Home / Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / Burger dan Pemandangan Malam

Share

Burger dan Pemandangan Malam

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-04-08 21:00:18

Sore hari datang lebih cepat dari yang Naomi sadari. Lampu-lampu kantor mulai terasa lebih hangat, layar-layar komputer satu per satu dimatikan. Suara percakapan berubah dari serius menjadi ringan.

Naomi merapikan mejanya, mematikan komputer, lalu menarik napas pelan. Hari itu terasa… panjang.

Tanpa banyak berpikir, ia mengambil tasnya dan berjalan keluar. Tidak ada yang ia tunggu lagi di ruangan itu. Lift tiba lebih cepat dari biasanya. Naomi masuk, berdiri di sudut, dan m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Detak

    Naomi tertawa kecil karena bingung. "Di mana adeknya?"Anak itu menunjuk perut Naomi. "Aku mau elus adek bayi."Naomi terdiam. Mareeq yang sejak tadi melihat ponselnya pun perlahan mengangkat wajah. Dia tertarik dengan obrolan di sampingnya.Naomi menatap anak kecil itu. Anak itu pun mengulurkan tangannya, lalu dengan sangat hati-hati menyentuh perut Naomi. Tangannya hanya menempel sebentar."Adek bayinya masih sekecil ini." anak kecil itu menunjukkan dengan jarinya seolah ukuran bayi itu sangat kecil. "Adek bayi di perut mama cewek. Adek bayi di perut kakak itu cowok."Naomi menahan napas. Dia membayangkan bayi yang akan dia miliki itu berjenis kelamin cowok. Tentu saja itu hanya celetukan anak kecil. Tapi, Naomi bahagia mendengarnya."Menurutmu bayinya cowok?" tanya Naomi."Hmm." anak kecil itu mengangguk."Bagaimana kamu tahu?" tanya Naomi penasaran."Pokoknya cowok. Aku tahu." anakkecil itu sangat yakin.Naomi

  • Bilur Bulir Bertaut   Gadis Kecil dan Mainan

    Sabtu siang, Naomi sudah berdandan dan menunggu Mareeq menjemputnya. Leon yang awalnya bersikeras ingin mengantar Naomi pun memilih pergi betemu dengan teman-temannya.Naomi sengaja memakai blouse longgar berwarna lembut dengan celana panjang, rambutnya dibiarkan tergerai sederhana. Di tangannya hanya ada tas kecil berisi dompet, ponsel, dan beberapa dokumen pemeriksaan sebelumnya.Sebuah pesan masuk dari Mareeq. Dia memberi tahu bahwa dia sudah ada di area parkir. Naomi bergegas turun.Begitu melihat kedatangan Naomi, Mareeq menurunkan kaca jendela."Sudah lama menunggu?" tanya Naomi.Mareeq menggeleng. "Baru saja datang.Naomi pun duduk di kursi penumpang bagian depan. Dia sempat menghembuskan napas dengan keras."Aku merasa gugup." ujar Naomi."Kenapa?" tanya Mareeq."Entah. Mungkin karena tidak tahu apa yang akan terjadi."Mareeq hanya tersenyum. "Ingin makan dulu?""Aku rasa aku tidak akan bisa menelan

  • Bilur Bulir Bertaut   Gosip Tim Sebelah

    Beberapa saat kemudian, tanpa menghentikan bacaannya, Mareeq melirik ke arah kaca jendela di sisi penumpang. Dari pantulan samar di kaca, ia melihat sepasang mata yang kini sudah terbuka. Sudut bibir Mareeq terangkat membentuk senyum kecil. Mareeq menyelesaikan ayat yang sedang dibacanya terlebih dahulu. Baru setelah itu ia menutup aplikasi di ponselnya dan menoleh langsung ke arah Naomi."Sudah bangun?"Naomi tersenyum tipis, masih memeluk jaket yang menyelimutinya. "Maaf... aku nggak sengaja ketiduran.""Tidurmu nyenyak."Naomi mengangguk pelan."Lama?" tanya Naomi."Hampir setengah jam."Naomi tampak sedikit malu. Dia pun menyadari jaket yang menyelimutinya. Dia teringat dengan jaket Mareeq yang masih dia bawa dan belum sempat dikembalikan.Naomi mengangkat jaket itu untuk menunjukkan pada Mareeq. "Baunya bikin nyaman.""Mau dibawa?" Mareeq menawari."Aku sudah membawa satu.""Bawa satu lagi tidak masala

