공유

Nama

작가: NaoMiura
last update 게시일: 2026-04-09 21:00:56

Beberapa saat mereka kembali makan dalam diam. Angin malam terasa semakin dingin, tapi suasana di dalam mobil justru hangat.

“Kamu tahu,” ucap Naomi akhirnya, suaranya ringan, seolah membuka topik baru, “keluargaku nggak pernah manggil aku Naomi.”

Mareeq melirik sekilas, lalu kembali menatap ke depan. “Tahu.” jawab Mareeq singkat.

Naomi mengangkat alis tipis. “Masih ingat?”

Mareeq terlihat mengangguk seolah mengatakan

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Bilur Bulir Bertaut   Perasaan

    Suara air mengalir pelan memenuhi ruang toilet yang siang itu cukup sepi. Cahaya lampu memantul di cermin besar, menciptakan suasana yang bersih, tapi juga terasa terlalu tenang.Naomi berdiri di depan wastafel, mencuci tangannya. Gerakannya rapi, seperti biasa. Tenang dan terkontrol. Di sampingnya, Claudia sedang merapikan penampilannya di depan cermin. Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.“Tumblermu bagus.” Suara Claudia terdengar ringan, seolah hanya komentar biasa.Naomi melirik lewat cermin, lalu tersenyum kecil. “Yang di meja?”Claudia mengangguk. “Iya.”Naomi mengeringkan tangannya dengan tisu. “Lagi promo, jadi sekalian beli.”Claudia mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu. Tapi matanya masih tertahan di pantulan Naomi di cermin. Claudia tersenyum tipis.“Menariknya… Rahaal punya yang sama.”Naomi berhenti sejenak. Bukan karena terkejut. Lebih

  • Bilur Bulir Bertaut   Tumbler yang Sama

    Pagi datang dengan ritme yang kembali rapi. Naomi sudah duduk di mejanya lebih dulu, seperti biasa. Komputer menyala, beberapa dokumen terbuka, dan di sampingnya tumbler yang kemarin dia beli.Naomi sedang menatap layar komputernya ketika sebuah map diletakkan pelan di mejanya. Ia mendongak. Mareeq berdiri di sana.“Ada yang perlu direvisi,” katanya singkat, menunjuk dokumen di dalam map. “Bagian tengahnya, coba dicek lagi.”Naomi mengangguk, lalu menarik map itu mendekat. “Oke, nanti aku lihat.”Saat itulah pandangan Mareeq bergeser. Ke samping meja. Tumbler. Ia berhenti sejenak.Mareeq mengangkat alis tipis, masih memperhatikan. “Tumbler baru?” tanyanya.Naomi mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum kecil. “Iya. Bagus nggak?”Mareeq mengangguk dan tersenyum. "Bagus."Naomi tampak sedikit lebih hidup mendengar itu. Ia mengangkat tumblernya sedikit, seolah memperliha

  • Bilur Bulir Bertaut   Nama

    Beberapa saat mereka kembali makan dalam diam. Angin malam terasa semakin dingin, tapi suasana di dalam mobil justru hangat.“Kamu tahu,” ucap Naomi akhirnya, suaranya ringan, seolah membuka topik baru, “keluargaku nggak pernah manggil aku Naomi.”Mareeq melirik sekilas, lalu kembali menatap ke depan. “Tahu.” jawab Mareeq singkat.Naomi mengangkat alis tipis. “Masih ingat?”Mareeq terlihat mengangguk seolah mengatakan ya, tapi matanya terlihat sedang berusaha mengingat.“Kamu pernah cerita,” jawab Mareeq santai. “Kakakmu salah menangkap waktu pengasuh memberi tahu tulisan namamu.”Naomi tersenyum kecil. “Dan jadi kebiasaan sampai sekarang.”Mareeq mengangguk pelan. Ada jeda singkat sebelum Naomi kembali bicara.“Kamu nggak tertarik manggil aku Nona juga?”Pertanyaannya terdengar ringan, tapi ada sesuatu yang lebih dalam di bal

  • Bilur Bulir Bertaut   Burger dan Pemandangan Malam

    Sore hari datang lebih cepat dari yang Naomi sadari. Lampu-lampu kantor mulai terasa lebih hangat, layar-layar komputer satu per satu dimatikan. Suara percakapan berubah dari serius menjadi ringan.Naomi merapikan mejanya, mematikan komputer, lalu menarik napas pelan. Hari itu terasa… panjang.Tanpa banyak berpikir, ia mengambil tasnya dan berjalan keluar. Tidak ada yang ia tunggu lagi di ruangan itu. Lift tiba lebih cepat dari biasanya. Naomi masuk, berdiri di sudut, dan membiarkan pikirannya kosong selama perjalanan turun.Tidak ada nama yang ingin ia pikirkan. Tidak ada percakapan yang ingin ia ulang. Hanya… ingin menemui seseorang. Ding. Pintu lift terbuka.Naomi melangkah keluar, langkahnya langsung melambat. Di lobby, berdiri seseorang yang langsung ia kenali. Mareeq.Pria itu berdiri santai, satu tangan di saku, satu lagi memegang ponsel. Namun begitu melihat Naomi keluar dari lift, perhatiannya langsung terangkat. Tatapan mereka

  • Bilur Bulir Bertaut   Kesal

    Rahaal mempercepat sedikit langkahnya hingga sejajar dengan Naomi.“Meeting berjalan lancar karenamu,” katanya akhirnya.Naomi tidak menoleh. “Itu sudah seharusnya.” Jawaban datar.Mereka sampai di depan lift. Naomi menekan tombol, lalu berdiri menunggu seperti sebelumnya. Kali ini, ia tidak melipat tangan. Hanya berdiri diam, menatap lurus ke depan.Lift terbuka. Mereka masuk. Pintu tertutup perlahan, menyisakan ruang sempit dengan keheningan yang terasa lebih canggung dari sebelumnya. Beberapa detik berlalu tanpa suara.Rahaal melirik ke arah Naomi. Wanita itu masih menatap angka di panel, wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang tadi sempat kesal. Rahaal membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ragu. Namun akhirnya, ia tetap bicara.“…Nona.”Satu kata itu langsung mengubah suasana. Naomi membeku. Perlahan, ia menoleh. Tatapannya berbeda. Bukan kaget sepenuhnya. Lebih seperti sesuat

  • Bilur Bulir Bertaut   Alasan

    “Yang datang dalam meeting ini adalah pamanmu,” katanya pelan. “Dia memintaku untuk membawamu.”Naomi hanya menjawab singkat, “Hmm.” Tidak ada antusiasme.Rahaal melanjutkan, "Jika bukan karena itu aku tidak akan memintamu datang bersamaku.Naomi tetap berjalan tanpa menoleh. "Aku sudah bilang ke Om Ridel bahwa aku tidak lagi ikut dalam proyek itu. Dia bilang mengerti kemarin."Rahaal terdiam sejenak setelah mendengar jawaban itu. Langkah mereka tetap sejajar, tapi suasananya berubah. Lebih berat dari sebelumnya. Naomi masih menatap lurus ke depan, tidak memberi celah sedikit pun untuk percakapan yang lebih panjang.Lift sudah terlihat di depan.“Dia mungkin bilang mengerti,” ujar Rahaal akhirnya, suaranya tetap tenang, “tapi belum tentu dia benar-benar lepas dari ekspektasi.”Naomi mendengus pelan. “Kedengarannya seperti alasan.”Rahaal tidak langsung meny

  • Bilur Bulir Bertaut   Makan Siang yang Menegangkan

    Mereka akhirnya keluar dari gedung kantor bersama. Udara siang terasa hangat, jalanan di depan gedung cukup ramai oleh karyawan yang juga mencari tempat makan. Raya berjalan di samping Naomi, sementara Claudia dan Flora sedikit di belakang mereka.Raya tampak santai, sesekali berbicara rin

  • Bilur Bulir Bertaut   Tamu di Lobby

    Rahaal lalu mengalihkan pandangannya dan melihat ke meja Claudia.“Claudia.” panggilnya pelan tapi mampu membuat semua orang menoleh.Wanita itu langsung berdiri dari kursinya. “Ya?”“Saya butuh laporan proyek minggu lalu. Versi yang sudah direvi

  • Bilur Bulir Bertaut   Tumbler

    Pagi berikutnya, udara masih dingin setelah hujan semalam. Naomi berjalan menyusuri trotoar dengan tas kerja di bahunya. Ia tidak berniat datang ke kantor terlalu cepat hari ini. Ada satu tempat yang ingin ia datangi lebih dulu. Sebuah kafe kecil di sudut jalan yang sering ia lewati.Di de

  • Bilur Bulir Bertaut   Meja Sebelah

    Naomi menatap cheesecake itu beberapa detik sebelum akhirnya meletakkan garpunya kembali di piring. Ia tidak memakannya lagi. Sebaliknya, ia meraih gelas minumnya dan meneguk sedikit."Kakak.""Hmm"“Cepat habiskan makanannya.” pinta Naomi. "Kita ke tujuan selanju

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status