LOGINNaomi masuk ke gedung. Koridor mulai sepi. Beberapa karyawan sudah bersiap pulang. Ia melangkah masuk dengan tenang, hingga langkahnya terhenti.
Mareeq berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Tatapannya langsung tertuju pada Naomi. Naomi sedikit terkejut, tapi segera tersenyum kecil.
“Kamu belum pulang?” tanya Mareeq.
“Baru saja dari sky terrace. Mencari udara segar.”
Mareeq mengangguk pelan. Ia memperhatikan Naomi beberapa detik, terlalu lama
Tak lama kemudian mereka mencari tempat untuk makan dengan tenang. Mareeq memilih jalan di atas bukit yang biasanya. Makan di dalam mobil dengan pemandangan lampu kota itu menyenangkan.Makan malam berlangsung santai. Naomi yang sejak tadi mengeluh lapar benar-benar menghabiskan dua burger itu sendirian. Mareeq bahkan tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali memperhatikan Naomi yang terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa hari terakhir.Usai makan, Naomi membuka jendela mobil. Udara malam terasa sejuk. Sedikit lebih dingin dari biasanya karena hujan beberapa hari terakhir.Naomi keluar dari mobil dan berdiri di area pagar pembatas yang menghadap ke kota. Angin malam meniup rambutnya perlahan. Dia memandang sekitar. Ada beberapa mobil dan motor yang samasepertinya menikmati pemandangan kota."Bagus." kata Naomi pelan."Hm." ujar Mareeq berdiri tidak jauh darinya.Tangannya masuk ke saku jaket. Menikmati suasana yang sama. Beberapa menit me
Naomi berjalan melewati area parkir apartemen sambil membawa bunga-bunganya. Tangannya penuh. Belum lagi tas kerja yang menggantung di bahunya. Saat itulah terdengar suara klakson pendek.Tin.Tin.Naomi menoleh. Mobil Mareeq terparkir tidak jauh dari sana. Rupanya dia belum pulang. Jendela pengemudi turun perlahan.Naomi langsung berjalan ke sana. Begitu duduk di kursi penumpang depan, ia meletakkan semua bunga di pangkuannya. Mareeq melirik sekilas. Kemudian menghela napas."Bungamu bertambah."Naomi tersenyum. "Iya. Tadi dapat dari Leon juga."Jawaban itu membuat Mareeq terdiam beberapa detik. Ia mengangguk pelan. "Tentu saja."Naomi memperhatikan ekspresinya. "Kok reaksinya begitu?""Aku harus bagaimana?"Naomi tertawa. "Kamu memberiku buket. Kamu masih merasa tersaingi?""Aku tidak merasa tersaingi." kilah Mareeq."Ya. Baiklah." jawab Naomi menyerah."Bunga putih dari siapa?" tanya Mareeq
Menjelang sore, Mareeq akhirnya kembali ke kantor setelah menghadiri meeting dengan klien di luar. Ia membawa beberapa dokumen di tangannya. Begitu memasuki area tim, hal pertama yang ia sadari adalah terlalu banyak bunga.Hampir setiap meja perempuan di divisi mereka memiliki setangkai mawar. Ada yang merah. Ada yang putih. Ada yang kuning. Bahkan ada yang sudah dimasukkan ke gelas plastik bekas kopi sebagai vas darurat.Mareeq menggeleng kecil. Ia berjalan menuju meja Claudia dan menyerahkan beberapa dokumen. "Ini revisi dari klien."Claudia langsung menerimanya. "Oke."Mareeq menjelaskan beberapa poin singkat sebelum melanjutkan langkah.Namun saat melewati meja Naomi, langkahnya melambat. Di sana ada mawar putih. Mareeq berhenti.Naomi yang sedang mengetik mendongak. Lalu melebarkan senyum. Mareeq menunjuk ke arah bunga-bunga itu."Jadi para perempuan di sini saling bertukar bunga?"Naomi melihat ke arah mejanya. "Oh, bukan.
Naomi baru saja kembali ke mejanya ketika suara Claudia terdengar dari pintu masuk ke ruangan tim."Selamat Rose Day!" sapa Claudia."Apa itu?" tanya Naomi.Flora yang duduk di sebelahnya ikut mengangkat kepala. "Kamu tidak tahu?"Naomi menggeleng. "Tidak."Claudia langsung terlihat seperti menemukan proyek baru. "Rose Day itu awal dari Valentine Week.""Valentine punya minggu?""Punya dong." jawab Claudia. "Di lobi sudah banyak hiasan. Kalian tidak lihat?""Aku tidak memperhatikan. Tapi, tadi memang lobi sedang dihias." ujar Naomi. "Kenapa harus ada Rose Day jika ada valentine?" tanya Naomi pada entah siapa.Karena tidak ada jawaban logis untuk pertanyaan itu, Claudia memilih melanjutkan penjelasan."Hari ini Rose Day. Orang-orang biasanya memberikan bunga mawar kepada orang yang mereka suka.""Oh." Hanya itu reaksinya.Claudia pun duduk di kursinya untuk memulai pekerjaan.Pagi itu email dar
Naomi bangun dengan kondisi yang jauh lebih baik. Kepalanya sudah tidak terasa berat. Tenggorokannya tidak lagi terasa kering. Dan tubuhnya tidak sepanas malam sebelumnya. Setidaknya demamnya sudah turun.Namun ada masalah baru. Naomi menatap langit-langit kamar sambil memejamkan mata. Lalu menghela napas panjang.Perutnya terasa tidak nyaman. Bukan sakit yang membuatnya tidak bisa bergerak. Tapi rasa keram yang sangat familiar. Rasa yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.Naomi menoleh ke kalender di ponselnya. "Oh..."Lalu menghitung cepat. Dan langsung menutup mata lagi. Sudah mendekati waktunya."Pantas."Ketika sampai di kantor, Flora langsung menghampirinya."Kamu hidup."Naomi meletakkan tasnya. "Aku juga senang melihatmu."Flora memperhatikan wajahnya. "Sudah lebih baik?""Sudah."Namun beberapa menit kemudian Flora mulai curiga. Karena Naomi terlihat lebih sering diam. Lebih sering menyandarkan pungg
Tidak berapa lama. Naomi pun pergi ke toilet untuk mencuci mukanya. Dia merasa ngantuk sekali.Sekitar tiga puluh menit kemudian. Makanan mulai berdatangan. Kotak-kotak nasi. Minuman dalam cup plastik.Naomi langsung terdiam. Di atas meja Naomi ada kelapa utuh. Masih lengkap dengan sabutnya. Bahkan ada sedotan kecil yang ditancapkan secara dramatis di bagian atas.Hening. Naomi menatap benda itu. Lalu menatap OB. Lalu kembali ke kelapa."Aku pesan air kelapa."OB mengangguk. "Iya, Mbak. Ini air kelapa."Naomi menunjuk pelan. "Ini kelapa.""Iya, Mbak.""Yang aku maksud airnya."OB terlihat bingung. "Airnya ada di dalam, Mbak."Naomi menutup mata sebentar. Flora sudah mulai menahan tawa. Naomi menarik napas pelan."Apakah aku terlihat seperti di pantai?"OB membuka mulutnya karena baru mengerti. "Oh… maaf, Mbak. Saya kira mau yang segar.""Ini terlalu segar."Flora akhirnya tid
Suasana di meja lounge yang semula hangat karena aroma makanan, mendadak berubah menjadi medan perang dingin. Naomi meletakkan sumpitnya perlahan, suaranya terdengar tenang namun tajam saat matanya menatap Leon tanpa berkedip."Mungkin Leon tiba-tiba perhatian dan repot-repot membawakan ma
Lounge kantor yang ber-AC menyambut mereka dengan suhu yang kontras, namun suasana di sana mendadak terasa jauh lebih dingin bagi Naomi. Tepat di depan lift, Leon berdiri mematung. Di kedua tangannya, ia menjinjing dua bungkus makan siang dari gerai favorit mereka.Namun, pemandan
Naomi duduk mematung di sofa apartemen, menatap layar televisi yang hitam. Ruangan itu hanya diterangi temaram lampu sudut, menciptakan suasana sunyi yang mencekam. Niat awalnya adalah menghabiskan waktu lebih lama dengan Vino, namun bayangan Leon dan Maya di mall tadi terus mengejarnya hingga ia
Sabtu sore di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai menjadi waktu "keramat" bagi Naomi. Meskipun usianya sudah dewasa dan ia sudah memiliki Leon. Ada satu sisi dalam dirinya yang tetap menjadi adik kecil yang posesif.Bagi Naomi, Alina tetaplah sosok "penyusup" yang telah merebut perhatian







