LOGINSore itu, tepat pukul empat lewat tiga puluh. Naomi baru saja mematikan komputer ketika ponselnya bergetar. Vino memberi tahu dia sudahada di dekat lobby.
Begitu Naomi masuk ke dalam mobil, Vino hanya melirik sekilas. "Capek?"
Naomi mengangguk. "Sedikit."
"Hm."
Hanya itu. Tidak ada candaan. Tidak ada obrolan tentang makan malam. Tidak ada cerita tentang pekerjaan seperti biasanya. Sepanjang perjalanan, radio bahkan dimatikan.
Naomi sempat melirik kakaknya be
Paginya, Naomi bangun dengan suasana hati yang jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Bahkan sebelum membuka mata sepenuhnya, ia sudah tersenyum sendiri. Ingatan tentang kejadian semalam datang begitu saja.Mareeq duduk di sampingnya, percakapan mereka tentang perasaan yang selama ini berusaha ia tahan, ciuman yang begitu tiba-tiba, hingga bagaimana mereka akhirnya terjatuh ke lantai bersama kepingan-kepingan puzzle yang berserakan. Dan tentu saja, pengakuannya sendiri.Mengingat semua itu, Naomi langsung menarik selimut sampai menutupi separuh wajahnya."Ya ampun..."Ia berguling ke sisi tempat tidur, lalu membenamkan wajah ke bantal. Bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti itu dengan begitu berani? Lebih memalukan lagi, ia bukan hanya mengatakannya sekali. Ia mengatakannya sambil memeluk Mareeq erat-erat, seolah pria itu bisa menghilang jika ia melepaskannya.Semakin Naomi berusaha menghilangkan rasa malu, semakin jelas pula ingatan tent
Mareeq sempat berusaha menopang tubuhnya dengan satu tangan, tetapi gerakan Naomi yang begitu mendadak membuat mereka tetap terguling ke atas karpet. Beberapa kepingan puzzle terlempar dari meja. Ada yang meluncur ke bawah sofa, ada pula yang berserakan di sekitar mereka. Kotak puzzle terbalik. Gambar rumah kecil dengan taman bunga yang hampir selesai kini kehilangan susunannya, kepingan-kepingannya bertebaran di lantai.Untuk beberapa saat, tidak ada yang bergerak. Mareeq terbaring telentang dengan Naomi memeluknya erat. Satu lengannya masih menyangga tubuh agar Naomi tidak terbentur meja. Sedangkan tangan lainnya secara refleks melingkari punggung perempuan itu."Aku menginginkanmu."Mareeq terdiam. Ia menunduk, mencoba melihat wajah Naomi yang tersembunyi di dekat bahunya. Naomi justru semakin erat memeluknya. Kemudian ia tersenyum kecil mendengar hal yang selama ini dia tunggu.Beberapa detik berlalu sebelum Naomi akhirnya mengangkat wajah. Rambutnya
Mareeq menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa berbeda.“Aku tidak merasa bersalah karena ingin menyentuh rambutmu,” lanjutnya. “Aku tidak merasa bersalah karena ingin duduk lebih lama di sini. Dan aku tidak merasa bersalah karena setiap kali melihatmu, aku ingin lebih dekat.”Naomi merasakan jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Naomi membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan jawaban. Ia bisa saja meminta Mareeq menjauh. Bisa saja mengakhiri percakapan ini sebelum dirinya semakin kehilangan kendali. Namun, ia tidak ingin Mareeq menjauh. Yang ia inginkan justru bertentangan dengan peringatannya sendiri.Naomi menunduk, memainkan ujung jarinya. Dia tidak bisa membairkan ini terlalu jauh. Dia juga menginginkannya, tapi dia juga takut."Kita tidak bisa melewati batas lagi." ujar Naomi kemudian.Mareeq terdiam beberapa saat. Kemudian ia berkata, "Aku suka
“Aku bahkan tidak melakukan apa-apa.” ujar Mareeq dengan tenang.Kali ini, Naomi membeku sesaat. Mareeq memperhatikan perubahan sikapnya, tetapi tidak berkomentar. Ia hanya kembali menyusun puzzle, membiarkan keheningan di antara mereka terasa nyaman.Mareeq kemudian menyandarkan satu tangan di atas meja dan menatap Naomi dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Baiklah, apa yang harus aku lakukan?”Naomi langsung menyesali kalimatnya sendiri. Dia kembali menghadap meja. Ia meraih beberapa kepingan sekaligus, berharap Mareeq akan membiarkannya menyelesaikan puzzle dengan tenang. Namun, pria itu tampaknya belum berniat mengalah.“Naomi.” panggil Mareeq.“Apa?”“Bisakah kamu melihatku?” pinta Mareeq.Dengan enggan, Naomi menoleh. Mareeq menatapnya tanpa senyum kali ini. Tatapannya tenang, tetapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang membuat Naomi mendadak lupa bahwa beberap
Naomi masih duduk di lantai dengan kaki terlipat, rambut panjang bob-nya sedikit berantakan karena beberapa kali ia menyelipkannya ke belakang telinga. Di sebelahnya ada gelas minum, bungkus makanan, dan kotak puzzle yang tutupnya sudah miring. Televisi menyala dengan volume rendah, menampilkan acara yang tidak benar-benar mereka tonton.Apartemen itu kecil. Tidak ada taman. Tidak ada teras dengan lampu kuning hangat. Tidak ada pintu melengkung atau pagar kayu yang tertutup tanaman merambat.Hanya sebuah ruang tamu sederhana, karpet, meja rendah, dan seorang perempuan yang sedang berdebat dengannya tentang kepingan puzzle. Anehnya, Mareeq tidak merasa kekurangan apa pun. Kontras dengan rumah impian yang dia ceritakan.Mareeq sudah terbiasa pulang ke tempat yang lebih luas, dengan perabot yang tertata rapi dan segala sesuatu berada di tempatnya. Namun, di tempat ini, ia tidak merasa harus memikirkan pekerjaan yang belum selesai, rapat besok pagi, atau keputusan orang lain yang harus ia
Naomi masih memiliki banyak ketakutan. Ia belum tahu bagaimana perpisahan Mareeq dan Raya akan berlangsung. Bagaimana Freya akan menerima perubahan itu. Apakah dirinya benar-benar siap memasuki kehidupan yang selama ini hanya berani ia bayangkan.Namun, malam itu, setidaknya ia mulai memahami satu hal. Mareeq tidak sedang memintanya menghancurkan kehidupan yang pernah ia bangun. Ia sedang berusaha menyelesaikan kehidupan itu dengan bertanggung jawab, sebelum memulai sesuatu yang baru bersama Naomi.Mareeq membiarkan Naomi mengambil bagian dari rumah masa depannya. Merencanakan masa depan bersama. Meskipun dia belum berani menyebutnya rumah mereka.Naomi masih bersandar di sisi Mareeq ketika percakapan mereka perlahan mereda. Tangisnya sudah berhenti, meskipun matanya masih sedikit basah. Ia mengambil tisu dari meja, mengusap sudut matanya, lalu berusaha mengalihkan perhatian pada sisa makanan pasar malam yang mulai dingin.Mareeq tidak mengatakan apa-apa
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru







