Masuk"Leon, kamu di sini?"
Pria itu berjalan menghampirinya.
"Kamu kelihatan sibuk banget."
Leon berdiri di depan Naomi, kemudian tanpa banyak bicara membungkuk sedikit dan mengecup kening Naomi. Naomi tersenyum kecil. Kebiasaan itu sudah sangat familiar baginya.
Namun setelah itu, tangan Leon turun dan mengusap pelan perut Naomi. Gerakannya lembut. Sangat hati-hati.
Naomi spontan menunduk melihat tangan Leon. Perutnya masih rata. Namun sentuhan itu tetap membuat
Menjelang siang, Naomi mulai merasa haus. Ia melihat gelas di mejanya yang sudah kosong. Naomi menghela napas."Harus beli minum."Kebetulan ada sebuah kafe tidak jauh dari gedung kantor. Naomi mengambil dompet dan ponselnya, kemudian berjalan keluar. Udara siang terasa cukup panas.Ia berjalan menyusuri trotoar sambil melihat-lihat kendaraan yang berlalu-lalang. Ketika hampir sampai di depan kafe, Naomi tiba-tiba melihat seorang anak kecil berlari keluar dari sisi trotoar."Hei!" teriak Noami.Anak itu tidak menyadari ada seseorang yang sedang mendorong troli besar berisi barang dari arah berlawanan. Semua terjadi sangat cepat. Naomi spontan berlari.Ia meraih tubuh anak itu dan memeluknya. Namun Naomi tidak sempat menghindar. Troli itu menghantam sisi tubuhnya. Beberapa barang di atas troli bergeser. Orang yang mendorong troli langsung menghentikannya."Mbak! Maaf! Mbak nggak apa-apa?"Naomi menahan napas. Pinggangnya terkena
"Leon, kamu di sini?"Pria itu berjalan menghampirinya."Kamu kelihatan sibuk banget."Leon berdiri di depan Naomi, kemudian tanpa banyak bicara membungkuk sedikit dan mengecup kening Naomi. Naomi tersenyum kecil. Kebiasaan itu sudah sangat familiar baginya.Namun setelah itu, tangan Leon turun dan mengusap pelan perut Naomi. Gerakannya lembut. Sangat hati-hati.Naomi spontan menunduk melihat tangan Leon. Perutnya masih rata. Namun sentuhan itu tetap membuat sesuatu terasa menghangat di dalam dirinya."Jangan terlalu capek," kata Leon."Baiklah.""Sudah makan?""Sudah."Leon mengusap perutnya sekali lagi sebelum menarik tangannya. Naomi menatapnya. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan sejak beberapa hari terakhir."Leon.""Hm?""Kamu sekarang..." Naomi sedikit ragu. "jarang kelihatan sama Maya."Ekspresi Leon berubah sedikit. "Maya?"Naomi mengangguk. "Iya." Ia berusaha terdengar b
Senin pagi, Naomi kembali ke rutinitasnya. Komputer menyala di atas meja. Beberapa dokumen memenuhi layar. Segelas susu yang sudah hampir dingin berada di sebelah tangannya, sementara Naomi terus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.Naomi memeriksa daftar pekerjaannya satu per satu. Ia ingin menyelesaikan semuanya. Bukan karena pekerjaannya mendesak. Tapi karena ia tahu setelah ini ia harus mulai mengurangi beban kerjanya. Ia tidak bisa terus berlari dari kenyataan.Menjelang siang, Naomi keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa berkas. Ia berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka. Naomi masuk.Baru ketika pintunya hampir tertutup, sebuah tangan menahannya. Pintu kembali terbuka. Mareeq masuk."Kebetulan."Naomi tersenyum kecil. Pintu lift tertutup. Mereka hanya berdua. Beberapa detik pertama terasa sunyi.Beberapa detik pertama terasa sunyi. Naomi memandang angka lantai yang terus berubah."Bukankah hari ini kamu
