MasukSetelah pesanan selesai, mereka kembali ke mobil. Mareeq meletakkan kedua gelas di cup holder tengah lalu menyalakan mesin pendingin. Di luar, jalanan sore mulai ramai. Di dalam mobil, suasananya tenang dan tertutup dari hiruk-pikuk kota.
Naomi menatap dua gelas itu lama. Americano hitam dengan aroma pahit yang akrab. Matcha latte berwarna hijau lembut.
Mareeq mengambil cup americano, lalu mendorongnya sedikit ke arah Naomi.
“Cobalah.”
Naomi menatapnya
Setelah pesanan selesai, mereka kembali ke mobil. Mareeq meletakkan kedua gelas di cup holder tengah lalu menyalakan mesin pendingin. Di luar, jalanan sore mulai ramai. Di dalam mobil, suasananya tenang dan tertutup dari hiruk-pikuk kota.Naomi menatap dua gelas itu lama. Americano hitam dengan aroma pahit yang akrab. Matcha latte berwarna hijau lembut.Mareeq mengambil cup americano, lalu mendorongnya sedikit ke arah Naomi.“Cobalah.”Naomi menatapnya ragu. Dia tahu Mareeq suka americano, tapi dia ingin mencoba menyukai americano juga. Naomi mengambil cup itu ragu.Setelah menerima cup americano itu, Mareeq mengambil matcha dari dasbor. Dia tanpa ragu menyeruputnya tanpa ekspresi.Naomi memperhatikan dengan seksama. “Bagaimana?”“Seperti minum rumput.”Naomi tertawa kecil tanpa bisa ditahan. Kemudian dia menatap gelas americano itu seperti sedang menantang musuh lama. Kini gilirannya mencoba
Suasana kantor berjalan seperti biasa. Cepat, rapi, dan penuh suara notifikasi yang datang bergantian. Naomi baru saja meregangkan badannya setelah fokus pada pekerjaan. Pandangannya tanpa sadar bergeser ke arah ruangan kecil di sudut area kerja mereka. Ruangan Mareeq.Pintunya tertutup. Naomi sudah tahu tidak akan ada orang di dalamnya. Kemarin dia mengatakan Freya dan Raya akan kembali ke Turki hari ini, jadi sudah pasti Mareeq akan mengantarnya ke bandara.Naomi menatap beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan fokus pada komputernya. Claudia datang sambil membawa map dan secangkir kopi. Ia berhenti di dekat meja Naomi, lalu mengikuti arah pandangan Naomi yang sempat kembali melirik ke sudut ruangan.“Kamu mencari Mareeq?” tanyanya santai.Naomi langsung menatap layar. “Tidak.”Claudia tersenyum kecil, seolah jawaban itu tidak penting. “Dia cuti hari ini.”Ja
Keesokan paginya, Naomi siap dengan hari kerja pertama di tahun itu. Dia sengaja datang lebih awal dari biasanya. Ia meletakkan tas di meja, menyalakan komputer, lalu duduk dengan punggung tegak sambil menatap layar yang belum sepenuhnya menyala.Pikirannya sudah berjalan lebih cepat dari perangkat di depannya. Hari ini ada rapat dengan Gigantic. Moodnya sedikit buruk. Bukan karena pekerjaannya, melainkan karena satu orang yang selalu memaksanya berurusan dengan Gigantic. Rahaal.Naomi mengambil napas pelan, lalu membuka agenda kerja di layar. Ia mencoba fokus pada catatan presentasi, jadwal, dan dokumen yang harus dibawa. Tapi pikirannya tetap tahu bahwa cepat atau lambat, pria itu akan muncul dari ruangannya.Dan benar saja. Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja di belakang meja kerjanya terbuka. Rahaal keluar sambil merapikan lengan kemejanya. Langkahnya tenang, wajahnya seperti biasa. Terlalu tenang untuk seseorang yang sering mengacaukan suasana tanpa
Makan siang itu akhirnya mencapai ujungnya tanpa benar-benar selesai. Piring-piring mulai kosong. Percakapan mereda dengan sendirinya, seperti sesuatu yang tidak ingin dipaksakan.Naomi menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap meja sebentar. Leon mengambil gelasnya, menghabiskan sisa minuman. Mareeq tanpa banyak kata, ia mengangkat tangannya memanggil pelayan.Begitu pelayan datang, Mareeq berkata pelan."Bisa minta tagihannya?" pinta Mareeq."Baik. Mohon tunggu sebentar."Pelayan pun pergi dari meja mereka. Tak berapa lama pelayan kembali membawakan sebuah kotak kayu tertutup berisi rincian tagihan. Dia meletakkannya di atas meja dan hendak meninggalkan mereka. Seolah tidak ingin bertele-tele, Mareeq langsung mengeluarkan kartunya dan meletakkan di atas tagihan.Naomi mengangkat wajahnya sedikit. "Kami yang akan bayar... ”Mareeq menatap ke arah Naomi dan tersenyum, lalu menatap ke arah pelayan. Dia mengisyratakan untuk segera
Siang itu turun dengan tenang, seperti halaman pertama yang tidak ingin terburu-buru dibaca. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela besar, jatuh lembut di atas meja yang belum benar-benar berantakan. Piring dan gelas masih tersusun rapi di meja. Percakapan yang mengalir pelan tanpa arah yang jelas.Di antara suara sendok yang sesekali bersentuhan dengan piring dan dengung halus dari sekitar, Naomi duduk di sana. Tidak terburu-buru. Tidak juga benar-benar diam.Makan siang yang sudah dijanjikan. Di tempat yang tidak terlalu ramai, bersama seseorang yang sudah mengisi ruang di hidupnya. Tidak ada rencana besar. Tidak ada ekspektasi berlebih. Hanya waktu yang berjalan sebagaimana mestinya.Sampai ponselnya bergetar di atas meja. Getaran itu singkat. Namun cukup untuk menarik perhatian Naomi dari pikirannya sendiri. Layarnya menyala. Satu nama muncul di sana, Mareeq.Naomi menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Seolah memberi wak
Malam datang perlahan. Apartemen terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu menyala hangat, meja dipenuhi camilan, termasuk kardus wafer yang kini sudah terbuka dan berkurang beberapa.Leon berdiri di depan kulkas yang ada di dapur kecil. Dia mengambil dua kaleng minuman dan membuka keduanya. “Kamu yakin nggak mau keluar?” tanyanya.Naomi duduk di sofa, kaki dilipat santai, satu kaleng wafer di tangan. “Nggak. Di sini aja.”Leon berjalan mendekat, menyerahkan satu kaleng ke Naomi. “Baiklah. Tahun baru versi hemat energi.”Naomi mendengus kecil. “Hmm. Memang itu tujuanku."Leon duduk di sebelahnya, cukup dekat tanpa benar-benar menyentuh. Suara TV menyala, tapi tidak benar-benar mereka perhatikan. Countdown acara tahun baru mulai terdengar samar. Naomi melirik jam di layar.“Hampir.”Leon mengangguk, lalu berdiri. “Ayo ke balkon.”Naomi ikut bangkit, masih membawa mi
Raya menjawab tanpa berpikir panjang. “Kemarin tidak,” katanya tenang. Ia lalu menambahkan dengan nada ringan, “Tapi kalau Naomi mau mengajak pacarnya boleh. Kita bisa double date.”Raya tertawa kecil seperti membayangkan hal yang akan terjadi. “Tapi Freya pas
Mereka akhirnya keluar dari gedung kantor bersama. Udara siang terasa hangat, jalanan di depan gedung cukup ramai oleh karyawan yang juga mencari tempat makan. Raya berjalan di samping Naomi, sementara Claudia dan Flora sedikit di belakang mereka.Raya tampak santai, sesekali berbicara rin
Pagi berikutnya, udara masih dingin setelah hujan semalam. Naomi berjalan menyusuri trotoar dengan tas kerja di bahunya. Ia tidak berniat datang ke kantor terlalu cepat hari ini. Ada satu tempat yang ingin ia datangi lebih dulu. Sebuah kafe kecil di sudut jalan yang sering ia lewati.Di de
Naomi menatap cheesecake itu beberapa detik sebelum akhirnya meletakkan garpunya kembali di piring. Ia tidak memakannya lagi. Sebaliknya, ia meraih gelas minumnya dan meneguk sedikit."Kakak.""Hmm"“Cepat habiskan makanannya.” pinta Naomi. "Kita ke tujuan selanju







