تسجيل الدخولSore itu, tepat pukul empat lewat tiga puluh. Naomi baru saja mematikan komputer ketika ponselnya bergetar. Vino memberi tahu dia sudahada di dekat lobby.
Begitu Naomi masuk ke dalam mobil, Vino hanya melirik sekilas. "Capek?"
Naomi mengangguk. "Sedikit."
"Hm."
Hanya itu. Tidak ada candaan. Tidak ada obrolan tentang makan malam. Tidak ada cerita tentang pekerjaan seperti biasanya. Sepanjang perjalanan, radio bahkan dimatikan.
Naomi sempat melirik kakaknya be
Naomi masih duduk di sofa. Tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih."Nona bingung harus bagaimana, Kak." Suaranya terdengar begitu kecil.Vino tidak langsung menjawab. Ia mengambil segelas air putih, meletakkannya di depan Naomi, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengannya."Kamu ingin dengar pendapat kakak?"Naomi menatap kakaknya dengan mata yang masih basah. Lalu mengangguk pelan.Vino menarik napas panjang. "Bukan berarti salah satunya pasti benar. Tapi semuanya punya konsekuensi."Naomi mengangguk."Kalau yang kamu inginkan adalah hidup bersama pria yang kamu cintai. Maka sebelum melakukan apa pun, kamu harus jujur kepada Leon."Naomi langsung menundukkan kepala. "Kalau kamu bertahan dengannya hanya karena rasa bersalah atau takut menghadapi kenyataan, itu akan menyakiti dia lebih lama."Naomi menggigit bibirnya."Kalau kamu sama sekali tidak ingin bersama pria itu... dan jug
Sore itu, tepat pukul empat lewat tiga puluh. Naomi baru saja mematikan komputer ketika ponselnya bergetar. Vino memberi tahu dia sudahada di dekat lobby.Begitu Naomi masuk ke dalam mobil, Vino hanya melirik sekilas. "Capek?"Naomi mengangguk. "Sedikit.""Hm."Hanya itu. Tidak ada candaan. Tidak ada obrolan tentang makan malam. Tidak ada cerita tentang pekerjaan seperti biasanya. Sepanjang perjalanan, radio bahkan dimatikan.Naomi sempat melirik kakaknya beberapa kali. Ekspresi Vino sulit ditebak. Tenang. Terlalu tenang. Dan justru itu membuat Naomi mulai gelisah.Sesampainya di rumah, Naomi langsung melepaskan sepatu dan berjalan menuju ruang keluarga. Baru saja ia hendak duduk, suara Vino menghentikannya."Nona."Naomi menoleh."Kita bicara sebentar." Nada suaranya datar.Tidak tinggi. Namun cukup membuat Naomi mengerti bahwa pembicaraan ini bukan sesuatu yang ringan.Naomi mengangguk pelan."
Vino masih menatap wajah adiknya. Ia tahu Naomi sedang menyembunyikan sesuatu. Bukan karena jawaban Naomi tidak masuk akal. Melainkan karena sejak kemarin, ia melihat perubahan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata lelah. Namun ia memilih tidak mendesak."Mau pergi makan?" Vino menawari.Naomi langsung menggeleng. "Aku masih ada kerjaan.""Kerjaan bisa nunggu. Tapi kalau kamu tumbang..." Vino mengetuk pelan kepala Naomi dengan ujung jarinya. "...yang repot satu kantor."Vino masih berdiri di samping Naomi, memandangi wajah adiknya yang terlihat semakin pucat di bawah cahaya matahari yang menembus jendela. Vino menghela napas.Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi. Naomi melangkah satu langkah mendekat. Lalu memeluk kakaknya. Begitu saja. Tanpa aba-aba. Tanpa sepatah kata.Vino sempat membeku. Sudah lama sekali Naomi tidak memeluknya seperti ini. Sejak mereka sama-sama dewasa, adiknya lebih sering menunjukkan rasa sayang lewa
Naomi mengucapkannya tanpa ekspresi. Tanpa berusaha mencari belas kasihan. Justru terdengar seperti seseorang yang sudah lelah menjelaskan.Rahaal menelan ludah. Selama beberapa hari terakhir ia memang mendengar banyak gosip. Tentang Leon yang ingin menikahi Naomi. Namun ia menganggap itu hanya rumor kantor. Kini Naomi sendiri yang mengatakannya.Naomi terdiam. Rahaal juga terdiam. Ia merasa tidak punya hak untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan pribadi Naomi. Mereka tidak terlibat pembicaraan lain.Lift berbunyi pelan. Ting. Pintu terbuka. Naomi lalu berjalan lebih dulu menuju ruang rapat. Rahaal tetap berdiri di dalam lift selama beberapa detik. Pintu hampir menutup kembali ketika ia akhirnya melangkah keluar. Di dalam dadanya ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.Bukan karena Naomi akan menikah. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perasaan yang selama ini ia simpan memang harus berhenti sampai di sini. Naomi tidak pernah membe
Suasana kantor kembali dipenuhi suara keyboard, dering telepon, dan obrolan ringan para karyawan yang baru memulai pekan. Naomi melangkah masuk dengan membawa tas kerjanya. Wajahnya masih terlihat lelah. Namun tidak lagi semurung beberapa hari terakhir.Dia menarik napas panjang sebelum duduk di kursinya. "Hari ini aku harus bekerja."Bukan untuk melupakan. Melainkan agar pikirannya tidak terus berputar pada masalah yang sama. Naomi benar-benar ingin menenggelamkan diri dalam pekerjaan.Ia menyelesaikan laporan yang tertunda. Membalas email klien. Merevisi desain promosi. Membantu teman mengecek materi presentasi. Bahkan Flora sampai beberapa kali melirik ke arahnya."Hari ini rajin banget."Naomi hanya tersenyum tipis. "Lagi pengin kerja."Flora tertawa kecil. "Kalau setiap hari begini, bos pasti senang."Naomi ikut tersenyum, lalu kembali menatap layar komputernya. Satu per satu pekerjaannya selesai lebih cepat dari biasanya. Saat j
Vino pun meletakkan cangkir berisi coklat. Dia membuat satu gelas lagi untuk adiknya. Ketika dua gelas coklat hangat sudah di tangan. Dia pun menghampiri adiknya."Minum dulu."Naomi menerima cangkir cokelat hangat yang disodorkan kakaknya. "Terima kasih, Kak."Vino duduk di sofa sebelah. Ia melirik Naomi sekilas. Mata sembap. Wajah pucat. Jelas sekali ada sesuatu yang sedang terjadi. Pasti ada masalah.Pikiran itu muncul begitu saja. Namun Vino memilih menyimpannya sendiri. Ia mengenal Naomi lebih dari siapa pun. Semakin dipaksa bercerita, adiknya justru akan semakin menutup diri. Dia belum mendapat informasi apa pun dari kaki tangannya."Mau nonton film?"Naomi menggeleng pelan. "Hm... nggak.""Mau main game?""Nggak juga.""Mau denger Kakak main piano?"Naomi akhirnya menoleh. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Itu kan minggu lalu."Vino terkekeh pelan. "Iya juga."Keheningan kembali hadir. Namun
Pintu kaca berbunyi klik saat Naomi melangkah masuk ke ruangan. Ia mengenakan kemeja berwarna pastel yang membuatnya tampak lebih segar dari biasanya. Baru saja ia meletakkan tas di kursinya, sebuah suara ceria menginterupsi ritual pagi itu."Selamat ulang tahun, Naomi!" seru Flora sambil
Pintu apartemen berbunyi klik halus. Naomi disambut oleh keheningan yang berbeda. Bukan sunyi yang hampa, melainkan suasana yang sengaja diciptakan. Lampu ruangan tidak menyala. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari pendar temaram di area dapur."Leon?" panggil Naomi lirih. Ia melepas se
Aroma kopi hangat memenuhi rumah ketika Naomi melangkah keluar dari kamar. Rambutnya masih sedikit berantakan, terurai tanpa usaha, daster tidurnya jatuh longgar mengikuti tubuh, tampilan pagi yang jujur dan apa adanya. Ia berhenti mendadak di ambang ruang makan.Kakaknya ada di sana. Dudu
Mareeq memecah keheningan dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. Seolah kalimat itu hanya ditujukan untuk ruang kecil di antara mereka.“Aku sudah dengar,” katanya perlahan, “kalau kamu ngotot mempertahankan proyekku. Sampai akhirnya dipilih.” Ia menatap Naomi dengan sungguh-sungguh







