แชร์

2. Pria Arogan

ผู้เขียน: SAKABIYA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-15 16:16:50

Perceraian itu telah selesai, namun Freya terus dihantui dan diburu oleh para fans Rendra yang menghakiminya terus menerus. Postingan Freya selalu ramai dengan hinaan dan hujatan, bahkan saat Freya hanya memposting tentang toko kuenya.

[Dasar mandul!]

[Kasian Rendra Saputra, buang-buang waktu selama 2 Tahun sama cewek nggak guna]

[Udah paling bener mereka cerai!]

[Mas Rendra aktor ternama, nggak sepadan sama tukang kue itu!]

Kata-kata kasar, fitnah, bahkan ancaman pembunuhan kerap ia terima. Tapi meskipun itu sangat mengganggu, Freya hanya ingin kembali fokus dengan usaha kecilnya dan menutup setiap lembaran kelam dengan Rendra.

Sejak lulus kuliah 4 Tahun lalu, Freya fokus meneruskan operasional toko kue peninggalan Ayah Ibunya. Toko kue tua yang hampir gulung tikar dipoles menjadi toko kue kekinian dengan konsep modern yang lebih segar. Alhasil toko kue itu kembali hidup dan jadi salah satu favorit pembeli.

Pagi itu, toko masih sepi, Freya dibantu Mitha dan 2 orang pegawai lain sedang merapikan setiap sudutnya.

“Mbak ... sang mantan tuh!” Ramon, salah satu pegawai Freya, menunjuk ke arah layar TV di dinding cafe.

Freya mengalihkan fokusnya dari layar komputer ke layar TV itu. Ternyata sedang menampilkan wawancara Rendra di acara infontainment.

“Rencana saya ....” Rendra mengulangi pertanyaan itu dengan nada yang tipis, dalam hitungan detik ia mengeluarkan kemampuan aktingnya seolah-olah sedang sedih di hadapan para awak media itu. “Saya butuh waktu untuk kembali menatap langkah selanjutnya. Perceraian ini adalah pukulan telak bagi saya, sangat disayangkan tapi ini keputusan bersama. Saya sangat menghargai prinsipnya.”

“Apakah prinsip yang dimaksud itu, prinsip untuk childfree? Jadi benar soal isu bahwa tuntutan momongan itu adalah penyebab utamanya?”

“Maaf ya, untuk itu saya no comment dulu.”

“Jadi benar? Jadi mantan Anda menolak untuk memiliki keturunan bersama Anda? Atau benar isu yang mengatakan bahwa mantan istri Anda itu memiliki masalah dengan kondisi kesehatan rahimnya?” Pertanyaan semakin liar.

“No comment ya, mohon do’anya saja semoga di pernikahan selajutnya nanti, saya menemukan pasangan yang tepat. Terima kasih.”

Raut wajah Freya berubah. Setiap kali Rendra klarifikasi, pasti isinya selalu menyudutkan dirinya. Padahal andai saja orang-orang tau apa yang sebenarnya terjadi.

“Cihhh! Dasar tukang akting!” decih Mitha kesal.

“Mbak Frey harusnya klarifikasi juga! Bantah tuduhan mandul itu! Ramon juga kesel deh sama sikap mantan Mbak Frey itu!” ujar Ramon, tak kalah kekik setelah melihat tayangan itu.

“Udahlah ... Percuma! Aku nggak mau berurusan lagi sama dia! Biarin aja dia mau bilang apa!” tukas Freya, pasrah.

“Tapi fans-fansnya udah makin berisik nuduh kamu mandul, Frey! Asbun banget mereka! Sangat mendewakan mantan kamu dan jadiin kamu objek hujatan!”

“Iya lho Mbak Frey! Citra Mbak Frey jadi jelek!”

Freya hanya tersenyum hampa, ia benar-benar sedang tidak ingin buang-buang energi, ia hanya ingin hidup tenang pasca perceraian itu.

Beberapa jam kemudian, toko mulai ramai. Satu persatu kue-kue yang terpajang cantik di dalam etalase terjual.

Hari ini, toko memang nampak sibuk dari biasanya. Mitha melayani pembeli yang mengantri, Ramon sibuk mengemas kue-kue yang dibeli dan Freya juga begitu sibuk di meja kasir.

“Terima kasih banyak, ditunggu lagi kedatangannya di Casa de Cake.” Freya mengulas senyum ramah setiap kali menyelesaikan transaksi dengan pelanggannya.

“Semua kue yang di-display sold out sebelum jam 4! Fantastic!” ujar Mitha begitu bangga dan senang.

“Kalo penjualan gacor terus setiap hari, boleh kali kami dikasih bonus, Mbak Frey,” iseng Ramon.

“Aahh, isi kepala lo bonus bonus mulu! Baru juga bulan lalu lo dikasih bonus sama Freya!” tegur Mitha yang gemas.

“Ya kali, bonus kali ini tuh liburan gitu ... yaa minimal ke Ancol lah, healing tipis-tipis,” sahut Ramon sambil merapikan tray-tray kue yang sudah kosong di etalase.

“Ke Ragunan, mau? Sekalian temu kangen sama temen-temen lo,” celetuk Mitha, mulutnya memang suka ceplas ceplos dan itu adalah hal biasa.

“Pasti monyet, kan?”

“Nah, lo sendiri yang bilang ya, bukan gue! Ha ha!”

Freya hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. Keributan kecil di antara Ramon dan Mitha adalah salah satu rutinitas di toko itu, tak pernah ada gesekan, tak pernah ada yang baper. Mitha dan Ramon pergi ke area dapur yang ada di bekalang toko sementara Freya masih di depan layar komputer untuk merekap seluruh hasil penjualan hari ini.

Tak lama, Fiona, kakaknya Freya, datang dengan wajah yang terlihat berseri-seri. Tanpa basa-basi ia menyodorkan sebuah amplop berisi tiket pesawat ke Bali membuat Freya kaget sekaligus keheranan.

“Ini maksudnya apa, Kak?” tanya Freya sambil membolak balik amplop itu.

“Frey, kamu tuh butuh healing. So, udah waktunya kamu nikmatin metime di tempat yang tenang dan damai. Bali adalah pilihan yang tepat, kan? Kakak juga udah booking Resort terbaik di Ubud buat kamu!”

Freya masih tak mengerti, kenapa sang Kakak jadi seroyal ini? Padahal biasanya Fiona itu sangat pelit dan perhitungan.

“Kakak emang nggak pernah gagal dalam pernikahan, tapi Kakak bisa ngerasain gimana hancurnya jadi kamu, so, Kakak putusin buat ngasih kamu hadiah ini, biarpun mahal, tapi Kakak mau kamu bener-bener nikmatin waktu sendirian di tempat yang indah. Kamu perlu merefresh perasaan kamu dan menatap ulang rencana masa depan kamu.”

“Ada apa nih? Eh ... ada Kak Fiona.” Mitha hadir dan langsung kepo dengan apa yang ada di tangan Freya.

“Nah, urusan toko, kamu kan bisa percayakan sama Mitha, jadi kamu bisa pergi liburan dengan tenang,” ucap Fiona lagi.

“Wah, ini tiket pesawat ke Bali? Buat Freya?” Mitha nampak kegirangan seolah ia yang memiliki tiket liburan itu.

“Iya, Mith. Kakak bujuk Freya buat pergi liburan, kamu setuju kan kalo Freya butuh healing?”

“Setuju sih, trus nanti pulang dari sana aku do’ain kamu bisa gaet bule yang cakep plus kaya raya,” sahut Mitha dengan sedikit gurauan.

“Cocok tuh!”

Freya tak munafik kalau ia sangat tergiur dengan hadiah dari Fiona, tapi sisi hati yang lain masih sedikit meragu.

“Jadwal keberangkatannya 3 hari lagi, keterlaluan sih kalo kamu sampai nolak tawaran ini,” kata Fiona.

“Ini mahal lho, Kak. Kakak nggak sayang duit sebanyak ini dipake buat liburanku?” tanya Freya.

“Ya ampun, Frey! Pertanyaan kamu tuh seolah-olah Kakak pelit banget! Gini-gini juga Kakak ini Kakak kamu! Lagian Mas Adhi baru aja menang tender senilai 50 Miliyar, boleh lah Kakak bagi-bagi rezeki buat kamu.”

“Serius?”

“Serius!”

Keraguan Freya mulai surut. Setelah menjalani setengah Tahun yang cukup membosankan sebagai seorang janda, mungkin tak ada salahnya Freya menerima tawaran liburan itu.

“Ya udah, aku mau. Makasih ya, Kak.”

Fiona mengangguk sambil tersenyum lega.

Liburan yang diimpikan Freya pun tiba! Hari itu, dengan senyum merekah walau notifikasinya tetap jebol oleh serangan online yang tak berhenti, Freya berangkat ke bandara dengan hati ringan.

Sambil menunggu keberangkatan, Freya duduk di sebuah kafe Bandara dengan secangkir cappuccino yang sudah tinggal setengah.

‘Aduh, kebelet banget! Ke toilet dulu deh bentar.’ Freya beranjak ke toilet.

Setelah dari toilet, Freya bergegas kembali ke mejanya. Pikirannya kembali teringat pada kebaikan Fiona, kakaknya itu.

Setelah membelikannya paket liburan ke Bali, wanita itu juga memberikan seluruh karyawan toko, termasuk Mitha, paket liburan ke Jogja, full service!

Setidaknya itu yang didapatkannya saat menelpon Mitha di perjalanan tadi. Sahabatnya itu terus menerus memuji kebaikan Fiona yang, menurut Freya, terlalu tiba-tiba.

Namun, tiba-tiba pikirannya buyar saat melihat sesuatu yang membuat dahinya mengernyit.

“Loh, jelas-jelas itu ada koperku! Kok udah didudukin gitu aja sih!”

Meja yang tadinya ia tempati kini sudah diisi oleh seorang pria. Pria itu tampak sangat berwibawa dengan setelan jas tailor-made yang membalut tubuh tegapnya.

Ia sedang mengetik cepat di laptop miliknya dengan ekspresi wajah sedingin es. Freya mendekat, berusaha tetap tenang meski hatinya mulai mendidih.

“Permisi, Pak? Sepertinya ini meja saya.”

Pria itu tidak langsung menoleh. Ia menyelesaikan ketikan di layar laptopnya, menghela napas panjang dengan kesan angkuh, baru kemudian menoleh perlahan ke arah Freya.

Matanya tajam, dengan alis tebal yang memberikan kesan pria dewasa yang sangat dominan sekaligus arogan. Freya sedikit segan, tapi Freya juga kesal karena merasa tempat duduknya sudah diserobot.

“Meja ini nggak punya nama, Nona!” jawabnya dingin.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (4)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Eh ..siapa itu cowok arogan ??
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Jangan2 Fiona ada udang dibalik batu tuh kok baik banget tiba2 kasih bonus liburan ke Freya ??
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Kasihan Freya yg dihina padahal dia ga seperti itu ,tunggu aja Rendra karma mu
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   16. Puaskan Aku!

    Kecantikan Freya dalam balutan gaun pengantin seharga ratusan juta itu benar-benar tidak terbantahkan. Semua orang mengakui itu, kecuali .... Nathan lebih suka melanjutkan game di layar ponsel daripada ikut larut dalam momen sakral sang Papa. Sementara Yasa, ia bersikap tenang, tak ada luapan emosi seperti yang lumrah ditunjukkan oleh mempelai pria tatkala bertemu dengan calon mempelai wanita. Penampilan sempurna Freya sepertinya tak sampai menyentuh hati terdalam duda keren itu. 'Ya ampun, biasa banget sih reaksinya! Nggak bisa akting dikit aja napa, nangis haru kayak penganten penganten lain gitu! Ishhhh!' Di balik senyum yang ia tebar pada seluruh tamu, ada gerutuan kesal yang memenuhi ruang hati Freya. Selanjutnya, setelah acara dibuka dengan do'a, sampai lah pada prosesi akad yang terasa khidmat dan sakral. Yasa menjabat tangan pamannya Freya yang berperan sebagai wali nikahnya saat ini, dan tanpa drama, dalam satu kali helaan napas, Yasa telah mengucapkan janji setian

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   15. Wedding Day

    Rendra menunjukkan rasa tidak percaya, ia melirik ke arah area pesta lalu kembali menatap Freya dengan perasaan meragu. "Kamu jangan bercanda, Frey! Pake segala ngaku jadi calon pengantinnya Yasa Janitra, kamu halu apa gimana sih? Atau jangan-jangan kamu stress setelah cerai dari aku?" Rendra malah menuduh Freya halu dan stress. Freya tersenyum santai saja, tuduhan Rendra ia anggap radio butut saja, toh kenyataannya, dirinya memang calon istri seorang Yasa Janitra. "Eh, tuh mulut enteng bener ya ngatain Frey stress!" Tapi Mitha langsung bereaksi, jelas Mitha tak terima sahabatnya dikatai oleh Aktor hombreng itu. "Sembarangan aja bilang Frey stres setelah cerai dari kamu! Justru hidup Frey tuh sejuta kali lebih baik setelah lepas dari kamu!" lanjut Mitha dengan nada mengomel. Rendra sangat muram, ia tidak senang ditegur begitu oleh Mitha yang dianggap tidak penting. "Hey kamu! Bisa-bisanya ya, pelayan toko kue kamu bicara kenceng gitu ke saya? Kalau bukan karena kamu itu temann

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   14. Aku Calon Pengantinnya!

