LOGINBeberapa menit kemudian, mereka tiba di depan rumah Bita.
Tanpa menunggu bantuan Vino, Bita segera turun dari motor. Posisi duduk menyamping membuatnya lebih mudah turun, meski pinggang dan pinggulnya terasa pegal setelah perjalanan.Vino mengambil kruk yang disangkutkan di depan Vespa, lalu menyodorkan pada gadis itu.Tatapannya sekilas beralih ke rumah Bita yang tampak gelap. "Orang tua lo udah tidur?""Papa udah balik ke Surabaya sore tadi. Katanya masiVino masih bersimpuh di lantai, membenamkan wajahnya di pangkuan Anggun. Kedua tangannya menggenggam lembut tangan perempuan itu, seolah takut kehilangan kesempatan untuk merasakan kehangatannya lagi.Sejak tadi, air matanya tidak berhenti mengalir.Ia masih ingat betapa terkejutnya dirinya ketika pertama kali melihat Anggun duduk di kursi roda. Ia bahkan sempat berharap bahwa penglihatannya keliru, bahwa ada penjelasan lain yang lebih baik daripada kenyataan yang harus ia terima.Namun, setelah mendengar cerita Anggun tentang kecelakaan yang menimpanya setahun lalu, hati Vino seolah diremas kuat-kuat.Selama ini, ia sibuk mengejar karier, berusaha mengumpulkan uang, dan mempersiapkan masa depannya bersama Bita. Sementara itu, sesuatu yang begitu besar telah terjadi pada perempuan yang selama ini sudah ia anggap seperti ibu sendiri.Dan ia bahkan tidak mengetahuinya.“Vin, ayo, Nak. Bangun dulu.” Anggun mengusap kepala Vino perla
Bita baru bisa menyelesaikan pekerjaannya setelah jam pulang kantor lewat cukup lama. Beberapa kali ia harus memeriksa ulang laporan auditnya, memastikan tidak ada lagi angka yang keliru sebelum akhirnya diizinkan pulang.Meski begitu, ia sama sekali tidak merasa kesal karena harus lembur.Sepanjang perjalanan pulang dengan ojek, Bita justru sibuk membayangkan kemungkinan bertemu Vino lagi.Siapa tahu mereka berpapasan di lobi. Atau bertemu lagi di lift seperti tadi pagi. Bita bahkan membayangkan Vino keluar dari apartemennya tepat saat ia tiba, lalu mereka saling bertatapan sebelum laki-laki itu kembali tersenyum dan tertawa kecil dengan ekspresi manisnya yang sukses membuat jantung Bita berdebar tak karuan.Membayangkannya saja sudah cukup membuat Bita tersenyum lebar. Bahkan, ia sampai terkikik sendiri di atas motor, membuat pengemudi ojek sempat meliriknya lewat kaca spion.Namun, tawanya perlahan berhenti ketika motor itu akhirnya ti
Bita membuka pintu apartemennya sambil menguap lebar. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur karena suara tawa aneh yang kembali terdengar dari lorong apartemen. Suara itu membuatnya terus terjaga hingga menjelang subuh. Alhasil, pagi ini ia harus bersiap berangkat kerja dengan mata berat dan tubuh yang masih terasa lemas, meskipun sudah berusaha menyegarkan diri. Dengan langkah gontai, Bita menyusuri lorong menuju lift. Begitu pintunya terbuka, Bita langsung masuk dan menekan tombol lantai dasar sebelum mundur beberapa langkah. Ia bahkan sudah bersiap memejamkan mata sejenak ketika pintu lift mulai merapat. Namun, sebuah tangan tiba-tiba menyelip di antara kedua pintu, menahan hingga sensor membuatnya kembali terbuka. Bita mendongak mendapati Vino-lah yang menahan pintu lift. Laki-laki itu berdiri di ambang pintu tanpa masker, menatapnya sekilas sebelum melangkah masuk. Tubuh Bit
“Gue pernah bilang, kan, kalau lima ratus juta itu cuma buat mahar? Sementara buat biaya pernikahan dan kehidupan setelahnya, gue masih harus ngumpulin uang lagi.”Martin mengernyitkan dahi. “Ya, terus? Lo bukannya dapat banyak job sekarang? Belum kekumpul juga?”Vino tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke kaleng soda di atas nakas. Ia memutar tubuh sedikit, menyandarkan kedua siku di atas paha, lalu menunduk sambil meremas kedua tangannya sendiri.Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang. “Dulu sebenarnya udah sempat kekumpul,” jawabnya pelan. “Tapi ada sesuatu yang bikin gue harus ngambil uang dari tabungan itu.”Martin terdiam sejenak, berusaha mencerna jawabannya. “Oke. Terus sekarang masih belum kekumpul lagi?”Vino menggeleng. “Lima ratus jutanya udah kekumpul lagi, sih.” Ia menjeda, kemudian menggeleng pelan. “Cuma uang buat pernikahannya yang belum.”Martin mengusap wajahnya sebentar se
“Akhirnya ketemu kasur juga.” Martin langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang begitu tiba di apartemen Vino. Ia membenamkan wajah ke bantal, lalu mengembuskan napas panjang seolah baru saja menyelesaikan perjalanan lintas pulau.Sedangkan Vino berjalan menuju kulkas mini di sudut ruangan, mengambil dua kaleng soda, lalu melemparkan salah satunya ke arah Martin.“Tangkap.”Martin mengangkat kepala tepat waktu untuk menangkap kaleng itu. “Thanks.” Ia bangkit menjadi duduk, membuka kaleng soda, lalu menyesapnya dengan nikmat.Vino berjalan menghampiri ranjang sambil meneguk minumannya. Setelah duduk di sisi ranjang, ia meletakkan kaleng soda di atas nakas dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.Martin memperhatikannya beberapa saat sebelum kembali meneguk minumannya.“Jadi, apa yang bikin si artis sibuk ini sampai nggak ada waktu buat nengokin temennya, sekarang malah tiba-tiba nyamperin temennya dan maksa
“Udah aku bilang aku naik transportasi umum aja. Malah maksa nganterin!” Bita turun dari motor Haikal setibanya mereka di depan apartemennya. Wajahnya masih masam, setengah menggerutu karena laki-laki itu bersikeras mengantarnya. “Gue mau mastiin lo sampai Jakarta dengan selamat,” jawab Haikal enteng sembari melepas helmnya. Ia melirik Bita yang masih berdiri di samping motor dengan wajah kesal. “Gue takut lo kenapa-kenapa. Jangan sampai gue kehilangan temen yang bisa gue ajak mengumpat mantan. Senasib pula ngenesnya.” Sejak obrolan mereka di lobi apartemen beberapa waktu lalu, entah bagaimana, hubungan keduanya berkembang menjadi pertemanan yang cukup dekat. Awalnya, mereka hanya dua orang yang kebetulan sama-sama punya masalah dengan mantan kekasih. Namun, obrolan yang semula sekadar saling mengumpat itu perlahan berlanjut menjadi percakapan tentang banyak hal lain. Mereka mulai terbiasa bertukar cerita, saling meledek, b
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino







