Share

Bab 2

Author: Do
Setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit hingga semua indikatornya stabil, akhirnya Angelica keluar dari rumah sakit.

Sesampainya di rumah, dia mendapati lampu ruang tamu yang biasanya jarang menyala ternyata sedang menyala.

Begitu membuka pintu, dia melihat Anthony sedang duduk di sofa sambil membalikkan dokumen pekerjaan. Jasnya disampirkan begitu saja di sandaran tangan sofa, seolah dia baru saja pulang.

Saat mendengar suara, Anthony mengangkat pandangannya, lalu mengesampingkan dokumen.

"Kata Feodora, kamu pergi ke rumah sakit? Untuk apa kamu ke rumah sakit?"

"Pergi melakukan aborsi."

Saat berbicara sampai setengah, ponsel Anthony berdering. Muncul nama "Feodora" di atas layar ponselnya. Suara dering ponsel yang terdengar tajam dan riang itu langsung menutupi suaranya.

Anthony melirik sekilas panggilan masuk. Sudut bibirnya langsung terangkat.

Setelah mengakhiri panggilan, Anthony baru kembali menatap Angelica, lalu bertanya dengan acuh tak acuh, "Apa yang kamu katakan tadi?"

Angelica menatap wajah tenang Anthony. Tiba-tiba dia merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.

Angelica menghela napas. "Nggak kenapa-napa."

Dia berbalik hendak berjalan ke kamar. Namun, Anthony tiba-tiba berdiri dan mengikutinya, memeluk pinggangnya dari belakang, lalu menyandarkan dagu di atas pundaknya.

"Ada apa denganmu?"

Angelica terbengong sesaat. "Apa maksudmu?"

"Apa kamu merasa nggak senang karena aku nggak menemanimu di rumah sakit?"

Nada bicara Anthony terdengar santai, seperti sedang membujuk seorang anak kecil yang sedang merajuk.

"Hari ini agak spesial. Hari ini adalah hari ke-10000 sejak aku mengenal Feodora. Gadis itu menganggap penting hari seperti ini, jadi nggak bisa dimajukan ataupun diundur sehari. Aku juga nggak bisa meninggalkannya."

Barulah Angelica menyadari bahwa yang dimaksud Anthony adalah pesan singkat yang dikirimkannya tadi.

Sepertinya Anthony mengira Angelica hanya melakukan sebuah pemeriksaan biasa. Dia bisa mengajukan cerai juga karena Anthony menemani Feodora dan tidak menemaninya.

"Aku nggak sedang merajuk. Nanti, aku akan susun …."

"Belakangan ini aku sedang sibuk bekerja. Kamu jangan meniru Feodora yang suka merajuk," potong Anthony dengan nada bicara datar.

Anthony berjalan kembali ke sofa untuk menyimpan dokumen. Dia berkata tanpa mengangkat kepalanya, "Malam ini masih ada urusan di perusahaan. Aku sudah khusus meluangkan waktu untuk menemanimu. Kamu juga bukan anak kecil lagi. Terkadang kalau kamu merajuk, aku akan membujukmu, tapi jangan keseringan."

Anthony mengambil kunci mobil di atas rak. Pintu dibuka, kemudian ditutup lagi. Dia sudah pergi.

Angelica pun tersenyum.

Ternyata di mata Anthony, semua emosi yang dia rasakan adalah "merajuk".

Bahkan pesan yang mengatakan bahwa dia ingin bercerai pun tidak dianggap serius oleh Anthony. Selama ini, Anthony juga tidak pernah benar-benar memperhatikan kebutuhannya.

Dia berbalik dan kembali ke kamar tidur. Pengacara yang dia gunakan sangat profesional. Setelah mendengarkan keinginannya, tidak lama kemudian pengacara mengirimkan surat perjanjian perceraian yang adil dan tidak memihak.

Angelica membaca dengan saksama, lalu mengirim versi digital ke nomor Anthony.

Belum satu menit pesan dikirim, Feodora langsung membalas.

[Kak Angel, kalau kamu ingin menarik perhatian Kak Anthony, kamu juga nggak boleh berbuat seperti ini. Dia sangat nggak suka dengan tes seperti ini!]

[Dulu aku pernah kalah dalam sebuah permainan, lalu aku mencari seorang teman laki-laki untuk berpura-pura menjadi pacarku, untuk menguji bagaimana reaksi lawan jenis yang paling dekat denganku. Kak Anthony begitu marah setelah melihatnya. Setelah tahu bahwa itu hanya sebuah tes, aku membujuknya cukup lama sebelum akhirnya dia memaafkanku. Jadi, aku sarankan kamu jangan melakukan hal seperti ini.]

Angelica tidak membalas.

Tidak lama kemudian, Feodora mengirim dokumen. Angelica membuka untuk melihatnya. Tanda tangan Anthony sudah terlukis indah di atasnya.

Kemudian, ada sebuah pesan suara. Suara Feodora terdengar sangat santai dan lugu.

[Kak Angel, Kak Anthony lebih percaya sama aku. Tanpa melihat dengan detail, dia pun langsung menandatanganinya. Gimana kalau aku ingatkan dia lagi?]

Angelica menatap tanda tangan itu dalam waktu yang sangat lama.

Tebakan Angelica tidak salah. Meskipun Feodora kelihatannya sedang membujuk Angelica untuk tidak bercerai, tetapi tindakannya malah sangat jujur.

Angelica menyunggingkan sudut bibirnya, lalu mengirim dokumen yang sudah ditandatangani kepada pengacara.

Pada saat ini, rasa sakit di bagian bawah tubuh kembali terasa. Dia tidak memiliki tenaga ekstra untuk memikirkan masalah apa pun lagi. Dia meringkuk sembari memejamkan matanya. Tidak lama kemudian, dia pun tertidur pulas.

Saat larut malam, Angelica dibangunkan oleh suara dering ponsel.

Begitu panggilan terhubung, terdengar suara jerit panik orang di ujung telepon. "Kak Angel, kamu cepat kemari! Sudah terjadi sesuatu!"

Angelica refleks membangkitkan tubuhnya. Dia tidak memedulikan rasa sakit di bagian bawah perutnya, langsung mengenakan jaket, bergegas ke lokasi yang dikirimkan.

Lokasi itu adalah sebuah klub eksklusif. Pintu ruangan VIP setengah terbuka. Cahaya di dalam sana berkelap-kelip.

Saat Angelica baru masuk, dia mendengar suara sorak seseorang. "Feodora, giliran kamu sekarang! Apa ada masalah yang nggak diketahui kami semua yang berada di sini?"

Wajah Feodora memerah. Matanya tampak sayu karena mabuk. Dia memiringkan kepala dan melirik Anthony, lalu tersenyum.

"Tentu saja ada. Aku pernah tidur dengan Pak Anthony."

Suasana seketika membeku. Tatapan semua orang beralih kepada Angelica yang berwajah pucat, datang tergesa-gesa dengan mengenakan piyama dan sandal.

Angelica akhirnya mengerti ternyata Feodora sengaja menghubunginya demi mendengar ucapan ini.

Saat Feodora melihat Angelica, matanya langsung berkilauan. Dia berdiri, berjalan mendekat dengan langkah sempoyongan, lalu menarik tangan Angelica.

"Kak Angel, kamu sudah datang ya. Kamu urus Kak Anthony dulu. Dia keterlaluan sekali. Setiap kalinya, aku saja sudah capek, tapi dia masih saja nggak merasa puas. Bisa nggak kamu berbagi tip bagaimana kamu menghadapi Kak Anthony di atas ranjang?"

Suasana di dalam ruang VIP menjadi hening.

Setelah itu, tatapan yang dipenuhi dengan rasa kasihan dan canggung serentak tertuju pada diri Angelica.

Telinga Angelica berdengung. Dia mengangkat tangannya langsung menampar Feodora dengan kuat!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 14

    Awalnya Angelica mengira semuanya sudah berakhir.Namun setelah Anthony siuman, dia tetap tidak bersedia kembali ke tanah air.Entah dari mana dia mendapatkan alamat Angelica. Setelah lukanya sudah mulai pulih, dia pun muncul di hadapan Angelica.Luka di bagian samping pinggang Anthony masih belum sembuh total. Ketika berdiri di tempat, dia bahkan kelihatan agak mengenaskan.Angelica tidak menemuinya. Dia berencana untuk membiarkannya selama beberapa hari. Anthony pasti akan mundur dengan sendirinya. Namun, dia sudah merendahkan keteguhan Anthony.Anthony meminta seseorang untuk mengantar sebuah kotak perhiasan. Di dalamnya terdapat sebuah kalung model eksklusif dari merek terkenal, kemudian ada juga selembar kartu yang ditulis tangan. Di atasnya tertera satu baris tulisan.[Maaf, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi.]Angelica menatap kartu itu selama tiga detik.Kemudian, dia membuka pintu dan langsung membanting kuat kotak perhiasan di hadapan Anthony.Kotak terpental hingga terb

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 13

    Feodora menunduk untuk menatap pisau di tangannya. Dia pun merasa kaget."Aku … aku bukan …." Sekujur tubuh Feodora gemetar. Dia terus melangkah mundur. "Kak Anthony, aku bukan sengaja …. Aku nggak kepikiran …."Anthony menatap Angelica yang sedang duduk di atas tanah.Darah tidak berhenti mengalir dari samping pinggang. Wajahnya juga sudah kelihatan pucat. Sudut keningnya dipenuhi dengan keringat dingin. Namun, tatapannya ketika menatap Angelica malah terlihat lembut."Kamu nggak terluka, ‘kan?" tanya Anthony.Suara terdengar sangat lirih, seolah telah menguras seluruh tenaganya.Angelica terbengong di tempat. Matanya terbelalak. Ketika melihat warna darah terus menyebar di atas kemeja Anthony, pikirannya menjadi hampa.Anthony berjalan maju satu langkah ke sisi Angelica. Lututnya terasa lemas, seketika setengah berlutut di atas tanah."Angelica …."Anthony mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Angelica. Namun, jari tangannya malah berhenti di udara.Dia tersenyum getir, kemudi

