Share

Bab 6

Author: Rafansya
last update publish date: 2026-09-28 17:12:15

Begitu motor klasik hitam itu melaju stabil membelah jalanan kota di bawah langit senja, aku tersadar dari lamunanku. Kata-kata Arga tentang tempat aman, sontak membuat ku berpikiran, jangan-jangan ia akan membawaku ke kontrakannya. Rumahku memang penuh tekanan, tetapi melarikan diri begitu saja hanya akan membuat Ayah murka dan berdosa. Bukan itu saja, masa depanku hancur hanya karena terjebak ucapan Arga barusan.

"Kak Arga," panggilku sambil menepuk pundaknya berkali-kali.

"Ya? Kenapa, Luna?" sahut Arga tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke jalan.

"Aku... aku rasa aku harus pulang ke rumah Ayah sekarang," ucapku ragu.

Motor mendadak melambat. Arga meminggirkan kendaraannya ke pinggir jalan yang agak sepi di bawah pohon sana, lalu mematikan mesin. Ia membalikkan badannya menatapku. Dahi tebalnya berkerut dalam.

"Ada apa denganmu?" tanya Arga, suaranya memberat, kembali memancarkan aura mengintimidasi khas preman jalanan. "Tadi kau sepakat untuk pergi ke tempat aman. Kenapa justru kau berubah pikiran?"

"Tempat aman bukan bearti aku harus mengikuti Kak Arga," tegas ku sambil menunduk, meremas rok abu-abuku. "Kalau aku pergi dari rumah tanpa izin, Ayah bisa sangat marah. Beasiswaku... Dan yang paling buruknya lagi, aku hampir saja terjerumus ke jalan yang salah. Aku ingin keluar dari rumah itu dengan rasa hormat. Bukan mengikuti preman kayak Kakak," jelasku lalu melompat turun. Helm yang ku kenakan tadi langsung ku serahkan padanya. Aku memilih menaiki angkutan umum tanpa berkata lagi.

Arga terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan—bercampur antara amarah terhadap keluargaku dan rasa tidak tega melihat kondisiku. Saat kakiku mulai melangkah masuk, ia menarik tanganku agar tidak meninggalkannya begitu saja.

"Tunggu Luna."

"Apalagi? Kakak hampir saja menyesatkan aku. Mulai sekarang Kak Arga enggak usah ganggu ku lagi," pintaku melepas paksa genggaman di pergelangan tanganku.

"Aku tidak bermaksud seperti itu. Niat ku hanya ingin melindungi mu," jelas Arga.

"Melindungi ku bukan bearti bebas membawa anak gadis orang sesuka hatimu." Aku melanjutkan langkah menuju mobil angkot berikutnya. Kali ini, ku percepat langkah hingga akhirnya aku berhasil masuk ke dalam sana.

Mendengar kalimat terakhirku, ekspresi keras di wajah Arga perlahan memudar. Ia mengembuskan napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar sambil memandagi kepergian ku dari kejauhan.

"Dasar keras kepala," gerutu Arga memandangi mobil angkot yang ku tumpangi meninggalkan dirinya.

Ia memutar kunci kontak, berniat melaju menuju penthouse miliknya untuk menenangkan diri. Namun, ketika motornya terhenti di lampu merah, ponsel di balik jaket kulitnya bergetar kuat. Arga merogohnya lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya.

"Ada apa?" tanya Arga dingin.

"Gawat, Bos. Ini terkait Luna," suara di seberang telepon terdengar panik. "Barusan kami mendapatkan kabar, jika Ayah Luna sudah menandatangani surat perjanjian utang dengan menjadikan Luna sebagai jaminan. Anak buah rentenir itu sedang bergerak ke rumah Luna sekarang!"

Sorot mata Arga seketika berubah sehitam malam. Aura berbahaya yang pekat langsung menguar dari tubuhnya. Tanpa membeberkan siapa dirinya yang sebenarnya, ia memberi perintah dengan nada rendah namun penuh penekanan yang mutlak.

"Beli surat utang itu sekarang juga," desis Arga. "Berapa pun nominal yang diminta bajingan itu, lunasi detik ini. Pastikan hak kepemilikan atas Luna sudah berpindah ke tanganku sebelum mereka sempat menyentuhnya seujung kuku pun. Bergerak!"

***

Sementara itu, guncangan mobil angkot perlahan meredakan gemuruh di dadaku. Begitu kakinya turun di depan gang, langit malam sudah sepenuhnya pekat. Aku berjalan tergesa memandangi rumah bercat kusam di ujung jalan yang tampak sepi dan gelap. Aku mengembuskan napas lega, meyakinkan diri bahwa keputusanku untuk pulang adalah hal yang benar.

Namun, begitu aku mendorong pintu depan, firasatku merasa tidak tenang. Seperti hal buruk akan menimpaku.

Bau asap rokok yang pekat bercampur aroma alkohol murahan langsung menusuk hidung. Di ruang tamu yang remang-remang, Ayah duduk bersandar di kursi kayu dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin mengucur deras. Di sekelilingnya, berdiri tiga pria asing bertubuh tegap dan berwajah kejam. Suasana mencekam di ruang itu membuat bulu kudukku meremang.

"Nah, ini dia anaknya," ucap Ayah dengan suara gemetar, menunjuk langsung ke arahku.

Salah satu pria berbadan paling besar membuang puntung rokoknya ke lantai, lalu menginjaknya hingga padam. Ia menatapku dari atas sampai bawah dengan senyuman menjijikkan. "Cantik. Pilihan yang bagus, Tua Bangka. Dengan ini, utang judimu kami anggap lunas."

"Ayah... ada apa ini?" Suaraku tercekat di tenggorokan. Aku mencoba mundur, namun salah satu pria dengan cepat menutup pintu depan, mengunci jalanku untuk keluar. Sementara Elena dan ibu tiriku, Lisa tidak terlihat batang hidungnya.

"Maafkan Ayah, Luna. Ayah tidak punya pilihan lain! Mereka akan membunuh Ayah kalau utang itu tidak dibayar malam ini!" bisik Ayah tanpa berani menatap mataku. Ia justru berjalan mundur, lalu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam. Ayah kandungku sendiri tega memperlakukan aku seperti barang dagangan.

"Nggak! Ayah, tolong aku!" teriakku histeris.

Sebelum aku sempat bergerak, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tanganku dengan sangat kuat hingga mati rasa. Aku meronta sekuat tenaga, namun sia-sia. Tubuh mungilku diseret paksa keluar rumah menuju sebuah mobil van hitam yang sudah menunggu di kegelapan gang. Di detik itu juga, pintu mobil ditutup dengan dentuman keras. Air mataku pecah bersama penyesalan karena menolak tawaran Arga.

Mobil van itu melaju membelah malam selama hampir tiga puluh menit sebelum akhirnya berhenti di sebuah kawasan gudang tua yang terisolasi di pinggiran kota. Itu adalah markas tersembunyi para rentenir. Luna diseret turun dari mobil, melewati lorong-lorong gelap yang lembap, hingga akhirnya didorong masuk ke dalam sebuah ruangan besar bernuansa mewah namun kaku.

Di balik meja kayu yang besar, duduk seorang pria paruh baya bersetelan mahal. Dialah sang Bos Rentenir.

"Ini jaminannya, Bos. Anak gadis si Tua Bangka itu, " ujar si penculik sambil mendorongku hingga tersungkur di lantai yang dingin. Tas sekolahku yang sudah robek dilemparkan begitu saja di sampingnya.

Aku mendongak dengan tubuh gemetar, air mata masih mengalir membasahi pipiku yang pucat. "Lepaskan aku... Tolong, aku mohon..."

Bos Rentenir itu bangkit dari kursinya, berjalan mendekatiku dengan senyum meremehkan. "Menangislah sepuasmu, Gadis Manis. Ayahmu sudah menjualmu padaku. Mulai malam ini, kau harus bekerja keras untuk membayar setiap utang sialan itu."

Pria itu mengulurkan tangannya yang kasar, berniat mencengkeram dagu Luna untuk memeriksa 'barang tangkapannya'. Aku memejamkan mata dengan erat, bersiap untuk hal buruk terjadi padaku.

Kringgg! Kringgg!

Suara dering telepon kabel di atas meja besar itu, memecah ketegangan itu.

Bos Rentenir itu berdecak kesal karena aktivitasnya terganggu. Ia menarik kembali tangannya dari wajahku, lalu berjalan malas menuju meja. "Siapa ini? Mengganggu saja. Aku sedang sibuk."

Namun, begitu suara di seberang sana berbicara, ekspresi meremehkan di wajahnya berubah ketakutan. Matanya membelalak lebar, dan rokok yang terselip di jarinya terjatuh begitu saja.

"A-apa? Siapa yang Anda maksud?" suara Bos Rentenir itu mendadak bergetar hebat. Wibawa dan kekejamannya, runtuh seketika. Ia melirik ke arahku dengan tatapan tidak percaya sekaligus ketakutan yang luar biasa. "Gadis yang baru saja dibawa ke mari? Tapi... utang ayahnya..."

Bos Rentenir itu menelan ludah dengan susah payah, wajahnya mendadak pucat pasi seperti baru saja melihat hantu. "B-baik, Tuan. Saya mengerti. Uangnya... uangnya sudah masuk ke rekening kami? Seluruhnya? T-tentu saja, kami tidak akan menyentuhnya seujung kuku pun. Kami akan segera melepaskannya."

Gagang telepon ditutup dengan tangan yang gemetar. Seluruh anak buah di ruangan itu saling berpandangan dengan bingung, termasuk aku yang masih terduduk di lantai dengan napas tersengal.

"Lepaskan dia... Lepaskan dia sekarang juga!" bentak sang Bos pada anak buahnya dengan suara melengking. "Sialan! Siapa sebenarnya preman yang menjadi bekingan bocah ini?! Pihak atas baru saja melunasi seluruh utang ayahnya sepuluh kali lipat hanya untuk menebus gadis ini!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 8

    Bara tidak bisa lagi menahan tawa. Ia menyemburkan tawa kecilnya sambil menutup pintu ruangan kerja Arga yang kedap suara. Langkahnya santai menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mengempaskan tubuhnya di sana tanpa memedulikan tatapan tajam dari sang bos—atau lebih tepatnya, sang sahabat. "Kau harus lihat wajahnya semalam, Ga. Dia ketakutan setengah mati saat aku memperagakan gaya potong leher di penthouse-mu," ujar Bara, "Dia langsung pucat. Benar-benar mati kutu dan tidak berani kabur!" Arga tidak ikut tertawa. Ia memijat pangkal hidungnya. Lembaran dokumen di mejanya sama sekali tidak tersentuh sejak sepuluh menit yang lalu. Pikirannya tak berhenti ke penthouse miliknya, memikirkan bagaimana keadaan Luna setelah apa yang terjadi tadi malam. "Ini tidak lucu, Bar," sahut Arga dengan suara rendah dan berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. "Kenapa kau harus menakut-nakutinya seperti itu? Dia sudah cukup terguncang karena hampir diapa-apakan oleh rentenir siala

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 7

    Suasana di dalam gudang tua itu mendadak hening. Cengkeraman kasar di pergelangan tanganku terlepas begitu saja. Pria kekar yang tadinya menyeretku melangkah mundur dengan wajah tegang. "B-berdiri, Nona. Silakan berdiri. Jangan di lantai, dingin," ucap Bos Rentenir itu. Suaranya yang tadi terdengar kejam, kini mendadak melembut dan gemetar. Ia panik, lalu menoleh ke anak buahnya. "Cepat ambilkan tasnya! Jangan biarkan kotor!" Aku segera menyambar tas sekolahku yang robek dari tangan anak buahnya, lalu memeluknya ke dada dengan erat. Tubuhku terasa sakit semua. "Kalian... kalian mau apa lagi? Tolong lepaskan aku..." lirihku dengan sisa tenaga. Sebelum Bos Rentenir sempat menjawab, pintu ganda kayu jati di ujung ruangan terbuka lebar dengan satu hentakan keras. Tiga orang pria melangkah masuk dengan langkah kaki yang tegap. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan berkelas. Sementara pria satunya berpenampilan seperti pria umumnya. Ia hanya mengenakan jaket k

