Share

Bab 239

Penulis: macaroonie
last update Tanggal publikasi: 2026-09-03 15:27:14

"Kalau perusahaan membeli sebuah mesin seharga dua ratus juta rupiah dan diperkirakan memiliki umur manfaat selama lima tahun, dengan nilai residu sebesar dua puluh juta, maka berapa beban penyusutannya setiap tahun kalau kita menggunakan metode garis lurus?"

Suara dosen terus mengalun memenuhi ruang kelas. Beberapa mahasiswa mulai sibuk menghitung. Sasha menunduk, tangannya terus bergerak mencatat penjelasan dosen ke dalam buku.

"Jadi, rumusnya sederhana. Harga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 239

    "Kalau perusahaan membeli sebuah mesin seharga dua ratus juta rupiah dan diperkirakan memiliki umur manfaat selama lima tahun, dengan nilai residu sebesar dua puluh juta, maka berapa beban penyusutannya setiap tahun kalau kita menggunakan metode garis lurus?" Suara dosen terus mengalun memenuhi ruang kelas. Beberapa mahasiswa mulai sibuk menghitung. Sasha menunduk, tangannya terus bergerak mencatat penjelasan dosen ke dalam buku. "Jadi, rumusnya sederhana. Harga perolehan dikurangi nilai residu, kemudian dibagi dengan umur manfaat. Jangan sampai kalian cuma hafal rumusnya, tapi tidak paham kenapa nilai residu harus dikurangkan." Dosen melanjutkan penjelasannya sambil sesekali menuliskan poin-poin penting di papan tulis. Namun Bita sama sekali tidak memperhatikan. Tatapannya justru terpaku ke luar jendela. "Kalau menggunakan metode saldo menurun, tentu hasil beban penyusutannya akan berbeda. Beban pada tahun-tahun awal akan

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 238

    Bita mengerjapkan mata ketika terbangun keesokan harinya dengan perut yang terasa kosong. Rasanya lapar sekali. Mungkin itulah yang membuatnya terbangun sekitar pukul enam pagi.Seketika Bita mengernyit ketika rasa pening mendadak menghantam kepalanya. Reaksi yang selalu ia rasakan setiap kali terlalu banyak menangis.Tangannya terangkat memegangi kepala, berusaha meredakan nyeri di sana. Namun ketika Bita menoleh ke samping, matanya langsung melebar. Jantungnya seakan baru saja jatuh. Sesaat, rasa takut dan deja vu menyergapnya.Namun detak jantungnya perlahan kembali tenang ketika menyadari sosok yang tertidur di sampingnya tidak lain adalah Mama.Bita mengerjapkan mata, memandangi Anggun yang tidur menyamping menghadap dirinya. Pandangannya turun, menemukan satu tangan Mama masih melingkar memeluknya.Pemandangan yang seharusnya terasa hangat justru membuat dada Bita kembali terasa sakit.Bita teringat bagaimana Mama semalaman

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 237

    Bram menutup pintu kamar Bita setelah menaruh putri semata wayangnya di atas ranjang, meninggalkan Anggun di dalam untuk menenangkan anak mereka. Kemudian pria itu berbalik menatap Aksa serta Vino yang masih berdiri di depan pintu, ketiganya sama-sama menunjukkan wajah penuh kekhawatiran."Sebenarnya ada kejadian apa selama di London sampai Bita pulang-pulang malah menangis?" tanya Bram.Vino langsung membeku. Kepalanya tertunduk, tak berani mengangkat pandangan.Sementara Aksa yang ditatap Bram akhirnya bersuara. "Selama di London, Bita baik-baik saja, Om. Saya rasa nggak ada kejadian yang tidak menyenangkan, apalagi kemalangan yang menimpa Bita. Dia malah kelihatan bersenang-senang selama di sana.""Saya rasa?" Alis Bram langsung menukik tajam. "Memangnya kamu nggak selalu sama Bita sampai jawabnya nggak yakin begitu?"Aksa tertunduk, ekspresinya berubah bersalah. "Maaf, Om. Karena ada beberapa urusan pekerjaan yang harus saya tangani,

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 236

    Seperti janjinya, keesokan paginya, bahkan sebelum matahari terbit, Vino sudah mendatangi kamar Bita. Sesaat setelah Bita membukakan pintu, laki-laki itu langsung menyeruak masuk dengan wajah panik.Vino segera menutup pintu, kemudian membingkai wajah Bita dengan kedua tangannya. Tatapannya berpindah dari satu mata ke mata lainnya, seolah memastikan sendiri apa yang sejak tadi ia khawatirkan.Mata yang semalam sempat Bita lihat di cermin kini sudah pasti tampak sama mengenaskannya dengan yang Vino lihat. Kantung matanya tebal dan menghitam, sementara kedua matanya masih sembap."Ta, kamu nangis lagi, ya?" tanya Vino khawatir."Kentara banget, ya?" Bita langsung tahu apa yang membuat Vino begitu cemas.Vino mengangguk dengan tatapan sendu.Bita mencoba menarik segaris senyum tipis. "Nggak papa. Nanti bisa ditutupi pakai concealer. Terus aku pakai makeup tipis biar kelihatan seger."Bita kemudian mengajak Vino duduk di sof

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 235

    Vino menelan ludah. Mami masih bisa ia kelabui. Ia bisa membuat semuanya terlihat mudah, termasuk kebohongan-kebohongan yang harus Vino tutupi.Tapi Aksa?Pria itu adalah satu-satunya orang yang sulit Vino kelabui. Entah bagaimana, kakaknya itu selalu bisa menemukan kejanggalan sekecil apa pun dalam diri Vino, bahkan ketika ia sudah berusaha menutupinya rapat-rapat. Seolah-olah pria itu memiliki mata yang mampu menembus apa saja, termasuk kebohongannya.Dan kini, tatapan Aksa sukses membuat Vino merasa seperti seorang tersangka.Vino mencoba menyembunyikan kegelisahannya dengan terkekeh. "Apaan sih, Mas? Ngelihatinnya gitu banget?"Ia menutup pintu, lalu berbalik menghadapi Aksa yang masih menatapnya lurus. Vino berusaha memasang wajah setenang mungkin."Tadi Bita ngajak aku keluar. Katanya masih pengin jalan-jalan. Besok kan kita harus balik, jadi udah nggak ada waktu lagi. Bita pengin puas-puasin jalan-jalannya," jelasnya. Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 234

    Vino menatap kedua mata Bita yang bergetar. Ketakutan, kegelisahan, dan keputusasaan bercampur aduk di sana. Perasaan yang mungkin tak jauh berbeda dari apa yang tengah bergejolak di dalam dirinya.Dada Vino bergemuruh menahan ketakutan yang sama. Untuk sesaat, Vino mengakui bahwa ide Bita terdengar masuk akal. Jika mereka tidak mengatakan apa pun, mungkin tidak akan ada yang tahu. Mereka tetap bisa bersama tanpa harus menghadapi kekecewaan kedua orang tua Bita.Pandangan Vino terangkat. Kelopak matanya berkedip pelan, seolah masih menimbang pilihan itu.Namun ketika jemari Bita merambat ke wajahnya dan mengusap pipinya, tatapan Vino kembali jatuh pada gadis itu.“Kita bisa merahasiakannya berdua,” gumam Bita. “Nggak akan ada yang tahu. Kita cuma perlu sama-sama tutup mulut.”Sesaat, Vino hampir mengangguk. Namun ia segera memejamkan mata rapat-rapat, lalu menggeleng kuat. “Nggak. Aku nggak bisa, Ta.” Vino menatap Bita dengan wajah frustr

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status