Share

Bab 24

Author: Karlinanovi
last update publish date: 2026-10-22 06:31:20

Bab 24

"Argh!"

Teriakan Allora menggema di ruangan penjara itu. Cairan kental berwarna merah tampak mengalir dari pipinya. Air mata jatuh membasahi pipinya yang terluka akibat sayatan dari pisau kecil itu.

Pipinya terasa perih karena terkena air mata Allora. Ia semakin memundurkan tubuhnya, hingga punggungnya membentur dinding yang berada tepat di belakangnya.

Zayden menyeringai. "Mau pergi kemana hmm? Kau tidak bisa melarikan diri dari sini, jadi percuma jika
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Billionare Wife   Bab 28

    Bab 28 "Bagaimana perempuan itu?" tanya Zayden pada Alvino yang berada tak jauh darinya. Alvino yang tengah fokus dengan ponselnya pun mengangkat pandangannya. Menatap sahabat sekaligus bosnya itu. "Dia masih di ruang perawatan," jawab Alvino datar. Zayden menganggukkan kepalanya lalu menatap Senandung yang tengah berada di taman rumah sakit. "Kau akan membebaskannya?" tanya Alvino serius. Zayden masih menatap lurus pada Senandung, sesekali senyum tampak terlihat di bibirnya yang sexy. "Menurutmu bagaimana?" Alvino mengikuti arah pandang Zayden ia akui jika Senandung adalah gadis yang cantik. Satu-satunya perempuan yang berhasil menaklukan seorang Zayden yang notabene di kenal sebagai pria tak tersentuh. "Jika kau membebaskannya, apa kau yakin ia tidak akan kembali menyakiti Senandung? Aku lihat orang seperti Allora tidak akan mudah tobat," tukas Alvino. Zayden menganggukkan kepalanya. "Ya.

  • Billionare Wife   Bab 27

    Bab 27 "Kau dimana, Senandung. Beraninya kau mempermainkan aku," geram Adrian. Lelaki itu marah, karena biasanya jika mereka bertengkar Senandung lah yang selalu mengalah. Senandung tidak pernah mendiamkannya terlalu lama, wanita itu pasti akan membujuknya. Tapi sekarang, sudah hampir satu minggu ia tidak menghubunginya. Bertemu di perusahaan pun Adrian tidak dapat berbicara langsung dengan Senandung. "Sial! Dimana sebenarnya kamu berada," ucap Adrian geram dan kesal. Di sisi lain, Zayden masih memeluk erat tubuh mungil Senandung. Rasanya, hangat. Apalagi untuknya yang notabene memiliki alergi pada wanita. "Kapan aku bisa pulang?" tanya Senandung lirih. "Kenapa hmm?" Zayden balik bertanya dengan lembut. Senandung mendongak, menatap wajah tampan Zayden. Tatapan polosnya membuat Zayden ingin memakannya. "Aku baru bekerja di sana, aku takut di pecat," ucap Senandung dengan polosnya. Zayden tersenyum.

  • Billionare Wife   Bab 26

    Bab 26 Senandung menatap lurus ke jendela, cahaya matahari masuk ke dalam ruangannya. Tangannya masih tertancap jarum, Zayden ingin memastikan jika Senandung sudah benar-benar sehat. Senandung membuang nafasnya kasar. "Kalau aku masih di sini, bagaimana pekerjaanku? Padahal ini adalah hari pertama aku kerja," gumam Senandung. Zayden yang berada di luar pintu, mendengar gumaman Senandung. Lelaki itu tersenyum tipis. "Menggemaskan," gumam Zayden. Ia pun membuka pintu, membuat atensi Senandung teralihkan. Ia menatap lelaki tampan yang hampir nyaris sempurna, sama sekali tidak ada cela ataupun cacat. Tubuh tinggi, dengan pahatan wajah yang nyaris sempurna. Rahang tegas, dengan sorot mata tajam nan dingin. Sungguh bak seorang dewa Yunani yang turun dari langit. Zayden menahan senyumnya kala melihat ekspresi wajah Senandung. Ekspresinya yang polos membuat Zayden ingin memakannya, namun ia harus bersabar. Zayden pun be

  • Billionare Wife   Bab 25

    Bab 25 Adrian pun membuka pintu kamarnya. Kosong, Senandung pun sama sekali tidak ada di sana. Adrian menatap kamarnya. Hampa dan kosong. Lelaki itu menghela nafasnya kasar. Ada rasa sesal di dalam hatinya karena ia sudah menyia-nyiakan Senandung. "Kamu dimana," lirih Adrian. Lelaki itu kembali berjalan menuju ruang tamu. Sepi, biasanya jam segitu Senandung tengah sibuk di dapur. Menyiapkan makan malam untuknya meski pun terkadang makanan itu sama sekali tidak ia sentuh. Adrian pun menoleh, mencari keberadaan Allora. Biasanya wanita itu pun berada di sana, namun malam ini kehadirannya pun tak terlihat. Adrian pun mengambil ponselnya, lalu menelepon nomor Allora. Begitu tersambung, nada ponsel Allora terdengar dari sofa tak jauh dari tempat duduk Adrian. "Ponsel Allora?" gumam Adrian heran. Lantas lelaki itu mencoba mencari keberadaan Allora, bukannya mencari keberadaan Senandung lelaki itu malah lebih memilih mencari ke

  • Billionare Wife   Bab 24

    Bab 24 "Argh!" Teriakan Allora menggema di ruangan penjara itu. Cairan kental berwarna merah tampak mengalir dari pipinya. Air mata jatuh membasahi pipinya yang terluka akibat sayatan dari pisau kecil itu. Pipinya terasa perih karena terkena air mata Allora. Ia semakin memundurkan tubuhnya, hingga punggungnya membentur dinding yang berada tepat di belakangnya. Zayden menyeringai. "Mau pergi kemana hmm? Kau tidak bisa melarikan diri dari sini, jadi percuma jika kau mempunyai pikiran seperti itu." Allora reflek menggelengkan kepalanya. Ekspresi wajahnya sudah sangat ketakutan. "Ti-dak, Tuan. Maafkan aku, sungguh aku khilaf," lirih Allora. Plak Tangan besar Zayden kembali mendarat di pipi Allora, hingga kini kedua pipinya tercetak hasil karyanya, lima buah jari. "Ma-afkan aku, tolong," lirihnya menangis. Zayden sama sekali tidak iba, Zayden kembali menyuruh kedua anak buahnya untuk kembali memegangi Allora. Pere

  • Billionare Wife   Bab 23

    Bab 23 Allora menatap takut pada Zayden. Lelaki bertubuh tinggi besar itu menatap datar dan dingin pada Allora, wanita yang sudah melukai dan menyakiti Senandung. Wanitanya. "Tu-an, maafkan aku. Aku ... aku khilaf, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti Senandung. Aku hanya ingin sedikit memberinya pelajaran," tukas Allora. Zayden tak bergeming, tatapan dinginnya lurus menatap Allora. Perempuan itu ketakutan, reflek memundurkan tubuhnya hingga menempel pada dinding yang lembab itu. "Aku tidak menyangka ada perempuan sejahat kau di dunia ini. Padahal Senandung itu sahabatmu tetapi kau dengan tega menusuknya dari belakang. Mengkhianatinya, bahkan kau mengunci dia di dalam kamar mandi, padahal kau sangat tahu jika ia memiliki trauma di masa lalunya," desis Zayden. Allora menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sama sekali tidak mengkhianati Senandung. Adrian, dia yang merayuku. Dia yang berusaha menggodaku. Tuan tolong percaya kepadaku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status