Mareeq melanjutkan dengan suara lembut. "Aku nggak bilang Nunu harus menjadi alasan kamu memilihku."Naomi mengangkat wajah. berusaha mencerna pa yang sedang berusaha Mareeq sampaaikan."Aku cuma mau bilang kalau Nunu hadir di antara kita, aku punya kesempatan untuk memperjelas semuanya."Naomi terdiam. Lagilagi hal itu. Benarkah cinta harus memiliki?Mareeq menghela napas. "Sekarang, aku nggak tahu bagaimana akhirnya nanti." Ia menatap laut.Kemudian Mareeq kembali menatap Naomi. "Tapi yang terpenting sekarang bagiku adalah kamu. Jangan terbebani apa pun. Pilih saja yang membuatmu bahagia. Jangan pedulikan orang lain. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang."Mata Naomi mulai berkaca-kaca. Mareeq menyadarinya. Namun kali ini Naomi tidak langsung menangis. Ia hanya duduk merunduk terdiam di hadapannya. Berusaha untuk tidak menangis.Tiba-tiba Mareeq mencium puncak kepala Naomi. Naomi mendongakkan kepala. Air matanya tidak bisa lagi d
Naomi kembali menonton. Kali ini ia duduk sedikit lebih tegak agar tidak mengantuk. Dia menikmati sisa film yang diputar.Ketika film selesai, lampu studio menyala perlahan. Naomi berdiri sambil meregangkan tubuh."Bagus."Mareeq mengambil tas Naomi yang tadi diletakkan di samping kursi. "Filmnya atau tidurnya?""Tidurnya. Baru kali ini aku tertidur saat menonton film." ujar Naomi dengan tawa ringan.Mareeq tertawa. Mereka berjalan keluar dari studio. Di lorong bioskop, Naomi tiba-tiba berhenti. Ia menatap punggung Mareeq."Mareeq.""Hm?" Mareeq berhenti dan berbalik."Terima kasih."Mareeq mengangguk. "Saama-sama."Naomi kemudian meraih tasnya dari tangan Mareeq. Mareeq menggandeng tangan Naomi keluar dari bioskop. Meskipun ruangan sudah terang, namun kondisi bioskop yang berundak bisa membuat Naomi terjatuh. Naomi tersenyum kecil. Mereka kemudian berjalan menuju tempat parkir.Naomi duduk di kursi penumpa
Naomi menatap Mareeq. "Bisakah kamu meninggalkan Freya?""Aku tidak meninggalkannya.""Mengatakan bahwa dia bukan anak kandungmu. Mengatakan bahwa kamu akan memiliki anak lain. Bukankah itu akan menyakiti hatinya?"Mareeq tidak menjawab."Aku tidak memikirkan bagiamana perasaan Raya, tapi aku memikirkan bagaimana perasaan Freya nanti."Naomi mengucapkan kalimat itu perlahan, seolah sedang mencoba mendengar bagaimana bunyinya."Naomi." Mareeq berhenti sebentar.Naomi langsung menatapnya."Jangan khawatirkan apa pun. Pilih saja apa yang menurutmu terbaik." Mareeq berbicara dengan tenang. "Apa pun pilihanmu. Aku akan tetap ambil bagian untuk membesarkan Nunu.""Aku tahu. Kamu akan selalu berusaha bertanggung jawab."Naomi menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca."Pikirkan saja dengan baik-baik. Aku akan menunggu." ujar Mareeq. "Aku akan mengatakan pada Raya apa yang terjadi. Jangan khawatirkan Freya. Aku ti
Pintu kaca berbunyi klik saat Naomi melangkah masuk ke ruangan. Ia mengenakan kemeja berwarna pastel yang membuatnya tampak lebih segar dari biasanya. Baru saja ia meletakkan tas di kursinya, sebuah suara ceria menginterupsi ritual pagi itu."Selamat ulang tahun, Naomi!" seru Flora sambil
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang







