Share

Bab 183

Penulis: macaroonie
last update Tanggal publikasi: 2026-08-08 19:18:49

"Batagor mau? Sate? Tongseng?"

Bita lagi-lagi menggeleng malas.

Sejak memergokinya menangis di lorong gedung fakultas, Vino tak berhenti mengkhawatirkannya. Bahkan ia sudah menunggu di depan ruang kelas begitu Bita selesai kuliah, lalu menawarkan berbagai macam makanan yang semuanya berakhir ditolak.

Bagaimana Bita bisa makan setelah bertengkar dengan Sasha?

Sahabatnya itu bahkan tak sudi lagi duduk di kursi pojok belakang bersamanya. Sasha memilih barisan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
macaroonie
Heyyy kokom my moodbooster, ketemu lagi sama aku. Besok kamu bakalan ketemu bita vino tiga kali lohhh ekekek eksklusif nih aku kasih tau kamu aja sebab kau telah mencerahkan hariku belakangan ini kokom, membuatku semangat menuliss ekekekek
goodnovel comment avatar
macaroonie
Samasama kokom my moodboosterr🫰selalu happy liat kamu komennn luvv bangett muachhhh
goodnovel comment avatar
Din Dini
harapan ada di vino semoga vino yakinin bitaa ya Allah vino sama bita tu serasiii
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 339

    Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, mobil Sasha yang dikemudikan Dira akhirnya memasuki pekarangan rumah Bita.Begitu turun dari mobil, pandangan Bita langsung tertuju pada sebuah motor sport yang terparkir tak jauh dari teras, membuat gadis itu seketika terdiam.Bita mengenali motor itu. Milik Vino. Selama berminggu-minggu tinggal di apartemen yang sama, Bita hampir tidak pernah melihat Vino mengendarai motor tersebut. Laki-laki itu lebih sering menggunakan mobil untuk bepergian, terutama ke lokasi syuting atau menghadiri urusan pekerjaannya. Motor sport itu bahkan seolah sudah lama tak terlihat.Namun, sekarang motor itu terparkir di rumahnya.Yang berarti Vino juga ada di dalam.Bita semakin terpaku menatap motor itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada gugup, tidak percaya, juga harapan yang sejak tadi berusaha ia tahan agar tidak tumbuh terlalu tinggi.“Ta, ayo masuk!” Sasha menepuk bahunya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 338

    Vino masih bersimpuh di lantai, membenamkan wajahnya di pangkuan Anggun. Kedua tangannya menggenggam lembut tangan perempuan itu, seolah takut kehilangan kesempatan untuk merasakan kehangatannya lagi.Sejak tadi, air matanya tidak berhenti mengalir.Ia masih ingat betapa terkejutnya dirinya ketika pertama kali melihat Anggun duduk di kursi roda. Ia bahkan sempat berharap bahwa penglihatannya keliru, bahwa ada penjelasan lain yang lebih baik daripada kenyataan yang harus ia terima.Namun, setelah mendengar cerita Anggun tentang kecelakaan yang menimpanya setahun lalu, hati Vino seolah diremas kuat-kuat.Selama ini, ia sibuk mengejar karier, berusaha mengumpulkan uang, dan mempersiapkan masa depannya bersama Bita. Sementara itu, sesuatu yang begitu besar telah terjadi pada perempuan yang selama ini sudah ia anggap seperti ibu sendiri.Dan ia bahkan tidak mengetahuinya.“Vin, ayo, Nak. Bangun dulu.” Anggun mengusap kepala Vino perla

