LOGINMinggu pagi. Naomi membuka mata perlahan saat sinar matahari masuk melalui celah tirai kamarnya. Ia berguling ke samping. Lalu matanya tertuju pada sesuatu yang berdiri di atas meja. Buket bunga.
Buket yang kemarin diberikan Mareeq setelah insiden lempar bunga yang memalukan itu. Naomi menatapnya beberapa detik. Kemudian menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
"Kenapa aku bawa pulang sih..."
Meski begitu, ia tidak memindahkannya. Buket itu tetap berada di sana.
Minggu pagi. Naomi membuka mata perlahan saat sinar matahari masuk melalui celah tirai kamarnya. Ia berguling ke samping. Lalu matanya tertuju pada sesuatu yang berdiri di atas meja. Buket bunga.Buket yang kemarin diberikan Mareeq setelah insiden lempar bunga yang memalukan itu. Naomi menatapnya beberapa detik. Kemudian menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya."Kenapa aku bawa pulang sih..."Meski begitu, ia tidak memindahkannya. Buket itu tetap berada di sana.Beberapa saat kemudian Naomi sudah bersiap pergi. Hari ini ia berencana mengunjungi rumahnya. Meski semalam kakaknya sudah memberi tahu bahwa pagi hari ia akan pergi ke gym terlebih dahulu. Artinya saat Naomi sampai nanti, rumah kemungkinan masih kosong.Naomi tetap berangkat karena hari Minggunya tidak ada rencana lain. Dia berencana bermalas-malasan dengan kakaknya. Ia pun memesan ojek mobil.Perjalanan berlangsung lancar hingga kendaraan memasuki area dekat kompleks peru
Beberapa menit setelah insiden buket yang sangat memalukan itu, rombongan tim pemasaran akhirnya keluar dari gedung. Naomi masih membawa buket bunga tersebut. Awalnya ia ingin meninggalkannya di meja. Namun Flora memaksa."Kamu harus bawa.""Kenapa?" tanya Naomi."Karena itu hasil perjuangan.""Itu hasil salah tempat.""Itu tetap hasil." eyel Flora. "Lagi pula kan Mareeq sudah memberikan padamu."Setelah dipikir lagi, benar Mareeq yang memberikan bunga ini. Jadilah sekarang Naomi berdiri memegang buket yang terus membuatnya teringat pada sorakan memalukan tadi. Beberapa rekan kerja masih berada di dalam.Setelah berpamitan kepada Fadlan dan istrinya, mereka satu per satu keluar dari gedung. Ada yang ke toilet. Ada yang mengambil barang. Ada juga yang masih mengobrol dengan Fadlan.Rombongan yang tidak ada tujuan lagi pun menunggu di area depan gedung.Naomi berdiri di dekat tangga bersama Flora. Sementara Mareeq berdiri
Sebelum rombongan tim pemasaran memutuskan pulang, pembawa acara tiba-tiba mengumumkan satu sesi terakhir. Informasinya khusus untuk tim pemasaran."Baik, para tamu wanita yang belum menikah, silakan berkumpul di depan panggung untuk sesi lempar buket!"Suasana langsung ramai. Beberapa tamu wanita tertawa. Banyak yang langsung berdiri dan bersemangat mengikuti acara. Sebagian lain langsung mundur.Di meja tim pemasaran, Flora langsung berdiri. "Ayo!"Naomi yang sedang minum langsung menggeleng. "Tidak.""Ayo." Flora langsung menarik lengan Naomi. "Kamu harus ikut.""Kenapa?" tanya Naomi."Karena seru. Itu tradisi bagi wanita yang belum menikah agar bisa segera menikah.""Itu bukan tradisiku dan aku tidak ingin segera menikah." ujar Naomi.Flora mengabaikannya. Dia tetap menyeret Noami untuk ikut berebut buket bunga.Tak jauh dari sana, Claudia juga berdiri. Begitu mendengar ada lempar buket, entah kenapa semangatn
Mereka pun berfoto bersama pengantin. Kemudian mereka menuju area makan. Rupanya beberapa eja sudah disiapkan untuk tim marketing.Area meja bundar di bagian belakang gedung cukup lengang. Tim pemasaran berhasil menguasai satu meja besar. Begitu duduk, suasana langsung ramai.Topik pembicaraan berpindah-pindah mulai dari pekerjaan, pernikahan Fadlan, hingga cerita masa kuliah yang entah bagaimana selalu muncul setiap kali ada acara seperti ini. Naomi duduk di antara Flora dan salah satu anggota tim lainnya.Sementara Mareeq berada tepat berhadapan dengannya. Claudia tentu saja memilih kursi yang dekat dengan Mareeq. Pilihan yang tidak mengejutkan siapa pun.Di tengah obrolan, Naomi memperhatikan pasangan pengantin yang masih sibuk menyambut tamu. Ada sesuatu yang hangat dalam suasana seperti ini. Melihat dua orang memulai hidup baru bersama. Melihat keluarga mereka tersenyum. Melihat teman-teman berkumpul untuk merayakan hari penting.Tanpa sadar p
Sabtu menjelang siang, area parkir kantor sudah jauh lebih ramai daripada biasanya. Hari itu adalah hari pernikahan Fadlan. Karena lokasi gedung cukup jauh dari pusat kota, sebagian besar anggota tim sepakat berangkat bersama menggunakan beberapa mobil.Naomi datang tepat waktu. Ia mengenakan dress sederhana berwarna pink pastel dengan tas jinjing yang hanya memuat HP, membuatnya tetap terlihat rapi namun tidak berlebihan. Begitu tiba di depan kantor, ia langsung melihat beberapa rekan kerja sudah berkumpul. Flora melambaikan tangan."Naomi!"Naomi menghampiri. "Yang lain sudah berangkat?""Belum. Lagi bagi-bagi mobil."Naomi mengangguk. Matanya otomatis mencari sosok tertentu. Dan tidak sulit menemukannya. Mareeq sedang berdiri di dekat mobilnya sambil berbicara dengan beberapa anggota tim.Naomi tidak terlalu memikirkannya. Ia hanya tahu satu hal. Kalau berangkat bersama Mareeq, biasanya ia duduk di kursi depan. Bukan karena alasan khusus.
Hari Jumat selalu terasa berbeda. Suasana kantor lebih santai dibanding hari-hari lainnya. Beberapa orang bahkan sudah mulai membereskan meja kerja sebelum jam pulang tiba.Naomi mematikan komputernya sambil menghela napas lega. Minggu ini terasa panjang. Sangat panjang. Mulai dari proyek Gigantic, insiden di lobby, hingga rasa kesalnya pada Rahaal dan Claudia.Untungnya, hari ini berjalan cukup tenang. Besok mereka harus datang ke acara pernikahan Fadlan, tetapi setelah dipikir-pikir, lebih baik sekalian sore ini saja. Apalagi uang iuran dari tim sudah terkumpul semua.Saat Naomi berjalan di lorong, suara Mareeq terdengar dari belakang."Mau pulang?"Naomi menoleh. Mareeq sudah berdiri di belakangnya."Iya.""Bagus."Naomi mengernyit. "Bagus kenapa?""Biar aku ada teman."Naomi tertawa kecil. "Tapi, kita nggak bisa pulang bareng."Mareeq memandangnya datar. "Kenapa?""Aku mau cari kado buat Fadlan."
"Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan tinggal bersama orang yang tidak kamu cintai, Nak. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik," ujar Mama lembut namun tegas.Naomi menghela napas panjang, membiarkan uap hangat dari ruangan itu menyelimuti wajahnya. Ia memutuskan untuk sedikit membuka c
Kehadiran wanita di lobi Legacy menciptakan riak penasaran di seluruh ruangan. Ia berdiri dengan postur sempurna, mengenakan setelan silk berwarna earth tone yang memancarkan aura kelas atas yang tenang. Tak ada satu pun orang di kantor itu yang menyadari bahwa wanita elegan tersebut adalah mama
Udara di sky terrace siang itu terasa sejuk, kontras dengan hiruk-pikuk lantai kantor yang baru saja ditinggalkan Naomi. Ia duduk di salah satu kursi kayu panjang, kedua tangannya melingkari kaleng berisi matcha dingin yang baru saja ia beli dari vending machine.Pandanga
Vino bangkit dari kursinya, lalu menarik tangan adiknya agar ikut berdiri. Ia sengaja mengabaikan map hitam itu sejenak, seolah ingin memberikan ruang bagi Naomi untuk bernapas."Sudah, jangan dipikirkan lagi. Map ini urusan belakangan," ucap Vino sambil merapikan jasnya yang kini tampak s







