مشاركة

Liburan Dadakan

مؤلف: NaoMiura
last update تاريخ النشر: 2026-05-20 20:00:57

"Tunggu, tunggu ..." sela Flora. "Jangan bilang Leon pergi dengan Maya?" tebak FLora.

"Aku menduga seperti itu." ujar Naomi lesu.

"Aku sudah bilang kan?" ujar Flora dengan suara sedikit gemas dan kesal bercampur. "Baiklah, kamu dan Mareeq bertemu. Lalu?"

"Claudia menghubungi Mareeq. Lalu sampailah kami di sini." Naomi menggidikkan bahu.

"Aku tidak bisa bayangkan jika tidak ada kamu apa yang akan dilakukan Claudia."

"Mareeq bilang ini bukan pertama kalinya."<

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Bilur Bulir Bertaut   Liburan Dadakan

    "Tunggu, tunggu ..." sela Flora. "Jangan bilang Leon pergi dengan Maya?" tebak FLora."Aku menduga seperti itu." ujar Naomi lesu."Aku sudah bilang kan?" ujar Flora dengan suara sedikit gemas dan kesal bercampur. "Baiklah, kamu dan Mareeq bertemu. Lalu?""Claudia menghubungi Mareeq. Lalu sampailah kami di sini." Naomi menggidikkan bahu."Aku tidak bisa bayangkan jika tidak ada kamu apa yang akan dilakukan Claudia.""Mareeq bilang ini bukan pertama kalinya.""Sudah sering?" Flora terbelalak."Aku tidak tahu.""Kalian berdua menghubungi Mareeq ketika sedang ada masalah?" gumam Flora. "Kalian seharusnya sadar bahwa Mareeq sudah memiliki anak dan istri."Flora hanya melihat Naomi terdiam."Ya, baiklah. Aku tahu kalian sangat dekat. Tapi, kamu harus hati-hati.""Kenapa?""Aku merasa perasaan Mareeq padamu lebih dari seorang sahabat." ujar Flora mengambil makanan di meja."Kalau pun itu benar. Aku b

  • Bilur Bulir Bertaut   Si Penengah

    Naomi menutup mata sebentar. Dadanya terasa penuh. Naomi benar-benar tidak bisa bicara. Dia tidak bisa lagi mengatakan tidak bisa atau tidak boleh. Mareeq tidak sedang bercanda. Ia serius. Sangat serius.Naomi kemudian menatap lurus ke depan. Lampu jalan berpendar samar di kaca mobil, memantul di matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia menarik napas pelan. Lama. Seolah sedang mengumpulkan sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.Mareeq melirik Naomi sekilas. Ia melihat jelas bagaimana wanita itu menahan sesuatu. Bukan lagi sekadar ragu, tapi hampir runtuh di dalam diamnya sendiri.“Aku nggak akan maksa kamu,” ujar Mareeq pelan.Naomi tidak bergerak. Kalimat itu membuat jemari Naomi yang saling menggenggam perlahan mengendur. Mareeq menarik napas, lalu melanjutkan, suaranya lebih rendah.“Tapi jangan menjauh dariku cuma karena kamu takut ini salah. Kalau kita memang salah…” lanjut Mareeq, “biar itu jadi tanggung j

  • Bilur Bulir Bertaut   Hal yang Boleh dan Tidak

    Secara reflek Naomi memandangnya. Mata mereka bertemu di kegelapan malam. Naomi tersenyum padanya."Aku tahu," ujarnya. "tapi, aku juga nggak tahu."Ekspresi wajah Naomi berubah seketika. Suaranya mulai gemetar. Mareeq tahu gadis itu sedang menahan tangisnya. Dia pun melepas genggaman tangannya, berganti menjadi sebuah pelukan.Naomi membenamkan wajahnya pada pria itu. Meskipun tidak terisak, tapi Mareeq tahu Naomi sedang lelah. Hanya pelukan dan usapan lembut di punggungnya yang bisa dia berikan.Selama kurang lebih sepuluh menit mereka berada di posisi itu. Sementara di dalam penginapan, dari jendela Claudia berdiri diam... Melihat semuanya.Naomi mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Mareeq. "Aku baik-baik saja."Mareeq melihat ke arah mata yang sembap itu. Rasa cemas di matanya terlihat berkurang. Mareeq pun tersenyum."Kita masuk saja?" pinta Mareeq.Naomi lalu mengangguk. Mareeq lalu berjalan lebih dulu diikuti oleh Na

  • Bilur Bulir Bertaut   Kekacauan di Beach Club

    Naomi menatap permukaan danau yang mulai beriak tertiup angin malam. Suasana tenang beberapa menit lalu terasa hilang begitu saja.Mareeq berdiri sambil mengambil kunci mobil. “Kita pergi sebentar.”Naomi menatap ke Mareeq. “Ada apa dengan Claudia?”“Entahlah.”Nada suara Mareeq datar, tapi Naomi bisa melihat rahangnya sedikit menegang. Mereka berjalan kembali menuju parkiran kedai. Tidak banyak percakapan selama perjalanan menuju beach club itu.Naomi duduk diam di kursi penumpang, memegang cup matchanya yang kini hanya tersisa setengah. Ia meminumnya pelan, lebih untuk mengisi keheningan daripada karena ingin. Lampu-lampu kota lewat begitu saja di balik jendela.Ada perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Ia seharusnya tidak ikut. Ini bukan urusannya. Selain itu, Claudia pasti akan berusaha memperlihatkan kedekatan mereka.“Kamu bisa menurunkanku di sini kalau memang harus ke sana,&rdqu

  • Bilur Bulir Bertaut   Dekat yang Membingungkan

    Mobil Vino berhenti pelan di depan apartemen Naomi hampir pukul sembilan malam. Vino melirik pada adiknya. Naomi masih tetap dia, melamun bersandar kaca jendela."Siapkan energimu untuk belanja besok," ujar Vino sambil melepas seatbelt Naomi.Naomi menghela napas. "Siapkan kartu kakak untuk besok."Vino menatap adiknya beberapa detik. “Kamu capek.”Bukan pertanyaan. Naomi tersenyum tipis seolah ingin menenangkan kakaknya.“Aku butuh tidur.”Namun Vino tahu Naomi berbohong ketika wanita itu langsung turun tanpa banyak bicara. Biasanya akan ada percakapan lain yang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Tapi, ini dia terlihat ingin segera menghindari kakaknya.Begitu pintu apartemen terbuka, kesunyian langsung menyambut Naomi. Gelap. Tidak ada suara televisi. Tidak ada aroma makanan atau minuman yang biasanya dibuat Leon. Bahkan sepatu Leon pun tidak ada di dekat pintu.Naomi berdiri diam beberapa saat. Padah

  • Bilur Bulir Bertaut   Rumah

    Langit sudah benar-benar gelap ketika Naomi keluar dari gedung kantor. Hari Jumat terasa panjang. Terlalu banyak percakapan yang membuat kepalanya penuh.Naomi sudah menunggu di depan gedung. Dia meminta kakaknya untuk menjemputnya. Terlalu banyak hal yang harus dibahas.Mobil hitam milik Vino sudah berhenti tidak jauh dari pintu lobby. Begitu Naomi masuk, aroma kopi dan parfum familiar langsung menyambutnya.Vino melirik sekilas. “Capek?”Naomi menyandarkan tubuh ke kursi. “Sedikit.”“Kerjaannya?”“Orangnya.”Vino terkekeh kecil sambil mulai menjalankan mobil.Naomi menatap kakaknya beberapa detik. Di kantor, banyak orang mengenal Vino sebagai sosok yang sulit didekati. Namun Vino tetap kakaknya yang selalu datang kalau Naomi meminta dijemput.Mereka akhirnya berhenti di restoran Jepang kecil yang biasa mereka datangi sejak dulu. Tidak terlalu ramai. Tenang.Begitu

  • Bilur Bulir Bertaut   Jamuan yang Mencekam

    Cahaya matahari Sabtu pagi yang biasanya menenangkan kini terasa menyengat di mata Naomi. Ia masih bergelung di bawah selimut, menikmati aroma kopi yang sedang diseduh Leon di dapur, sampai getaran ponsel di atas nakas menghancurkan ketenangannya. Nama Mareeq berkedip di layar."Ya, Mareeq

  • Bilur Bulir Bertaut   Kotak Mewah dan Rasa Bersalah

    Malam itu, suasana apartemen terasa begitu sunyi, hanya ada suara rendah dari televisi. Naomi sedang menyandarkan kepalanya di bahu Leon, sambil menatap layar televisi tanpa benar-benar memperhatikan tayangannya. Leon yang fokus dengan ponselnya, sesekali mengelus rambut Naomi dengan lembut.

  • Bilur Bulir Bertaut   Rasa Cheese Cake yang Tertinggal

    Restoran ini berada di lantai tertinggi salah satu gedung ikonik. Begitu pintu lift terbuka di lantai 18, Naomi disambut oleh pemandangan cakrawala kota di balik dinding kaca raksasa. Suasananya begitu sunyi, hanya ada alunan musik jazz instrumental yang sangat halus."Selamat siang, Tuan

  • Bilur Bulir Bertaut   Di Luar Kantor

    Jumat pagi itu, udara di kantor Legacy terasa lebih berat dari biasanya. Naomi melangkah masuk dengan setelan blazer yang rapi dan riasan wajah yang sedikit lebih tebal untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya. Ia menarik napas panjang, mencoba menanamkan pada dirinya sendiri bahwa hari in

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status