    Persiapan pernikahan yang mepet membuat Freya sibuk dan sejenak melupakan segala masalah yang membelitnya selama ini. Walau hanya 2 minggu saja, tapi Yasa tak asal-asalan untuk gelaran pernikahan keduanya kali ini. Gaun pengantin sudah siap, venue pernikahan sudah diset, undangan sudah disebar dan H-2, semua persiapan sudah mencapai 95%. Saat ini Freya sudah kembali menginjakkan kakinya di pulau Bali, ditemani Mitha, Ramon, Chef Daryl dan keluarga paman dari pihak Ayah, yang nantinya akan jadi wali nikahnya. Sementara Fiona? Jangankan hadir, kabarnya saja sudah tak terdengar lagi sejak buron dari orang-orang yang ditipunya. ~ Freya sedang termangu di sebuah Gazebo resort sambil memantau area halaman yang akan jadi tempat pernikahannya lusa. Acaranya digelar di luar ruangan, dengan dekorasi cantik dan view menghadap samudra langsung. "Pasti lagi mikirin, lusa malem bagusnya pake gaya apa ya?" Suara Mitha muncul bagai angin, spontan Freya menoleh. "Iih, ngagetin aj

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   13 Om Sat Set

    Seorang anak remaja laki-laki berjalan di belakang Yasa, wajah remaja itu nyaris mencetak jiplakan wajah Yasa, rahang tegas, tatapan tajam, dan alis tebal. Hanya saja, aura yang terpancar jauh lebih dingin dan memberontak. Freya sudah segan duluan, ia merasa kalau jalannya bersama Yasa tak akan semulus jalan tol seperti yang awalnya ia bayangkan. Keduanya dipersilakan masuk, duduk bersama di ruang tamu kecil itu dengan suguhan menarik yang tersaji di atas meja. Freya sangat gugup tapi berusaha bersikap sebiasa mungkin. "Nath, ini Freya," perkenalkan Yasa. Remaja bernama Nathan itu hanya menatap sekilas pada Freya seterusnya ia fokus pada layar handphone di tangan. "Sementara waktu kamu bisa panggil Freya 'Kakak', tapi secepatnya kamu harus belajar panggil dia 'Mama'," tambah Yasa. Nathan nampak muak, raganya memang duduk di ruangan itu tapi jiwanya jelas menolak baur di dalam momen perkenalan itu. "Hm, hai Nath ... salam kenal ya," sapa Freya, walau segan ia mencoba bersik

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   12. Menepati Janji

    "Dan imbalannya adalah ... Casa de Cake ...." Freya sekali lagi menoleh ke seberang Cafe, menatap toko itu dengan tatapan nanar."Serius?" Suara Mitha tercekat tapi sangat antusias."Emang aku keliatan lagi becanda ya?" tanya Freya kekik."Terus kamu bilang 'iya' kan?"Freya mengangguk pelan, nampak yakin tidak yakin."Bagus! Aku sih yes! Aku dukung kalian 100%!" sambut Mitha, ia benar-benar bersemangat.Dengan antusiasme Mitha, rasa percaya Freya pada Yasa meningkat beberapa persen, hanya saja masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya.'Apa ini hanya pernikahan main-main? Apakah di pernikahan kedua ini aku bakalan jadi istri pajangan lagi?' batin Freya, perasaannya bergejolak, tapi keputusan sudah diambil.***Kalyla baru saja tiba dari Bali, ia tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan langsung mencari keberadaan Yasa di kantornya.Kalyla terlihat resah, wajahnya menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam."Maaf, Bu. Tapi saat ini Pak Yasa sedang ada rapat penting, Anda

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   11. Duda Premium

    Freya tercekat, matanya membelalak lebar menatap pria di hadapannya. Jantungnya yang tadinya berdegup kencang karena gugup, kini seketika seolah berhenti berdetak. "Om ... barusan Om bilang apa?" tanya Freya dengan suara gemetar, memastikan pendengarannya tidak salah tangkap. "Ini semacam candaan atau apa? Kita bahkan nggak sedang dalam hubungan apa pun lho Om dan tiba-tiba Om ngajak nikah?" Yasa tetap tenang, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur penuh wibawa. Tatapannya tajam namun sulit dibaca. "Saya nggak pernah main-main dengan perkataan saya, Freya," jawab Yasa datar. "Kamu mau toko itu kembali jadi milik kamu dan saya butuh seorang istri secepatnya." Mitha masih memantau, ia tak bisa mendengarkan obrolan Freya dan Yasa, tapi kontras ekspresi Freya dan Yasa membuat Mitha bertanya-tanya. "Mereka lagi ngobrolin apa ya? Kok muka Frey kayak shock begitu sih? Duh ...." gumam Mitha dengan perasaan gelisah. Freya menggeleng pelan, kepalanya mendadak pusing mencerna s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status