Share

Bab 10

Author: macaroonie
last update publish date: 2026-05-27 03:33:33

"Lo sengaja menghindari gue?"

Vino yang telah dibukakan pintu masuk menodong Bita. Langkah besarnya meringsek maju mendatangi Bita yang terhuyung mundur hingga betisnya terantuk dipan jati.

Tubuh Bita terhempas jatuh memantul diatas kasur empuk.

"Gue akan datang pukul delapan malam, jadi tetap berada di kamar untuk membukakan pintu. Kurang jelas perintahnya?" geram Vino menempatkan dirinya diatas Bita. Menguasai gadis itu tanpa cela.

Bita gemetar menghadapi kemarahan Vino yang menggulung-gulu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 11

    "Ada harga yang harus lo tebus. "Selain ahli dalam mempermainkan wanita, Vino ternyata juga pintar mengubah suasana. Dengan hanya sekali tarikan napas, suasana tenang dibuatnya kembali mencekam.Mendekap Bita dalam remang temaram lampu yang menyesakkan."Gue memintanya sekarang," tuntut Vino.Seolah ada sebongkah batu yang menyumpal mulut Bita sampai ia kesulitan berucap. Sebagian karena Bita tidak tahu apa yang akan ia ajukan sebagai kompensansi, sebagiannya lagi bertanya-tanya apa yang akan Vino lakukan jika sekali lagi Bita membuatnya kesal karena bungkamnya?"Kenapa diem aja? Tadi katanya mau menuruti perintah gue?" Nada bicara Vino mengalun main-main. "Aku nggak tau," gumam Bita lebih mirip bisikan.Vino menautkan alis. "Nggak tau? Coba pikirkan apa yang sekiranya akan gue senangi kalo lo melakukannya."Bita mencoba mencari, tapi semakin dipikirkan semakin jawaban itu tidak ia temukan. "Lo tahu gue bukan orang yang sabar menunggu."Bita sangat tahu. Maka dari itu, Bita terkeju

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 10

    "Lo sengaja menghindari gue?" Vino yang telah dibukakan pintu masuk menodong Bita. Langkah besarnya meringsek maju mendatangi Bita yang terhuyung mundur hingga betisnya terantuk dipan jati. Tubuh Bita terhempas jatuh memantul diatas kasur empuk."Gue akan datang pukul delapan malam, jadi tetap berada di kamar untuk membukakan pintu. Kurang jelas perintahnya?" geram Vino menempatkan dirinya diatas Bita. Menguasai gadis itu tanpa cela.Bita gemetar menghadapi kemarahan Vino yang menggulung-gulung seperti ombak laut yang mematikan. Posisi Vino yang mengungkungnya, membuat Bita tidak bisa kabur dan hanya bisa berdoa supaya selamat dari amukan Vino."Berapa lama gue menunggu lo?" cecar Vino. Tatapan bengisnya menghujam Bita yang tergolek lemah tak berdaya. "Berjam-jam diluar dalam keadaan kedinginan tanpa kepastian."Bita tidak bisa membayangkan sedingin apa angin malam mengoyak tubuh atletisnya yang hanya terbalut kaos singlet putih kesukaannya dan sepotong celana pendek diatas lutut. T

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 9

    Memiliki reputasi buruk, tidak membuat Bita serta-merta menjauhi Vino. Sikap buruk Vino terhadapnya hanya menjahilinya sampai kesal, yang untungnya masih bisa ditolerir Bita. Namun Bita merasa harus mulai menjaga jarak setelah kejadian tadi malam. "Bita!" Bita yang berniat memutar balik badannya sewaktu menemukan Vino menunggu diparkiran, harus menekan keinginannya untuk kabur lantaran Vino lebih dulu mengetahui keberadaannya. "Aku pulang dulu," pamitnya pada Sasha. "Hati-hati. Kabari kalo udah nyampe!" Seruan Sasha menghantarkannya menghadap Vino yang duduk manis diatas motor sport merahnya. "Aku udah bilang ada kelas sore," cecar Bita. Vino mengantongi ponselnya ke dalam saku jaket kulit yang melekat pas dibadannya. "Gue bilang mau nunggu." Di waktu biasa tentu saja Bita akan melonjak kegirangan karena Vino rela menunggunya, jadi Bita tidak perlu memesan ojek online. Berbeda dengan saat ini. Vino tidak mungkin menunggu sampai sepetang ini padahal laki-laki itu h

