Mag-log inBeberapa menit kemudian, mereka tiba di depan rumah Bita.
Tanpa menunggu bantuan Vino, Bita segera turun dari motor. Posisi duduk menyamping membuatnya lebih mudah turun, meski pinggang dan pinggulnya terasa pegal setelah perjalanan.Vino mengambil kruk yang disangkutkan di depan Vespa, lalu menyodorkan pada gadis itu.Tatapannya sekilas beralih ke rumah Bita yang tampak gelap. "Orang tua lo udah tidur?""Papa udah balik ke Surabaya sore tadi. Katanya masiSuara Aksa pun terdengar semakin pelan ketika melanjutkan ceritanya.Meski sudah ditolak, Aksa masih berusaha mendekati Meta. Berusaha mengambil hatinya, berharap suatu hari perempuan itu akan melihatnya lebih dari sekadar teman.Namun kemudian Meta pindah ke luar negeri dan menetap di sana. Mereka tetap berkomunikasi. Setidaknya, Aksa yang terus berusaha menjaga komunikasi itu.Sayangnya, topik pembicaraan mereka tak pernah jauh dari kehidupan percintaan Meta.Tentang seseorang yang disukainya di sana. Lalu tentang pacarnya. Kemudian tentang bagaimana hubungan itu berakhir dan berubah menjadi kisah mantan. Setelah itu, muncul lagi nama baru. Lalu patah hati lagi. Begitu seterusnya.Seolah tanpa mengatakannya secara langsung, Meta sedang berusaha membuat Aksa mengerti bahwa ia seharusnya berhenti berharap.Namun Aksa tetap bertahan. Tetap menjadi tempat Meta bercerita. Tetap hadir ketika perempuan itu membutuhkan seseorang. Dan d
Bita sebenarnya sudah berencana menghibur Aksa dan bahkan sempat memikirkan caranya. Namun, rencana itu hanya bertahan sekitar lima menit sebelum pikirannya kembali dipenuhi Vino. Dan baru teringat lagi ketika turun dari mobil Sasha yang mengantarnya pulang dan mendapati Aksa sedang menyirami tanaman serta bunga-bunga milik Mami yang tumbuh subur di pekarangan.Pemandangan yang cukup jarang. Biasanya, Aksa lebih memilih duduk tenang di teras dengan buku dan secangkir teh di tangannya."Lagi apa, Mas?" tanya Bita setelah memutuskan menghampirinya.Aksa tampak sedikit terkesiap sebelum menoleh. "Ini lagi nyiram bunga. Mami lagi sakit perut di dalam. Makanya Mas inisiatif nyiram bunganya."Bita mengangguk-angguk. Matanya tetap tertuju pada Aksa, mengamati wajah laki-laki itu yang kembali datar seperti biasa.Sekilas, pria itu memang terlihat baik-baik saja. Namun jika diperhatikan lebih saksama, sorot mata Aksa tampak kosong, seola
"Aku penasaran deh. Kamu tuh sukanya sama Vino sejak kapan?" tanya Sasha sembari menyuapkan sepotong kuenya.Sepulang kuliah, seperti yang sudah mereka rencanakan, keduanya langsung menuju toko kue milik teman Mamanya yang baru saja dibuka.Niat awal mau beli beberapa kue, lalu pulang. Namun begitu melihat etalase kaca yang dipenuhi berbagai macam pastry dan dessert, niat sederhana itu langsung menguap entah ke mana.Bita bahkan sampai beberapa kali berpindah dari satu sisi etalase ke sisi lainnya, matanya berbinar setiap kali menemukan sesuatu yang terlihat menarik.Pada akhirnya, kue yang mereka bawa keluar dari kasir jauh lebih banyak daripada yang mereka bayangkan.Mereka pun memilih duduk sebentar di meja kecil yang disediakan di depan toko. Beberapa potong kue yang sengaja mereka pilih untuk dimakan di tempat sudah tersaji di atas meja, sementara paper bag berisi kue-kue lainnya menumpuk di bawah kursi.Namun, kesenangan ka
"Dari kemarin Bita emang murung, nggak tahu kenapa."Suara Anggun membuat Vino mengalihkan pandangan dari pintu toilet tempat Bita tadi menghilang."Tante tanya apa dia sakit, dia cuma geleng-geleng." Anggun masih menatap ke arah yang sama sebelum akhirnya menoleh kepada Vino. "Apa kamu tahu Bita kenapa, Vin?"Vino terdiam."Mungkin ada masalah di kampus? Barangkali dia cerita ke kamu." Anggun mengembuskan napas pelan. "Lihat Bita nggak semangat begitu, Tante jadi nggak tenang. Apalagi dia nggak mau cerita."Tatapan Anggun seolah menaruh harapan kepadanya. Vino hanya mampu menatap balik beberapa saat sebelum menjatuhkan pandangan ke meja makan kemudian menggeleng lemah.Anggun kembali menghela napas. "Ya, semoga aja nggak ada apa-apa. Semoga cuma karena mau datang bulan."Jari-jari Vino mengerat di sekitar sendok yang masih berada di tangannya. Ia hafal betul siklus menstruasi Bita. Dan kalau tidak terlambat, masih ada s
"Lagi masak apa, Tan?""Ya ampun, Vin! Hih! Ngagetin aja!"Langkah Bita melambat saat menuruni anak tangga terakhir. Suara Vino dan Mamanya terdengar dari arah dapur, disusul tawa laki-laki itu yang langsung memenuhi telinganya.Bita menghela napas pelan. Seperti langkah kakinya yang terasa semakin berat, perasaannya pun ikut mengendap semakin dalam. Ia menyeret langkah menuju dapur, membiarkan suara percakapan mereka mengiringi setiap langkahnya."Aku kan cuma nanya, Tan.""Nanya, sih, nanya! Tapi nggak tiba-tiba juga. Mana Tante nggak tahu kamu ada di belakang."Anggun terkekeh kecil sebelum kembali mengaduk masakan di atas kompor. "Udah sarapan?""Belum lah. Makanya aku ke sini. Kali aja ada yang bisa dikunyah.""Yaudah, duduk dulu sana. Hampir matang nih sopnya."Bita baru saja melangkah masuk ketika mendapati Vino sedang menarik sebuah kursi. Gerakan laki-laki itu terhenti begitu tatapan keduanya b
Begitu mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya, wajah Vino langsung berubah antusias. "Oh! Jadi ini Kak Meta yang bikin Mas Aksa jadi backburner?" Ia menyambut uluran tangan itu. "Vino." Meta terkekeh kecil sambil menarik kembali tangannya. "Jadi kamu adiknya Aksa?" "Yap." Vino langsung menatapnya penuh rasa ingin tahu. "Kak Meta dari luar negeri? Sengaja pulang buat ketemu Mas Aksa?" "Iya." Meta tersenyum tipis. Logat asingnya masih terdengar samar ketika berbicara. "Aku memang sedang ada urusan di Indonesia. Salah satunya untuk menemui Aksa." Vino langsung bersiul panjang. "Uhuy." Ia memasang ekspresi jahil. "Menyeberangi pulau cuma buat Mas Aksa. Gue udah bisa bayangin mukanya pas lihat Kak Meta. Pasti hampir nangis darah." Meta hanya tertawa kecil mendengar ocehannya. Vino belum berhenti. "Ngomong-ngomong, sekarang masih bikin Mas Aksa jadi backburner atau mau di-upgrade ke status baru?
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be







