Share

Bab 3

Author: Do
Feodora terkena tamparan secara mendadak, hingga terhuyung-huyung dan jatuh tersungkur ke lantai.

Angelica melangkah maju selangkah. Dia membungkuk, lalu menjambak rambut Feodora untuk menarik wajahnya ke atas. Setelah itu, dia kembali melayangkan satu tamparan keras.

"Angel!"

Anthony langsung berdiri dan bergegas mendekat. Dia mencengkeram pergelangan tangan Angelica dan menariknya ke belakang dengan kuat, sampai tubuhnya terseret sejauh setengah meter.

Anthony mencengkeram Angelica erat-erat. Suaranya terdengar sangat rendah. Dia terlihat sedang menahan amarahnya.

"Feodora memang suka sembarangan bicara di saat mabuk. Apa perlu kamu menganggap serius dan memukulnya?"

Angelica ingin melepaskan tangannya, tetapi tangannya tidak bisa bergerak karena dicengkeram oleh Anthony.

"Sebenarnya dia sembarangan bicara di saat mabuk atau sedang berterus terang di saat mabuk? Kalian sudah berselingkuh berapa kali di belakangku? Apa kamu nggak merasa menjijikkan!"

"Kalau kamu nggak menyukaiku, kita bercerai saja!" Suara Angelica tiba-tiba menjadi serak. Air mata tidak berhenti mengalir. "Atas dasar apa kalian berdua boleh mempermalukan dan mempermainkanku seperti ini!"

Feodora dipapah orang di samping untuk berdiri. Dia menutup wajahnya dan menangis. "Mukaku …."

Barulah semua orang menyadari bahwa pipi sebelah kanan Feodora terluka oleh sudut meja yang tajam. Darah bercampur dengan air mata mengalir menyusuri rahangnya hingga menetes ke bawah.

Melihat hal itu, amarah di mata Anthony akhirnya benar-benar tidak terbendung lagi.

"Angelica, minta maaf."

Angelica hanya merasa amarah membara di dalam dadanya. Dia tidak suka mencari masalah, tetapi bukan berarti dia akan terus bersabar membiarkan dirinya diperlakukan semena-mena.

Dia tiba-tiba melepaskan diri dari cengkeraman Anthony, lalu berbalik mengambil botol anggur merah yang masih terisi setengah di atas meja dan menyiramkan seluruh isinya ke tubuh Feodora.

Cairan wine itu mengenai luka Feodora, membuatnya menjerit sambil mundur.

Anthony benar-benar murka. "Kamu benar-benar sudah gila! Pelayan! Sadarkan dia!"

Angelica bahkan belum sempat bereaksi ketika seember air es untuk mendinginkan anggur merah disiramkan ke kepalanya.

Seluruh tubuhnya gemetar. Piyama yang basah kuyup menempel erat di tubuhnya, membuatnya kedinginan sampai napasnya pun gemetar.

Belum sempat Angelica merespons, dua orang pengawal sudah maju untuk menahan pundaknya, lalu kembali menyiram seember air es dari atas kepalanya.

Angelica baru saja pulang dari rumah sakit. Bagian bawah perutnya memang sedang sakit. Dua ember air es ini langsung membuatnya kesakitan hingga pandangannya menggelap.

Anthony berdiri di hadapannya, lalu menunduk untuk menatapnya. "Apa kamu sudah sadar? Kapan kamu minta maaf, kapan masalah ini berakhir."

Angelica tidak berani percaya dengan apa yang didengarnya.

Jelas-jelas Feodora berbicara di depan semua orang dengan lancang dan menginjak harga dirinya. Suaminya malah tidak berpihak di sisinya, malah menyuruhnya untuk minta maaf.

Angelica membuka mulutnya. Belum sempat dia berbicara, ember air es ketiga telah disiramkan.

Kali ini, Angelica bahkan tidak menjerit lagi. Rasa sakit di bagian bawah perutnya membuat pandangannya menggelap. Air es juga memaksanya untuk terbangun. Dia menunduk melihat genangan air yang mulai memerah.

Darah mengalir dari bawah pahanya, menyatu dengan air es, lalu mulai menyebar.

Saat ember air es berikutnya hendak disiramkan kepadanya, akhirnya Angelica tidak bisa menahan dirinya lagi.

"Maaf … semua salahku."

Pengawal itu melepaskan cengkeramannya pada Angelica, lalu mundur ke samping.

Anthony berbalik untuk berjalan ke sisi Feodora. Dia melepaskan jasnya dan menyampirnya ke atas pundak Feodora, lalu merangkul pundaknya membawanya keluar.

Saat suara langkah kaki Anthony benar-benar tidak terdengar lagi, baru ada yang berani bergerak.

Mereka segera memapah Angelica dengan panik. Seseorang menunduk menatap permukaan lantai, alhasil raut wajahnya langsung berubah drastis. "Kenapa ada darah sebanyak ini? Cepat panggil ambulans!"

Pandangan Angelica sudah buram. Suara yang terdengar juga sudah tidak jelas. Kesadarannya mulai menghilang di tengah keributan.

Saat siuman, Angelica sudah berbaring di dalam rumah sakit.

Dokter utama berjalan memasuki kamar dengan memegang catatan rekam medis. Dia membalikkan beberapa lembar dan keningnya semakin berkerut.

"Kamu masih dalam masalah pemulihan. Mana boleh membasahi tubuhmu dengan air es? Kondisimu kali ini cukup parah. Kelak kamu hampir nggak ada kemungkinan untuk hamil lagi."

Saat mendengar ucapan itu, setetes air mata mengalir dari sudut mata, lalu masuk ke dalam rambutnya.

Pada saat ini, pintu kamar pasien terbuka. Anthony berjalan ke dalam.

"Apa yang sedang kalian katakan?"

Dokter mendorong kacamatanya. "Apa kamu adalah suaminya? Kenapa kamu nggak hati-hati! Dia baru saja menggugur …."

"Dokter," potong Angelica, "Aku sudah memahami kondisiku. Terima kasih."

Ketika melihat situasi ini, dokter juga tidak berbicara panjang lebar lagi. Pada akhirnya, dia hanya berpesan beberapa hal, lalu meninggalkan ruangan.

Sebenarnya bukan karena Angelica tidak ingin mengatakannya.

Sebaliknya, Angelica sudah pernah mengatakannya berkali-kali. Dia pernah mengatakannya saat hamil dan saat keguguran, tetapi Anthony sama sekali tidak mengetahuinya dan juga tidak memedulikannya.

Kalau berbicara terlalu banyak, malah akan mempermalukan diri sendiri.

Angelica memalingkan kepalanya untuk menatap Anthony. "Untuk apa kamu kemari? Kenapa nggak temani Feodora?"

Kening Anthony berkerut. Sepertinya dia merasa tidak senang dengan nada bicara Angelica. Hanya saja, dia tidak perhitungan, melainkan berkata dengan datar, "Penyakit Ibu kambuh lagi. Setelah kamu sembuh nanti, kamu pergi jaga Ibu. Padahal kamu adalah istriku, malah Feodora lebih sering mengunjungi Ibu daripada kamu. Anggap saja kamu sedang menebus kesalahanmu dalam kesempatan kali ini."

Angelica terbengong.

Kondisi ibu Anthony, Wina Arnada, tidak bagus. Dia sering keluar masuk rumah sakit. Setiap kalinya, Angelica selalu pergi menjaganya dengan sepenuh hati.

Kenapa bagi Anthony, dia lebih jarang mengunjungi ibunya daripada Feodora?

Angelica teringat bahwa setiap kali Wina melihatnya, kalimat pertama yang selalu diucapkan adalah, "Kenapa Feodora nggak datang?"

Dia teringat setiap kalinya Feodora hanya sekadar bertanya kabar saja, tetapi Wina akan tersenyum dan mengatakan betapa pengertiannya Feodora.

Dia teringat saat dirinya telah berjaga selama tiga hari tiga malam, sementara Feodora hanya datang sekali. Namun, ketika Wina terbangun, dia justru mengatakan bahwa Feodora telah bersusah payah.

Di mata Wina, Feodora barulah orang yang bisa menggembirakannya, sedangkan Angelica bahkan mungkin tidak bisa dibandingkan dengan seorang perawat.

Lagi pula, mereka juga akan bercerai.

Semua kewajiban dan status sebagai istri yang selama ini dia jalankan, nantinya akan dia serahkan kepada Feodora.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 14

    Awalnya Angelica mengira semuanya sudah berakhir.Namun setelah Anthony siuman, dia tetap tidak bersedia kembali ke tanah air.Entah dari mana dia mendapatkan alamat Angelica. Setelah lukanya sudah mulai pulih, dia pun muncul di hadapan Angelica.Luka di bagian samping pinggang Anthony masih belum sembuh total. Ketika berdiri di tempat, dia bahkan kelihatan agak mengenaskan.Angelica tidak menemuinya. Dia berencana untuk membiarkannya selama beberapa hari. Anthony pasti akan mundur dengan sendirinya. Namun, dia sudah merendahkan keteguhan Anthony.Anthony meminta seseorang untuk mengantar sebuah kotak perhiasan. Di dalamnya terdapat sebuah kalung model eksklusif dari merek terkenal, kemudian ada juga selembar kartu yang ditulis tangan. Di atasnya tertera satu baris tulisan.[Maaf, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi.]Angelica menatap kartu itu selama tiga detik.Kemudian, dia membuka pintu dan langsung membanting kuat kotak perhiasan di hadapan Anthony.Kotak terpental hingga terb

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 13

    Feodora menunduk untuk menatap pisau di tangannya. Dia pun merasa kaget."Aku … aku bukan …." Sekujur tubuh Feodora gemetar. Dia terus melangkah mundur. "Kak Anthony, aku bukan sengaja …. Aku nggak kepikiran …."Anthony menatap Angelica yang sedang duduk di atas tanah.Darah tidak berhenti mengalir dari samping pinggang. Wajahnya juga sudah kelihatan pucat. Sudut keningnya dipenuhi dengan keringat dingin. Namun, tatapannya ketika menatap Angelica malah terlihat lembut."Kamu nggak terluka, ‘kan?" tanya Anthony.Suara terdengar sangat lirih, seolah telah menguras seluruh tenaganya.Angelica terbengong di tempat. Matanya terbelalak. Ketika melihat warna darah terus menyebar di atas kemeja Anthony, pikirannya menjadi hampa.Anthony berjalan maju satu langkah ke sisi Angelica. Lututnya terasa lemas, seketika setengah berlutut di atas tanah."Angelica …."Anthony mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Angelica. Namun, jari tangannya malah berhenti di udara.Dia tersenyum getir, kemudi

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 12

    Angelica menatap Andrew sekilas dengan tidak berdaya.Dia tahu kenapa Andrew berbuat seperti ini. Sepertinya Andrew ingin dia sepenuhnya memutuskan hubungan dengan masa lalunya.Belum sempat Angelica mengatakan sesuatu, Anthony sudah berjalan maju dengan langkah besar.Langkah kaki Anthony sangat cepat. Dia kelihatan begitu buru-buru. Namun ketika berjalan ke hadapan Angelica, dia segera berhenti, seolah-olah tidak tahu bagaimana mendekati Angelica."Angelica." Suara Anthony terdengar serak. "Aku sudah mencarimu begitu lama …. Kenapa kamu pergi tanpa berpamitan sama sekali? Kenapa kamu nggak bersedia memberi tahu masalah itu kepadaku?"Anthony mengulurkan tangannya ingin menyentuh pundaknya.Angelica langsung mundur selangkah.Tangan Anthony terkaku di udara. Tatapannya seketika menjadi suram.Angelica menatapnya dengan ekspresi tenang."Jangan berpura-pura seolah merasa terharu.""Apa aku nggak pernah beri tahu kamu? Aku sudah beri tahu semuanya kepadamu.""Saat aku hamil, aku sudah m

