Se connecterMereka akhirnya kembali ke mobil. Naomi langsung duduk di kursi penumpang sambil memangku buket mawar merah besar milik Mareeq.
Begitu mobil mulai melaju menuruni jalan bukit, suasana menjadi tenang. Lampu-lampu kota perlahan menjauh di belakang mereka. Naomi bersandar nyaman di kursi.
"Besok libur panjang ya."
Mareeq melirik sekilas. "Hm."
"Waktunya bermalas-malasan."
"Kamu terdengar sangat bahagia."
"Aku memang bahagia."
Beberapa menit kemudi
Mereka akhirnya kembali ke mobil. Naomi langsung duduk di kursi penumpang sambil memangku buket mawar merah besar milik Mareeq.Begitu mobil mulai melaju menuruni jalan bukit, suasana menjadi tenang. Lampu-lampu kota perlahan menjauh di belakang mereka. Naomi bersandar nyaman di kursi."Besok libur panjang ya."Mareeq melirik sekilas. "Hm.""Waktunya bermalas-malasan.""Kamu terdengar sangat bahagia.""Aku memang bahagia."Beberapa menit kemudian Mareeq bertanya, "Jadi rencanamu apa?"Naomi berpikir. Lama sekali. Sampai Mareeq mulai curiga tidak ada rencana apa pun."Tidur.""Tentu saja.""Makan.""Bagus. Kamu akan seperti babi.""Kalau aku jadi babi apakah kamu akan tetap suka aku?""Aku tidak akan membairkanmu menjadi babi. Bukankah begitu cinta seharusnya?""Masuk akal." Naomi mengangguk. "Lalu, apa rencanamu sendiri?" tanya Naomi."Ada beberapa pekerjaan yang harus aku
Tak lama kemudian mereka mencari tempat untuk makan dengan tenang. Mareeq memilih jalan di atas bukit yang biasanya. Makan di dalam mobil dengan pemandangan lampu kota itu menyenangkan.Makan malam berlangsung santai. Naomi yang sejak tadi mengeluh lapar benar-benar menghabiskan dua burger itu sendirian. Mareeq bahkan tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali memperhatikan Naomi yang terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa hari terakhir.Usai makan, Naomi membuka jendela mobil. Udara malam terasa sejuk. Sedikit lebih dingin dari biasanya karena hujan beberapa hari terakhir.Naomi keluar dari mobil dan berdiri di area pagar pembatas yang menghadap ke kota. Angin malam meniup rambutnya perlahan. Dia memandang sekitar. Ada beberapa mobil dan motor yang samasepertinya menikmati pemandangan kota."Bagus." kata Naomi pelan."Hm." ujar Mareeq berdiri tidak jauh darinya.Tangannya masuk ke saku jaket. Menikmati suasana yang sama. Beberapa menit me
Naomi berjalan melewati area parkir apartemen sambil membawa bunga-bunganya. Tangannya penuh. Belum lagi tas kerja yang menggantung di bahunya. Saat itulah terdengar suara klakson pendek.Tin.Tin.Naomi menoleh. Mobil Mareeq terparkir tidak jauh dari sana. Rupanya dia belum pulang. Jendela pengemudi turun perlahan.Naomi langsung berjalan ke sana. Begitu duduk di kursi penumpang depan, ia meletakkan semua bunga di pangkuannya. Mareeq melirik sekilas. Kemudian menghela napas."Bungamu bertambah."Naomi tersenyum. "Iya. Tadi dapat dari Leon juga."Jawaban itu membuat Mareeq terdiam beberapa detik. Ia mengangguk pelan. "Tentu saja."Naomi memperhatikan ekspresinya. "Kok reaksinya begitu?""Aku harus bagaimana?"Naomi tertawa. "Kamu memberiku buket. Kamu masih merasa tersaingi?""Aku tidak merasa tersaingi." kilah Mareeq."Ya. Baiklah." jawab Naomi menyerah."Bunga putih dari siapa?" tanya Mareeq
Menjelang sore, Mareeq akhirnya kembali ke kantor setelah menghadiri meeting dengan klien di luar. Ia membawa beberapa dokumen di tangannya. Begitu memasuki area tim, hal pertama yang ia sadari adalah terlalu banyak bunga.Hampir setiap meja perempuan di divisi mereka memiliki setangkai mawar. Ada yang merah. Ada yang putih. Ada yang kuning. Bahkan ada yang sudah dimasukkan ke gelas plastik bekas kopi sebagai vas darurat.Mareeq menggeleng kecil. Ia berjalan menuju meja Claudia dan menyerahkan beberapa dokumen. "Ini revisi dari klien."Claudia langsung menerimanya. "Oke."Mareeq menjelaskan beberapa poin singkat sebelum melanjutkan langkah.Namun saat melewati meja Naomi, langkahnya melambat. Di sana ada mawar putih. Mareeq berhenti.Naomi yang sedang mengetik mendongak. Lalu melebarkan senyum. Mareeq menunjuk ke arah bunga-bunga itu."Jadi para perempuan di sini saling bertukar bunga?"Naomi melihat ke arah mejanya. "Oh, bukan.
Naomi baru saja kembali ke mejanya ketika suara Claudia terdengar dari pintu masuk ke ruangan tim."Selamat Rose Day!" sapa Claudia."Apa itu?" tanya Naomi.Flora yang duduk di sebelahnya ikut mengangkat kepala. "Kamu tidak tahu?"Naomi menggeleng. "Tidak."Claudia langsung terlihat seperti menemukan proyek baru. "Rose Day itu awal dari Valentine Week.""Valentine punya minggu?""Punya dong." jawab Claudia. "Di lobi sudah banyak hiasan. Kalian tidak lihat?""Aku tidak memperhatikan. Tapi, tadi memang lobi sedang dihias." ujar Naomi. "Kenapa harus ada Rose Day jika ada valentine?" tanya Naomi pada entah siapa.Karena tidak ada jawaban logis untuk pertanyaan itu, Claudia memilih melanjutkan penjelasan."Hari ini Rose Day. Orang-orang biasanya memberikan bunga mawar kepada orang yang mereka suka.""Oh." Hanya itu reaksinya.Claudia pun duduk di kursinya untuk memulai pekerjaan.Pagi itu email dar
Naomi bangun dengan kondisi yang jauh lebih baik. Kepalanya sudah tidak terasa berat. Tenggorokannya tidak lagi terasa kering. Dan tubuhnya tidak sepanas malam sebelumnya. Setidaknya demamnya sudah turun.Namun ada masalah baru. Naomi menatap langit-langit kamar sambil memejamkan mata. Lalu menghela napas panjang.Perutnya terasa tidak nyaman. Bukan sakit yang membuatnya tidak bisa bergerak. Tapi rasa keram yang sangat familiar. Rasa yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.Naomi menoleh ke kalender di ponselnya. "Oh..."Lalu menghitung cepat. Dan langsung menutup mata lagi. Sudah mendekati waktunya."Pantas."Ketika sampai di kantor, Flora langsung menghampirinya."Kamu hidup."Naomi meletakkan tasnya. "Aku juga senang melihatmu."Flora memperhatikan wajahnya. "Sudah lebih baik?""Sudah."Namun beberapa menit kemudian Flora mulai curiga. Karena Naomi terlihat lebih sering diam. Lebih sering menyandarkan pungg
Sekitar empat puluh menit kemudian, aroma makanan mulai memenuhi ruangan tim pemasaran. Pizza-pizza hangat diletakkan di meja tengah. Meja besar yang biasanya dipakai untuk rapat mendadak, diskusi singkat, atau tempat meletakkan terlalu banyak dokumen. Hari itu, meja tersebut berubah fungsi menja
Hari itu suasana tim pemasaran sedikit lebih ramai dari biasanya. Seorang pegawai baru bergabung. Namanya Rhea. Perempuan itu terlihat masih muda, dengan rambut yang diikat rapi dan mata yang tampak bersemangat sekaligus gugup. Ia beberapa kali membungkuk sopan setiap kali dikenalkan kepada anggo
Hari Senin selalu terasa sedikit lebih sibuk dibanding hari-hari lainnya. Namun anehnya, jam istirahat siang di kantor justru terasa tenang. Langit cerah setelah hujan deras sepanjang akhir pekan. Angin berembus pelan di sky terrace kantor, membawa aroma tanaman hias yang ditata di sudut-sudut ar
Ketika Naomi sedang merapikan beberapa dokumen di mejanya ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya tersenyum kecil. Killa. Dia pun segera membuka isi pesannya.Killa: Mau nonton nggak?Naomi membalas cepat.Naomi: Tumben ngajakin nonton?Tak lama







