Share

Coklat dan Kopi

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-07-02 20:00:58

Naomi bangun dengan kondisi yang jauh lebih baik. Kepalanya sudah tidak terasa berat. Tenggorokannya tidak lagi terasa kering. Dan tubuhnya tidak sepanas malam sebelumnya. Setidaknya demamnya sudah turun.

Namun ada masalah baru. Naomi menatap langit-langit kamar sambil memejamkan mata. Lalu menghela napas panjang.

Perutnya terasa tidak nyaman. Bukan sakit yang membuatnya tidak bisa bergerak. Tapi rasa keram yang sangat familiar. Rasa yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Pelukan Kakak

    Vino masih menatap wajah adiknya. Ia tahu Naomi sedang menyembunyikan sesuatu. Bukan karena jawaban Naomi tidak masuk akal. Melainkan karena sejak kemarin, ia melihat perubahan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata lelah. Namun ia memilih tidak mendesak."Mau pergi makan?" Vino menawari.Naomi langsung menggeleng. "Aku masih ada kerjaan.""Kerjaan bisa nunggu. Tapi kalau kamu tumbang..." Vino mengetuk pelan kepala Naomi dengan ujung jarinya. "...yang repot satu kantor."Vino masih berdiri di samping Naomi, memandangi wajah adiknya yang terlihat semakin pucat di bawah cahaya matahari yang menembus jendela. Vino menghela napas.Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi. Naomi melangkah satu langkah mendekat. Lalu memeluk kakaknya. Begitu saja. Tanpa aba-aba. Tanpa sepatah kata.Vino sempat membeku. Sudah lama sekali Naomi tidak memeluknya seperti ini. Sejak mereka sama-sama dewasa, adiknya lebih sering menunjukkan rasa sayang lewa

  • Bilur Bulir Bertaut   Usai Rapat

    Naomi mengucapkannya tanpa ekspresi. Tanpa berusaha mencari belas kasihan. Justru terdengar seperti seseorang yang sudah lelah menjelaskan.Rahaal menelan ludah. Selama beberapa hari terakhir ia memang mendengar banyak gosip. Tentang Leon yang ingin menikahi Naomi. Namun ia menganggap itu hanya rumor kantor. Kini Naomi sendiri yang mengatakannya.Naomi terdiam. Rahaal juga terdiam. Ia merasa tidak punya hak untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan pribadi Naomi. Mereka tidak terlibat pembicaraan lain.Lift berbunyi pelan. Ting. Pintu terbuka. Naomi lalu berjalan lebih dulu menuju ruang rapat. Rahaal tetap berdiri di dalam lift selama beberapa detik. Pintu hampir menutup kembali ketika ia akhirnya melangkah keluar. Di dalam dadanya ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.Bukan karena Naomi akan menikah. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perasaan yang selama ini ia simpan memang harus berhenti sampai di sini. Naomi tidak pernah membe

  • Bilur Bulir Bertaut   Kesibukan

    Suasana kantor kembali dipenuhi suara keyboard, dering telepon, dan obrolan ringan para karyawan yang baru memulai pekan. Naomi melangkah masuk dengan membawa tas kerjanya. Wajahnya masih terlihat lelah. Namun tidak lagi semurung beberapa hari terakhir.Dia menarik napas panjang sebelum duduk di kursinya. "Hari ini aku harus bekerja."Bukan untuk melupakan. Melainkan agar pikirannya tidak terus berputar pada masalah yang sama. Naomi benar-benar ingin menenggelamkan diri dalam pekerjaan.Ia menyelesaikan laporan yang tertunda. Membalas email klien. Merevisi desain promosi. Membantu teman mengecek materi presentasi. Bahkan Flora sampai beberapa kali melirik ke arahnya."Hari ini rajin banget."Naomi hanya tersenyum tipis. "Lagi pengin kerja."Flora tertawa kecil. "Kalau setiap hari begini, bos pasti senang."Naomi ikut tersenyum, lalu kembali menatap layar komputernya. Satu per satu pekerjaannya selesai lebih cepat dari biasanya. Saat j

