LOGIN"Yeayy! Mama terpana lihat ketampanan papa..." seru Liam riang gembira sambil melompat-lompat kecil di samping Sean, tangannya menarik-narik ujung apron Stella dengan penuh antusias.Stella sama sekali tidak bergeming. Manik matanya menatap lekat-lekat pria yang berdiri di hadapannya. Hilang sudah janggut lebat dan rambut kusut yang selama beberapa jam lalu menutupi sebagian besar wajahnya. Kini, yang terlihat adalah pahatan wajah tegas, hidung mancung, rahang kokoh, serta sorot mata penuh cinta dan permohonan yang begitu melekat dalam ingatannya. Wajah Sean Anderson, pria yang dulu sangat ia cintai sekaligus ia takuti, kini berdiri tepat di depan pintu rumahnya tanpa ada lagi topeng penyamaran.Jantung Stella berdegup kencang, menghantam dadanya dengan rasa nyeri bercampur kelegaan yang aneh. Tenggorokannya terasa kering, membuatnya tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ia merasa seolah sedang berdiri di antara dua dunia, masa lalu yang penuh luka dan kenyataan masa kini yang
“Kak Sean! Apa yang terjadi kenapa kakak keluar bawa Liam? Apakah Kakak di usir?” Tanya Clarissa seketika saat melihat kakaknya menggendong Liam mendekat ke arah mobil.“‘Menurutmu?”“Sudah! Jangan main tebak-tebakan. Aku gak suka.”“Kami mau pangkas.” Jawab Sean akhirnya tertawa bahagia dan seketika Clarissa mendekat dan memeluk kakaknya yang masih menggendong puteranya dengan erat.“Artinya kak Stella tidak mengusirmu bukan?” Tanya Clarissa lagi.“Tidak. Liam yang menolongku. Puteraku memang sepintar aku.” Tegas Sean bangga.“Ah! Kalau nenek tahu pasti nenek sangat bahagia sekali.”“Nanti kita akan video call sama nenek, setelah aku membujuk Stella.”“Trus, sekarang mau kemana? Ayo!”“Kita mau pangkas Tante. Biar mama suka lagi sama papa.”Ckarissa menyeka air mata haru lalu mengangguk. “Naik mobil kak?”“Tidak. Kata Liam ada deket sini. Aku ingin gendong puteraku.”Clarissa mengangguk sambil tertawa tapi tangannya terus mengusap air mata yang tak henti mengalir.Mereka berjalan men
Tangisan histeris Liam menggema di setiap sudut rumah kayu kecil itu, merobek sisa-sisa pertahanan emosional yang sejak tadi dibangun dengan susah payah oleh Stella. Bocah tiga tahun itu memeluk kedua kaki ibunya erat-erat, wajah kecilnya basah oleh air mata, menyuarakan kepolosan seorang anak yang hanya menginginkan kehangatan keluarga lengkap yang selama ini tidak pernah ia miliki."Liam janji kami gak akan nyusahin mama... Biarkan Papa di sini dan tinggal sama kita, Mamaaaaa..." rintih Liam di sela tangisnya yang semakin menjadi-jadi, membuat hati siapa pun yang mendengarnya hancur berkeping-keping.Melihat penderitaan dan kepedihan di wajah buah hatinya, Sean tidak bisa lagi tinggal diam. Pria itu bergerak cepat, melangkah maju lalu berlutut di hadapan sang anak. Dengan kelembutan luar biasa, ia merengkuh tubuh mungil Liam dan mengangkatnya kedalam dekapannya, membawa bocah itu ke dalam pelukan hangat seorang ayah yang selama tiga tahun ini hanya ia kenal lewat selembar foto usa
Sean menatap selembar foto berbingkai plastik dan kayu dengan ikat karet yang disodorkan oleh tangan mungil putranya. Di dalam bingkai kayu itu, terpotret sosok dirinya beberapa tahun lalu pria berwajah tampan bersih, berbalut setelan jas necis kelas atas, dengan senyum tipis penuh percaya diri. Sebuah potret masa lalu yang kini terasa begitu jauh, bagaikan bayangan dari kehidupan orang lain.Sean menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya tercekat hebat. Ia menatap bergantian foto tersebut, lalu wajah polos Liam yang menatapnya penuh tanya, dan terakhir manik mata Stella yang berkaca-kaca menahan ribuan emosi."Liam..." bisik Sean parau. Dengan tangan bergetar, ia menerima bingkai foto itu dari tangan putranya, seolah memegang benda paling berharga di dunia. “Maafkan Papa, Nak. Waktu itu... Papa memang berpenampilan seperti di foto ini. Tapi Papa harus pergi jauh, berkelana menyeberangi banyak kota, melewati hari-hari yang berat untuk mencari inspirasi. Dan selama perjalanan
"Ste, ini aku Sean suamimu. Maaf baru menemukanmu," ucap Sean dengan derai air mata yang tumpah ruah membasahi janggut lebatnya. Suaranya terdengar begitu parau, sarat akan penyesalan mendalam dan kerinduan yang selama tiga tahun terakhir menyiksa batinnya.Mendengar pengakuan itu, Stella tidak serta-merta berteriak atau bersikap kekanakan. Sebagai wanita dewasa yang telah ditempa oleh kerasnya kehidupan pesisir dan perjuangan membesarkan anak seorang diri, ditambah dia juga tak mau Liam puternaya mendnegar keributan itu, kini Stella justru tertegun dalam keheningan yang panjang. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dinding dadanya dengan rasa sakit dan kejut yang luar biasa. Matanya membelalak menatap sosok pria berantakan di hadapannya, mencoba menyatukan kepingan ingatan masa lalu dengan realitas di depan mata.Meski penampilan pria itu kini jauh berbeda dari Sean Anderson yang ia kenal pria necis berwajah bersih dari keluarga konglomerat sorot mata sendu dan getar suara itu t
Angin pesisir sore itu berhembus semakin kencang, menerbangkan helai rambut gondrong Sean dan mengibarkan ujung jaketnya. Setelah bergelut cukup lama dengan badai emosinya sendiri di halaman depan, Sean akhirnya menarik napas dalam-dalam. Sisa-sisa keraguan yang sempat melumpuhkan kakaknya perlahan ia singkirkan. Dengan tekad baja yang disulut oleh kerinduan mendalam, pria itu melangkah pasti melewati jalan setapak kecil menuju teras rumah.Tangannya yang mengepal longgar terangkat. Dengan ritme yang pelan namun pasti, ia mendaratkan tiga ketukan ringan pada daun pintu kayu utama berplang Dapur Mama Liam.Tok... tok... tok...Suara ketukan itu menggema tipis di tengah kesunyian sore perkampungan nelayan. Di dalam rumah, suara langkah kaki terdengar mendekat, bergesekan pelan dengan lantai keramik. Tak lama kemudian, gagang pintu berputar ke bawah dengan bunyi klik yang tegas.Daun pintu pun terbuka lebar.Sosok wanita berpenampilan sederhana dengan apron tersampir di tubuhnya muncul







