Share

Aneh?

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-09-04 23:30:47

"Demi aku?" Stella terkekeh getir, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa seraya bersedekap dada. Pandangannya lurus mengunci manik mata Sean yang memerah akibat lelah dan amarah. "Atau demi kepentingan kamu sendiri, Sean? Kamu mengurungku di lantai tiga ini seolah-olah aku adalah kriminal yang tidak bisa dipercaya. Makanya kamu awasin aku!”

Sean mendengkus kasar, jemarinya meremas rambutnya sendiri sebelum menatap Stella dengan tatapan tak kalah tajam.

"Jangan mulai, Stella!” potong Sean di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (29)
goodnovel comment avatar
Sri Yati
tahan dulu stella, sean baru pulang dari LN, masih capek kesenggol dikit langsung esmosi
goodnovel comment avatar
Sri Yati
Clarissa marah, sean juga ikutan marah saat stella mencoba bicara baik2.
goodnovel comment avatar
Sri Yati
aduh .... racun chelsea cs semakin merasuk ke hati Clarissa... sepertinya akan ada perang nih dikeluarga Anderson
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   siapa?

    Pintu di ruang kerja pribadi Sean Anderson bergetar halus ketika Samuel memutar gagangnya. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan besar itu. Sean berdiri terpaku di balik mejanya, dada naik-turun menahan detak jantung yang bergemuruh liar. Setiap detik terasa memanjang, menyiksa, seolah seluruh oksigen di dalam ruangan mendadak tersedot keluar.Sesosok wanita melangkah masuk dengan tubuh bergetar hebat dan kepala tertunduk dalam. Jas laboratorium putih yang biasa ia kenakan sudah tidak ada, berganti dengan pakaian kasual lusuh yang memperlihatkan kecemasan luar biasa. Begitu pandangannya berbenturan dengan sosok tinggi tegap Sean Anderson, napas wanita itu tersengal."Dokter... Maria?" bisik Sean tercengang.Antara emosi membakar yang mencengkeram dadanya dan rasa bersyukur yang membuncah tak tertahankan, matanya memerah menatap sosok dokter pribadi yang selama ini dipercayainya merawat Stella.Belum sempat Sean melangkah maju, Dokter Maria langsung meluruh ke lantai. Suara lutu

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Hanoi

    "Pak Kades, maaf sekali saya harus pamit mendadak," ucap Stella dengan napas agak terengah, memegangi perutnya yang makin membesar di teras klinik.Pak Kades yang kaget langsung berdiri dari kursi kayunya. "Lho, ada apa, Bu Dokter? Kok terburu-buru begitu membawa tas?""Perut saya kontraksi terus sejak semalam, Pak. Kayaknya saya harus dirujuk dan melahirkan di rumah sakit kota secepatnya," bohong Stella rapi."Ya Allah, begitu ya? Ya sudah, Bu Dokter segera berangkat! Jangan ditahan-tahan, kasihan si jabang bayi," balas Pak Kades polos tanpa rasa curiga sedikit pun. "Nanti soal klinik warga biar kami yang jaga sampai dokter Stella datang kembali.""Terima kasih banyak atas kebaikan Bapak dan warga selama ini. Saya jalan dulu, Pak," pamit Stella tulus.Ia langsung melangkah cepat didampingi Briptu Dion menuju dermaga kecil. Di sana, sebuah speedboat milik kepolisian sudah bersiap membelah perairan. Dion yang memandu tidak tahu rencana sebenarnya. Stella sengaja menyembunyikan hal ini

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Kontraksi

    "Tarik napas perlahan, Ste," instruksi Satria cepat dari balik telepon satelit, mencengkram ponselnya erat dengan raut wajah yang luar biasa tegang. "Tim medis rahasia yang kusiapkan di perbatasan bisa sampai di klinik dalam hitungan menit kalau kamu memang merasakan tanda-tanda persalinan. Jangan memaksakan diri!"Stella menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, mengelus perutnya yang membuncit tegang seraya mengatur napasnya yang sempat memburu. Keringat dingin yang membasahi dahinya perlahan disusutnya menggunakan kain tipis."Iya, Mas... Perutku mules, tapi kayaknya ini kontraksi palsu karena aku stres," bisik Stella dengan suara bergetar pelan. "Aku istirahat ya, Mas.""Kamu yakin tidak perlu tim medis mendekat?" tanya Satria memastikan."Tidak usah, Mas. Aku cuma butuh tenang sebentar. Aku tutup dulu ya," jawab Stella lirih sebelum mematikan panggilan telepon secara sepihak. Ia memeluk lututnya, menatap nanar langit-langit kamar kayunya di dalam kesunyian malam.Keesoka