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 11

    Feodora duluan mengalihkan pandangannya. Dia melirik sekilas Andrew yang berada di sisi Angelica, lalu bergegas berjalan maju dan berbicara dengan nada rendah."Kak Angel, bisakah kita bicara sebentar?"Belum sempat Angelica membalas, Feodora sudah berbalik berjalan ke gang sebelah, seolah-olah yakin Angelica akan menyusul langkahnya.Kening Andrew berkerut. Dia memiringkan kepalanya untuk menatap Angelica.Angelica menggeleng padanya, lalu berdiri dan mengikuti langkah Feodora.Suasana di dalam gang sangat hening. Cahaya matahari dihalangi oleh bangunan di dua sisi. Hanya tersisa sedikit cahaya yang jatuh di atas permukaan lantai.Feodora membalikkan tubuhnya, lalu berkata dengan terus terang."Kak Angel, kenapa kamu bisa berdua dengan orang itu?" Nada bicara Feodora terdengar sedikit menyalahkan. "Apa kamu sudah mengkhianati Kak Anthony?"Angelica tidak berbicara, melainkan menatapnya dengan tenang.Ketika Feodora menyadari Angelica tidak menjawab, dia pun kembali berkata dengan pani

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 10

    Satu bulan kemudian.Angelica sudah jarang memikirkan masalah itu lagi.Mimpi buruk yang sebelumnya datang setiap malam kini hanya sesekali saja. Saat bangun, dia juga tidak berkeringat dingin lagi.Angelica mulai bisa tidur dengan nyenyak. Kini, dia terbangun di pagi hari karena sinar matahari, bukan lagi karena mimpi buruk. Selama sebulan ini, Andrew memperlakukannya dengan sangat baik.Angelica sempat berkomentar bahwa kopi di tempat ini terlalu pahit. Keesokan harinya, Andrew langsung mempekerjakan barista terbaik dari dalam negeri.Dia berkata ingin makan hotpot, tetapi tidak ada restoran hotpot di sekitar sana. Keesokan harinya, sebuah restoran hotpot bahkan dibuka di dekat tempat mereka.Suatu hari, Angelica sempat memandangi toko bunga di bawah dari balkon beberapa kali. Ketika pulang di sore hari itu, sudah ada sebuket bunga lisianthus putih di kamarnya.Andrew tidak pernah sengaja mengungkit jasanya, juga tidak pernah mengungkit semua hal itu, seolah-olah semuanya memang sud

  • Biarkan Cinta Berlalu Bersama Perpisahan   Bab 9

    Di negara lain.Pemandangan asing terbentang di luar jendela. Angin di negara asing membawa aroma air laut dan garam berembus masuk, menggerakkan tirai putih yang tipis.Angelica terbangun dari mimpi buruk dengan keringat dingin memenuhi punggungnya.Mimpi itu lagi.Angelica meringkuk di dalam selimut sambil memeluk lututnya. Dia sedang menunggu detak jantungnya perlahan kembali tenang.Setelah itu, sebuah tangan hangat menyentuh punggung Angelica, lalu menepuknya dengan perlahan, seolah-olah sedang menenangkan seekor binatang yang sedang terkejut."Nggak apa-apa. Nggak apa-apa."Suara rendah itu terdengar di dalam kegelapan, sedikit serak, tetapi memberikan rasa tenang.Angelica memalingkan kepalanya. Dia melihat orang yang duduk di samping ranjang dengan bantuan cahaya rembulan yang memancar dari luar jendela.Orang itu bernama Andrew Chanata. Dia adalah musuh bebuyutan Anthony.Andrew sedang mengenakan pakaian rumahan berwarna gelap dan bersandar di kursi di sisi tempat tidur. Di sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status