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 337

    Bita baru bisa menyelesaikan pekerjaannya setelah jam pulang kantor lewat cukup lama. Beberapa kali ia harus memeriksa ulang laporan auditnya, memastikan tidak ada lagi angka yang keliru sebelum akhirnya diizinkan pulang.Meski begitu, ia sama sekali tidak merasa kesal karena harus lembur.Sepanjang perjalanan pulang dengan ojek, Bita justru sibuk membayangkan kemungkinan bertemu Vino lagi.Siapa tahu mereka berpapasan di lobi. Atau bertemu lagi di lift seperti tadi pagi. Bita bahkan membayangkan Vino keluar dari apartemennya tepat saat ia tiba, lalu mereka saling bertatapan sebelum laki-laki itu kembali tersenyum dan tertawa kecil dengan ekspresi manisnya yang sukses membuat jantung Bita berdebar tak karuan.Membayangkannya saja sudah cukup membuat Bita tersenyum lebar. Bahkan, ia sampai terkikik sendiri di atas motor, membuat pengemudi ojek sempat meliriknya lewat kaca spion.Namun, tawanya perlahan berhenti ketika motor itu akhirnya ti

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 336

    Bita membuka pintu apartemennya sambil menguap lebar. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur karena suara tawa aneh yang kembali terdengar dari lorong apartemen. Suara itu membuatnya terus terjaga hingga menjelang subuh. Alhasil, pagi ini ia harus bersiap berangkat kerja dengan mata berat dan tubuh yang masih terasa lemas, meskipun sudah berusaha menyegarkan diri. Dengan langkah gontai, Bita menyusuri lorong menuju lift. Begitu pintunya terbuka, Bita langsung masuk dan menekan tombol lantai dasar sebelum mundur beberapa langkah. Ia bahkan sudah bersiap memejamkan mata sejenak ketika pintu lift mulai merapat. Namun, sebuah tangan tiba-tiba menyelip di antara kedua pintu, menahan hingga sensor membuatnya kembali terbuka. Bita mendongak mendapati Vino-lah yang menahan pintu lift. Laki-laki itu berdiri di ambang pintu tanpa masker, menatapnya sekilas sebelum melangkah masuk. Tubuh Bit

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 335

    “Gue pernah bilang, kan, kalau lima ratus juta itu cuma buat mahar? Sementara buat biaya pernikahan dan kehidupan setelahnya, gue masih harus ngumpulin uang lagi.”Martin mengernyitkan dahi. “Ya, terus? Lo bukannya dapat banyak job sekarang? Belum kekumpul juga?”Vino tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke kaleng soda di atas nakas. Ia memutar tubuh sedikit, menyandarkan kedua siku di atas paha, lalu menunduk sambil meremas kedua tangannya sendiri.Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang. “Dulu sebenarnya udah sempat kekumpul,” jawabnya pelan. “Tapi ada sesuatu yang bikin gue harus ngambil uang dari tabungan itu.”Martin terdiam sejenak, berusaha mencerna jawabannya. “Oke. Terus sekarang masih belum kekumpul lagi?”Vino menggeleng. “Lima ratus jutanya udah kekumpul lagi, sih.” Ia menjeda, kemudian menggeleng pelan. “Cuma uang buat pernikahannya yang belum.”Martin mengusap wajahnya sebentar se

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 334

    “Akhirnya ketemu kasur juga.” Martin langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang begitu tiba di apartemen Vino. Ia membenamkan wajah ke bantal, lalu mengembuskan napas panjang seolah baru saja menyelesaikan perjalanan lintas pulau.Sedangkan Vino berjalan menuju kulkas mini di sudut ruangan, mengambil dua kaleng soda, lalu melemparkan salah satunya ke arah Martin.“Tangkap.”Martin mengangkat kepala tepat waktu untuk menangkap kaleng itu. “Thanks.” Ia bangkit menjadi duduk, membuka kaleng soda, lalu menyesapnya dengan nikmat.Vino berjalan menghampiri ranjang sambil meneguk minumannya. Setelah duduk di sisi ranjang, ia meletakkan kaleng soda di atas nakas dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.Martin memperhatikannya beberapa saat sebelum kembali meneguk minumannya.“Jadi, apa yang bikin si artis sibuk ini sampai nggak ada waktu buat nengokin temennya, sekarang malah tiba-tiba nyamperin temennya dan maksa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status