LOGINUdara kota masih terasa seperti sisa-sisa liburan Natal. Banyak orang masih berjalan santai di pusat perbelanjaan, membawa tas belanja atau sekadar menikmati hari libur yang belum sepenuhnya berakhir. Naomi duduk di kursi penumpang mobil sambil memainkan ponselnya ketika sebuah klakson pendek terdengar.
“Kalau kau tidak masuk sekarang, aku pergi sendiri.”
Naomi mendongak dan melihat kakaknya, Vino, bersandar di mobil dengan ekspresi sabar yang dibuat-buat. Naomi lang
Naomi menatap cheesecake itu beberapa detik sebelum akhirnya meletakkan garpunya kembali di piring. Ia tidak memakannya lagi. Sebaliknya, ia meraih gelas minumnya dan meneguk sedikit."Kakak.""Hmm"“Cepat habiskan makanannya.” pinta Naomi. "Kita ke tujuan selanjutnya."Vino mengangkat alis. "Kamu buru-buru sekali. Biasanya juga nongkrong dulu bukan?Naomi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap piringnya sebentar, lalu berkata dengan nada yang dibuat santai, "Nona nggak nyaman."Vino memperhatikannya. Vino tidak perlu melihat ke mana pun untuk tahu apa maksudnya. Ia melirik sekilas ke arah meja Rahaal.Pria itu sedang duduk dengan dua rekannya, tampak seperti sedang bercakap santai. Namun Vino juga memperhatikan sesuatu yang lain. Setiap beberapa saat, pandangan pria itu kembali ke meja mereka.Vino tidak memaksa lagi. Ia mengambil potongan terakhir makanannya dan menghabiskannya dengan cepat.Naomi sudah le
“Nona mau steak. Ini.” Naomi menunjuk ke arah buku menu, tapi tatapannya tidak lepas dari kakaknya.Vino melirik ke arah menu yang dia pilih. Menu dengan tulisan Japanese Wagyu A5, dengan tulisan Premiun yang lebih besar. Dia menatap lagi ke arah adiknya. Tatapannya seolah ingin mengatakan ini pembalasan untuk apa yang Vino katakan.Vino pun menghela nafas. Dia lalu mengangkat tangan memanggil pelayan. Beberapa menit kemudian pesanan mereka dicatat dan pelayan pergi meninggalkan meja."Nona belum mau mengenalkannya pada kakak karena Nona sendiri belum yakin padanya." ujar Naomi kemudian."Kalian sudah lama bersama bukan?" tanya Vino."Hmm" gumam Naomi. Dia mulai memandang ke luar jendela. "Dia baik. Dia memperlakukan Nona dengan baik. Tapi, Nona selalu merasa dia bukan orang yang tepat untuk diajak serius.""Kenapa masih bertahan?" tanya Vino ingin tahu.Naomi menoleh pada kakaknya. "Lalu bagaimana Nona harus mengakhiri ji
Udara kota masih terasa seperti sisa-sisa liburan Natal. Banyak orang masih berjalan santai di pusat perbelanjaan, membawa tas belanja atau sekadar menikmati hari libur yang belum sepenuhnya berakhir. Naomi duduk di kursi penumpang mobil sambil memainkan ponselnya ketika sebuah klakson pendek terdengar.“Kalau kau tidak masuk sekarang, aku pergi sendiri.”Naomi mendongak dan melihat kakaknya, Vino, bersandar di mobil dengan ekspresi sabar yang dibuat-buat. Naomi langsung tertawa kecil dan keluar dari apartemen.“Kau baru datang dua menit,” protesnya.Vino membuka pintu mobil untuknya. “Dua menit itu lama kalau aku menunggu orang yang selalu telat.”Naomi masuk ke mobil sambil memutar mata. “Lebih baik kakak bersyukur adek kakak ini masih mau jalan denganmu.”Vino menyalakan mobil sambil tertawa. “Kau yang mengajakku.”“Itu fitnah.”Naomi menyandarkan kepala
Naomi terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Dia melihat ke jendela kamar, matahari sudah sangat terik. Dia melihat ke arah jam di dinding, pukul 10.30. Dia terlalu lama tidur.Tubuhnya terasa berat. Taman hiburan, perjalanan malam, tangisan yang akhirnya keluar. Begitu kepalanya menyentuh bantal, ia hampir tidak ingat kapan tepatnya ia terlelap.Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka sedikit. “Naomi.” Suara Leon pelan membangunkannya. Naomi menggeliat kecil di bawah selimut.“Hmm…” gumamnya.“Bangun. Sarapan sudah siap.” tuturnya.Naomi membuka mata setengah saja. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya masih penuh rasa kantuk. Naomi mengerang pelan dan menarik selimut sampai dagu.Leon tertawa kecil dari pintu kamar. Beberapa detik kemudian Naomi akhirnya duduk juga di tempat tidur, mengusap wajahnya pelan. Tubuhnya terasa… pegal. Terutama kakinya.Naomi berjalan keluar kamar dengan
Tiba-tiba Mareeq menyalakan lampu sein dan membelokkan mobil ke sebuah pom bensin yang masih terang di tengah malam.Naomi menoleh sedikit. “Kamu ingin beli bensin?”Mareeq menggeleng. “Kamu ingin cuci muka agar lebih segar?” Mareeq menawari.Naomi melirik ke kaca spion. Matanya sedikit bengkak, pipinya masih menyisakan bekas air mata. Naomi menghela napas kecil, lalu tertawa pelan.“Baiklah.”Naomi membuka pintu mobil dan turun. Udara malam yang dingin langsung menyentuh wajahnya. Naomi berjalan ke arah toilet.Sementara itu Mareeq berjalan ke dalam minimarket. Rak-rak kecil masih tertata rapi. Kasir tampak ramah menyapa. Mareeq memesan dua minuman. Satu cup matcha dingin dan satu kopi untuk dirinya sendiri.Setelah mendapatkan pesanannya, Mareeq pun berjalan keluar. Dia melewati rak kecil yang dipenuhi barang-barang musiman. Ia berhenti sebentar untuk melihat. Lampu kecil berbentuk lonceng. Kartu
Naomi seperti menimbang apa yang harus dia jawab atau katakan pada Mareeq. Beberapa detik berlalu. Lalu ia menatap Mareeq dengan senyum tipis.“Freya anak yang manis.”Jawaban itu tidak seperti yang Mareeq harapkan. Itu bukan jawaban dari pertanyaannya. Tapi, pria itu tetap menatap Naomi seolah menunggu kalimat selanjutnya.Naomi melanjutkan dengan suara lembut. "Freya ataupun Raya tidak menyakitiku. Justru kita yang yang menyakiti mereka bukan?"Setelah mengatakan itu, Naomi menundukkan pandangannya. Senyum tipis yang tadi ada di wajahnya perlahan memudar. Gadis itu menatap ke arah kukunya yang cantik.Mareeq tidak menjawab. Begitulah adanya. Sebenarnya jika siapa menyakiti siapa. Maka mereka semua juga tersakiti. Tidak ada yang tidak tersakiti dalam hubungan ini.Naomi menarik napas kecil, seolah ingin terlihat baik-baik saja. Namun Mareeq tahu. Nada suara itu terlalu familiar baginya. Suara seseorang yang sedang berusaha tetap