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 8

    Bulu kuduk Bita meremang. Ancaman Vino menelannya bulat-bulat, menyisakan jantungnya yang bertalu cepat. Mendadak Vino tertawa tanpa sebab. "Lo temen gue. Mana mungkin gue menelanjangi lo?" ungkap Vino jenaka. "Kecuali kalo lo Sasha." Ketegangan yang menyelimuti keduanya perlahan hilang. Bita mendengus kencang menyadari Vino hanya menggodanya seperti biasa. "Awas aja kalo kamu ngapa-ngapain Sasha!" Vino mengekeh tanpa canggung. Seakan tidak ada Vino yang menatapnya lapar, dan mendesaknya. Suasana kembali terjalin normal. Atau mungkin begitulah yang Bita rasakan. Vino tetap saja laki-laki yang pandai mengelabui perempuan. Vino melirik jam yang berdenting dinakas. Sudah cukup lama Vino berada dikamar Bita, ia perlu segera pergi. "Kita lanjut besok. Lo perlu mempersiapkan diri. Karena pelajaran besok akan lebih sulit dari malam ini," tuturnya disertai seringaian. Bita memukulkan bonekanya tepat ke muka Vino. "Yaudah pergi sana!" usirnya. "Tanpa disuruh juga gue pergi." Vino men

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 7

    "Ciuman juga termasuk sesuatu yang harus aku pelajari?" Setelah lama berkutat dengan pikiran masing-masing, Bita mengajukan pertanyaan. Ada jeda sebelum Vino menganggukkan kepala. "Ya. Wanita dewasa juga harus bisa berciuman. Mas Aksa akan lebih suka kalo lo pandai dalam hal itu." "Ciuman yang setidakterkendali tadi bakalan disukai Mas Aksa?" tanya Bita skeptis. Mas Aksa yang setenang itu, Bita ragu menyukai kegiatan tergesa-gesa seperti Vino yang bergerak kasar melahap bibirnya. "Sorry, gue kelepasan," sesal Vino. Bita mengatur embus napasnya susah payah. Sejujurnya, dia tidak tau harus mengatakan apa. Didepannya, Vino yang hanya memakai kaos singlet tampak basah, sekujur tubuhnya dipenuhi bulir keringat, dengan jakun naik turun, menunduk seakan takut bertatapan dengannya. Entah kemana perginya rasa percaya diri Vino saat menggoda perempuan, karena dihadapannya kini Vino bak anak anjing yang meminta ampun setelah melakukan kesalahan besar. "Yang tadi diluar kendali kamu?" "

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu kaca. "Kamu bisa lewat pintu depan, kan? Kalau jatuh gimana?" "Lama kalau harus mutar," sahut Vino santai. Cowok itu langsung menerobos masuk tanpa permisi, mengabaikan Bita yang masih mengenakan piyama kaos longgar. "Ini udah jam sepuluh malam, Vin." "Terus kenapa?" Vino berbalik, menyandarkan pinggulnya di tepi meja belajar Bita sambil bersedekap. "Katanya lo mau belaja. Kita mulai malam ini." Bita terdiam sejenak. Kalimat Mas Aksa tadi pagi yang menegaskan bahwa ia hanya dianggap sebagai adik kembali terngiang, menyuntikkan rasa tidak rela yang amat besar di dadanya. "Aku harus ngapain dulu?" tanya Bita akhirnya. Ia melangkah mendekat, duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status