“Terus, Sayang! Lakukan sambil berdiri…”

Freya seketika membeku. Tangannya yang baru saja ingin mengetuk pintu kamar untuk memanggil Rendra, suaminya, seketika gemetar.

Suara itu terdengar menjijikan, bukan suara wanita, tapi Freya sedang mendengar suara seorang pria sedang beradu erangan dan desahan dengan Rendra.

"Iya sayang, iya begitu ... aaahh ...."

Apa mereka sedang melakukan Video Call? Freya sampai mual mendengarnya.

“Apa-apaan ini?” gumam Freya, tangannya mendekap mulut. Jijik sekali mendengar suaminya sedang 'memuaskan hasrat masing-masing' secara virtual lewat sambungan video call.

“Sakit tapi enak, Beb! Aahhh, sumpah aku nggak sabar kita ketemu dan ngelakuinnya secara nyata ...” Rendra mendesah manja.

“Aku juga ....”

“Terus ya ... aaah, terus ....”

“Aku udah keluar.”

“Aku juga ... aaah, enak banget, Sayang. Jadi kapan kamu ke Jakarta?”

Freya semakin ternganga, perasaannya berantakan dan perutnya seakan sedang diremas-remas sampai mual.

“Kita nggak bisa ngelakuinnya di Jakarta, Sayang. Kamu kan aktor terkenal, kamu nggak punya privasi di sana, jadi mending kamu aja yang nyamperin aku ke sini. Di sini banyak pasangan yang go public.”

“Jadwal aku masih padat, tapi kalo emang kamu mau, ya udah deh aku akan ke Berlin akhir minggu ini.”

“Oke, aku tunggu ya. Oh iya, gimana dengan istri kamu? Apa dia akan ikut?”

“Ikut? Yang nggak lah! Ide buruk kalo aku ajak dia buat ketemu kamu! Lihat kamu yang ganteng plus gagah, bisa-bisa dia jatuh cinta sama kamu! Itu nggak boleh! Kamu itu Cuma milik aku!”

“Ha ha, bisa aja kamu, Sayang.”

Freya mendengar percakapan sesat itu dan rasanya dunianya berhenti berputar.

Diselingkuhi dengan wanita cantik, No.

Diselingkuhi dengan pria tampan dari Jerman, Yes.

Hidup memang sebercanda itu bagi Freya!

Kini ia tahu alasan kenapa Rendra tak pernah menyentuhnya. Ternyata bukan karena dia jelek atau bau ikan asin, tapi faktanya lebih menjijikan dari yang ia duga, rupanya suaminya itu adalah seorang penyuka sesama jenis.

Percakapan laknat itu sudah tak terdengar lagi, Freya pun mulai memutar knop pintu dan membukakannya perlahan.

Rendra, yang baru saja mematikan layar ponselnya dengan gerakan panik, mematung di depan cermin. Wajahnya yang biasanya dipuja jutaan penggemar sebagai aktor papan atas, kini terlihat pucat pasi, bercampur dengan sisa-sisa nafsu yang masih tertinggal di matanya.

Freya tidak bergerak. Tangannya yang tadi memegang gagang pintu terkulai lemas di samping tubuhnya. Matanya yang bening perlahan mengabur karena genangan air mata,

“Freya...” Suara Rendra terdengar serak, ia mencoba mendekat, namun Freya mundur selangkah, menjaga jarak seolah Rendra adalah sesuatu yang menjijikkan.

“Jangan sentuh aku!” desis Freya. Suaranya nyaris tak terdengar, namun sarat dengan getaran luka yang dalam. “Jangan pernah menyentuhku dengan tangan yang baru saja... melakukan hal itu.”

Rendra mengangkat wajahnya, sorot matanya kini menjadi tajam. “Sekarang kamu udah tau, terus kamu mau apa, huh? Mau membocorkan rahasia ini ke Publik? Menghancurkan reputasi dan masa depan karirku, gitu?”

“Tobat, Mas! Yang kamu lakuin ini dosa!” ucap Freya dengan tubuh gemetar.

“Halaah! Nggak usah bawa-bawa dosa! Ini urusanku!”

“Karir kamu bisa hancur andai orang-orang tau ini semua ....”

“Orang-orang nggak akan tau kalo kamu tetap diam dan menjaga rahasia ini!” sambar Rendra, ia sudah mulai bersikap keras dan mengecam. Rasa paniknya lenyap, membalikan keadaan membuat Freya dalam posisi tersudut saat ini.

