Share

Bab 9

Author: macaroonie
last update publish date: 2026-05-26 19:31:41
Memiliki reputasi buruk, tidak membuat Bita serta-merta menjauhi Vino. Sikap buruk Vino terhadapnya hanya menjahilinya sampai kesal, yang untungnya masih bisa ditolerir Bita.

Namun Bita merasa harus mulai menjaga jarak setelah kejadian tadi malam.

"Bita!"

Bita yang berniat memutar balik badannya sewaktu menemukan Vino menunggu di parkiran, harus menekan keinginannya untuk kabur lantaran Vino lebih dulu mengetahui keberadaannya.

Bahu gadis itu terkulai lemah. "Aku pulang dulu," pamitny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 336

    Bita membuka pintu apartemennya sambil menguap lebar. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur karena suara tawa aneh yang kembali terdengar dari lorong apartemen. Suara itu membuatnya terus terjaga hingga menjelang subuh. Alhasil, pagi ini ia harus bersiap berangkat kerja dengan mata berat dan tubuh yang masih terasa lemas, meskipun sudah berusaha menyegarkan diri. Dengan langkah gontai, Bita menyusuri lorong menuju lift. Begitu pintunya terbuka, Bita langsung masuk dan menekan tombol lantai dasar sebelum mundur beberapa langkah. Ia bahkan sudah bersiap memejamkan mata sejenak ketika pintu lift mulai merapat. Namun, sebuah tangan tiba-tiba menyelip di antara kedua pintu, menahan hingga sensor membuatnya kembali terbuka. Bita mendongak mendapati Vino-lah yang menahan pintu lift. Laki-laki itu berdiri di ambang pintu tanpa masker, menatapnya sekilas sebelum melangkah masuk. Tubuh Bit

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 335

    “Gue pernah bilang, kan, kalau lima ratus juta itu cuma buat mahar? Sementara buat biaya pernikahan dan kehidupan setelahnya, gue masih harus ngumpulin uang lagi.”Martin mengernyitkan dahi. “Ya, terus? Lo bukannya dapat banyak job sekarang? Belum kekumpul juga?”Vino tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke kaleng soda di atas nakas. Ia memutar tubuh sedikit, menyandarkan kedua siku di atas paha, lalu menunduk sambil meremas kedua tangannya sendiri.Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang. “Dulu sebenarnya udah sempat kekumpul,” jawabnya pelan. “Tapi ada sesuatu yang bikin gue harus ngambil uang dari tabungan itu.”Martin terdiam sejenak, berusaha mencerna jawabannya. “Oke. Terus sekarang masih belum kekumpul lagi?”Vino menggeleng. “Lima ratus jutanya udah kekumpul lagi, sih.” Ia menjeda, kemudian menggeleng pelan. “Cuma uang buat pernikahannya yang belum.”Martin mengusap wajahnya sebentar se

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 334

    “Akhirnya ketemu kasur juga.” Martin langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang begitu tiba di apartemen Vino. Ia membenamkan wajah ke bantal, lalu mengembuskan napas panjang seolah baru saja menyelesaikan perjalanan lintas pulau.Sedangkan Vino berjalan menuju kulkas mini di sudut ruangan, mengambil dua kaleng soda, lalu melemparkan salah satunya ke arah Martin.“Tangkap.”Martin mengangkat kepala tepat waktu untuk menangkap kaleng itu. “Thanks.” Ia bangkit menjadi duduk, membuka kaleng soda, lalu menyesapnya dengan nikmat.Vino berjalan menghampiri ranjang sambil meneguk minumannya. Setelah duduk di sisi ranjang, ia meletakkan kaleng soda di atas nakas dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.Martin memperhatikannya beberapa saat sebelum kembali meneguk minumannya.“Jadi, apa yang bikin si artis sibuk ini sampai nggak ada waktu buat nengokin temennya, sekarang malah tiba-tiba nyamperin temennya dan maksa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 333

    “Udah aku bilang aku naik transportasi umum aja. Malah maksa nganterin!” Bita turun dari motor Haikal setibanya mereka di depan apartemennya. Wajahnya masih masam, setengah menggerutu karena laki-laki itu bersikeras mengantarnya. “Gue mau mastiin lo sampai Jakarta dengan selamat,” jawab Haikal enteng sembari melepas helmnya. Ia melirik Bita yang masih berdiri di samping motor dengan wajah kesal. “Gue takut lo kenapa-kenapa. Jangan sampai gue kehilangan temen yang bisa gue ajak mengumpat mantan. Senasib pula ngenesnya.” Sejak obrolan mereka di lobi apartemen beberapa waktu lalu, entah bagaimana, hubungan keduanya berkembang menjadi pertemanan yang cukup dekat. Awalnya, mereka hanya dua orang yang kebetulan sama-sama punya masalah dengan mantan kekasih. Namun, obrolan yang semula sekadar saling mengumpat itu perlahan berlanjut menjadi percakapan tentang banyak hal lain. Mereka mulai terbiasa bertukar cerita, saling meledek, b

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 332

    Bita tersentak ketika suara bel apartemennya mendadak terdengar. Ia buru-buru menjauhkan wajahnya dari Vino, lalu bergegas membuka pintu.Laki-laki bernama Tom yang ternyata juga merupakan asisten Vino berdiri di depan sana. Begitu melihat Bita, wajah Tom langsung menunjukkan keterkejutan sebelum berubah menjadi senyum lebar. “Eh, ketemu lagi, Mbak, kita.”Bita membalasnya dengan senyum tipis. “Vino ada di dalam.”“Oh, iya! Hampir lupa tujuan saya ke sini.” Tom menepuk dahinya sendiri sebelum buru-buru masuk.Begitu melihat Vino terbaring di sofa, ia segera menghampirinya. “Gimana kondisinya, Mbak?”“Tadi udah saya kompres. Panasnya juga kayaknya udah agak turun.”Tom mengembuskan napas lega. “Syukurlah. Makasih banyak, ya, Mbak. Aduh, jadi ngerepotin begini.”“Nggak papa, Mas.”Tom mengangguk sebelum membungkuk untuk mengangkat tubuh Vino. Namun, baru sebentar mencoba, ia sudah terlihat kesulitan. Tub

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 331

    Sepertinya, melupakan Vino akan jauh lebih sulit daripada yang Bita bayangkan. Bagaimana tidak? Seolah-olah seluruh Jakarta bersekongkol untuk terus mengingatkannya pada laki-laki itu. Wajah Vino terpampang di berbagai papan iklan yang mereka lewati. Iklan yang dibintanginya bahkan sesekali muncul di televisi kantor, membuat para pegawai yang sedang bekerja mendadak berseru heboh. Belum lagi percakapan di pantry yang entah bagaimana selalu berujung pada nama Vino, lengkap dengan komentar-komentar penggemarnya yang terkadang membuat Bita ingin mempertanyakan kewarasan mereka. Dan itu semua belum seberapa dibandingkan kenyataan bahwa mereka tinggal di apartemen yang sama. Di unit yang saling berhadapan pula! Bita sampai kehilangan hitungan berapa kali mereka berpapasan. Kadang di lobi, kadang di minimarket, kadang ketika hendak keluar atau pulang ke apartemen. Bahkan, pernah suatu kali ia sedang menunggu lampu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status