登入Claudia bicara lebih pelan. “Terima kasih sudah datang semalam.”
Mareeq tidak langsung menjawab. Ada jeda sebentar seolah dia lebih fokus ke arah lain.
“Kamu tidak perlu memikirkan itu.”
Claudia tersenyum kecil hambar. “Aku sangat lega kamu tetap datang.”
Tatapannya turun ke dress yang ia pakai pagi itu. Dress santai berwarna lembut yang nyaman dan jauh berbeda dari pakaian pestanya semalam.
“Dan… terima kasih
Claudia bicara lebih pelan. “Terima kasih sudah datang semalam.”Mareeq tidak langsung menjawab. Ada jeda sebentar seolah dia lebih fokus ke arah lain.“Kamu tidak perlu memikirkan itu.”Claudia tersenyum kecil hambar. “Aku sangat lega kamu tetap datang.”Tatapannya turun ke dress yang ia pakai pagi itu. Dress santai berwarna lembut yang nyaman dan jauh berbeda dari pakaian pestanya semalam.“Dan… terima kasih untuk ini juga.”Mareeq mengikuti arah pandangnya. Lalu berkata tenang, “Naomi yang membelinya.”Claudia terdiam.“Dia yang ingin membelikan untukmu. Aku cuma bayar.”Kalimat itu sederhana. Namun Claudia langsung menangkap maksudnya. Mareeq sengaja. Sengaja ingin Claudia tahu bahwa perhatian itu datang dari Naomi. Anehnya itu membuat dada Claudia terasa sesak.Claudia tersenyum kecil, tapi senyumnya tidak benar-benar sampai ke mat
"Tunggu, tunggu ..." sela Flora. "Jangan bilang Leon pergi dengan Maya?" tebak FLora."Aku menduga seperti itu." ujar Naomi lesu."Aku sudah bilang kan?" ujar Flora dengan suara sedikit gemas dan kesal bercampur. "Baiklah, kamu dan Mareeq bertemu. Lalu?""Claudia menghubungi Mareeq. Lalu sampailah kami di sini." Naomi menggidikkan bahu."Aku tidak bisa bayangkan jika tidak ada kamu apa yang akan dilakukan Claudia.""Mareeq bilang ini bukan pertama kalinya.""Sudah sering?" Flora terbelalak."Aku tidak tahu.""Kalian berdua menghubungi Mareeq ketika sedang ada masalah?" gumam Flora. "Kalian seharusnya sadar bahwa Mareeq sudah memiliki anak dan istri."Flora hanya melihat Naomi terdiam."Ya, baiklah. Aku tahu kalian sangat dekat. Tapi, kamu harus hati-hati.""Kenapa?""Aku merasa perasaan Mareeq padamu lebih dari seorang sahabat." ujar Flora mengambil makanan di meja."Kalau pun itu benar. Aku b
Naomi menutup mata sebentar. Dadanya terasa penuh. Naomi benar-benar tidak bisa bicara. Dia tidak bisa lagi mengatakan tidak bisa atau tidak boleh. Mareeq tidak sedang bercanda. Ia serius. Sangat serius.Naomi kemudian menatap lurus ke depan. Lampu jalan berpendar samar di kaca mobil, memantul di matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia menarik napas pelan. Lama. Seolah sedang mengumpulkan sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.Mareeq melirik Naomi sekilas. Ia melihat jelas bagaimana wanita itu menahan sesuatu. Bukan lagi sekadar ragu, tapi hampir runtuh di dalam diamnya sendiri.“Aku nggak akan maksa kamu,” ujar Mareeq pelan.Naomi tidak bergerak. Kalimat itu membuat jemari Naomi yang saling menggenggam perlahan mengendur. Mareeq menarik napas, lalu melanjutkan, suaranya lebih rendah.“Tapi jangan menjauh dariku cuma karena kamu takut ini salah. Kalau kita memang salah…” lanjut Mareeq, “biar itu jadi tanggung j
Secara reflek Naomi memandangnya. Mata mereka bertemu di kegelapan malam. Naomi tersenyum padanya."Aku tahu," ujarnya. "tapi, aku juga nggak tahu."Ekspresi wajah Naomi berubah seketika. Suaranya mulai gemetar. Mareeq tahu gadis itu sedang menahan tangisnya. Dia pun melepas genggaman tangannya, berganti menjadi sebuah pelukan.Naomi membenamkan wajahnya pada pria itu. Meskipun tidak terisak, tapi Mareeq tahu Naomi sedang lelah. Hanya pelukan dan usapan lembut di punggungnya yang bisa dia berikan.Selama kurang lebih sepuluh menit mereka berada di posisi itu. Sementara di dalam penginapan, dari jendela Claudia berdiri diam... Melihat semuanya.Naomi mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Mareeq. "Aku baik-baik saja."Mareeq melihat ke arah mata yang sembap itu. Rasa cemas di matanya terlihat berkurang. Mareeq pun tersenyum."Kita masuk saja?" pinta Mareeq.Naomi lalu mengangguk. Mareeq lalu berjalan lebih dulu diikuti oleh Na
Naomi menatap permukaan danau yang mulai beriak tertiup angin malam. Suasana tenang beberapa menit lalu terasa hilang begitu saja.Mareeq berdiri sambil mengambil kunci mobil. “Kita pergi sebentar.”Naomi menatap ke Mareeq. “Ada apa dengan Claudia?”“Entahlah.”Nada suara Mareeq datar, tapi Naomi bisa melihat rahangnya sedikit menegang. Mereka berjalan kembali menuju parkiran kedai. Tidak banyak percakapan selama perjalanan menuju beach club itu.Naomi duduk diam di kursi penumpang, memegang cup matchanya yang kini hanya tersisa setengah. Ia meminumnya pelan, lebih untuk mengisi keheningan daripada karena ingin. Lampu-lampu kota lewat begitu saja di balik jendela.Ada perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Ia seharusnya tidak ikut. Ini bukan urusannya. Selain itu, Claudia pasti akan berusaha memperlihatkan kedekatan mereka.“Kamu bisa menurunkanku di sini kalau memang harus ke sana,&rdqu
Mobil Vino berhenti pelan di depan apartemen Naomi hampir pukul sembilan malam. Vino melirik pada adiknya. Naomi masih tetap dia, melamun bersandar kaca jendela."Siapkan energimu untuk belanja besok," ujar Vino sambil melepas seatbelt Naomi.Naomi menghela napas. "Siapkan kartu kakak untuk besok."Vino menatap adiknya beberapa detik. “Kamu capek.”Bukan pertanyaan. Naomi tersenyum tipis seolah ingin menenangkan kakaknya.“Aku butuh tidur.”Namun Vino tahu Naomi berbohong ketika wanita itu langsung turun tanpa banyak bicara. Biasanya akan ada percakapan lain yang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Tapi, ini dia terlihat ingin segera menghindari kakaknya.Begitu pintu apartemen terbuka, kesunyian langsung menyambut Naomi. Gelap. Tidak ada suara televisi. Tidak ada aroma makanan atau minuman yang biasanya dibuat Leon. Bahkan sepatu Leon pun tidak ada di dekat pintu.Naomi berdiri diam beberapa saat. Padah
“Seseorang yang aku kenal,” jawab Naomi, nadanya dibuat seringan mungkin. “Kebetulan dia ada urusan di kantor, jadi kami bicara sebentar.”Ia segera mengalihkan topik, cepat, dan tanpa jeda. “Mau makan di mana kita? Aku sudah lapar.”Leon menatapn
"Itu karena aku mencintaimu." Suara Mareeq terdengar serak dan putus asa.Itu bukan penjelasan. Itu adalah ratapan. Pengakuan itu bukan lagi rahasia terpendam, melainkan kesakitan yang terbuka. Naomi terdiam. Dia tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Bahkan untuk menoleh pada Mareeq dia t
Naomi berjalan kembali ke mejanya, dengan rasa bersalah yang menusuk. Dia menyadari bahwa semakin Mareeq peduli padanya semakin keras ia akan menghukum dirinya dengan jarak yang kejam. Apa yang harus Naomi lakukan?Begitu melihat Naomi, Flora langsung menyeretnya untuk melihat pengumuman.
Naomi jadi bingung. Matcha itu selalu ada di tempat persediaan. Jika itu punya seseorang pasti akan diberi nama dan sudah pasti diletakkan di laci khusus yang sudah disediakan.Naomi pun memilih membuat latte. Dia tidak ingin ternyata selama ini dia meminum milik orang la







