Teilen

Bab 270

last update Veröffentlichungsdatum: 18.09.2026 19:18:49

Vino ... dia tidak terlihat di radar pandangan Bita selama empat hari. Sosok itu tidak terlihat, baik di rumah maupun di kampus.

Meskipun ketiadaan Vino secara tidak langsung membantu Bita untuk perlahan melepaskan ketergantungannya pada laki-laki itu, tetap saja gadis itu merasa rindu. Tidak bisa dipungkiri.

“Lemes banget, Ta,” ucap Sasha sambil menyenggol bahunya setelah dosen meninggalkan ruangan.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 277

    “Lo lihat, kan, tadi gimana reaksi Bita waktu gue beberin soal lo yang khawatir dia bakal berpaling?”Dengan ponsel menempel di telinga dan sepasang mata menatap langit-langit kamarnya, untuk entah keberapa kalinya Vino menghela napas.“Tin, lo udah ngomong ini berkali-kali. Gue—”“Aduhhhh! Lo aja tadi sok mengheningkan cipta mulu! Padahal lirik dikit juga nggak bakal bikin lo berdosa di mata Bram!” gerutu Martin tanpa memedulikan Vino. “Jadi nggak lihat gimana tercenungnya Bita. Gimana getar-getar cemas itu tumbuh di matanya. Dan gimana gue bisa lihat kalau Bita pasti greget banget pengin bilang lo nggak perlu khawatir karena dia bakal setia nungguin lo.”Martin tertawa lagi. “Duh, kisah kalian ini kalau difilmin bakalan booming, njir. Saking tragisnya! Bayangin aja, gimana ngenesnya kalian yang harus nahan diri buat nggak ngomong satu sama lain!”Tawa Martin kembali meledak.Seperti beberapa saat setelah mereka mening

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 276

    “Gue berharap lo nggak ragu lagi sama Bita. Lihat aja, semesta lagi-lagi mempertemukan kalian tanpa sengaja, seakan-akan emang udah jodoh,” ucap Martin begitu sadar apa yang membuat Vino berhenti melangkah dan mematung di tempat.“Dan nggak usah kepikiran buat kabur. Gue udah males nyari restoran panas-panas begini," imbuh Martin memberi peringatan.Di sisi tubuhnya, tangan Vino mengepal.Laki-laki itu memang bisa mencoba mengikuti perkataan Martin bahwa tidak apa-apa jika mereka kebetulan bertemu. Tapi sekarang Bram juga berada di sana. Ketakutan itu kembali muncul begitu saja.Vino ingin segera angkat kaki sebelum Bram menyadari keberadaannya. Namun seakan sudah tahu niatnya, Martin justru lebih dulu menyeretnya tanpa ampun menuju salah satu meja.Seakan ingin membuatnya mati berdiri, bukannya memilih tempat yang paling jauh dan terpojok, laki-laki kampret itu malah membawanya tepat ke meja di sebelah Bita dan Bram.Kehadiran mereka

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 275

    Martin memberhentikan Vespa-nya di depan sebuah restoran.“Ngapain kita ke sini?” tanya Vino sambil ikut menghentikan motornya di samping Martin.“Nanem padi,” sahut Martin asal sambil melepas helm. “Lo nggak lihat di dalam ada orang makan? Berarti apa? Yak, betul! Nyuciin piring orang habis makan!”“Makan?”“Iyaaa, makan!” balas Martin greget. “Sebagai perayaan karena lo udah mengambil langkah besar dalam hidup lo, gue mau nraktir lo makan. Seneng kan lo? Jarang-jarang nih gue ngeluarin uang buat bikin lo seneng."Bukannya senang, Vino justru terdiam di atas motornya.Helmnya sudah Vino lepas, memperlihatkan ekspresi murung yang sejak tadi disembunyikannya. Entah kenapa, sejak keluar dari gedung Apex, Vino jadi jauh lebih pendiam. Berbeda sekali dengan saat ia meminta Martin menemaninya ke sana, ketika semangatnya masih membara-bara.Martin memperhatikannya beberapa saat sebelum mendecak. “Kenapa sih sama muka lo? Kayak

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 274

    “Coba saya lihat dulu.” Adrian mendekat dan memperhatikan wajah Vino dari beberapa sisi. Tatapannya berpindah dari satu lebam ke lebam lainnya, memastikan tidak ada luka terbuka, goresan, ataupun bagian yang terlihat mengalami kerusakan serius.Adrian akhirnya mengembuskan napas lega. Setidaknya, tidak ada luka yang tampaknya meninggalkan bekas permanen. Lebam seperti itu masih bisa hilang seiring waktu.“Untungnya cuma lebam,” gumam Adrian. “Berarti nggak masalah, Pak?” Vino memastikan.“Kamu tetap harus menunggu sampai wajahmu pulih dulu,” jawab Adrian.Vino mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tanpa sadar ia tahan. “Lebamnya memang bukan masalah besar, tapi kalau kamu mau terjun sebagai talent, wajah adalah salah satu modal utama kamu," lanjut Adrian. "Saya nggak mungkin membawa kamu ke casting atau menawarkan kamu ke brand dalam kondisi seperti ini.”Vino mengangguk paham.Adrian melanjutkan, “Kalau

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 273

    Martin memutar matanya melihat Vino yang masih mematung di sampingnya.“Ngerti. Ngerti banget gue sama kondisi lo. Bita baru aja nggak sengaja nelpon lo, dan meskipun nggak sengaja, tetap bikin lo senang. Terus sekarang lo malah cuma pengin mandangin bekas riwayat panggilannya doang."Kemudian tanpa permisi Martin merampas ponsel yang masih berada dalam genggaman Vino. “Tapi sekarang lo punya tujuan. Nggak ada waktu buat diem ngegalau. Lo perlu gerak karena tujuannya udah ada di depan mata lo. Noh!”Martin menunjuk ke depan, lalu mendecak kecil. “Gue kira kantornya kayak ruko. Ternyata lumayan gede juga, ya?”Vino kembali mengangkat pandangannya. Di hadapan mereka berdiri sebuah gedung perkantoran tiga lantai dengan fasad modern yang cukup luas. Bagian depannya didominasi kaca dan dinding berwarna putih serta abu-abu, sementara sebuah papan nama bertuliskan APEX MANAGEMENT terpampang jelas di atas pintu masuk. Area parkir di depannya jug

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 272

    “Kalau yang ini, Kak, mesinnya 125 cc. Cocok buat pemakaian harian dan cukup ringan kalau dipakai buat keliling kota. Bagasinya juga lumayan luas.”Bita mengangguk-angguk sambil memperhatikan motor di hadapannya.“Kalau yang sebelah?”“Kalau yang itu 150 cc. Tenaganya lebih besar, fiturnya juga lebih lengkap. Tapi bodinya sedikit lebih besar dari yang tadi.”Bita kembali menoleh ke deretan motor lainnya. “Terus kalau yang warna itu?”Sales tersebut ikut mengarahkan pandangannya. “Oh, kalau yang itu beda tipe lagi, Kak. Mesinnya memang sama-sama 150 cc, tapi fitur dan desainnya sedikit berbeda.” Ia kembali menjelaskan panjang lebar, membuat Bita mengangguk-angguk sambil memperhatikan motor yang dimaksud.Setelah itu mereka kembali melangkah. Motor demi motor menarik perhatian Bita. Setiap kali matanya berhenti pada satu unit, sales tersebut dengan sabar ikut mendekat dan menjelaskan berbagai hal tentangnya. Mulai dari kapasitas me

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status