Share

Sugar Daddy

Penulis: NaoMiura
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-14 20:00:16

Suasana di dalam salon kuku eksklusif itu begitu tenang. Kontras dengan gemuruh yang baru saja mereka tinggalkan di jalan raya. Aroma esensial lavender dan musik instrumental lembut berusaha meninabubukan kecemasan yang menggelayut.

Naomi duduk di kursi empuk yang besar, sementara Mareeq berada tepat di sampingnya. Petugas salon mulai merendam kaki mereka ke dalam air hangat yang bertabur kelopak bunga mawar. Uap hangatnya perlahan merayap naik, mencoba mencairkan ketegangan yang membe

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bilur Bulir Bertaut   Sugar Daddy

    Suasana di dalam salon kuku eksklusif itu begitu tenang. Kontras dengan gemuruh yang baru saja mereka tinggalkan di jalan raya. Aroma esensial lavender dan musik instrumental lembut berusaha meninabubukan kecemasan yang menggelayut.Naomi duduk di kursi empuk yang besar, sementara Mareeq berada tepat di sampingnya. Petugas salon mulai merendam kaki mereka ke dalam air hangat yang bertabur kelopak bunga mawar. Uap hangatnya perlahan merayap naik, mencoba mencairkan ketegangan yang membeku di antara mereka."Berikan pijatan ekstra di bagian betis dan telapak kakinya," ujar Mareeq tiba-tiba pada petugas yang menangani Naomi. Suaranya rendah, namun penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Dia baru saja berjalan kaki cukup jauh di trotoar. Pastikan semua ototnya rileks.""Kamu pelanggan yang banyak maunya, Mareeq." gurau Naomi."Aku mengiginkan layanan terbaik untukmu." jwab Mareeq yang berusaha menikmati pijatan di kakinya.Petugas itu mengangguk patuh d

  • Bilur Bulir Bertaut   Salon dan Tawa

    Naomi tersenyum kecil. “Itu hampir semua anak kecil.”“Iya,” Mareeq ikut tersenyum tipis. “Tapi akhir-akhir ini dia lebih suka menggambar.”“Menggambar?”“Dia bisa duduk berjam-jam hanya dengan krayon dan kertas.”Naomi tampak memikirkan sesuatu. “Berarti aku harus membelikan alat gambar.”Mareeq meliriknya lagi. “Kamu tidak perlu repot-repot.”Naomi menggeleng pelan. “Aku diundang ke taman hiburan oleh ibunya,” katanya ringan. “Aku tidak mungkin datang dengan tangan kosong bukan?” Nada suaranya santai, tetapi ada kesungguhan di baliknya.Mareeq memperhatikan profil wajah Naomi yang sedang menatap ke luar jendela lagi.“Kamu tidak harus terlalu memikirkan semuanya,” kata Mareeq pelan.Naomi tersenyum tipis tanpa menoleh. “Kadang hal kecil justru yang paling diingat anak-anak.”Mob

  • Bilur Bulir Bertaut   Hadiah untuk Freya

    Beberapa detik berlalu, akhirnya Mareeq menghela napas panjang dan menyerah. Dia meminggirkan mobilnya di tepi jalan. Dia benar-benar gila menuruti kata-kata istrinya yang tidak masuk akal.Raya menatap ke luar jendela. Sebuah taksi berhenti di depan mobil mereka. Raya lalu menoleh pada Mareeq."Taksi sudah datang. Kamu bisa mengantar Naomi pulang." ujar Raya kemudian.Mareeq masih duduk di tempatnya beberapa detik, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tidak pernah benar-benar keluar. “Aku akan menghubungimu nanti,” katanya akhirnya.Raya hanya mengangguk kecil. Dia lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju taksinya. Mareeq masih terdiam di sana, memastikan bahwa itu benar-benar taksi yang Raya pesan.Raya masuk ke taksi dan duduk. Dia tertegun dengan apa yang dilakukannya. Dia menatap ke belakang, ke arah mobil Mareeq."Sesuai dengan aplikasi?" tanya sopir."Iya, pak.""Kita berangkat." ujarnya.

  • Bilur Bulir Bertaut   Percakapan Suami dan Istri

    "Kalau begitu, hati-hati, Naomi. Aku harap kamu datang besok." ujar Raya, lalu melangkah ke tempat mobil meninggalkan Mareeq dan Naomi. Raya tahu Mareeq akan berbicara sebentar sebelum berpisah."Sampai jumpa." Naomi tersenyum, memerhatikan Raya yang menjauh."Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mareeq.Naomi menatap Mareeq. Dia memberikan senyuman paling tulus. "Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.""Kamu akan datang besok?" Mareeq masih tidak bisa melepaskan rasa khawatirnya."Kamu bertanya lagi?"Mareeq terdiam, menatap Naomi dengan tatapan yang sarat akan rasa bersalah sekaligus kekaguman. Di bawah sinar matahari yang masih terik, senyum tulus Naomi justru terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya. Ia tahu, di balik kata "tidak apa-apa" itu, ada beban mental yang luar biasa berat yang baru saja dipikul Naomi sendirian di depan istrinya.Naomi tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang tidak mencapai matanya. "Jangan merasa khawatir. Sem

  • Bilur Bulir Bertaut   Berteman

    "Aku juga banyak dengar tentang kalian dari Claudia," ujar Naomi."Ya. Kami menjadi berteman ketika Mareeq mengenalkan kami ketika perjalanan bisnis ke Turki. Dia sangat ramah dan menyenangkan. Hampir setiap hari kami berkirim pesan. Dia sudah seperti CCTV yang menyanpaikan apapun yang Mareeq lakukan." puji Raya.Nama Turki yang disebut Raya seketika memicu dentum di dada Naomi. Ada sedikit rasa cemburu di dalam hati Naomi. Dulu memang Mareeq lebih sering membawa Claudia dalam perjalanan bisnis. Naomi selalu mengira itu murni urusan pekerjaan, namun mendengar Mareeq mengajaknya bertemu dengan keluarganya membuat Naomi selangkah di belakang Claudia.Naomi mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Dia tidak ingin suasana semakin canggung. Naomi memeras otaknya untuk mencari pembicaraan yang lebih hangat dan ceria.Tawa di meja makan itu berhenti ketika Raya mendapatkan sebuah panggilan. Dia melihat ke layar ponselnya sambil tersenyum. Kemudian dia menatap ke ar

  • Bilur Bulir Bertaut   Kebekuan yang Mencair

    "Mareeq mungkin juga sama. Dia tidak akan mengingat hal kecil," jawab Naomi, mencoba memberikan senyum paling profesional yang ia miliki. "Cheese cake dan matcha, Mareeq ingat karena aku sering memesannya setiap hari. Tidak lebih dari itu."Raya manggut-manggut. Namun kilatan di matanya mengatakan bahwa ia tidak mempercayai sepenuhnya penjelasan Naomi. "Ahh... tentu saja."Raya mengambil tiramisu dan menikmati suapan pertama. Dia memejamkan mata sejenak seolah sedang menikmati kemenangan kecil."Aku dengar kamu sudah punya pacar, Naomi?" ujar Raya tiba-tiba.Denting sendok perak Raya yang menyentuh piring porselen terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Naomi. Pertanyaan itu meluncur begitu mulus, hampir tanpa beban. Namun dampaknya membuat Naomi merasa seolah gravitasi di ruangan itu mendadak hilang.Naomi melirik Mareeq. Pria itu nyaris tersedak air putihnya sendiri. Wajah Mareeq berubah dari kaku menjadi pucat pasi. Sebuah reaksi yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status