Share

6~BC

Author: Kanietha
last update publish date: 2025-08-23 16:56:22

“Sorry, Han, tapi lagi nggak ada ujian, kan?” tanya Bias ketika Farhan menghampiri.

“Nggak, Kak.” Farhan duduk di sebelah Bias, mengatupkan jemarinya dengan kedua siku bertumpu di paha. “Tapi, ngapain ke sini?”

“Aku mau tanya masalah Cinta.”

“Oh ...”

Bias melihat jelas perubahan dari wajah siswa kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama itu. Sebenarnya, ada apa dengan Cinta dan keluarganya.

“Kak Bias mau tanya apa?” Farhan menegakkan tubuh, mencari posisi yang nyaman agar lebih santai.

“Tapi tolong janji, jangan bilang siapa pun kalau aku ke sini.”

“Oke.” Farhan langsung mengangguk tanpa ragu. “Tanya aja.”

“Apa Cinta memang nggak ada di rumah beberapa hari ini?” tanya Bias mulai dengan pertanyaan pertamanya.

Farhan menggeleng, tidak bisa memastikan. “Sudah ...” Farhan mengingat-ingat, kapan terakhir kali ia melihat keberadaan salah satu kakak perempuannya. “Dari malam minggu. Ya! Aku yakin dia nggak tidur di rumah dari malam minggu. Tapi, aku nggak tahu, dia pulang apa nggak pas siang.”

“Yakin?” tanya Bias. Ia setuju jika malam minggu Cinta tidak di rumah, karena wanita itu sedang bersamanya di bar.

“Yakin,” angguk Farhan. “Soalnya, Aku tiap malam ma tidur itu pasti ke dapur, makan. Kalau lampu kamarnya nyala, dia pasti ada di rumah.”

“Mungkin aja lampunya mati,” sambar Bias. “Kan, lagi tidur.”

“Kak Cinta nggak bisa tidur kalau lampu kamarnya mati,” terang Farhan.

Bias mengangguk saat mengetahui satu fakta tentang Cinta. “Kenapa anggota keluargamu yang lain sepertinya nggak suka sama Cinta? Mereka seperti ... nggak mau peduli sama dia.”

“Itu ... dari yang aku dengar, kak Cinta itu selalu cari masalah dan iri sama kak Cia,” papar Farhan.

“Dari yang kamu dengar.” Bias mengulang kalimat yang menurutnya wajib diberi perhatian lebih. “Memangnya kamu dengar dari siapa?”

“Mama, Kak Cia.” Farhan mengendik singkat. “Papa sama kak Altaf juga pernah bilang begitu. Katanya, Kak Cinta pernah dorong Kak Cia dari lantai dua sampe masuk rumah sakit. Kak Cia juga dibully di sekolah gara kak Cinta. Pokoknya, masih banyak lagi. Begitu katanya.”

“Dan bagaimana menurut pendapatmu?” tembak Bias langsung. “Sepertinya kamu nggak setuju dengan itu.”

Farhan bersandar, bersedekap. “Kalau menurutku, kak Cinta itu ... dibilang baik juga nggak, tapi nggak bisa dibilang jahat juga. Mungkin lebih ke ... cuek. Mungkin karena orang rumah nggak peduli sama dia, terus dia juga jadi nggak peduli sama orang rumah.”

“Kalau dibilang dia suka seenaknya, itu berarti benar?”

“Kalau pulang pergi seenaknya, sih, benar, Kak,” jawab Farhan. “Tapi, aku bisa ngerti kenapa dia bisa begitu.”

“Menurutmu kenapa?”

“Mungkin, karena selalu dibandingin sama kak Cia.”

“Jadi benar kalau Cinta iri sama Cia?”

“Aku nggak ngerti,” jawab Farhan. “Soalnya, kak Cinta itu cueknya kebangetan. Jadi, kalau dibilang iri, mungkin nggak, karena kak Cinta juga nggak pernah peduli dengan orang rumah. Makanya, kadang aku bingung dengan keluargaku sendiri.”

“Kalau aku bilang ... Cinta itu dianaktirikan, apa kamu setuju?”

Farhan mengangguk pelan, ragu. “Sepertinya ... memang begitu.”

“Oke.” Bias bangkit dan mengulurkan tangan pada Farhan. “Terima kasih banyak atas infonya dan maaf kalau aku ganggu jam sekolahmu.”

“Nggak papa, Kak.” Farhan menjabat tangan Bias setelah bangkit. “Kalau ada yang mau ditanyain, Kak Bias bisa telpon aja daripada jauh-jauh ke sini.”

“Oke! Aku pasti telpon kamu lagi. Terima kasih!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Yosep!” Bias memanggil asisten pribadi papanya, ketika melihat pria itu sedang berdiri di depan vending machine yang ada di lobi.

Bias terus berjalan menuju lift dengan langkah cepat dan tidak berapa lama Yosep berada di sisinya.

“Apa hasilnya?” tanya Bias sambil menekan tombol lift. Namun, sejurus kemudian ia menggeleng. Memutar tubuh lalu melangkah menuju tangga darurat.

“Cinta Naratama sudah izin dari kantor sejak hari minggu,” terang Yosep mau tidak mau harus mengikuti Bias. “Itu artinya sampai hari ini dia sudah nggak masuk selama lima hari. Tapi ...”

“Tapi apa?” Bias menaiki tangga dan melirik pada Yosep yang berada di sebelahnya. “Nggak usah diputus kalau ngomong. Langsung teruskan sampai titik.”

“Ada surat keterangan dokter dari rumah sakit Medika dengan jangka waktu satu minggu,” papar Yosep. “Saya su—”

“Satu minggu?” putus Bias lalu berhenti di tengah tangga. “Itu artinya dia bukan sakit biasa? Opname? Operasi?”

“Kecelakaan.”

Mata Bias melebar seketika. “Kecelakaan?”

“Iya, Mas.” Yosep mengangguk. “Saya dapat info dengan susah payah—”

“Langsung, Yos!” putus Bias bersedekap. “Aku nggak mau tau bagaimana caramu dapat info itu. Yang penting, aku terima bersih.”

“Tabrak lari.” Yosep kembali meneruskan hasil temuannya. “Motor yang nabrak nggak pakai plat nomor dan kasusnya ngambang. Nggak diteruskan.”

“Jadi, Cinta masih di rumah sakit?” Bias berbalik, menuruni tangga dengan cepat. Berniat pergi ke rumah sakit.

Jika benar gadis itu kecelakaan, mengapa sampai tidak ada satu pun orang rumah yang tahu? Bukankah ini sungguh keterlaluan?

Meskipun sikap Cinta apatis dan tidak disukai oleh hampir seluruh anggota keluarga Naratama, mereka tidak sepatutnya bersikap seperti ini.

“Cinta sudah keluar, Mas.”

Bias menutup kembali pintu tangga darurat yang baru di bukanya. Berbalik dan menatap kesal pada Yosep.

“Tapi dia nggak ada di rumahnya,” sanggah Bias. “Nggak mungkin dia kecelakaan dan izin satu minggu, tapi nggak ada di rumah?”

“Tapi info saya valid, Mas.” Yosep pun bertahan dengan argumennya. “Cinta masuk rumah sakit sekitar jam tiga sore dalam keadaan nggak sadar. Dan besoknya, dia maksa keluar, dijemput temannya. Kondisi terakhir yang saya dapat, tulang bahu kiri geser, kaki terkilir, dan memar di beberapa bagian tubuh. Harusnya, kemarin waktunya dia kontrol, tapi dia nggak datang.”

“Dan di mana dia sekarang?”

“Saya ...” Yosep mengangkat bahu, lalu tersenyum lebar sambil menggeleng. “Saya juga nggak tahu, Mas.”

Bias menggeram sambil mengepalkan kedua tangan. Menatap tajam. “Yoseeep!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Sri Yati
ada yang aneh dengan kecelakaan cinta..
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
nasibmu cin, bener2 sial ya setelah ditinggal mamamu
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
hahahahahhaa....malah jadi ngakak bacanya.bias ga sabaran
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bias Cinta   BonChap~End

    “Kalau bukan karena Bita, kita semua nggak mungkin bisa ngumpul di sini,” ujar Cinta sambil tersenyum menatap putrinya yang sibuk menyantap lobster bersama Cibi. “Betul itu!” sahut Dinda terkekeh pelan. “Biasanya kita liburan sama keluarga sendiri-sendiri.”“Kalau rame-rame kan, seru, Mi,” timpal Bita.“Tapi Oma, Opa, sama Om Ahan nggak bisa ikut,” ujar Cibi menyayangkan. “Nggak papa,” balas Dinda memberi senyuman manis pada Cibi. “Nanti, lain kali, liburannya siapin dari jauh hari, biar yang lain bisa ngatur jadwal.”“Siap, Mami!” jawab Bita antusias. “Nanti aku pikirin! Aku bikinin absen!”Tawa di meja makan, malam itu pecah seketika. “Tapi kalau liburan tahun depan, anggotanya nambah satu,” ujar Dinda melirik pada Noah. “Karena Mas Nono bentar lagi mau nikah.”“Oh ya?” celetuk Altaf langsung menatap Noah. Ia memang tidak terlalu akrab dan tidak pernah bertemu lagi dengan anak sulung Felix itu. Jadi, wajar jika ia tidak mengetahui hal apa pun tentang Noah. Berbeda dengan keluar

  • Bias Cinta   BonChap~19

    “Pulang sekarang, atau mau nunggu dulu?” bisik Bias ketika seluruh prosesi pemakaman telah selesai. Cinta mengalihkan pandangannya ke gundukan tanah merah yang masih basah. Di sanalah seluruh perjalanan hidup Kiano berakhir, bersama semua kisah yang pernah melukai hatinya. Kemudian, tatapannya beralih sebentar pada Cia dan Briana yang masih berjongkok di samping batu nisan. Sementara Farhan, sudah tidak terlihat di sekitar makam. Entah ke mana perginya adiknya itu, karena beberapa waktu lalu Farhan masih terlihat dalam jangkauannya. Setelah sekian lama, akhirnya Cinta kembali bertemu dengan dua wanita yang pernah membuat hidupnya berantakan. Namun, kali ini ia memilih untuk mengabaikan keberadaan mereka, karena kedua orang itu tidak lagi memiliki tempat di dalam hidupnya. Mereka hanya bagian dari masa lalu dan Cinta tidak akan lagi memberi ruang untuk itu.“Kita pulang,” ucap Cinta lalu membuang napas pelan. Tanpa berpamitan pada Altaf yang masih berdiri di samping nisan, Cinta pe

  • Bias Cinta   BonChap~18

    “Cibi! Ayo main catur!”Cibi langsung menatap tajam pada pemuda yang merangkulnya tiba-tiba itu. Namun, sejurus itu ia tersenyum manis lalu berteriak, “Om Wahyu, Mas Putra tangannya nggak sopan!”Putra membeku seketika. Tidak pernah menduga jika gadis itu langsung mengadu dengan lantang, seolah-olah telah menjadi korban kenakalannya. Karena hal tersebut, para orang tua yang tengah asyik bercengkrama di taman belakang, sontak menoleh bersamaan. Tidak hanya mereka, tetapi para adik yang sedang asyik bermain ikut menatap Putra dan Cibi yang berada di samping meja buffet yang penuh dengan aneka makanan.“Mas Putra.” Wahyu langsung menatap tegas dan menunjuk tangan Putra yang masih menggantung di bahu Cibi. “Lepas.”Putra langsung mengangkat kedua tangannya ke atas. “Aku nggak ngapa-ngapain,” ujarnya lalu menunjuk Cibi. “Dianya aja yang lebay.”Cibi menoleh pada Putra dan langsung menjulurkan lidahnya. Setelah itu, ia kembali fokus pada makanan yang ada di meja. Memenuhi piring kecilnya

  • Bias Cinta   BonChap~17

    “Waaah! Dunia ini ternyata beneran sempit.” Dinda memangku wajah dengan satu tangan, sambil mengaduk es cappucino di hadapan dengan sedotan. “Septy, Farhan, Noah. Ckckck!”Setelah mendengar penuturan Cinta, akhirnya Dinda mengerti, mengapa ekspresi Cibi berubah ketika bertemu Septy. “Tapi tau nggak.” Dinda meringis dan tertawa kecil. “Tadinya aku sempat ngira Cibi itu cemburu sama Septy. Biasalah, lagi cinta monyet ke Mas Nononya.”Cinta langsung melepas tawa yang sama. “Ya nggak salah juga. Soalnya umur-umur segitu emang masuk masa puber. Apalagi anak sekarang, dewasanya cepet banget.”“Hm.” Dinda menyeruput minumannya sebentar. “Nggak usah ngomongin Cibi, lihat aja Niel sama Bita. Kemarin-kemarin Niel sudah pesan, pokoknya nanti kalau SMP, sekolahnya mau sama Bita.”Tawa keduanya kembali pecah. Membahas perihal anak-anak, memang tidak akan pernah ada habisnya. “Eh, lanjut ngomongin Noah sama Septy bentar,” ujar Cinta kembali ke topik pembicaraan awal. “Mereka berdua itu, pacaranny

  • Bias Cinta   BonChap~16

    “Nggak usah bicara,” larang Cinta ketika melihat tangan Kiano baru saja terangkat. Ia menduga, pria itu hendak melepas masker oksigen yang terpasang di wajahnya. Setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, Cinta menyadari banyak perubahan pada Kiano. Rambut yang dulu hitam kini telah memutih. Sementara guratan keriput di wajahnya, menjadi saksi bisu atas waktu yang terenggut oleh dinginnya dinding penjara.“Cukup dengarkan,” lanjut Cinta yang duduk di samping ranjang pasien. “Aku datang ke sini, cuma untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang anak. Bagaimanapun juga, Bapak tetap papa kandungku dan aku nggak bisa hapus kenyataan itu sampai kapan pun.”Cinta menarik napas panjang sebentar. “Selama ini, aku benar-benar belajar untuk ikhlas dan memaafkan,” lanjutnya dengan dada yang mulai terasa sesak. “Tapi, itu bukan berarti aku sudah melupakan semua luka yang pernah terjadi, karena semua masih ada di sini.”Cinta menyentuh dadanya sendiri. Ada jeda panjang yang menyesakkan ketika bayang masa

  • Bias Cinta   BonChap~15

    “Karena pagi ini kita ketambahan Mas Nono, Bu Denok, sama Pak Aspi, jadi kita bagi dua,” ujar Dinda sambil menunjuk sebuah mobil sedan dan MPV yang sudah siap membawa mereka ke Car Free Day.Setelah merayu Cinta dan Alma tadi malam, akhirnya ketiga bocah dari keluarga Manggala diperbolehkan menginap di kediaman Aryan. Rumah yang biasanya hanya diramaikan oleh ocehan Nia dan pertengkaran kecilnya dengan Niel, semalam berubah menjadi lebih riuh. “Bita sama aku,” ujar Niel cepat sambil menarik tangan Bita.“Aku sama Mas Niel!” timpal Nia langsung berdiri di samping sang kakak dan memeluk lengannya. “Ian sama Kak Cibi!” serunya sambil memeluk sang kakak yang sedang menguap. Terlihat jelas jika Cibi masih mengantuk, karena masih terlihat malas. “Bian sama Mami, ya,” ujar Noah langsung berbisik pelan di belakang Dinda, “Bisa sakit kepalaku kalau dengar dia ngoceh sepanjang jalan. Batrenya nggak habis-habis.”Dinda langsung berbalik dan geleng-geleng. “Itung-itung latihan punya anak. Mung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status