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 12

    Angelica menatap Andrew sekilas dengan tidak berdaya.Dia tahu kenapa Andrew berbuat seperti ini. Sepertinya Andrew ingin dia sepenuhnya memutuskan hubungan dengan masa lalunya.Belum sempat Angelica mengatakan sesuatu, Anthony sudah berjalan maju dengan langkah besar.Langkah kaki Anthony sangat cepat. Dia kelihatan begitu buru-buru. Namun ketika berjalan ke hadapan Angelica, dia segera berhenti, seolah-olah tidak tahu bagaimana mendekati Angelica."Angelica." Suara Anthony terdengar serak. "Aku sudah mencarimu begitu lama …. Kenapa kamu pergi tanpa berpamitan sama sekali? Kenapa kamu nggak bersedia memberi tahu masalah itu kepadaku?"Anthony mengulurkan tangannya ingin menyentuh pundaknya.Angelica langsung mundur selangkah.Tangan Anthony terkaku di udara. Tatapannya seketika menjadi suram.Angelica menatapnya dengan ekspresi tenang."Jangan berpura-pura seolah merasa terharu.""Apa aku nggak pernah beri tahu kamu? Aku sudah beri tahu semuanya kepadamu.""Saat aku hamil, aku sudah m

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 11

    Feodora duluan mengalihkan pandangannya. Dia melirik sekilas Andrew yang berada di sisi Angelica, lalu bergegas berjalan maju dan berbicara dengan nada rendah."Kak Angel, bisakah kita bicara sebentar?"Belum sempat Angelica membalas, Feodora sudah berbalik berjalan ke gang sebelah, seolah-olah yakin Angelica akan menyusul langkahnya.Kening Andrew berkerut. Dia memiringkan kepalanya untuk menatap Angelica.Angelica menggeleng padanya, lalu berdiri dan mengikuti langkah Feodora.Suasana di dalam gang sangat hening. Cahaya matahari dihalangi oleh bangunan di dua sisi. Hanya tersisa sedikit cahaya yang jatuh di atas permukaan lantai.Feodora membalikkan tubuhnya, lalu berkata dengan terus terang."Kak Angel, kenapa kamu bisa berdua dengan orang itu?" Nada bicara Feodora terdengar sedikit menyalahkan. "Apa kamu sudah mengkhianati Kak Anthony?"Angelica tidak berbicara, melainkan menatapnya dengan tenang.Ketika Feodora menyadari Angelica tidak menjawab, dia pun kembali berkata dengan pani

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 10

    Satu bulan kemudian.Angelica sudah jarang memikirkan masalah itu lagi.Mimpi buruk yang sebelumnya datang setiap malam kini hanya sesekali saja. Saat bangun, dia juga tidak berkeringat dingin lagi.Angelica mulai bisa tidur dengan nyenyak. Kini, dia terbangun di pagi hari karena sinar matahari, bukan lagi karena mimpi buruk. Selama sebulan ini, Andrew memperlakukannya dengan sangat baik.Angelica sempat berkomentar bahwa kopi di tempat ini terlalu pahit. Keesokan harinya, Andrew langsung mempekerjakan barista terbaik dari dalam negeri.Dia berkata ingin makan hotpot, tetapi tidak ada restoran hotpot di sekitar sana. Keesokan harinya, sebuah restoran hotpot bahkan dibuka di dekat tempat mereka.Suatu hari, Angelica sempat memandangi toko bunga di bawah dari balkon beberapa kali. Ketika pulang di sore hari itu, sudah ada sebuket bunga lisianthus putih di kamarnya.Andrew tidak pernah sengaja mengungkit jasanya, juga tidak pernah mengungkit semua hal itu, seolah-olah semuanya memang sud

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 9

    Di negara lain.Pemandangan asing terbentang di luar jendela. Angin di negara asing membawa aroma air laut dan garam berembus masuk, menggerakkan tirai putih yang tipis.Angelica terbangun dari mimpi buruk dengan keringat dingin memenuhi punggungnya.Mimpi itu lagi.Angelica meringkuk di dalam selimut sambil memeluk lututnya. Dia sedang menunggu detak jantungnya perlahan kembali tenang.Setelah itu, sebuah tangan hangat menyentuh punggung Angelica, lalu menepuknya dengan perlahan, seolah-olah sedang menenangkan seekor binatang yang sedang terkejut."Nggak apa-apa. Nggak apa-apa."Suara rendah itu terdengar di dalam kegelapan, sedikit serak, tetapi memberikan rasa tenang.Angelica memalingkan kepalanya. Dia melihat orang yang duduk di samping ranjang dengan bantuan cahaya rembulan yang memancar dari luar jendela.Orang itu bernama Andrew Chanata. Dia adalah musuh bebuyutan Anthony.Andrew sedang mengenakan pakaian rumahan berwarna gelap dan bersandar di kursi di sisi tempat tidur. Di sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status