Rendra semakin mendekat lalu mencengkram wajah Freya dengan kasar lalu mengancam, “Kalo kamu berani buka mulut soal ini, aku pastikan hidup kamu nggak akan pernah tenang, Frey! Hidupmu, keluargamu, bisnis kecilmu, aku pastikan akan hancur dengan cara yang menyakitkan!”

Mendengar ancaman Rendra, Freya mulai gentar. Ia tak berani menyahut. Rendra adalah sosok yang akan melakukan apapun demi mencapai ambisinya, bahkan jika itu harus menghancurkan hidup orang lain. Freya pun hanya diam.

“Kamu harus ikuti skenarioku! Aku akan melepaskan kamu dengan caraku, dan ingat satu hal, kamu harus tetap diam soal rahasiaku ini!” Rendra menghempas wajah Freya cukup kasar lalu ia masuk kembali ke dalam kamar, tepatnya ke dalam kamar mandi.

Freya benar-benar terbungkam. Ancaman Rendra seperti obat bius yang melemahkannya. Tak dapat dipungkiri kalau ia sangat takut dengan kata-kata suaminya barusan.

***

Di meja makan, atmosfer yang seharusnya hangat justru terasa sedingin es. Freya duduk lemas di kursinya, jemarinya mencengkeram sendok dengan malas.

Bayangan wajah Rendra yang kasar dan ancamannya di depan kamar tadi terus berputar di kepala, membuat perutnya mual setiap kali ia menatap pria yang kini sedang menyesap kopi dengan santai di sampingnya.

“Freya!” Suara nyaring Yati, ibu mertua Freya, memecah kesunyian. Ia meletakkan cangkirnya dengan keras ke piring tatak. “Sudah dua tahun, Freya. Dua tahun! Kamu masih saja kosong. Apa kamu benar-benar nggak bisa ngasih cucu buat keluarga ini?”

Freya menunduk dalam, tenggorokannya terasa tercekat. “Maaf, Bu...”

“Maaf, maaf! Bisanya Cuma minta maaf terus! Kata-kata itu nggak akan membuat rahimmu terisi!” Yati mendengus sinis, matanya menatap Freya dengan tatapan merendahkan. “Ibu mulai curiga, apa mungkin kamu memang wanita yang nggak berguna? Lihat orang-orang, baru menikah hitungan bulan saja sudah pada pamer foto USG. Kamu? Cuma bisa nyusahin anakku! Dia itu aktor terkenal! Jadi kebawa-bawa jelek gara-gara kamu yang belum bisa kasih dia keturunan!”

Freya masih diam. Biasanya, di saat seperti ini, ia akan berusaha membela diri, tapi setelah percakapan ‘laknat’ yang ia dengar tadi, lidahnya kelu. Rahasia besar Rendra membuat setiap kata yang keluar dari mulut Yati terasa seperti lelucon yang sangat tragis.

Rendra, yang duduk tenang di samping Freya, justru menyandarkan punggungnya dengan angkuh. Ia meletakkan ponselnya, menatap Freya dengan sorot mata yang penuh intimidasi, seolah memberi peringatan melalui tatapan, ‘ingat ancamanku, Freya!’

“Freya memang nggak becus, Bu,” sahut Rendra dingin, suaranya terdengar datar dan tanpa empati. “Sepertinya selama ini aku terlalu sabar menunggunya.”

Freya mendongak, menatap Rendra dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Rendra akan memutarbalikkan fakta sekejam ini.

“Maksud kamu apa, Mas?” tanya Freya lirih.

Rendra mengabaikan pertanyaan Freya dan justru beralih menatap ibunya. “Bu, aku udah membuat keputusan. Aku udah nggak bisa mempertahankan pernikahan ini lebih lama lagi. Freya... rahimnya bermasalah, dia mandul. Udah berkali-kali aku memeriksakannya ke dokter, dan hasilnya nihil. Dokter bilang rahimnya tidak akan pernah bisa memberikan keturunan.”

“Apa? Jadi benar dugaan kita selama ini?” Yati memekik, wajahnya memerah karena amarah. “Jadi selama ini kamu membuang-buang waktu anakku, Freya?!”

“Mas, jangan fitnah aku!” Freya akhirnya bersuara, suaranya gemetar menahan emosi yang meluap. “Kamu tahu itu nggak benar! Kamu sendiri yang ....”

“Cukup!” Rendra memotong dengan suara menggelegar, membuat Freya tersentak.

Rendra berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuh ke arah Freya dengan tatapan mengancam yang kembali menggetarkan jiwa Freya. “Kamu nggak punya hak buat membantah, Frey! Keputusanku sudah bulat. Kita bercerai minggu ini. Dan ingat, jangan pernah berani menyinggung soal ‘alasan lain’ di depan siapa pun, atau kamu tahu apa akibatnya.”

Rendra kemudian menoleh ke arah ibunya dengan wajah yang dibuat-buat sedih. “Aku sudah lelah, Bu. Aku butuh keturunan, dan sudah sangat jelas, Freya nggak  bisa ngasih keturunan buat aku, buat keluarga ini. Aku akan mengurus surat perceraian secepatnya.”

Freya terdiam kaku. Ia menatap Rendra yang kini berakting seolah-olah dia adalah korban dari istri yang mandul. Kebohongan yang sangat sempurna untuk menutupi orientasi seksualnya yang menyimpang.

Di saat Rendra merencanakan pelariannya ke Berlin untuk menemui kekasih prianya, ia justru menginjak-injak harga diri Freya di depan mertuanya sendiri sebagai kedok terakhir.

“Dengar itu, Freya! Segera kemasi barang-barangmu!” ujar Yati semakin angkuh. “Serahkan urusan perceraian pada kuasa hukummu, jangan banyak drama! Sudah cukup Rendra menderita mempertahankan wanita tak berguna sepertimu selama Dua Tahun ini! Dia berhak mendapatkan yang jauh lebih baik darimu!”

Freya tetap diam tanpa bantahan. Ia menyadari kalau diam adalah pilihan terbaik untuknya. Ia pun melapangkan hatinya untuk menerima semua fitnah dan hinaan keji itu.

“Baik, Mas! Ceraikan aku segera!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (4)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Waduh ..ternyata suami Freya hombreng gsmbreng 🫣🫣🫣🫣
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Yeeay ....aku mampir kak Biya
goodnovel comment avatar
Evi Erviani
akhirnya launching juga.. semangat Kaka.. semangat buat aku juga buat bacanyaaa
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   15. Wedding Day

    Rendra menunjukkan rasa tidak percaya, ia melirik ke arah area pesta lalu kembali menatap Freya dengan perasaan meragu. "Kamu jangan bercanda, Frey! Pake segala ngaku jadi calon pengantinnya Yasa Janitra, kamu halu apa gimana sih? Atau jangan-jangan kamu stress setelah cerai dari aku?" Rendra malah menuduh Freya halu dan stress. Freya tersenyum santai saja, tuduhan Rendra ia anggap radio butut saja, toh kenyataannya, dirinya memang calon istri seorang Yasa Janitra. "Eh, tuh mulut enteng bener ya ngatain Frey stress!" Tapi Mitha langsung bereaksi, jelas Mitha tak terima sahabatnya dikatai oleh Aktor hombreng itu. "Sembarangan aja bilang Frey stres setelah cerai dari kamu! Justru hidup Frey tuh sejuta kali lebih baik setelah lepas dari kamu!" lanjut Mitha dengan nada mengomel. Rendra sangat muram, ia tidak senang ditegur begitu oleh Mitha yang dianggap tidak penting. "Hey kamu! Bisa-bisanya ya, pelayan toko kue kamu bicara kenceng gitu ke saya? Kalau bukan karena kamu itu temann

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   14. Aku Calon Pengantinnya!

    Persiapan pernikahan yang mepet membuat Freya sibuk dan sejenak melupakan segala masalah yang membelitnya selama ini. Walau hanya 2 minggu saja, tapi Yasa tak asal-asalan untuk gelaran pernikahan keduanya kali ini. Gaun pengantin sudah siap, venue pernikahan sudah diset, undangan sudah disebar dan H-2, semua persiapan sudah mencapai 95%. Saat ini Freya sudah kembali menginjakkan kakinya di pulau Bali, ditemani Mitha, Ramon, Chef Daryl dan keluarga paman dari pihak Ayah, yang nantinya akan jadi wali nikahnya. Sementara Fiona? Jangankan hadir, kabarnya saja sudah tak terdengar lagi sejak buron dari orang-orang yang ditipunya. ~ Freya sedang termangu di sebuah Gazebo resort sambil memantau area halaman yang akan jadi tempat pernikahannya lusa. Acaranya digelar di luar ruangan, dengan dekorasi cantik dan view menghadap samudra langsung. "Pasti lagi mikirin, lusa malem bagusnya pake gaya apa ya?" Suara Mitha muncul bagai angin, spontan Freya menoleh. "Iih, ngagetin aj

