เข้าสู่ระบบBagaimana mungkin hati seorang perempuan tidak hancur ketika mengetahui pacarnya, meski hubungan mereka masih terhalang restu, ternyata pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain? Terlebih ketika perempuan itu datang dengan penampilan yang begitu mencolok seperti Jesika.
Martin sempat mengira Bita akan menunjukkan tanda-tanda terluka. Bahkan Sasha sudah bersiap merangkulnya jika gadis itu sampai menangis. Namun, dugaan mereka meleset. Bita justBagaimana mungkin hati seorang perempuan tidak hancur ketika mengetahui pacarnya, meski hubungan mereka masih terhalang restu, ternyata pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain? Terlebih ketika perempuan itu datang dengan penampilan yang begitu mencolok seperti Jesika. Martin sempat mengira Bita akan menunjukkan tanda-tanda terluka. Bahkan Sasha sudah bersiap merangkulnya jika gadis itu sampai menangis. Namun, dugaan mereka meleset. Bita justru tertawa. Tawanya membuat Martin, Sasha, bahkan Jesika terdiam. Senyum pongah di wajah Jesika pun perlahan memudar. “Oh, jadi kamu Jesika?” Bita akhirnya bersuara setelah tawanya mereda. “Maaf, tadi aku nggak ngenalin. Vino nggak pernah nyebutin ciri-ciri kamu. Dia cuma bilang, kamu itu cewek yang dulu secara sukarela dia jadikan pelampiasan.” “Vino cerita sama lo, Ta?” tanya Martin, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Bita meng
Bita berjalan berdampingan dengan Sasha menuju area futsal. Ia sebenarnya sempat ingin membawa sesuatu yang lain, tetapi setelah dipikir-pikir, ia justru kebingungan sendiri. Vino bukan tipe yang suka ngemil, apalagi makanan manis. Jadi setelah cukup lama mempertimbangkannya, Bita akhirnya hanya membawakannya Americano yang sudah pasti di sukai laki-laki itu.Begitu memasuki bagian dalam, suara riuh permainan langsung menyambut mereka. Teriakan para pemain, suara sepatu beradu dengan lantai, dan bunyi bola yang sesekali menghantam jaring pembatas terdengar dari beberapa arah.“Lapangan yang mana?” Sasha bertanya sambil celingukan.“Gatau. Vino cuma bilang main futsal.”Mereka akhirnya berjalan menyusuri sisi luar jaring pembatas, melewati satu lapangan yang sedang dipakai beberapa orang bermain. Bita sempat melirik ke dalam, tetapi tidak menemukan sosok yang dicari.Mereka terus berjalan. Di lapangan berikutnya, beberapa pemain
“Nanti aku pulangnya bareng Sasha,” ucap Bita setelah turun dari motor Vino dan melepas helmnya begitu mereka tiba di parkiran kampus.Gerakan Vino yang hendak melepas helmnya terhenti. Ia menatap Bita. “Emang kalian mau ke mana? Mau jajan bareng?”“Hafal banget, Bang? Perhatiin aku banget, ya?” goda Bita.Sejak mereka sama-sama mengetahui perasaan masing-masing, Bita memang semakin sering menggoda Vino dengan kalimat-kalimat semacam itu. Dan bukannya terganggu, Vino justru menikmatinya.Vino tersenyum dari balik helmnya, lalu menjepit hidung Bita begitu saja. “Gimana nggak hafal? Pipi kamu aja udah kayak mochi saking seringnya jajan.”Bita segera menangkup kedua pipinya. “Aku kelihatan gendut?” Gadis itu bahkan sempat berkaca melalui spion motor Vino, memperhatikan kedua sisi wajahnya sebelum mendesah lesu. “Aku gendut.”Seketika tawa Vino membahana di parkiran. “Bercanda, Ta. Lagian pipi kamu dari dulu emang begitu.”“
Bita mendorong pintu rumah dan melangkah masuk sambil menenteng helm di tangannya. Baru beberapa langkah, pandangannya langsung tertuju pada Bram yang duduk di sofa ruang keluarga, membelakanginya. Bita berhenti sejenak, masih diam di tempat.“Kok pulangnya agak malam, Ta?”Anggun muncul dari arah dapur dan berjalan menghampirinya. Bersamaan dengan itu, Bram ikut menoleh ke belakang, menyadari kedatangan putrinya.“Tadi ada urusan bentar, Ma,” jawab Bita segera menyalim tangan mamanya, lalu beralih menghampiri Bram. “Pa.”Bram menyodorkan tangannya, dan Bita segera menyaliminya. Setelah itu, ia kembali berdiri, sementara Anggun mengapit lengannya.“Pulang-pulang lesu begini pasti lapar. Ayo, ke dapur. Mama temenin kamu makan. Papa sama Mama udah makan tadi.”Bita mengangguk.“Setelah makan, Papa mau bicara sama kamu.”Langkah Bita yang baru hendak bergerak langsung terhenti begitu Papanya berbicara santai. Gadis
Martin tertegun. Matanya membulat, jelas tak menyangka Jesika tahu tentang Bita. “Lo tahu dari mana soal Bita?” Jesika mendengus, lalu kembali bersidekap. “Nggak penting gue tahu dari mana soal cewek sialan itu. Yang penting sekarang kasih tahu gue Vino di mana.” Martin menatapnya tajam. “Jawab gue, atau gue panggil security buat ngusir lo.” Jesika mendecak. Tatapannya masih angkuh, tetapi akhirnya ia menjawab dengan enggan, “Gue tahu dari temen lo yang biasanya sama lo kalau ke bar. Sayang, servisnya nggak memuaskan. Lebih mending Vino setengah mampus, walaupun cuma ciuman doang. Daripada ngabisin semalam sama itu orang. Puas nggak capek iya.” Satu nama langsung terlintas di kepala Martin. “Galang?” “Iya kali. Nggak minat juga nginget namanya.” Jesika kembali celingukan, masih berusaha mencari keberadaan Vino. “Pokoknya yang gamon sama mantannya, mana pas sama gue manggil-manggil namanya lagi bikin gue ilfee
Vino menarik napas sebelum menggeleng pelan. “Aku belum bisa memastikan, Ta. Papa kamu cuma nyuruh aku buat fokus kuliah dulu.”“Digantungin gitu ceritanya?!" Bita menatapnya tak percaya, sebelum menyeru tak terima. "Ih, jahat banget Papa!” Vino seketika terkekeh. “Jangan gitu ngomongnya. Nggak baik.”“Habisnya tinggal direstuin aja, kenapa, sih?” Bita kembali menggerutu. “Kayak nyuruh Papa bikin candi aja. Lagian yang kamu minta cuma izin buat hubungan yang lebih serius. Bukan tiba-tiba minta izin buat besok nikahin aku.”“Pasti Om Bram punya banyak pertimbangan, Ta,” jawab Vino lembut.Tatapan teduhnya membuat Bita yang semula hendak menyela justru terdiam.“Ini bukan cuma tentang bagaimana putrinya yang sangat disayangi bisa bahagia,” lanjut Vino. “Tapi juga tentang bagaimana putrinya tetap aman.”Tangannya terangkat, merapikan sehelai rambut Bita yang terlepas dari ikatannya. “Mungkin kamu sendiri bisa mer
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino







