Compartilhar

8~BC

Autor: Kanietha
last update Data de publicação: 2025-09-03 19:07:18

Cinta sontak berdiri begitu melihat Alma melangkah masuk ke ruang kerja Bias, disusul pria itu di belakang.

Satu jam sebelumnya, Cinta sudah lebih dulu tiba di Firma Manggala. Tidak lama setelah menunggu di lobi, seorang resepsionis menghampiri dan memintanya naik ke ruangan Bias.

“Pagi, Tan—”

“Duduk.”

Alma langsung memotong sapaan itu, menunjuk ke arah sofa di belakang Cinta. Dengan tenang dan percaya diri, ia mengambil tempat di sofa panjang di samping Cinta.

Sementara itu, Bias tanpa banyak
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (8)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
wajar cinta mulai balas, udah lama bgt dia ditindas
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
alma de best, bias yg terlalu bod0h percaya sama manipulasi cia dahal yg menderuta itu cinta nanti pas tau faktanya bakal nyesel kamu bias
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
mama alma keren banget loohh....dia ga bela anaknya yg salah
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Bias Cinta   BonChap~6

    “Itu …”“Brondongmu baru pulang, Tante ...” Cinta melanjutkan kalimat yang tidak diteruskan oleh Dinda. Wanita itu menatap motor sport hitam yang berjalan pelan melewati pagar. “Habis nginap di rumah Altaf.”“Farhan?” Senyum Dinda melebar seketika, meski belum melihat wajah Farhan karena masih tertutup oleh helm fullface-nya. “Kok, sudah gede aja? Kayaknya … dulu nggak segede itu.”“Apanya yang gede?” pancing Cinta sambil menyerahkan helm pada Dinda. “Semua-muanya.” Dinda tertawa lepas. Ia menunggu Farhan berhenti di depan garasi lebih dulu dan belum naik ke atas motor matic yang sudah diduduki Cinta. “Mau ke mana, Kak?” tanya Farhan pada Cinta sambil mematikan mesin motornya. Lantas, ia segera beralih pada Dinda lalu mengangguk kecil. “Halo, Kak.”“Halo juga,” balas Dinda tetap dengan senyum, ditambah lambaian kecilnya, “lama nggak ketemu, Han.”Farhan melepas helm dan tertawa kecil menatap kedua wanita yang sudah bersahabat bertahun-tahun itu. “Iya Kak. Sibuk. Jadi, ini mau ke man

  • Bias Cinta   BonChap~5

    “Om Ahan!” Cibi baru keluar dari mobil ketika melihat Farhan mengeluarkan motor sport-nya yang menyala dari garasi. Ia berhenti tepat di depan motor tersebut dan merentangkan kedua tangan.“Burger lagi?” tebak Farhan seraya menurunkan standar motornya. Permintaan keponakannya yang satu itu pasti tidak jauh-jauh dari makanan. Cibi meringis. Menghampiri Farhan dan berhenti di sebelah pemuda itu dan mengangguk. “Iya.”“Tapi nanti Om dimarahin Mamamu.”“Nantik … aku makannya di kamar Om Ahan,” jawab Cibi dengan cepat memikirkan hal tersebut. “Om kuliahnya sampek sore ato bentar doang?”“Hari ini Om nggak pulang,” jawab Farhan lalu berjongkok di hadapan Cibi lalu mencubit pipi bulat gadis kecil itu. Seragam sekolah yang dipakai Cibi sudah berantakan, pun dengan kepang dua yang sudah tidak karuan. “Mau tidur di tempat Tara sampe hari minggu.”Sebenarnya, Farhan tidak hanya menginap di tempat Altaf, tetapi ia juga membagi waktunya untuk menginap di apartemen Ciara. Cibi menatap sudut garas

  • Bias Cinta   BonChap~4

    “Buyat-buyat!”“Hmm, buyat-buyat,” ujar Ciara mengikuti gaya bicara Tara yang duduk di kursinya. Mereka tengah berada di dapur dan sedang membuat adonan kukis. Camilan yang disukai oleh keponakan perempuannya. “Pelan-pelan aja, okeee.?“Ote!”Ciara lantas tertawa kecil melihat betapa antusiasnya Tara setiap diajak memasak apa pun. Meskipun dapur akan semakin berantakan, tetapi hal tersebut membuat hati Ciara menghangat. Ada buncahan rasa bahagia yang sudah lama tidak ia rasakan dan hal itu kembali menyelimuti hidupnya sejak kehadiran Tara. Gadis kecil itu, mampu mengikis kegelapan yang sempat menemani Ciara sejak kedua orang tuanya masuk penjara. Sosok Tara sungguh memberi warna baru di kehidupannya, sehingga Ciara mampu tersenyum dan merasakan bahwa dirinya masih pantas untuk dicintai dan bahagia.Paling tidak, seminggu sekali Ranu pasti membawa Tara ke apartemen. Jika sudah begitu, Ciara akan memasak makanan kesukaan keponakannya dan mengajak gadis kecil itu membuat kue bersama. “

