LOGINNaomi mengerutkan kening. "Aku ingin itu."
“Itu makanan penutup.”
"Bagiku itu menu utama." Naomi menghela napas. “Aku sudah menunggu cukup lama.”
Mareeq menatapnya beberapa detik. Kemudian sudut bibirnya terangkat tipis. “Kau benar-benar menginginkan cheesecake itu.”
Naomi langsung mengangguk. “Banget.”
“Cheesecake-nya tidak akan lari.”
Naomi tertawa. "Tapi bisa habis kan?"
Mareeq hany
Pagi itu, Naomi bangun dalam keadaan terlambat. Begitu melihat jam di samping tempat tidur, matanya langsung membesar. Bukan karena alarm yang merdu, melainkan karena alarm alami di dalam kepalanya yang mendadak meneriakkan bahaya.“Ya ampun…”Seketika, selimut dilempar asal. Ia langsung bangkit dari tempat tidur dan bergerak serba cepat. Seluruh ruangan berubah menjadi labirin kepanikan. Mandi, berpakaian, mengambil tas, lalu memastikan ponsel dan dompet sudah masuk ke dalam tas.Rambutnya menjadi masalah terakhir. Biasanya Naomi membutuhkan waktu cukup lama untuk merapikan rambutnya, tetapi pagi ini tidak mungkin. Akhirnya ia hanya menyisirnya seadanya dan menguncir rambutnya.“Nanti di kantor saja.”Dengan begitu, Naomi langsung berangkat.***Di kantor, Rahaal baru saja berjalan menuju vending machine untuk membeli coffee latte. Pagi itu suasana kantor sudah mulai ramai. Beberapa orang baru tiba, seb
Naomi mengerutkan kening. "Aku ingin itu."“Itu makanan penutup.”"Bagiku itu menu utama." Naomi menghela napas. “Aku sudah menunggu cukup lama.”Mareeq menatapnya beberapa detik. Kemudian sudut bibirnya terangkat tipis. “Kau benar-benar menginginkan cheesecake itu.”Naomi langsung mengangguk. “Banget.”“Cheesecake-nya tidak akan lari.”Naomi tertawa. "Tapi bisa habis kan?"Mareeq hanya menggeleng. Beberapa menit kemudian, piring mereka hampir kosong. Pelayan datang untuk mengambil piring.“Apakah ada yang ingin ditambahkan?”Naomi langsung menatapnya. “Cheesecake.”Mareeq melirik Naomi.Pelayan tersenyum. “Dua cheesecake seperti pesanan awal?”Naomi mengangguk cepat. “Iya.”Pelayan pergi. Naomi terlihat puas. Ia mengambil gelas airnya dan meminumnya.Pelayan kembali membawa dua p
Ami memperhatikan mereka bergantian. Kemudian matanya kembali kepada Naomi. Senyumnya perlahan berubah.“Hmm.” gumam Ami.Naomi langsung tahu tatapan itu. “Apa?”Ami menunjuk Mareeq dengan dagunya. “Siapa?”Naomi terdiam. Mareeq juga diam. Untuk beberapa detik, tidak ada yang mengatakan apa-apa. Naomi menundukkan kepala sebentar sebelum akhirnya menunjukkan senyumnya pada sahabat lamanya itu.Ami mengangkat alis, menunggu. Mareeq sendiri tampak tidak terburu-buru membantu.“Namanya Mareeq.”Ami masih menatapnya. “Dan?”Naomi mengernyit. "Kami bekerja di tempat yang sama."Ami menatap meja mereka. Hanya berdua di restoran fancy seperti ini. Jawaban Naomi yang tidak tegas mengatakan dia siapa. Dia menangkap sesuatu kalau sahabat lamanya itu jelas tidak bisa mengatakannya sekarang.Ami tersenyum. “Baiklah.”Nada suaranya membuat Naomi semaki
Naomi kembali menatap Mareeq. Dia tersenyum mendengarnya. Kebiasaan baru yang tercipta karenanya.Naomi kemudian menghela napas. "Baiklah. Ayo, kita makan!" ajak Naomi.Naomi membuka pintu mobil, diikuti oleh Mareeq. Mereka berjalan beriringan menuju restoran.Seorang pelayan mengarahkan mereka ke meja di sudut ruangan. Naomi duduk lebih dulu, sementara Mareeq mengambil kursi di depannya. Naomi membuka menu.Mareeq menatapnya. “Kau mau makan apa?”Naomi masih melihat daftar makanan. Matanya membelalak ketika melihat salah satu foto menu. Mareeq yang memperhatikan gadis itu bisa menebak apa yang membuatnya tertarik.Mareeq melirik ke arah pandang Naomi. Cheesecake. Dia sudah menduga. Mareeq memang sengaja ingin makan di restoran ini karena ada cheesecake yang katanya enak.Naomi menatap ke arah Mareeq dengan mata berbinar. "Aku mau cheesecake."Mareeq mengangguk. "Baiklah." ujar Mareeq menutup menu. Dia sudah tah
Mareeq berdiri di sana. Pria itu berdiri bersandar tembok dengan satu tangan masuk ke saku celana. Naomi mengernyit. Sangat terlihat dia sedang menunggunya.“Kamu belum pulang?” tanya Naomi.“Belum.” jawab Mareeq singkat."Kenapa?”Mareeq tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Naomi sejenak. Kemudian tersenyum.“Aku bisa menanyakan hal yang sama.”Naomi mengangkat tasnya sedikit. “Aku sedang menyelesaikan pekerjaan.”“Jam berapa kamu selesai?”Naomi melirik layar ponselnya. “Barusan.”Mareeq mengangguk pelan. Dia berjalan menghampiri Naomi yang masih berdiri di depannya. Wajah gadis itu tampak bingung.“Kamu menungguku?” Pertanyaan itu keluar begitu saja.Mareeq menatapnya. Kemudian, tanpa menjawab, tangan Mareeq tiba-tiba bergerak. Jarinya menggenggam tangan Naomi. Begitu saja.Naomi langsung terdiam. Matany
“Tinggal peluncuran produk,” kata Claudia.Naomi mengangkat wajah. "Itu bagus."Claudia tersenyum kecil. “Aku selalu memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.” Nada suaranya terdengar sedikit berbeda.Naomi menatapnya sebentar. Claudia melanjutkan, seolah memang sedang menunggu kesempatan untuk menjelaskan lebih banyak.“Aku sudah bicara dengan pihak Gigantic pagi tadi.”Naomi mengangguk pelan.“Mereka bahkan mengatakan koordinasinya berjalan jauh lebih lancar setelah beberapa bagian terakhir ditangani dengan lebih fokus.”Naomi menatap Claudia. “Lebih fokus?”Claudia tersenyum tipis. “Maksudku, proyek sebesar ini memang butuh seseorang yang bisa terus mengikuti perkembangannya dari awal sampai akhir.”Naomi tidak langsung menjawab. Ia tahu maksud kalimat itu. Selama proyek Gigantic berjalan, Naomi memang beberapa kali harus keluar dari alur peker
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru







