Teilen

Bab 128

last update Veröffentlichungsdatum: 16.07.2026 15:14:45

Bita sontak mendorong tubuh Vino hingga laki-laki itu terduduk kembali di kasur.

"A-aku..." Dengan wajah yang memerah sampai ke telinga, Bita buru-buru bangkit. "Aku mau pulang."

Ia bergegas hendak meraih kruknya yang tersandar di dekat lemari. Namun Vino lebih dulu mengambilnya, lalu menyodorkannya ke hadapan gadis itu.

Berbeda jauh dengan Bita yang sudah berkeringat dingin karena malu, Vino justru terlihat santai. "Gue gendong aja, ya?"

"Nggak!" Bita lang
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 149

    "Ma? Berlebihan banget nggak, sih?"Bita mengembuskan napas panjang sambil menatap bayangannya di cermin.Anggun yang masih berdiri di belakangnya langsung menggeleng tak setuju."Berlebihan apanya? Ini justru pas buat acara formal." Ia merapikan sedikit helaian rambut putrinya. "Kamu bilang ulang tahun mama teman kamu di hotel, kan? Berarti tamunya pasti banyak orang penting. Masa kamu datang kayak habis beli cilok depan kampus?"Bita mendesah pelan.Memang sejak tadi sore ia sengaja tidak menjelaskan siapa Fero sebenarnya. Yang Mama tahu, ia hanya diundang menghadiri ulang tahun ibu seorang teman sejurusan.Dan sejak mendengar kata hotel, Anggun langsung berubah menjadi sangat bersemangat. Menyadari lemari pakaian Bita tak banyak membantu, karena hampir seluruh isinya hanya kaos, hoodie, dan celana jeans, Anggun langsung membongkar lemari pakaiannya sendiri. "Untung ukuran badan kita masih mirip," gumamnya cukup lega.Satu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 148

    Melihat wajah Bita yang mendadak berkali-kali lipat lebih tegang, Vino mengernyit. "Kenapa, Ta? Ada masalah?"Bita tidak langsung menjawab. Gadis itu menggigit pelan bibir bawahnya sebelum akhirnya berucap lirih, nyaris seperti berbisik. "Fero... dia ngundang aku ke ulang tahun Mamahnya."Vino terdiam.Nama itu kembali mengingatkannya pada hari ketika laki-laki itu terang-terangan mengatakan tak akan berhenti mendekati Bita.Jadi, inikah langkah berikutnya?Tanpa sadar, jemari Vino mengencang menggenggam sumpit. Rahangnya pun ikut mengeras. Namun hanya sesaat. Sebelum Vino kembali memasang wajah setenang sebelumnya."Katanya Mamanya yang pengen aku datang," lanjut Bita hati-hati. Tatapannya terus mencari reaksi Vino. Semakin lama tak mendapat jawaban, wajahnya semakin gelisah. "Tapi... kalau kamu nyuruh aku nggak datang, aku nggak bakal datang, kok."Pandangan Vino perlahan beralih kepada Bita. Dilihatnya wajah gadis itu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 147

    Bita duduk di kursi pengunjung, tepat di samping Vino. Sejak tadi, jemari laki-laki itu tak pernah benar-benar rileks. Sesekali mengepal, lalu mengendur lagi.Bita menoleh pelan. Vino membalas tatapannya dengan senyum tipis yang dipaksakan.Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. Semua orang berdiri. Sidang pun dimulai.Sidang pertama berlangsung jauh lebih tenang daripada yang dibayangkan Bita.Hakim membuka persidangan, memeriksa identitas kedua belah pihak, lalu memberi kesempatan kepada keduanya untuk menempuh mediasi sesuai prosedur.Namun keputusan mereka tetap sama. Papa dan Mami tetap pada pendirian masing-masing. Mediasi dinyatakan tidak mencapai kesepakatan.Majelis hakim kemudian menetapkan jadwal sidang berikutnya sebelum akhirnya mengetukkan palu. "Sidang ditutup."Ruangan perlahan kembali dipenuhi suara kursi yang bergeser dan langkah kaki orang-orang yang mulai meninggalkan tempatnya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 146

    Vino sebenarnya sudah menduga Bita tidak akan puas hanya berkeliling kompleks. Dan dugaannya tepat. Setiap kali ia hendak memutar balik motornya, Bita selalu menggeleng sambil menunjuk ke depan. "Sedikit lagi." Vino menurut. Beberapa menit kemudian ia kembali memperlambat motor, berniat berbalik. Namun lagi-lagi Bita menggeleng. "Sedikit lagi." Sedikit demi sedikit itu akhirnya membawa mereka keluar dari kompleks, menyusuri jalanan kota tanpa tujuan yang jelas. Tanpa terasa, sore hampir habis. Langit yang semula hanya mendung kini benar-benar menggelap. Rintik pertama jatuh di kaca spion. Lalu disusul rintik kedua. Hingga dalam hitungan detik hujan turun semakin deras. Vino secepatnya membelokkan motor menuju satu-satunya bangunan yang terlihat di sepanjang jalan. Sebuah toko kecil, dan saayangnya toko itu sudah tutup. Motor berhenti tepat di depan t

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 145

    "Syukurlah. Lukanya sudah menyatu dengan baik." Dokter tersenyum sambil mengamati telapak kaki Bita yang terangkat di atas bed periksa. "Berarti hari ini jahitannya bisa kita lepas." Mata Bita langsung berbinar. "Serius, Dok?" "Iya." Dokter mengambil baki kecil berisi pinset, gunting jahit, kasa steril, dan cairan antiseptik. Ia mengenakan sarung tangan sebelum menarik kursinya lebih dekat. "Nanti mungkin terasa sedikit nyut-nyutan waktu benangnya ditarik. Tapi nggak akan lama." "Iya, Dok." Di samping bed, Anggun langsung menggenggam lengan putrinya. "Kalau sakit bilang ya. Mama takut nanti kamu nangis." Bita langsung mendesah. "Aku nggak bakal nangis, Ma. Aku kan kuat." Anggun menatap putrinya penuh sangsi. "Kuat?" ulangnya pelan. "Dulu disuntik imunisasi aja nangis sampai satu puskesmas dengar." "Itu SD, Ma!" protes Bita. "Sekarang Bita u

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 144

    Setelah mengantar Martin ke stasiun untuk pulang kampung selama liburan, Vino langsung bergegas pulang. Vino turun dari motor dan melepas helmnya. Ia melangkah memasuki rumah sambil merapikan rambutnya. Entah kenapa, yang pertama kali terlintas di kepalanya justru kamar sebelah rumahnya. Kamar Bita. Tadi Vino terpaksa meninggalkan gadis itu yang masih tertidur pulas dalam pelukannya setelah Martin menelepon, meminta diantar ke stasiun. Ia bahkan hanya sempat meninggalkan pesan singkat sebelum berangkat. Senyum tipis terbit di wajah Vino. Entah Bita sedang apa sekarang. Memikirkan itu saja sudah cukup membuat langkahnya tanpa sadar semakin cepat. Namun langkah itu mendadak terhenti saat memasuki ruang keluarga. "Mas mau ngobrol bentar sama kamu." Suara Aksa terdengar tenang. Pria itu duduk membelakangi Vino di sofa sambil membaca buku. Meski mereka sudah sempat men

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status