  • Bilur Bulir Bertaut   Lantunan

    Mareeq menatapnya tenang. "Kalau semua pekerjaan di kantor selesai hari ini. Apa masalahmu juga selesai hari ini?"Naomi tidak mampu menjawab."Kalau kamu menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Besok pagi kamu tetap bangun dengan kenyataan yang sama. Akan ada pekerjaan lain yang menanti"Keheningan memenuhi mobil. Naomi tetap diam di tempatnya. Mareeq kembali berkata dengan nada yang jauh lebih lembut."Menyibukkan diri itu bukan solusi. Itu cuma pelarian. Dan pelarian tidak pernah menyelesaikan masalah. Belum tentu badanmu sanggup meski otakmu mengatakan sanggup."Naomi menutup mata sesaat. Ucapan itu terasa menohok. Karena jauh di dalam hatinya ia tahu Mareeq benar.Selama beberapa minggu terakhir, ia memang sengaja memenuhi harinya dengan pekerjaan. Bukan karena pekerjaannya bertambah. Melainkan karena ia tidak ingin memiliki waktu untuk berpikir. Ya, Naomi memang sedang berusaha lari.Mareeq melanjutkan, "Aku sudah berjanj

  • Bilur Bulir Bertaut   Di Mobil yang Sama

    Lampu-lampu jalan mulai menyala, memenuhi jalanan kota yang perlahan dipadati kendaraan pulang kerja. Beberapa menit berlalu. Baru setelah mobil memasuki jalan utama, Mareeq memecah keheningan."Lapar?"Naomi menoleh. "Hm?""Aku belum sempat makan." ujar Mareeq.Naomi menghela napas kecil. "Aku sedang tidak ingin makan.""Bicara bisa sambil makan. Hari ini pengin makan apa?" tanya Mareeq tidak peduli apa yang dikatakan Naomi.Naomi berpikir beberapa detik. Ia menatap keluar jendela. Mareeq mengetukkan jarinya pelan di setir. Ia kembali melirik Naomi."Kalau aku yang pilih, nanti nggak boleh protes."Naomi menoleh. Dia langsung bisa menebak. Pilihan yang dimaksud Mareeq pasti bukan tempat makan biasa. Selama mengenalnya, pria itu selalu memilih restoran yang tenang, pelayanannya bagus, dan tentu saja mahal.Naomi menggeleng pelan. "Jangan.""Kenapa?" tanya Mareeq."Aku lagi nggak pengin masuk restoran."

  • Bilur Bulir Bertaut   Penjelasan

    Naomi berjalan melangkah ke ruang HR. Dia berdiri beberapa saat di depan pintu ruang HR. Tangannya terangkat, lalu mengetuk pelan."Silakan masuk." ujar ibu Sinta dari dalam ruangan.Naomi membuka pintu. Di dalam, Manajer HR sedang memeriksa beberapa berkas. Begitu melihat Naomi, wanita itu tersenyum ramah."Silakan duduk, Naomi. Ada yang bisa saya bantu?" Ibu Sinta mempersilakan Naomi.Naomi duduk perlahan. "Saya ingin menanyakan alasan kenapa saya dikeluarkan dari proyek Gigantic."Manajer HR menutup map di hadapannya. "Saya sudah menduga kamu akan datang."Naomi menunggu dengan sabar."Keputusan itu bukan karena performamu."Naomi sedikit lega mendengarnya."Justru hasil evaluasimu sangat baik." pujinya."Lalu kenapa?" tanya Naomi.Manajer HR menyandarkan punggungnya ke kursi."Beberapa hari lalu, Pak Mareeq menyampaikan bahwa beban kerja kamu sudah terlalu tinggi. Dan kamu dalam keadaan yang tida

  • Bilur Bulir Bertaut   Semakin Dekat

    Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.

  • Bilur Bulir Bertaut   Mendekat

    Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang

  • Bilur Bulir Bertaut   Awal Pertemuan

    Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru

  • Bilur Bulir Bertaut   Tantangan Pertama

    "Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status