MasukMalam datang perlahan. Apartemen terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu menyala hangat, meja dipenuhi camilan, termasuk kardus wafer yang kini sudah terbuka dan berkurang beberapa.
Leon berdiri di depan kulkas yang ada di dapur kecil. Dia mengambil dua kaleng minuman dan membuka keduanya. “Kamu yakin nggak mau keluar?” tanyanya.
Naomi duduk di sofa, kaki dilipat santai, satu kaleng wafer di tangan. “Nggak. Di sini aja.”
Leon berjalan mendekat, men
Naomi tertawa kecil. "Maka dari itu Nona ingin coba."Vino memandang adiknya beberapa saat. Ia tahu ini bukan sekadar soal rambut. Naomi sedang berusaha mengubah sesuatu. Mungkin karena ada terlalu banyak hal yang ingin ia tinggalkan.“Kamu yakin?” Vino memastikan lagi.“Sangat.” jawab Naomi tidak goyah.Vino menghela napas panjang. "Jangan nangis kalau menyesal."Mendapat lampu hijau, Naomi segera menyeret kakaknya masuk ke salon. Naomi bergegas duduk di depan cermin yang kosong. Penata rambut datang dan bertanya keinginannya."Long bob." ujar Naomi to the point.Penata rambut itu pun mengangguk. Dia segera menyentuh rambut Naomi. Rambut panjangnya tergerai hingga melewati bahu. Penata rambut mulai membaginya menjadi beberapa bagian.Vino berdiri di belakang sambil memperhatikan dengan ekspresi pasrah.“Kakak masih punya kesempatan untuk melarang?” tanya Vino.Naomi tersenyum m
Naomi yang merasa suntuk memutuskan untuk pergi ke sebuah mall. Awalnya ia hanya berniat berjalan-jalan. Namun ketika melewati sebuah butik, langkahnya berhenti. Naomi masuk. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan satu tas belanja.Lalu ia melewati toko lain. Sepasang sepatu terlihat menarik di matanya. Dia masuk ke sana, lalu keluar dengan tas kedua. Kembali sebuah pakaian menarik perhatiannya, dia masuk dan keluar dengan tas tangan lain. Melewati toko perhiasan, dia membeli sebuah anting. Tas pun bertambah.Naomi tahu apa yang sedang dilakukannya. Ia sedang mencoba menghibur dirinya sendiri. Dan untuk beberapa jam, ia ingin membiarkan dirinya melakukan itu tanpa merasa bersalah.Ponsel Naomi kemudian berdering. Nama Vino muncul di layar. Naomi mengangkatnya.“Halo, Kak?”“Kamu di mana?” tanya Vino.“Mall.” jawab naomi singkat.“Sendirian?” tanyanya lagi.Naomi terdiam sebenta
Sebenarnya beberapa kali layar ponselnya menyala. Ada panggilan. Ada pesan. Namun Naomi tidak sanggup mengangkatnya.Leon. Nama itu selalu muncul di layar ponselnya. Nama itu kini cukup membuat dadanya terasa sesak.Naomi menundukkan kepala. Ia mencoba mengingat bagaimana semuanya bermula hari ini. Pagi tadi ia masih bekerja seperti biasa. Ia masih bisa bercanda.Bahkan ketika bertemu Pak Rino, Naomi begitu yakin bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang baik untuk Leon. Ia meyakinkan klien yang sulit itu bahwa Leon mampu mengerjakan proyek tersebut. Ia bahkan mengatakan bahwa Leon tidak akan mengecewakannya.Naomi menutup wajah dengan kedua tangannya. Ironis. Sangat ironis. Beberapa jam kemudian, justru Leon yang mengecewakannya. Dan bukan dalam bentuk kesalahan pekerjaan. Bukan karena sebuah janji yang terlambat ditepati. Melainkan sesuatu yang jauh lebih sulit diterima.Naomi masih bisa melihatnya. Setiap kali memejamkan mata, pemandangan itu kemba
“Pergilah.” Kali ini suara Mareeq lebih tegas.Beberapa detik mereka saling menatap. Akhirnya Leon menghela napas dan berbalik. Sebelum keluar, ia sempat melihat sekali lagi ke arah meja Naomi. Kosong. Tidak ada Naomi. Tidak ada penjelasan. Leon meninggalkan ruangan. Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.Flora menatap Mareeq. “Jadi... sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya berharap Mareeq memberi tahu apa yang dia ketahui.“Tidak ada.” Mareeq kembali ke ruangannya.Flora menatap punggung Mareeq yang menghilang ke balik pintu. Lalu, pintu yang baru saja dilewati Leon. Kemudian ia melihat meja Naomi. Ada sesuatu yang tidak masuk akal. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.Kalau Naomi benar-benar hanya pulang karena tidak enak badan, pulang ke mana dia? Mengapa Leon terlihat seperti orang yang kehilangan arah? Dan mengapa Mareeq terlihat seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu? Tidak seorang pu
“Kamu bisa menginap di rumahku.” Mareeq menawarkan.Naomi langsung menoleh. “Tidak.”“Naomi.”“Aku tidak mau merepotkanmu.” ujar Naomi kemudian.“Kamu tidak merepotkan.”Naomi menggeleng lagi. Naomi terlihat sangat kacau. Mareeq tidak memaksanya. Naomi terdiam cukup lama.“Ke apartemen kakakku saja.” ujar Naomi kemudian.Rupanya diam Naomi sedang berpikir. Untung saja dia memutuskan akan tinggal di mana. Jika tidak ada pilihan, Mareeq sebenarnya ingin menyarankan ke hotel untuk sementara.Mareeq mengangguk. “Oke.”Tidak ada pertanyaan lebih lanjut. Sepanjang perjalanan, Naomi lebih banyak diam. Ia menyandarkan kepala ke jendela sambil memandangi jalan yang perlahan berubah menjadi ramai.Ponselnya beberapa kali bergetar. Rentetan pesan dan telepon dari Leon. Pesan dari beberapa orang kantor. Namun Naomi tidak membuka satu pun.
Naomi tidak berhenti. Beberapa detik kemudian, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan. Naomi bahkan tidak menangis, bahkan tidak marah.Mareeq masih menunggu di tempat parkir. Ia sempat melihat jam di dashboard. Tidak sampai lama. Masih sepuluh menit menunggu, tapi baginya terasa lama.Naomi muncul dari lobi, Mareeq langsung menyadari ada sesuatu yang salah. Dia berjalan cepat. Terlalu cepat. Wajahnya pucat. Langkahnya sedikit tidak stabil.Naomi langsung membuka pintu penumpang dan masuk. Dia tidak mengatakan apa pun. Bahkan ekspresinya berbeda, tidak seperti sebelum dia masuk ke apartemen. Mareeq menatapnya dengan khawatir.“Naomi, ada apa?” tanya Mareeq yang khawatir.Naomi masih diam. Napasnya pendek. Ia menatap lurus ke depan, tetapi tatapannya seperti tidak benar-benar melihat apa pun. Mareeq mengulurkan tangannya menyentuh bahunya.“Naomi.”Baru saat itu Naomi menoleh. Matanya
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru
"Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.