  • Bias Cinta   BonChap~3

    “Kan, ratunya masih ada,” protes Cibi dengan bibir mungil yang mengerucut dan alis yang berkerut menatap papan catur. “Itu kudanya juga masih, mentrinya juga. Jadi benum mati.”Sungguh permainan yang tidak masuk logikanya. Di saat ratu dan yang lainnya masih bertahan, permainan justru dinyatakan berakhir hanya karena sang raja terpojok dan tidak bisa bergerak ke mana-mana.“Curang ini namanya.”Putra menggaruk kepala. Menatap gadis kecil yang duduk di antara dirinya dan Imut yang tengah bermain catur di teras belakang. Sementara gadis yang lebih kecil lagi, lebih suka berbaur bersama para orang tua yang sedang memanggang daging di sudut taman. “Aturannya memang begitu,” ujar Putra mencoba menjelaskan, “sudah dari sananya begitu. Kalau rajanya mati, berarti kalah.”“Kan, masih ada ratu,” ujar Cibi sambil menunjuk sebuah bidak yang dimaksud. “Jadi masih bisa main.”“Nggak bisa, Cibi,” balas Putra menatap sebentar pada Imut yang diam saja. Adiknya itu justru kembali menata ulang bidak c

  • Bias Cinta   BonChap~2

    “Mas Nonooo …” Tanpa sungkan, Cibi yang berlari dari luar langsung duduk di pangkuan Noah yang tengah bermain play station di ruang keluarga. Noah memutar bola matanya. Lelah rasanya mengoreksi nama panggilan yang disematkan oleh Cibi padanya. Dari Noah, menjadi Nono. Sudah berulang kali diperbaiki, tetapi tetap berakhir sia-sia. Gadis kecil yang sudah duduk di pangkuan sekarang, pasti baru saja datang dengan mamanya dan langsung melesat masuk ke dalam rumah tanpa sungkan. Cibi memang sudah menganggap kediaman Aryan seperti rumahnya sendiri.“Aku mau bibimun sama mama, sama papa,” ujar Cibi bersandar santai pada tubuh Noah yang bersila, sambil menatap layar televisi.“Bibimun? Apa itu bibimun?” tanya Noah sedikit bingung. Namun, hal tersebut tidak memecah konsentrasi bermainnya sama sekali. “Bibimun … naek pesawat!”Noah mengerut dahi. Belum menemukan arti dari ucapan Cibi dengan kosakata barunya. Akhirnya, ia hanya bertanya perihal yang dimengerti saja. “Mau naek pesawat ke mana?

  • Bias Cinta   BonChap~1

    “Pergi dulu, Mi,” pamit Noah setelah mencium tangan Dinda. Kemudian, ia beralih pada gadis kecil yang ada di gendongan ibu sambungnya itu. Mencium pipinya dengan gemas. “Mas pergi dulu, kamu nggak diajak.”“Mas! Nggak boleh gitu.” Dinda menepuk lengan Noah yang kembali menggoda adik perempuannya. “Nanti kita jalan sama Papi kalau sudah sembuh, ya.” Ia beralih cepat pada Ira yang pagi itu akan pergi jogging bersama Noah. Dinda sangat bahagia karena Noah benar-benar membawa pengaruh yang positif bagi Ira. Sebenarnya, jika mau diusut lagi, perubahan ekonomi merekalah yang membuat semua berubah. Ira tidak perlu lagi menjahit setiap hari hingga larut malam dan bisa menjalani kehidupan yang lebih sehat.“Dadah, Eyang,” ucapnya sambil melambaikan tangan putrinya, “hati-hati di jalan.”Ira tersenyum kecil. Ia menghabiskan jarak dengan cucunya, lalu mencium pipi gadis kecil itu sebentar. “Nanti kalau sudah sembuh, baru boleh ikut Mas Noah joging atau ikut Papi naik sepeda.”“Iya,” jawab Dinda

  • Bias Cinta   102~BC

    “Pergi ke mana klienmu, Van?” tanya Danuar kembali mendatangi kantor Kiano di awal jam kerja. “Anak-anaknya nggak ada yang bisa hubungi dia.”“Klien? Kiano?”“Memangnya siapa lagi?”“Kemarin sore dia ke sini.”Danuar mengangguk kecil. Sebagai awalan, Ivan berkata jujur karena Kiano memang kembali ke

    last updateÚltima atualização : 2026-03-28
  • Bias Cinta   108~BC

    “Mas Al?” Dinda berbelok menghampiri Altaf. Tidak jadi berjalan menuju pintu parkiran basement. “Ngapain ke sini?”Altaf mengalihkan wajah dari ponsel. Tersenyum saat menatap Dinda dan segera bangkit dari kursi lobi. “Mau ketemu mas Raksa. Tadi sudah nelpon”“Ooh.” Dinda manggut-manggut. Begitu ia

    last updateÚltima atualização : 2026-03-28
  • Bias Cinta   101~BC

    “Tapi, kan, aneh kalau dia nggak keluar rumah dari pagi sampe sore,” ujar Cinta sembari memilih pakaian hamil di sebuah butik, “masa’ dia nggak makan? Atau, sudah beli makanan? Tapi, kenapa dia nggak pulang ke rumahnya aja? Malah pulang ke rumah orang tuanya yang sudah lama nggak ditempatin?”“Oran

    last updateÚltima atualização : 2026-03-27
  • Bias Cinta   98~BC

    “Betul, kan, aku bilang. Rumah Wahyu di Jakarta berkali lipat lebih besar dari yang di Bali,” ujar Bias setelah membukakan pintu mobil untuk Cinta.Mereka berdua sudah berada di halaman rumah Wahyu yang benar-benar luas dan tertata rapi. Sebuah jalan berpaving membentang di sisi kiri, dibatasi pagar

    last updateÚltima atualização : 2026-03-27
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status