Share

Debat

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-09-13 22:19:40

Iring-iringan mobil mewah keluarga Anderson akhirnya berhenti sempurna di pelataran utama mansion. Pengawal pribadi bergegas membukakan pintu sedan hitam. Stella melangkah turun dari mobil dengan anggun, membetulkan letak selendang gaun hamilnya. Di belakangnya, Dokter Fiona turun seraya merapikan jas medisnya, diikuti oleh Suster Syahnaz yang membawa tas perbekalan.

Namun, begitu Stella melangkah melewati pintu jati raksasa dan menginjakkan kaki di foyer lantai dasar, langkahnya mendadak terhe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
~Kaguya~
good job Stella, pokoknya jangan mau di tindas smaa mereka jujur gemes banget aku
goodnovel comment avatar
roso wulan
perempuan yang mereka kira lemah lembut sekarang berani melawan mertua nya yang ndolim
goodnovel comment avatar
roso wulan
pada diam kan tak berani berkata apalagi itu Fiona yang terlihat bahagia saat Stella di pojokan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Debat

    Iring-iringan mobil mewah keluarga Anderson akhirnya berhenti sempurna di pelataran utama mansion. Pengawal pribadi bergegas membukakan pintu sedan hitam. Stella melangkah turun dari mobil dengan anggun, membetulkan letak selendang gaun hamilnya. Di belakangnya, Dokter Fiona turun seraya merapikan jas medisnya, diikuti oleh Suster Syahnaz yang membawa tas perbekalan.Namun, begitu Stella melangkah melewati pintu jati raksasa dan menginjakkan kaki di foyer lantai dasar, langkahnya mendadak terhenti. Matanya menangkap sosok Nyonya Anderson, ibu mertuanya yang sedang duduk anggun di sofa utama lantai bawah seraya menyesap teh sore.Meskipun enggan berurusan dengan wanita yang tak pernah menyukainya itu, Stella sadar batas kesopanan di rumah ini tetap harus dijaga demi menghindari drama yang tak perlu. Dengan menghembuskan napas pelan, Stella melangkah mendekat ke area ruang tamu utama."Selamat sore, Mama," tegur Stella pelan. Ia menyodorkan tangannya, terpaksa bersalaman dan mencium pun

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Masak

    Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Dokter Fiona seketika menggantung di udara koridor VIP yang dingin. Suster Syahnaz yang berdiri tak jauh di belakang Stella meremas jemarinya, berusaha menahan kekesalan yang meletup-letup. Sementara dua pengawal pribadi Sean tetap berdiri tegap, memasang raut wajah netral seolah tak mendengar apa pun.Stella menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan, menatap Fiona yang masih mengulas senyum manis, senyum yang sengaja dirancang untuk memancing emosinya. Tatapan Stella begitu tenang, tapi tajam, hingga senyum di wajah dokter muda itu perlahan memudar dan memasang wajah kaku."Mengagumkan dari dulu?" sahut Stella dengan nada datar namun menekan. Ujung bibirnya terangkat membentuk ukiran senyum tipis yang amat dingin. "Sepertinya kamu mengenal suamiku jauh lebih lama dan lebih dalam dari yang kuduga, Dokter Fiona."Fiona tersentak pelan. Kesadaran bahwa ia baru saja menyebarkan umpan yang terlalu terang-terangan membuatnya sedikit gelisah, w

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Kagum

    “Dok, saya punya satu rahasia besar, tapi saya tidak bisa mengatakannya sekarang. Kalau boleh saya minta tolong dokter,” ucap Stella memelankan suaranya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Dokter Maria.“Apa, Nyonya? Apa pun akan saya lakukan untuk Anda, saya berhutang nyawa pada Anda,” Dokter Maria ikut memelankan suaranya, matanya memancarkan keseriusan penuh tanpa sedikit pun keraguan.“Kamu janji, apa pun yang terjadi kamu bisa jaga rahasia ini?” tatap Stella lagi lekat-lekat, mengunci pandangan Maria agar tak ada ruang untuk pengkhianatan.Dokter Maria mengangguk mantap tanpa jeda. “Saya janji, Nyonya. Saya akan menjaga rahasia ini sebaik mungkin, bahkan jika harus mempertaruhkan nyawa saya sendiri.”Stella menghela napas lega. Beban tak terlihat yang menghimpit dadanya seolah terangkat sebagian. Dengan gerakan amat pelan dan hati-hati, ia merogoh bagian dalam tas tangannya, memastikan tidak ada sudut pakaian atau aksesoris yang memicu kecurigaan dari luar pintu. Jemarinya menari

