MasukSementara itu, di ruang kerja, Naomi telah kembali. Perutnya kembali berbunyi pelan. Rasa lapar mulai muncul.
Flora yang melihat kedatangan Naomi pun bergegas mendekatinya. "Ini hampir jam makan siang. Mau makan sesuatu?"
"Aku memang lapar, tapi ada yang harus aku selesaikan. Aku akan beli onogiri saja nanti."
Flora menggeleng diikuti jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. "Tidak boleh. Ibu hamil harus makan kenyang. Pekerjaan urusan nanti. Siapa yang akan memarahimu?" uj
Langit mulai berubah jingga ketika Naomi meninggalkan kantor. Hari itu terasa lebih ringan dibanding beberapa hari sebelumnya. Bukan karena masalahnya selesai, melainkan karena ia berhenti memaksa dirinya menemukan jawaban dalam beberapa hari. Ia pulang seorang diri. Mobil taksi berhenti di depan apartemen.Naomi membuka pintu unitnya perlahan. "Leon?"Tidak ada jawaban. Lampu ruang tamu masih mati. Sepatu Leon pun tidak ada di rak dekat pintu."Belum pulang..." gumam Naomi pelan.Ia mengembuskan napas lega tanpa sadar. Bukan karena tidak ingin bertemu Leon. Justru sebaliknya. Ia masih belum tahu harus bersikap seperti apa di hadapan pria itu.Kesunyian apartemen malam itu memberinya waktu untuk menenangkan pikirannya. Naomi mengganti pakaian dengan kaus longgar dan celana pendek. Ia membuka kulkas. Tidak ada makanan, tidak ada sayuran. Ia menutup kulkas perlahan. Karena belum terlalu lapar, ia hanya mengambil sebotol air mineral.Malam mula
Di sudut dekat pintu, berdiri sebuah vending machine. Naomi berhenti di depannya. Jarinya ingin menekan tombol minuman favoritnya. Namun sesaat, ia menghela napas pelan lalu membatalkannya."Hmm... Hari ini pengin yang seger."Matanya menyusuri deretan minuman. Berhenti pada Lemon Juice. Botol minuman itu jatuh ke tempat pengambilan dengan bunyi pelan. Naomi mengambilnya.Botol dingin itu terasa menyegarkan di telapak tangannya. Ia membuka tutupnya dan menyesap sedikit. Rasa asam-manis langsung memenuhi mulutnya."Enak..." gumamnya lirih.Tanpa sadar pandangannya beralih ke area luar. Di bawah sebuah pohon kecil. Tempat yang tidak asing baginya. Tempat itu pernah menjadi saksi begitu banyak percakapan antara Naomi dan Mareeq.Naomi menatap tempat itu beberapa detik. Kosong. Setidaknya begitu yang ia kira. Entah terdorong oleh apa, kakinya melangkah ke sana. Semakin dekat. Semakin jelas sosok seseorang yang duduk membelakanginya. Mareeq.
Sementara itu, di ruang kerja, Naomi telah kembali. Perutnya kembali berbunyi pelan. Rasa lapar mulai muncul.Flora yang melihat kedatangan Naomi pun bergegas mendekatinya. "Ini hampir jam makan siang. Mau makan sesuatu?""Aku memang lapar, tapi ada yang harus aku selesaikan. Aku akan beli onogiri saja nanti."Flora menggeleng diikuti jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. "Tidak boleh. Ibu hamil harus makan kenyang. Pekerjaan urusan nanti. Siapa yang akan memarahimu?" ujar Flora. "Kamu ingin makan apa?"Naomi menghela napas panjang. "Aku pingin makan udon, tapi aku sedang tidak ingin makan berat.""Udon?" gumam Flora. "Kita bisa pesan udon.""Gyoza dengan saus cuka yang banyak sepertinya enak.""Kita pesan gyoza juga." Flora mengangguk-angguk mengirim daftar keinginan Naomi pada Mareeq."Makanan Jepang ya.""Dim sum. Pingin kulit hakau, isi udangnya aku tidak mau.""Kamu ingin kulitnya saja?" tanya Flora tidak pe
Vino mengantar Naomi ke kantor. Sepanjang perjalanan, Vino tidak lagi membahas masalah semalam. Ia hanya berpesan sebelum Naomi turun dari mobil."Jika kamu butuh sesuatu katakan pada kakak." ujar Vino.Naomi mengangguk."Haruskah kakak mengirim makanan dan minuman padamu?""Kakak ngomongnya kayak aku anak TK.""Apa perlu kakak buatkan bekal bergambar Hello Kitty?"Naomi tertawa pelan. "Kakak jangan macam-macam ya!" cegahnya. "Nona pergi dulu.""Hati-hati."Vino memperhatikan Naomi berjalan memasuki gedung hingga sosoknya menghilang di balik pintu lobi. Barulah ia menjalankan mobilnya.Naomi kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Sesuai permintaannya sendiri, kini ia lebih banyak membantu proyek Gigantic bersama Rahaal. Interaksi mereka murni profesional. Mereka berdiskusi. Mengecek revisi. Menghadiri rapat. Tidak lebih.Rahaal pun menghormati batas yang dibuat Naomi. Ia tidak lagi membahas soal perasaan ata
Naomi masih duduk di sofa. Tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih."Nona bingung harus bagaimana, Kak." Suaranya terdengar begitu kecil.Vino tidak langsung menjawab. Ia mengambil segelas air putih, meletakkannya di depan Naomi, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengannya."Kamu ingin dengar pendapat kakak?"Naomi menatap kakaknya dengan mata yang masih basah. Lalu mengangguk pelan.Vino menarik napas panjang. "Bukan berarti salah satunya pasti benar. Tapi semuanya punya konsekuensi."Naomi mengangguk."Kalau yang kamu inginkan adalah hidup bersama pria yang kamu cintai. Maka sebelum melakukan apa pun, kamu harus jujur kepada Leon."Naomi langsung menundukkan kepala. "Kalau kamu bertahan dengannya hanya karena rasa bersalah atau takut menghadapi kenyataan, itu akan menyakiti dia lebih lama."Naomi menggigit bibirnya."Kalau kamu sama sekali tidak ingin bersama pria itu... dan jug
Sore itu, tepat pukul empat lewat tiga puluh. Naomi baru saja mematikan komputer ketika ponselnya bergetar. Vino memberi tahu dia sudahada di dekat lobby.Begitu Naomi masuk ke dalam mobil, Vino hanya melirik sekilas. "Capek?"Naomi mengangguk. "Sedikit.""Hm."Hanya itu. Tidak ada candaan. Tidak ada obrolan tentang makan malam. Tidak ada cerita tentang pekerjaan seperti biasanya. Sepanjang perjalanan, radio bahkan dimatikan.Naomi sempat melirik kakaknya beberapa kali. Ekspresi Vino sulit ditebak. Tenang. Terlalu tenang. Dan justru itu membuat Naomi mulai gelisah.Sesampainya di rumah, Naomi langsung melepaskan sepatu dan berjalan menuju ruang keluarga. Baru saja ia hendak duduk, suara Vino menghentikannya."Nona."Naomi menoleh."Kita bicara sebentar." Nada suaranya datar.Tidak tinggi. Namun cukup membuat Naomi mengerti bahwa pembicaraan ini bukan sesuatu yang ringan.Naomi mengangguk pelan."
Beberapa menit kemudian, penjaga tadi kembali.“Maaf, Kak,” katanya. “Stoknya memang habis. Belum datang lagi.”Naomi terdiam sebentar. “Oh… ya sudah,” jawabnya pelan.Penjaga itu mengangguk dan pergi lagi. Hening. Naomi masih menata
Setelah pelayan pergi, hening sebentar turun di antara mereka. Tidak canggung. Tapi tidak sepenuhnya ringan juga. Raya menatap Naomi. Lebih lama dari sebelumnya.“Kamu pasti mikir aku aneh ya,” katanya tiba-tiba.Naomi mengangkat alis sedikit. “Kenapa?”
Sabtu sore di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai menjadi waktu "keramat" bagi Naomi. Meskipun usianya sudah dewasa dan ia sudah memiliki Leon. Ada satu sisi dalam dirinya yang tetap menjadi adik kecil yang posesif.Bagi Naomi, Alina tetaplah sosok "penyusup" yang telah merebut perhatian
Naomi bisa merasakan panas yang samar dari tubuh Rahaal karena jarak mereka yang kini terkikis. Pria ini tidak sedang bernegosiasi. Dia sedang memberikan ultimatum yang dibungkus dengan pengorbanan yang tidak masuk akal."Jika keberadaan Mareeq adalah satu-satunya cara agar kamu merasa nya