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   13 Om Sat Set

    Seorang anak remaja laki-laki berjalan di belakang Yasa, wajah remaja itu nyaris mencetak jiplakan wajah Yasa, rahang tegas, tatapan tajam, dan alis tebal. Hanya saja, aura yang terpancar jauh lebih dingin dan memberontak. Freya sudah segan duluan, ia merasa kalau jalannya bersama Yasa tak akan semulus jalan tol seperti yang awalnya ia bayangkan. Keduanya dipersilakan masuk, duduk bersama di ruang tamu kecil itu dengan suguhan menarik yang tersaji di atas meja. Freya sangat gugup tapi berusaha bersikap sebiasa mungkin. "Nath, ini Freya," perkenalkan Yasa. Remaja bernama Nathan itu hanya menatap sekilas pada Freya seterusnya ia fokus pada layar handphone di tangan. "Sementara waktu kamu bisa panggil Freya 'Kakak', tapi secepatnya kamu harus belajar panggil dia 'Mama'," tambah Yasa. Nathan nampak muak, raganya memang duduk di ruangan itu tapi jiwanya jelas menolak baur di dalam momen perkenalan itu. "Hm, hai Nath ... salam kenal ya," sapa Freya, walau segan ia mencoba bersik

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   12. Menepati Janji

    "Dan imbalannya adalah ... Casa de Cake ...." Freya sekali lagi menoleh ke seberang Cafe, menatap toko itu dengan tatapan nanar."Serius?" Suara Mitha tercekat tapi sangat antusias."Emang aku keliatan lagi becanda ya?" tanya Freya kekik."Terus kamu bilang 'iya' kan?"Freya mengangguk pelan, nampak yakin tidak yakin."Bagus! Aku sih yes! Aku dukung kalian 100%!" sambut Mitha, ia benar-benar bersemangat.Dengan antusiasme Mitha, rasa percaya Freya pada Yasa meningkat beberapa persen, hanya saja masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya.'Apa ini hanya pernikahan main-main? Apakah di pernikahan kedua ini aku bakalan jadi istri pajangan lagi?' batin Freya, perasaannya bergejolak, tapi keputusan sudah diambil.***Kalyla baru saja tiba dari Bali, ia tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan langsung mencari keberadaan Yasa di kantornya.Kalyla terlihat resah, wajahnya menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam."Maaf, Bu. Tapi saat ini Pak Yasa sedang ada rapat penting, Anda

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   11. Duda Premium

    Freya tercekat, matanya membelalak lebar menatap pria di hadapannya. Jantungnya yang tadinya berdegup kencang karena gugup, kini seketika seolah berhenti berdetak. "Om ... barusan Om bilang apa?" tanya Freya dengan suara gemetar, memastikan pendengarannya tidak salah tangkap. "Ini semacam candaan atau apa? Kita bahkan nggak sedang dalam hubungan apa pun lho Om dan tiba-tiba Om ngajak nikah?" Yasa tetap tenang, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur penuh wibawa. Tatapannya tajam namun sulit dibaca. "Saya nggak pernah main-main dengan perkataan saya, Freya," jawab Yasa datar. "Kamu mau toko itu kembali jadi milik kamu dan saya butuh seorang istri secepatnya." Mitha masih memantau, ia tak bisa mendengarkan obrolan Freya dan Yasa, tapi kontras ekspresi Freya dan Yasa membuat Mitha bertanya-tanya. "Mereka lagi ngobrolin apa ya? Kok muka Frey kayak shock begitu sih? Duh ...." gumam Mitha dengan perasaan gelisah. Freya menggeleng pelan, kepalanya mendadak pusing mencerna s

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   10. Nikah Sama Saya!

    "Bisa ketemu sebentar? ... saya tunggu di Cafe di seberang bekas toko kue kamu!"Yasa sangat to the point, ketika panggilannya tersambung, ia langsung mengutarakan maksudnya menghubungi Freya. Karena Yasa sangat berjasa, Freya tak memiliki alasan untuk menolak ajakan untuk bertemu itu.Setelah bersiap 15 menit dan menghabiskan waktu 15 menit perjalanan dibonceng Mitha, Freya pun sampai di Cafe yang dimaksud."Aku akan duduk di sisi lain Cafe buat memantau, sekalian mau liat wujud asli Om galak itu!" kata Mitha yang begitu bersemangat."Jangan sampai meleleh lho ya!" goda Freya sambil mematut penampilannya sekali lagi lewat kaca spion motor matic Mitha."Kayaknya spek Om-Om itu bukan my type! Mustahil aku meleleh sama seseorang yang kamu namai 'Om Galak' di kontak kamu itu!" Mitha sesumbar, begitu percaya diri mampu menahan diri untuk tidak tertarik pada sosok Yasa Janitra."We'll see," goda Freya lagi. Dan ketika ia sudah cukup pede untuk bertemu dengan Yasa, ia pun mulai melangkahka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status