ログインMareeq menyalakan Mobil dan meluncur ke jalan raya. Mobil melaju di tengah lalu lintas sore yang mulai padat. Suasana sempat hening beberapa menit.
Naomi memandangi jalanan di luar jendela. Mareeq sesekali meliriknya. Keheningan menemani perjalanan mereka hingga sampai di tempat parkir apartemen.
Mareeq mematikan mesin mobil. Lampu-lampu parkiran apartemen memantulkan cahaya kekuningan melalui kaca depan. Namun Naomi tidak langsung membuka pintu. Naomi tetap duduk di tempatnya,
Jam kerja akhirnya usai. Satu per satu karyawan mulai mematikan komputer dan merapikan meja masing-masing. Hari jumat memang hari yang pendek dan para karyawan bergegas untuk meninggalkan kantor.Naomi pun memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, lalu mengenakan blazer tipisnya. Kotak susu yang diberikan Mareeq sudah habis tinggal bungkusnya, Naomi berniat membuangnya."Naomi, aku duluan ya," pamit Flora."Iya, hati-hati." balas Naomi.Naomi tersenyum kecil sebelum ikut melangkah menuju pintu keluar. Langkahnya tenang hingga tiba di depan pintu, pintu terbuka dari luar. Naomi sempat terkejut. Itu Rahaal. Mereka sama-sama berhenti sepersekian detik. Tatapan mereka bertemu.Naomi tidak segera mengalihkan pandangan. Begitu pula Rahaal. Untuk beberapa saat, pria itu hanya menatapnya dalam diam. Ada sesuatu di matanya. Seolah ingin mengatakan sesuatu.Naomi melihat di tangannya terdapat sebuah map berwarna hitam dan beberapa lembar dokumen yang
Meeting selesai menjelang siang. Semua mulai merapikan dokumen dan laptop. Naomi sengaja sedikit memperlambat gerakannya.Biasanya setelah rapat, Rahaal akan menunggu Naomi bicara dengan kakaknya. Hari ini, dia bergegas merapikan dokumen. Ia melewati belakang kursi Naomi dengan menjaga jarak beberapa langkah, lalu langsung keluar ruangan bersama supervisor lain.Naomi hanya memperhatikannya sekilas. Ia memilih untuk tidak memikirkannya terlalu lama. Seperti biasanya, setelah rapat gabungan selesai, ia menyempatkan diri menemui Vino sebelum sang kakak kembali ke kantor Gigantic."Naomi, ayo kembali." ajak Claudia."Kamu duluan saja. Aku akan mampir ke tempat lain sebentar.""Oke. Aku duluan." ujar Claudia lalu pergi meninggalkan ruangan.Vino baru saja memasukkan beberapa map ke dalam tas kerjanya ketika melihat Naomi menghampirinya."Kak."Vino menoleh dan tersenyum. Dia melihat adiknya dengan seksama. Kali ini Naomi tampak jau
"Naomi!" panggil Flora.Naomi mendekat. "Wah, rame banget.""Rujakan!" Flora menunjuk baskom besar berisi aneka buah. "Mau?"Naomi belum sempat menjawab. Flora menepuk jidatnya. "Kamu jangan makan nanas. Makan saja apa yang ada di mejamu.""Mejaku?" tanya Naomi bingung. Dia pun berjalan menuju mejanya.Naomi melihat sekotak besar buah-buahan potong. Tidak satu macam, tapi berbagai macam. Jelas ini bukan buah untuk rujak. isinya buah yang lebih premium.Flora menghampiri sahabatnya itu. "Kamu dapat yang berbeda. Mareeq perhatian sekali."Claudia yang sejak tadi ikut menikmati rujak menghentikan aktivitasnya. Tatapannya berpindah pada kedua sahabat yang asik memperhatikan sesuatu di meja Naomi. Claudia yang penasaran pun menghampiri mereka."Buah yang berbeda. Lebih mahal." ujar Claudia.Naomi dan Flora reflek menoleh ke belakang."Ya kan nggak apa. Berarti Mareeq tahu Naomi tidak boleh makan nanas." bela Flora.