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Mungkin

    “Nyonyaaaa….benarkah itu anda?” Bisik dokter Maria berkedip beberapa kali ke arah Stella yang melangkah ke arahnya.“Iya, Dok. Ini saya…kok kayak seneng banget kamu. Berasa apa aja…” jawab Stela dengan senyum mengembang.“Ah! Terimakasih sudah repot-repot datang menjenguk saya, Nyonya. Saya sangat terharu…” ucap dokter Maria sambil berusaha duduk.“Hei, kamu itu masih sakit. Santai aja berbaring, Dok.” Ucap Stella sambil mengulas senyum paling hangat yang ia miliki hari ini. Dengan langkah perlahan, ia mendekati tepi ranjang lalu melabuhkan duduknya di kursi empuk yang tersedia. Tangannya terulur, menggenggam erat jemari Dokter Maria yang dingin.“Gak sopan, Dok.”"Heii, kita ini sesama sejawat. Kita tahu bagaimana harus memperlakukan pasien. Dan saat ini anda adalah seorang pasien. Jadi, Dokter Maria, jangan terlalu banyak bergerak dulu," ucap Stella sangat lembut, matanya memancarkan rasa kepedulian yang tulus. "Aku datang untuk melihat keadaanmu. Bagaimana perasaanmu hari ini?"“Hm

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Ke Rumah Sakit

    Begitu pintu kamar rapat terkunci dan langkah kaki Dokter Fiona benar-benar menghilang di balik lorong, keheningan yang tegang seketika memecah ruangan. Suster Syahnaz menghela napas panjang seraya memegang dadanya, seolah baru saja lolos dari himpitan udara tebal yang menyesakkan.“Luar biasa, Nyonya...” bisik Syahnaz dengan mata berbinar kagum, tak sanggup menyembunyikan rasa puasnya. “Jujur, dari tadi jantung saya mau melompat. Cara Nyonya menekan Dokter Fiona tadi benar-benar elegan tapi mematikan! Wajahnya yang sombong itu langsung pucat pasrah.”Stella mengulas senyum tipis, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan gerakan yang sangat tenang. Binar ketegasan di matanya perlahan berganti.“Wanita seperti Fiona tidak bisa diberi celah sedikit pun, Syahnaz,” sahut Stella halus, mengusap perutnya yang kian membuncit. “Dia masuk ke rumah ini bukan cuma membawa stetoskop, tapi membawa ambisi. Kalau saya biarkan dia melangkah setapak, dia akan mencoba menguasai seluruh lantai

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Jagoan

    “Sean tidak pulang? Ada apa? Tidak ada yang ngabari? Apakah itu triknya agar dia tak membawaku mengunjungi dokter Maria?” gumam Stella dengan penuh rasa penasaran tatkala menatap sisi ranjangnya yang masih begitu rapi dan dingin.Ia menghela napas panjang, mengusap perutnya yang sedikit membuncit seraya duduk di tepi kasur. Dia menoleh “Kalau kemarin gagal, aku harus minta izin hari ini. Ke area luar itu adalah jalan satu-satunya aku komunikasi dengan Julian,” bisik Stella lagi pada dirinya sendiri. Sorot matanya yang semula bimbang seketika memancar penuh ketegasan.Usai membasuh muka dan merapikan gaun utamanya, Stella melangkah pelan dan duduk dengan santai."Selamat pagi, Nyonya Stella," sapa Fiona dengan senyum manis yang tersusun rapi tanpa cela. "Bagaimana tidur Nyonya semalam? Tuan Sean menelepon saya pagi-pagi sekali untuk memastikan Nyonya mendapatkan istirahat yang cukup."Stella menatap Fiona dingin, mengabaikan keramahan palsu sang dokter. "Saya tidur sangat nyenyak, Dok

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status