Masuk"Aku harus mencium kamu?" Bita membeo.Berada di atas Vino, telapak tangan Bita bertumpu pada dada laki-laki itu yang terasa liat.Dipandanginya pahatan sempurna wajah Vino. Tulang hidung tinggi, rahang yang tegas, sepasang mata yang selalu mahir mengintimidasi dan tahu cara merayu, serta alis tebal rapi. Lengkap dengan napas yang berembus berat dan keringat yang membanjiri pelipis, Vino terlihat berkali-kali lipat jantan.Dan semua itu tersaji tepat dibawahnya.Vino merengkuh Bita nyaman dan presisi. Seakan ia sudah melakukannya ratusan kali. "Ya. Sesuai yang udah gue ajarin. Anggap aja ini latihan. Nggak perlu sempurna, cukup mencoba dulu."Bita merendahkan kepalanya, dan menempelkan dua belah bibir mereka. Dengan gerakan kaku sarat keraguan, Bita mulai melumat bibir atas lalu bawah Vino yang kenyal. "Begini?" Bita mendongak meminta mendapat. Vino tersenyum dan mengangguk singkat. "Good girl."Pujian Vino mendorong Bita melanjutkan dengan semangat. Setelah melumat, Bita mencoba me
"Ada harga yang harus lo tebus. "Selain ahli dalam mempermainkan wanita, Vino ternyata juga pintar mengubah suasana. Dengan hanya sekali tarikan napas, suasana tenang dibuatnya kembali mencekam.Mendekap Bita dalam remang temaram lampu yang menyesakkan."Gue memintanya sekarang," tuntut Vino.Seolah ada sebongkah batu yang menyumpal mulut Bita sampai ia kesulitan berucap. Sebagian karena Bita tidak tahu apa yang akan ia ajukan sebagai kompensansi, sebagiannya lagi bertanya-tanya apa yang akan Vino lakukan jika sekali lagi Bita membuatnya kesal karena bungkamnya?"Kenapa diem aja? Tadi katanya mau menuruti perintah gue?" Nada bicara Vino mengalun main-main. "Aku nggak tau," gumam Bita lebih mirip bisikan.Vino menautkan alis. "Nggak tau? Coba pikirkan apa yang sekiranya akan gue senangi kalo lo melakukannya."Bita mencoba mencari, tapi semakin dipikirkan semakin jawaban itu tidak ia temukan. "Lo tahu gue bukan orang yang sabar menunggu."Bita sangat tahu. Maka dari itu, Bita terkeju
"Lo sengaja menghindari gue?" Vino yang telah dibukakan pintu masuk menodong Bita. Langkah besarnya meringsek maju mendatangi Bita yang terhuyung mundur hingga betisnya terantuk dipan jati. Tubuh Bita terhempas jatuh memantul diatas kasur empuk."Gue akan datang pukul delapan malam, jadi tetap berada di kamar untuk membukakan pintu. Kurang jelas perintahnya?" geram Vino menempatkan dirinya diatas Bita. Menguasai gadis itu tanpa cela.Bita gemetar menghadapi kemarahan Vino yang menggulung-gulung seperti ombak laut yang mematikan. Posisi Vino yang mengungkungnya, membuat Bita tidak bisa kabur dan hanya bisa berdoa supaya selamat dari amukan Vino."Berapa lama gue menunggu lo?" cecar Vino. Tatapan bengisnya menghujam Bita yang tergolek lemah tak berdaya. "Berjam-jam diluar dalam keadaan kedinginan tanpa kepastian."Bita tidak bisa membayangkan sedingin apa angin malam mengoyak tubuh atletisnya yang hanya terbalut kaos singlet putih kesukaannya dan sepotong celana pendek diatas lutut. T
Memiliki reputasi buruk, tidak membuat Bita serta-merta menjauhi Vino. Sikap buruk Vino terhadapnya hanya menjahilinya sampai kesal, yang untungnya masih bisa ditolerir Bita. Namun Bita merasa harus mulai menjaga jarak setelah kejadian tadi malam. "Bita!" Bita yang berniat memutar balik badannya sewaktu menemukan Vino menunggu diparkiran, harus menekan keinginannya untuk kabur lantaran Vino lebih dulu mengetahui keberadaannya. "Aku pulang dulu," pamitnya pada Sasha. "Hati-hati. Kabari kalo udah nyampe!" Seruan Sasha menghantarkannya menghadap Vino yang duduk manis diatas motor sport merahnya. "Aku udah bilang ada kelas sore," cecar Bita. Vino mengantongi ponselnya ke dalam saku jaket kulit yang melekat pas dibadannya. "Gue bilang mau nunggu." Di waktu biasa tentu saja Bita akan melonjak kegirangan karena Vino rela menunggunya, jadi Bita tidak perlu memesan ojek online. Berbeda dengan saat ini. Vino tidak mungkin menunggu sampai sepetang ini padahal laki-laki itu h
Bulu kuduk Bita meremang. Ancaman Vino menelannya bulat-bulat, menyisakan jantungnya yang bertalu cepat. Mendadak Vino tertawa tanpa sebab. "Lo temen gue. Mana mungkin gue menelanjangi lo?" ungkap Vino jenaka. "Kecuali kalo lo Sasha." Ketegangan yang menyelimuti keduanya perlahan hilang. Bita mendengus kencang menyadari Vino hanya menggodanya seperti biasa. "Awas aja kalo kamu ngapa-ngapain Sasha!" Vino mengekeh tanpa canggung. Seakan tidak ada Vino yang menatapnya lapar, dan mendesaknya. Suasana kembali terjalin normal. Atau mungkin begitulah yang Bita rasakan. Vino tetap saja laki-laki yang pandai mengelabui perempuan. Vino melirik jam yang berdenting dinakas. Sudah cukup lama Vino berada dikamar Bita, ia perlu segera pergi. "Kita lanjut besok. Lo perlu mempersiapkan diri. Karena pelajaran besok akan lebih sulit dari malam ini," tuturnya disertai seringaian. Bita memukulkan bonekanya tepat ke muka Vino. "Yaudah pergi sana!" usirnya. "Tanpa disuruh juga gue pergi." Vino men
"Ciuman juga termasuk sesuatu yang harus aku pelajari?" Setelah lama berkutat dengan pikiran masing-masing, Bita mengajukan pertanyaan. Ada jeda sebelum Vino menganggukkan kepala. "Ya. Wanita dewasa juga harus bisa berciuman. Mas Aksa akan lebih suka kalo lo pandai dalam hal itu." "Ciuman yang setidakterkendali tadi bakalan disukai Mas Aksa?" tanya Bita skeptis. Mas Aksa yang setenang itu, Bita ragu menyukai kegiatan tergesa-gesa seperti Vino yang bergerak kasar melahap bibirnya. "Sorry, gue kelepasan," sesal Vino. Bita mengatur embus napasnya susah payah. Sejujurnya, dia tidak tau harus mengatakan apa. Didepannya, Vino yang hanya memakai kaos singlet tampak basah, sekujur tubuhnya dipenuhi bulir keringat, dengan jakun naik turun, menunduk seakan takut bertatapan dengannya. Entah kemana perginya rasa percaya diri Vino saat menggoda perempuan, karena dihadapannya kini Vino bak anak anjing yang meminta ampun setelah melakukan kesalahan besar. "Yang tadi diluar kendali kamu?" "







