Mag-log inSenin pagi itu seperti badai bagi Naomi. Sejak ia menginjakkan kaki di kantor, ia seolah-olah ditelan oleh deretan angka dan analisis pasar dalam berkas proyek Gigantic. Ia membenamkan dirinya begitu dalam ke dalam pekerjaan, menggunakan tumpukan dokumen itu sebagai tameng agar tidak perlu berinteraksi dengan siapapun atau memikirkan hal lain.
Konsentrasinya baru pecah ketika ia merasakan denyut kaku di tengkuk dan punggungnya. Naomi mengerjap, menatap jam di sudut layar komputernya. H
Mareeq menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa berbeda.“Aku tidak merasa bersalah karena ingin menyentuh rambutmu,” lanjutnya. “Aku tidak merasa bersalah karena ingin duduk lebih lama di sini. Dan aku tidak merasa bersalah karena setiap kali melihatmu, aku ingin lebih dekat.”Naomi merasakan jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Naomi membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan jawaban. Ia bisa saja meminta Mareeq menjauh. Bisa saja mengakhiri percakapan ini sebelum dirinya semakin kehilangan kendali. Namun, ia tidak ingin Mareeq menjauh. Yang ia inginkan justru bertentangan dengan peringatannya sendiri.Naomi menunduk, memainkan ujung jarinya. Dia tidak bisa membairkan ini terlalu jauh. Dia juga menginginkannya, tapi dia juga takut."Kita tidak bisa melewati batas lagi." ujar Naomi kemudian.Mareeq terdiam beberapa saat. Kemudian ia berkata, "Aku suka
“Aku bahkan tidak melakukan apa-apa.” ujar Mareeq dengan tenang.Kali ini, Naomi membeku sesaat. Mareeq memperhatikan perubahan sikapnya, tetapi tidak berkomentar. Ia hanya kembali menyusun puzzle, membiarkan keheningan di antara mereka terasa nyaman.Mareeq kemudian menyandarkan satu tangan di atas meja dan menatap Naomi dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Baiklah, apa yang harus aku lakukan?”Naomi langsung menyesali kalimatnya sendiri. Dia kembali menghadap meja. Ia meraih beberapa kepingan sekaligus, berharap Mareeq akan membiarkannya menyelesaikan puzzle dengan tenang. Namun, pria itu tampaknya belum berniat mengalah.“Naomi.” panggil Mareeq.“Apa?”“Bisakah kamu melihatku?” pinta Mareeq.Dengan enggan, Naomi menoleh. Mareeq menatapnya tanpa senyum kali ini. Tatapannya tenang, tetapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang membuat Naomi mendadak lupa bahwa beberap
Naomi masih duduk di lantai dengan kaki terlipat, rambut panjang bob-nya sedikit berantakan karena beberapa kali ia menyelipkannya ke belakang telinga. Di sebelahnya ada gelas minum, bungkus makanan, dan kotak puzzle yang tutupnya sudah miring. Televisi menyala dengan volume rendah, menampilkan acara yang tidak benar-benar mereka tonton.Apartemen itu kecil. Tidak ada taman. Tidak ada teras dengan lampu kuning hangat. Tidak ada pintu melengkung atau pagar kayu yang tertutup tanaman merambat.Hanya sebuah ruang tamu sederhana, karpet, meja rendah, dan seorang perempuan yang sedang berdebat dengannya tentang kepingan puzzle. Anehnya, Mareeq tidak merasa kekurangan apa pun. Kontras dengan rumah impian yang dia ceritakan.Mareeq sudah terbiasa pulang ke tempat yang lebih luas, dengan perabot yang tertata rapi dan segala sesuatu berada di tempatnya. Namun, di tempat ini, ia tidak merasa harus memikirkan pekerjaan yang belum selesai, rapat besok pagi, atau keputusan orang lain yang harus ia
Naomi masih memiliki banyak ketakutan. Ia belum tahu bagaimana perpisahan Mareeq dan Raya akan berlangsung. Bagaimana Freya akan menerima perubahan itu. Apakah dirinya benar-benar siap memasuki kehidupan yang selama ini hanya berani ia bayangkan.Namun, malam itu, setidaknya ia mulai memahami satu hal. Mareeq tidak sedang memintanya menghancurkan kehidupan yang pernah ia bangun. Ia sedang berusaha menyelesaikan kehidupan itu dengan bertanggung jawab, sebelum memulai sesuatu yang baru bersama Naomi.Mareeq membiarkan Naomi mengambil bagian dari rumah masa depannya. Merencanakan masa depan bersama. Meskipun dia belum berani menyebutnya rumah mereka.Naomi masih bersandar di sisi Mareeq ketika percakapan mereka perlahan mereda. Tangisnya sudah berhenti, meskipun matanya masih sedikit basah. Ia mengambil tisu dari meja, mengusap sudut matanya, lalu berusaha mengalihkan perhatian pada sisa makanan pasar malam yang mulai dingin.Mareeq tidak mengatakan apa-apa
Mareeq melirik meja di hadapan mereka, tempat sisa makanan pasar malam dan kotak puzzle masih tergeletak. Memperlihatkan sisa-sisa kebersamaan mereka malam ini. Tidak. Seharian ini karena di tempat kerja mereka juga bersama.“Aku membayangkan rumah itu ketika aku memikirkanmu.” ujarnya.Mareeq menatap Naomi lurus-lurus.“Aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu menjalani hidup dengan keputusan yang tidak sepenuhnya kuinginkan. Sekarang, ketika aku tahu apa yang kuinginkan, aku tidak ingin terus menundanya.” Ia berhenti sebentar.Mareeq mengusap punggung tangan Naomi dengan ibu jari.“Aku tahu kita tidak bisa menyelesaikan semuanya dalam satu malam. Aku juga tahu masih ada banyak hal yang harus kuurus sebelum aku bisa mengajakmu memikirkan rumah itu dengan serius.”Naomi menunduk. Ada bagian dari dirinya yang ingin mempercayai semua itu begitu saja. Ingin membiarkan dirinya membayangkan rumah yang suatu ha
“Di samping jalan setapak itu, aku ingin lavender dan rosemary. Mungkin beberapa bunga kecil lainnya. Tanaman yang membuat halaman terlihat hidup.” papar Mareeq sambil membayangkan."Kamu suka bunga?" tanya Naomi."Bunga karena kamu yang akan tinggal di sana. Aku suka alam."Naomi mengangguk. Rupanya Mareeq memikirkan dirinya. "Baiklah. Lanjutkan."“Pintu utama juga terbuat dari kayu, tapi warnanya sedikit lebih terang daripada gerbang. Di dekatnya ada jendela dengan bingkai kayu. Mungkin bentuknya melengkung di bagian atas, mengikuti gaya rumahnya.”“Dan ada teras?”“Ada. Aku ingin teras di bagian depan, cukup luas untuk dua kursi dan sebuah meja kecil.”"Kita pernah membahas kursi kita ketika sedang mencari hadiah pernikahan salah satu anggota tim." ujar Naomi mengingatkan."Ya. Aku akan membeli yang itu." jawab Mareq berencana menepati janji.“Kita juga butuh lampu
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru