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Tali Kasih Stella Anderson

    membungkus pepohonan di sekitar desa ketika Stella terbangun dengan rasa mual dan kontraksi halus di perut bagian bawahnya. Ia memegangi pinggangnya, melangkah perlahan keluar kamar menuju teras depan untuk mencari udara segar.Usia kandungannya kini benar-benar sudah berada di penghujung bulan kesembilan. Setiap helaan napas rasanya begitu berat, namun senyuman hangat warga yang mulai berlalu-lalang menuju kebun sedikit mengobati rasa lelahnya."Pagi, Bu Dokter! Bawa jalan-jalan pagi ya?" sapa Pak RT yang lewat sambil membawa cangkul di bahunya."Iya, Pak RT. Cari udara segar sedikit," sahut Stella lembut seraya mengulas senyum manis."Bagus itu, Dok, biar persalinannya lancar nanti. Kalau butuh bantuan apa-apa, panggil saja warga di cafe ya," pesan Pak RT perhatian sebelum melanjutkan langkahnya.Stella mengangguk tulus. Rasa kekeluargaan yang begitu erat di desa ini membuat hatinya merasa sangat dilindungi. Namun, kedamaian pagi itu terusik ketika Briptu Dion berjalan tergesa-ges

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Cafe Baru

    "Aku sudah tahu soal itu sejak dua hari lalu, Ste," jawab Satria tenang namun dengan nada suara yang begitu dalam di balik sambungan telepon satelit.Pria perwira intelijen itu mengusap tengkuknya seraya bersandar pada kursi kerjanya di markas Jakarta. Pandangannya menatap tajam ke arah laporan intelijen di atas mejanya yang mencatat setiap pergerakan Anderson Group dalam sepekan terakhir."Sean Anderson sengaja memanfaatkan jaringannya di Kementerian Kesehatan untuk menggelar perhelatan akbar itu," lanjut Satria dengan nada penuh kepastian. "Dia ingin menarik perhatian publik secara masif, memulihkan citra keluarganya, sekaligus mengirimkan pesan terselubung kepadamu melalui media nasional."Stella menghela napas panjang, meremas gaun hamilnya yang makin mengetat di area perutnya yang kian membuncit. Sembilan bulan kehamilannya sudah di depan mata. Hari demi hari yang ia lalui di desa ini dipenuhi ketenangan, tetapi setiap kali nama Sean mencuat, ada gelombang emosi rumit yang kembal

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Info

    Sebulan berlalu begitu cepat."Bagaimana persiapan untuk malam amal bersama Kementerian Kesehatan besok lusa, Sam?"Sean meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca, menatap Samuel yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Pria itu baru beberapa jam mendarat kembali di Jakarta setelah menuntaskan seluruh agenda bisnisnya di London. Meski rasa lelah akibat penerbangan panjang masih tersisa, gestur tubuh dan sorot mata Sean memancarkan ketegasan yang utuh.Samuel mendudukkan diri di sofa, menghela napas panjang seraya membuka lembaran dokumen di tangannya. "Semuanya sudah aman, Sean. Pihak kementerian menyambut baik inisiatif Anderson Group. Menteri Kesehatan sendiri yang akan membuka acara malam amal tersebut. Undangan resmi sudah disebar ke seluruh jajaran direksi rumah sakit daerah, asosiasi dokter, hingga para pemangku kepentingan di bidang kesehatan seluruh Indonesia."Sean menyunggingkan senyum tipis. "Bagus. Pastikan acara itu diliput secara besar-besaran oleh med

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status