  • Bilur Bulir Bertaut   Berbagi Perasaan

    Vino pun meletakkan cangkir berisi coklat. Dia membuat satu gelas lagi untuk adiknya. Ketika dua gelas coklat hangat sudah di tangan. Dia pun menghampiri adiknya."Minum dulu."Naomi menerima cangkir cokelat hangat yang disodorkan kakaknya. "Terima kasih, Kak."Vino duduk di sofa sebelah. Ia melirik Naomi sekilas. Mata sembap. Wajah pucat. Jelas sekali ada sesuatu yang sedang terjadi. Pasti ada masalah.Pikiran itu muncul begitu saja. Namun Vino memilih menyimpannya sendiri. Ia mengenal Naomi lebih dari siapa pun. Semakin dipaksa bercerita, adiknya justru akan semakin menutup diri. Dia belum mendapat informasi apa pun dari kaki tangannya."Mau nonton film?"Naomi menggeleng pelan. "Hm... nggak.""Mau main game?""Nggak juga.""Mau denger Kakak main piano?"Naomi akhirnya menoleh. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Itu kan minggu lalu."Vino terkekeh pelan. "Iya juga."Keheningan kembali hadir. Namun

  • Bilur Bulir Bertaut   Pulang ke Rumah

    Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika mobil Mareeq memasuki kawasan apartemen Naomi. Tidak ada lagi perdebatan. Hanya keheningan yang nyaman.Naomi membuka sabuk pengamannya. Sebelum turun, ia menoleh."Terima kasih untuk malam ini."Mareeq tersenyum tipis. "Jaga diri baik-baik."Naomi mengangguk pelan.Begitu pintu apartemen terbuka, Naomi langsung melihat Leon yang sedang berdiri di ruang tamu. Pria itu tampak baru saja mondar-mandir. Begitu melihat Naomi, wajahnya berubah lega."Sayang!" Leon segera menghampirinya. "Kamu ke mana? Aku benar-benar khawatir."Naomi memaksakan senyum kecil. "Aku jalan-jalan sebentar karena butuh hiburan."Leon memperhatikan wajah Naomi. Mata perempuan itu masih sembap. Seolah habis menangis. Namun Leon memilih untuk tidak mendesaknya. Ia hanya menggenggam tangan Naomi."Ayo duduk."Mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Beberapa detik berlalu tanpa suara. L

  • Bilur Bulir Bertaut   Ngidam

    "Aku tidak tahu.""Ketika ban mobilmu kempes. Ketika aku hampir tertabrak. Kamu menarikku." paparnya. "Perutku berkedut. Rasanya aneh.""Hmm." gumam Mareeq. "Pantas saja kamu diam setelah itu."Naomi masih tetap memandang ke luar jendela. "Aku memang mengeluhkan terkait terlambat haid. Ternyata itu karena sesuatu tumbuh di perutku.""Mungkin dia mengenali ayahnya." Ia melirik ke arah Naomi.Naomi tidak langsung menjawab atau bereaksi. Hanya ada satu kata yang keluar. "Mungkin."Sekitar lima belas menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kedai pizza kecil yang masih ramai meski malam semakin larut. Papan neon bertuliskan OPEN 24 HOURS menyala terang. Aroma adonan yang baru dipanggang langsung tercium begitu mereka turun dari mobil.Di balik etalase kaca, beberapa pizza baru saja keluar dari oven. Keju yang meleleh masih mengepul. Dihias berbagai toping.Naomi berdiri beberapa detik di depan kaca. Tatapannya mengikuti seora

  • Bilur Bulir Bertaut   Persaudaraan

    "Naomi. apakah kamu ingin kopi?" Tanya Leon."Oh, aku tidak minum kopi. Temanku sudah membawakanku minum." Naomi menunjukkan minuman.Kedua pria itu saling tatap sebentar. Lalu saling mengabaikan. Entah apa yang ada di pikiran masing-masing."Ayo naik ke atas, ini sudah waktunya jam kerja." Ajak Le

  • Bilur Bulir Bertaut   Samar

    Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga

  • Bilur Bulir Bertaut   Semakin Dekat

    Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.

  • Bilur Bulir Bertaut   Mendekat

    Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status