LOGINSuasana kantor kembali seperti biasanya. Tim kembali sibuk dengan acara festival kuliner di hari Sabtu-Minggu nanti. Claudia menjadi penanggung jawab promosi dan operasional booth.
Meja Claudia dipenuhi berbagai macam dokumen. Layout booth. Jadwal penjagaan. Daftar produk. Vendor dekorasi. Sampel desain banner. Bahkan ada beberapa kotak kecil berisi merchandise promosi yang belum sempat dibuka.
Claudia terlihat sibuk menelepon, membalas email, dan sesekali mengeluh pada dirinya
Suasana kantor kembali seperti biasanya. Tim kembali sibuk dengan acara festival kuliner di hari Sabtu-Minggu nanti. Claudia menjadi penanggung jawab promosi dan operasional booth.Meja Claudia dipenuhi berbagai macam dokumen. Layout booth. Jadwal penjagaan. Daftar produk. Vendor dekorasi. Sampel desain banner. Bahkan ada beberapa kotak kecil berisi merchandise promosi yang belum sempat dibuka.Claudia terlihat sibuk menelepon, membalas email, dan sesekali mengeluh pada dirinya sendiri."Kenapa semua orang baru membalas email di menit-menit terakhir..."Di meja sebelah, Naomi sedang fokus menatap layar komputer. Jari-jarinya bergerak cepat di keyboard. Sesekali membuka spreadsheet. Sesekali membandingkan data. Dunia luar nyaris tidak ada.Saat itulah Mareeq berjalan melewati area tim pemasaran. Ia baru keluar dari ruangannya dan tampak hendak menuju pantry. Claudia yang melihat kesempatan itu langsung memanggil."Mareeq!"Langkah Mare
Sekitar empat puluh menit kemudian, aroma makanan mulai memenuhi ruangan tim pemasaran. Pizza-pizza hangat diletakkan di meja tengah. Meja besar yang biasanya dipakai untuk rapat mendadak, diskusi singkat, atau tempat meletakkan terlalu banyak dokumen. Hari itu, meja tersebut berubah fungsi menjadi meja makan bersama."Wah!" seru Claudia. "Sudah datang!"Claudia langsung mengetuk pintu ruangan Mareeq. Mareeq langsung keluar dan melihat makanan sudah tersedia. Beberapa anggota tim mulai berdatangan."Silakan kalian nikmati.""Makasih, Mareeq." ujar Claudia.Rhea yang masih baru tampak sedikit canggung. "Boleh ikut ambil, kan?""Tentu saja," jawab Claudia. "Kalau terlambat nanti tinggal pinggiran pizza."Rhea langsung bergerak lebih cepat.Naomi berdiri di depan meja. Tatapannya menyapu kotak-kotak pizza. Lalu berhenti pada sebuah kantong kertas. Burger. Ia mengambilnya dengan tenang.Mareeq yang melihat itu tertawa kecil.
Hari itu suasana tim pemasaran sedikit lebih ramai dari biasanya. Seorang pegawai baru bergabung. Namanya Rhea. Perempuan itu terlihat masih muda, dengan rambut yang diikat rapi dan mata yang tampak bersemangat sekaligus gugup. Ia beberapa kali membungkuk sopan setiap kali dikenalkan kepada anggota tim."Naomi," panggil Claudia sambil menghampiri meja rekannya."Hm?""Tolong ajak Rhea berkeliling dan ajari soal kerjaan kita, ya."Naomi mendongak dari komputernya. "Aku?"Claudia tersenyum manis. "Iya. Aku sedikit sibuk urusan proyek."Naomi kemudian mengangguk. "Ya. Baiklah."Naomi berdiri dari kursinya. Dia menghampiri anak baru itu. "Aku akan mengajak kamu berkeliling dulu."Mereka berdua keluar ruangan tim. Naomi sengaja langsung menunjukkan ruanga-ruangan yang sering dikunjungi atau dipakai oleh tim mereka."Ini ruang meeting.""Iya, Kak."Rhea tampak mencatat semuanya dalam ponselnya. Naomi melirik, mel
Hari Senin selalu terasa sedikit lebih sibuk dibanding hari-hari lainnya. Namun anehnya, jam istirahat siang di kantor justru terasa tenang. Langit cerah setelah hujan deras sepanjang akhir pekan. Angin berembus pelan di sky terrace kantor, membawa aroma tanaman hias yang ditata di sudut-sudut area terbuka itu.Naomi berdiri di dekat pagar pembatas sambil memegang sekaleng matcha dingin. Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki mendekat. Rahaal."Sendirian?" tanyanya.Naomi menoleh. "Iya."Rahaal duduk di bawah pohon tidak jauh dari Naomi berdiri. Di dekatnya ada dompet kecil yang bisa dipastikan milik wanita yang berdiri di sana. Keduanya menikmati suasana tenang beberapa saat.Naomi kemudian duduk di sebelah Rahaal. Tidak ada pembicaraan apa pun. Naomi hanya memandang ke arah langit menikmati semilir angin."Dulu..." ujar Rahaal mengawali.Naomi menoleh dan memperhatikan apa yang ingin pria itu katakan."Ketika tim kita di
Hari Jumat, langit mendung sejak siang. Menjelang jam pulang kantor, suara hujan mulai terdengar mengetuk jendela-jendela gedung. Semakin lama, semakin deras.Naomi berdiri di depan gedung. Ia menatap ke arah langit. Hujan turun tanpa ampun. Deras. Beberapa orang tampak berlari kecil menuju kendaraan mereka sambil melindungi kepala dengan tas.Naomi mengulurkan tangannya, merasakan air hujan. Tidak ada payung. Ia memang tidak membawa payung pagi tadi karena cuaca terlihat cerah."Bagaimana, ya?" gumamnya pelan.Menunggu hujan reda sepertinya tidak menjanjikan. Saat sedang berpikir, seseorang berhenti di sampingnya. Naomi menoleh. Rahaal. mPria itu masih mengenakan kemeja kerja yang rapi seperti biasa. Di tangannya tergenggam sebuah payung hitam."Kamu belum pulang?" tanya Naomi.Rahaal melihat hujan di depan mereka. "Hujannya deras.""Iya." ujar Naomi ikut memandang hujan. "Aku sedang mempertimbangkan apakah harus menerobos hujan atau
Usai menyelesaikan meeting dengan klien, Naomi dan Mareeq berjalan keluar dari restoran yang berada di dalam pusat perbelanjaan. Jam makan siang telah lewat, tetapi mall masih cukup ramai. Orang-orang berlalu-lalang membawa kantong belanja, beberapa keluarga terlihat mengantre di restoran, sementara alunan musik pelan terdengar dari pengeras suara.Naomi berjalan sambil memeluk beberapa map berisi dokumen meeting."Kita selamat," kata Mareeq.Naomi meliriknya. "Memangnya tadi seseram itu?""Kamu tidak lihat ekspresi klien waktu minta revisi tambahan?""Masih wajar.""Itu karena kamu sudah kebal."Naomi terkekeh kecil. "Coba bayangkan ekspresimu di depan bawahanmu. Kurang lebih sama.""Benarkah?" gumam Mareeq.Mereka melewati beberapa gerai minuman sebelum Mareeq berhenti di depan sebuah booth matcha take away."Matcha?" tanya Mareeq menawari.Naomi yang tadinya terlihat lelah langsung mendongak. Naomi tersenyum. "Mau.""Baiklah."Mereka pun ikut mengantre.Saat giliran mereka hampir t
Raya terdiam. Kalimat itu seperti cermin yang tiba-tiba dipasang tepat di depannya. Sepanjang hari ini, yang ia pikirkan hanyalah kemungkinan Naomi mengambil sesuatu darinya. Padahal perempuan itu bahkan sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Raya menghembuskan napas pelan. Ia tiba-tiba merasa&hellip
Naomi tersenyum kecil. “Itu hampir semua anak kecil.”“Iya,” Mareeq ikut tersenyum tipis. “Tapi akhir-akhir ini dia lebih suka menggambar.”“Menggambar?”“Dia bisa duduk berjam-jam hanya dengan krayon dan kertas.”
"Mareeq mungkin juga sama. Dia tidak akan mengingat hal kecil," jawab Naomi, mencoba memberikan senyum paling profesional yang ia miliki. "Cheese cake dan matcha, Mareeq ingat karena aku sering memesannya setiap hari. Tidak lebih dari itu."Raya manggut-manggut. Namun kilatan di matanya me
Pertanyaan itu terdengar seperti pujian, namun bagi Naomi, itu adalah ujian paling berat. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di tengkuknya.Naomi hanya menanggapi dengan senyuman. Naomi melirik ke arah Mareeq. Pria itu hanya diam dan fokus pada makanannya. Tapi tak berapa lama,