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 6

    Begitu motor klasik hitam itu melaju stabil membelah jalanan kota di bawah langit senja, aku tersadar dari lamunanku. Kata-kata Arga tentang tempat aman, sontak membuat ku berpikiran, jangan-jangan ia akan membawaku ke kontrakannya. Rumahku memang penuh tekanan, tetapi melarikan diri begitu saja hanya akan membuat Ayah murka dan berdosa. Bukan itu saja, masa depanku hancur hanya karena terjebak ucapan Arga barusan. "Kak Arga," panggilku sambil menepuk pundaknya berkali-kali. "Ya? Kenapa, Luna?" sahut Arga tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke jalan. "Aku... aku rasa aku harus pulang ke rumah Ayah sekarang," ucapku ragu. Motor mendadak melambat. Arga meminggirkan kendaraannya ke pinggir jalan yang agak sepi di bawah pohon sana, lalu mematikan mesin. Ia membalikkan badannya menatapku. Dahi tebalnya berkerut dalam. "Ada apa denganmu?" tanya Arga, suaranya memberat, kembali memancarkan aura mengintimidasi khas preman jalanan. "Tadi kau sepakat untuk pergi ke tempat aman. Ken

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 5

    Bel pulang sekolah melengking panjang. Riuh langkah kaki dan gelak tawa siswa langsung memenuhi koridor. Aku bergerak cepat, meletakkan tas ransel erat-erat di pundak. Aku harus segera sampai ke gerbang sebelum Sarah dan teman-temannya melihatku. Begitu menyusuri pintu pagar besi yang terbuka lebar, langkahku mendadak terhenti. Jantungku berdetak hebat melihat sosok pria di seberang sana. Arga sedang duduk tenang di atas jok motor klasik hitamnya yang besar. Matanya bergerak jeli, meneliti satu per satu murid yang keluar dari gerbang. "Ngapain preman itu ke sini?" batinku menjerit histeris. Penampilannya siang ini sangat mengintimidasi. Ia hanya memakai kaus oblong hitam polos yang memperlihatkan lengan kokohnya, dipadu celana jins gelap yang pudar di bagian lutut. Dengan tatapan galak dan muka sangar, ia tampak persis seperti preman jalanan yang sedang menunggu mangsa. Persis seperti malam itu, saat aku tidak sengaja menolongnya dari keroyokan musuh di gang gelap. Orang-orang

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 4

    Aroma gurih tumis kangkung dan ayam goreng mentega memenuhi ruang dapur yang sempit. Aku membalik potongan ayam di atas wajan dengan cepat. Air mataku menetes, berbaur dengan uap panas masakan. Dadaku terasa sesak, bukan karena asap dapur, melainkan oleh kenyataan pahit yang baru saja aku alami. "Luna! Lama banget sih? Kamu niat masak enggak, sih?!" Suara lengkingan Ibu tiriku dari arah meja makan membuatku tersentak. Aku buru-buru menyeka pipi dengan ujung lengan seragam sekolah yang masih kukenakan. "I-iya, Bu. Sebentar lagi matang," sahutku setengah berteriak, berusaha menahan getaran di pita suara. Aku menata makanan di atas piring putih, lalu membawanya ke meja makan dengan kepala tertunduk. Di sana, Ayah, Ibu tiriku, dan Alena sudah duduk melingkar. Tawa renyah Alena langsung terhenti begitu aku meletakkan mangkuk berisi makanan di tengah meja. "Aduh, Luna. Kamu masak pakai baju sekolah kotor begitu? Jorok banget deh. Lihat tuh, ada bekas tanah lagi di roknya," ci

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 3

    "Punya mata itu dipakai, Luna! Makanya jangan sok polos kalau di kelas!" Suara melengking itu milik Sarah. Detik berikutnya, hantaman keras mengenai bahuku. Tubuhku terhuyung ke depan. Buku-buku catatan fisika dan biologi yang sejak tadi kupeluk erat langsung terlepas, berserakan di atas aspal. Aku berlutut untuk memunguti buku-buku yang terjatuh. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena lelah berjalan kaki, melainkan rasa takut yang mendadak melumpuhkan akal sehatku. Plak! Sebuah ujung sepatu pantofel hitam yang mengkilap sengaja menginjak sudut buku latihan tugasku. Di atas kertas putih bersampul cokelat itu, kini tercetak bekas tanah yang kotor. "Eh, sori. Enggak sengaja," ucap Sarah dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia tertawa renyah, menoleh ke arah dua temannya, Mami dan Kesya, yang langsung menyambut tawa itu. "Makanya, Luna, kalau jalan itu lihat depan. Jangan merunduk terus kayak orang bawa dosa sekelurahan," timpal Mami, me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status