LOGINTerimakasih kakak-kakak yang sudah partisipasi menjawab pertanyaan Selamat untuk kak Disava jawaban paling benar selanjutnya kak Lin Lin
"Nyonya Besar, ada kejanggalan fatal di dasar jurang ini."Suara dari telepon satelit memecah keheningan malam yang mencekam di lantai atas Anderson Hospital. Di dasar jurang yang curam dan berselimut kabut tebal, pimpinan tim detektif swasta asal Swiss berdiri mengamati bangkai SUV hitam yang telah hangus tak berbentuk. Sinar lampu sorot ultraviolet memantul di antara puing-puing logam yang berkarat."Apa maksudmu, Marc?" tanya Nyonya Besar dengan nada suara yang seketika berubah tegang. Di sampingnya, Julian dan Samuel berdiri terpaku, sementara Sean yang terbaring kaku mendadak menggerakkan jemarinya."Pola remuk kendaraan ini dan sebaran residu ledakan tidak cocok dengan skenario mobil meluncur berkecepatan tinggi saat tikungan," jelas detektif itu dingin melalui sambungan terenkripsi. "Sistem pemindai forensik kami tidak menemukan jejak residu organik atau struktur kalsium yang tersisa di dalam kabin pengemudi. Mobil ini dijatuhkan secara presisi dalam keadaan kosong."Kata 'koso
Sementara di lokasi yang berbeda, pagi itu Stella tampak sibuk membantu Satria mengangkat barang kepindahannya di bawah kaki gunung dengan pemandangan indah hamparan sawah luas. Angin pegunungan yang sejuk berembus lembut, membelai wajah Stella yang kini tampak jauh lebih tenang. Tidak ada lagi bising hiruk-pikuk kota Jakarta, tidak ada lagi kilatan lampu kamera pers, dan yang terpenting, tidak ada lagi bayang-bayang cengkeraman ketakutan dari sosok Sean Anderson."Stella, jangan mengangkat kardus yang terlalu berat. Biar aku saja," panggil Satria tegas seraya bergegas mengambil alih kotak kayu kecil dari jemari Stella."Aku hanya ingin membantu, Mas Satria. Lagipula kotak ini sangat ringan, hanya berisi perlengkapan dapur," sahut Stella dengan sunggingan senyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah sangat lama tidak pernah menghiasi bibirnya.Satria menatap wanita di hadapannya itu dengan tatapan hangat. Rumah kayu bergaya tradisional yang berdiri kokoh di lereng pegunungan ini sen
"Bawa cucu mantuku kembali ke Jakarta. Sekarang juga!"Suara bariton yang tenang namun berwibawa itu memecah keheningan koridor ruang perawatan VIP Rumah Sakit Utama Aldenia. Seorang wanita lanjut usia berpakaian serba hitam elegan melangkah anggun, dituntun oleh dua orang pengawal pribadi berpakaian serba gelap. Wajahnya yang dihiasi kerutan halus tetap memancarkan aura kekuasaan. Dia adalah Nyonya Besar Anderson, nenek kandung Sean yang selama ini paling disegani sekaligus satu-satunya sosok yang ditakuti oleh Sean Anderson.Mendengar kabar musibah mengerikan yang menimpa cucu menantu pilihan hatinya, Nyonya Besar langsung membatalkan seluruh agenda rapat bisnis penting di luar negeri dan terbang kembali ke tanah air menggunakan jet pribadi. Tanpa kompromi sedikit pun, ia memerintahkan pemindahan Sean dari RS Aldenia menuju Anderson Hospital, sebuah rumah sakit megah milik jaringan keluarga mereka di Jakarta, guna mendapatkan perawatan psikiatris dan pemulihan medis secara intensif.
"Nyonya Muda... minum air hangat ini dulu," panggil Dokter Maria lembut seraya menyodorkan cangkir keramik beruap tipis.Stella mengangguk pelan. Tangan kirinya yang tak lagi terpasang selang infus menerima cangkir tersebut dengan gerakan perlahan. Tatapannya hangat menatap wanita yang pernah menjadi dokter pribadinya itu, sebelum mengembuskan napas lega."Jangan panggil aku Nyonya lagi, Dokter Maria," panggil Stella lembut namun penuh penekanan. "Aku bukan nyonyamu lagi. Lagipula, kamu juga penyelamat hidupku. Aku gak nyangka bisa ada di titik ini, bisa menyelamatkan anakku dari lingkungan toxic."Dokter Maria tersenyum haru, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar ketegasan dan kepasrahan wanita di hadapannya. Ia duduk di tepi ranjang, merapikan selimut tipis yang melapisi kaki Stella."Baiklah... Stella," sahut Dokter Maria lembut. "Yang penting sekarang kamu dan bayimu sudah aman. Secara hukum, secara media, bahkan di mata keluarga Anderson, kamu dinyatakan telah meninggal dunia da
"Bagaimana situasi di dasar jurang?" tanya kasat lantas ke salah satu anggota Unit Laka Lantas yang baru saja memanjat naik dengan pakaian penuh jelaga dan tanah."Medan sulit dijangkau, Ndan." Jawabnya pelan. "Tapi tadi team masih terus mencoba turun ke bawah, Ndan, setelah bantuan datang." Iptu Satria Wardhana Danubaya mengalihkan pandangannya dari kobaran api yang mulai mereda di bawah sana, menatap anggota dengan raut wajah tenang namun tegas. "Kumpulkan semua sisa material yang bisa diidentifikasi. Pastikan tim forensik mencatat kendaraan terbakar habis bersama penumpang di dalamnya.""Siap, Ndan! Tim forensik Polres sudah bergerak menuju lokasi untuk pembuatan laporan resmi," jawab anggota tersebut sebelum kembali bergabung dengan jajaran personel yang sibuk mengamankan perimeter.Kasat Lantas berpangkat AKP yang berdiri di samping Satria menghembuskan napas berat, menggeleng-gelengkan kepala melihat kepulan asap tebal yang masih membumbung. "Laka tunggal yang parah banget, Sat
Kepanikan hebat melanda ruang kabin helikopter yang masih melayang di udara. Tubuh jangkung Sean rubuh menghantam lantai kabin, tak sadarkan diri dengan wajah sepucat mayat. Napasnya tersengal parah akibat syok berat yang menghantam mentalnya secara mendadak."Sean! Sean, bangun!" teriak Samuel histeris sambil menahan tubuh sahabat karibnya itu agar tidak bergeser dihantam angin kencang. Wajah Samuel sendiri sudah dipenuhi peluh dingin, matanya bergetar menatap lurus ke luar pintu helikopter.Di bawah sana, di balik rimbunnya pepohonan pinus, kobaran api merah kehitaman masih melahap habis kerangka SUV hitam di dasar jurang. Asap hitam pekat membumbung tinggi, mencemari langit pagi yang semula tenang."Bro! Sadar, Bro!" Samuel menepuk-nepuk pipi Sean dengan kencang, namun pria keturunan asing itu tetap tak bergeming.Samuel memutar kepalanya ke arah saluran interkom dengan napas memburu. Tim pengawal Anderson Group di bawah juga sedang dalam kondisi ketakutan setengah mati. Muka para