"Kamu mau makan ini?"Naomi menggeleng. "Belum.""Kenapa beli? Ibu hamil tidak boleh makan nanas kan?"Naomi duduk di sofa. "Tadi di jalan ada ibu-ibu jualan nanas."Leon mendengarkan."Aku kasihan. Sore-sore gerimis masih jualan."Leon mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang. "Oh."Leon membuka mika, lalu menatap Naomi. "Kamu tahu, ibu hamil katanya nggak boleh makan nanas."Naomi menghela napas. "Aku tidak tahu itu cuma mitos atau memang harus dihindari.""Biar aku aja yang makan."Naomi terkekeh. "Yam baiklah."Leon mengambil sepotong nanas lalu memasukkannya ke mulut. Matanya langsung sedikit membesar."Manis.""Serius?" tanya Naomi.Leon mengangguk sambil mengunyah. Naomi memperhatikan dengan penasaran."Jangan tergoda." Leon mengingatkan."Aku tidak." bantah Naomi.Hanya dalam beberapa suapan nanas itu habis dilahap Leon. Leon menutup mika nanas yang sudah kos
Tangan Mareeq yang sudah berada di tuas transmisi langsung berhenti. Ia menoleh cepat ke arah Naomi. Pikirannya lebih dulu dipenuhi kecemasan. Naomi berkali-kali mengatakan belum siap menjadi ibu. Belum siap memiliki bayi. Kini, tiba-tiba ia bilang ingin beli nanas, buah yang sering dikaitkan masyarakat dengan mitos bisa memicu keguguran."Nanas? Kenapa tiba-tiba ingin beli?"Naomi masih melihat ke arah luar. "Ibu itu kasihan."Mareeq melihat ke arah pandang Naomi."Aku pengin beli dagangannya. Tapi, aku ragu boleh makan atau tidak."Beberapa detik, Mareeq hanya terdiam. Lalu ia mengembuskan napas panjang. Raut wajahnya yang semula tegang perlahan melunak."Aku salah paham."Naomi memandangnya beberapa saat, lalu terkekeh pelan. "Salah paham kenapa?"Kemudian Naomi menyadari apa yang sedang dipikirkan Mareeq. Dia sudah bisa menebak salah paham apa yang dimaksud Mareeq.Tanpa berkata apa-apa, Mareeq kembali mematikan mesi
Mereka keluar hampir bersamaan. Mereka berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka. Mereka sama-sama diam.Begitu keluar dari lift, Naomi berjalan menuju lobi. Suara langkah kaki lain terdengar mengikuti di belakangnya. Ini seperti mereka akan pulang bersama. Tidak. Naomi tidak ada rencana itu.Akhirnya Naomi berhenti mendadak. Mareeq yang berada beberapa langkah di belakang ikut berhenti. Naomi berbalik sambil menghela napas."Kamu jalan duluan.""Kenapa? Kamu ingin kembali ke atas?""Bukan. Tujuan kita beda. Kamu pergi duluan.""Kenapa?""Kita tidak bisa pulang bersama.""Kenapa? Kamu dijemput? Pulang bersama Leon?""Tidak." jawab Naomi. "Jika aku pulang bersamamu maka banyak hal yang perlu dibahas dan biasanya berakhir aku menangis. Aku sedang tidak ingin menangis."Mareeq menatapnya cukup lama. Dia mengerti ini. Dia juga sudah berjanji untuk tidak mendesaknya."Aku hanya akan mengantarmu. Tidak ada obrolan a
Aroma kopi hangat memenuhi rumah ketika Naomi melangkah keluar dari kamar. Rambutnya masih sedikit berantakan, terurai tanpa usaha, daster tidurnya jatuh longgar mengikuti tubuh, tampilan pagi yang jujur dan apa adanya. Ia berhenti mendadak di ambang ruang makan.Kakaknya ada di sana. Dudu
Naomi hanya bisa mengangguk pelan, pasrah pada keputusan pria di sampingnya. Ia merasa tenaganya telah terkuras habis karena rentetan ketegangan emosional yang menyelimuti selama gathering.Dia tidak bisa marah pada Mareeq yang melakukan segalanya untuk dirinya. Saat Mareeq baru saja memat
Ia berjalan cepat menuju kantin, berniat menyeret Erina pergi dari sana secepat mungkin. Namun, begitu sampai di ambang kantin, pemandangan di depannya membuatnya ingin putar balik. Di salah satu meja, Erina tampak sedang tertawa lebar. Di hadapannya, Pak Angin serta Khai baru saja meletakka
Mereka sampai di depan mobil Mareeq yang terparkir di bawah bayangan pohon besar. Mareeq membukakan pintu untuk Naomi. Sebuah gestur sederhana namun terasa sangat protektif bagi Naomi. Setelah itu, Mareeq berjalan mengitari sebagian badan mobil dan masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. C







