Mag-log in"Aku nggak cuma ingin punya cukup uang untuk melamar dan menikahi kamu. Aku juga ingin memastikan kehidupan kamu setelah menikah nanti akan baik-baik aja," lanjut Vino.
Bita menatapnya tanpa berkedip.“Aku mulai memikirkan tempat tinggal kita, aset yang harus aku punya, tabungan untuk kebutuhan rumah tangga, sampai biaya-biaya lain yang mungkin akan kita butuhkan nanti. Aku ingin punya cukup pegangan supaya kamu nggak perlu khawatir soal keuangan. Supaya kalau suatu hari adaSasha dan Dira masih terpaku di tempatnya. Keduanya menatap Bita yang kini memeluk Vino begitu erat sambil menangis sesenggukan, seolah-olah perempuan itu tidak pernah mendengar satu pun nasihat yang baru saja mereka berikan.Padahal, belum sampai semenit lalu mereka menyuruh Bita agar tidak gampang luluh. Sekarang, jangankan jual mahal, melepaskan pelukan saja Bita tampaknya tidak berniat melakukannya.Sasha menoleh kepada Dira. Dira balas menatapnya. Keduanya sama-sama tidak tahu harus bereaksi bagaimana.Sementara itu, Anggun sudah tidak sanggup menahan tangisnya. Ia menyandarkan kepala di bahu Bram, membiarkan suaminya merengkuh tubuhnya yang bergetar.Sebagai seorang ibu, Anggun tahu betul bagaimana putrinya selama ini.Bita memang tidak pernah banyak bercerita. Ia juga tidak pernah secara terang-terangan mengeluh tentang penantian panjangnya. Namun, Anggun bisa melihat bagaimana harapan itu perlahan memudar dari mata putrinya setiap
"Aku nggak cuma ingin punya cukup uang untuk melamar dan menikahi kamu. Aku juga ingin memastikan kehidupan kamu setelah menikah nanti akan baik-baik aja," lanjut Vino.Bita menatapnya tanpa berkedip.“Aku mulai memikirkan tempat tinggal kita, aset yang harus aku punya, tabungan untuk kebutuhan rumah tangga, sampai biaya-biaya lain yang mungkin akan kita butuhkan nanti. Aku ingin punya cukup pegangan supaya kamu nggak perlu khawatir soal keuangan. Supaya kalau suatu hari ada sesuatu yang terjadi, aku tetap bisa memastikan kamu hidup dengan layak.”Vino tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak bertahan lama. “Awalnya aku pikir, semakin banyak yang bisa aku siapkan, semakin baik. Aku pikir, kalau aku bisa menyelesaikan semuanya lebih dulu, aku bisa datang ke kamu tanpa perlu membuat kamu khawatir tentang apa pun.”Entah sudah keberapa kalinya, Vino kembali menarik napas panjang. “Tapi tanpa sadar, aku terus menunda. Selalu ada sesuatu yang menurutku
Vino sempat membuka mulut, tetapi kembali terdiam sebelum satu kata pun keluar. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan, sesekali mengusap telapak tangannya yang berkeringat pada celana. Ia menarik napas, lalu mengangkat wajah seolah hendak bicara, tetapi sedetik kemudian kembali menunduk. Bahkan ketika akhirnya mendongak lagi, bibirnya tampak bergetar tipis sebelum kembali terkatup rapat. Lelaki itu terlihat begitu kesulitan merangkai kata-kata di hadapan Bita.Sementara itu, Sasha memutar bola matanya, lalu mendekatkan wajah ke telinga Bita. “Tuh, kan. Baru disuruh ngomong aja udah ragu-ragu begitu.”Dira menahan tawa kecil. “Jangan-jangan sebenarnya dia nggak punya penjelasan yang masuk akal.”“Makanya. Jangan sampai kamu luluh cuma karena dia datang bawa uang lima ratus juta. Menepati satu janji bukan berarti dia bisa seenaknya melupakan janji yang lain.”Bita mendengar suara mereka, tetapi tak benar-benar menyimak. Pandangannya ma
Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, mobil Sasha yang dikemudikan Dira akhirnya memasuki pekarangan rumah Bita.Begitu turun dari mobil, pandangan Bita langsung tertuju pada sebuah motor sport yang terparkir tak jauh dari teras, membuat gadis itu seketika terdiam.Bita mengenali motor itu. Milik Vino. Selama berminggu-minggu tinggal di apartemen yang sama, Bita hampir tidak pernah melihat Vino mengendarai motor tersebut. Laki-laki itu lebih sering menggunakan mobil untuk bepergian, terutama ke lokasi syuting atau menghadiri urusan pekerjaannya. Motor sport itu bahkan seolah sudah lama tak terlihat.Namun, sekarang motor itu terparkir di rumahnya.Yang berarti Vino juga ada di dalam.Bita semakin terpaku menatap motor itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada gugup, tidak percaya, juga harapan yang sejak tadi berusaha ia tahan agar tidak tumbuh terlalu tinggi.“Ta, ayo masuk!” Sasha menepuk bahunya.
Vino masih bersimpuh di lantai, membenamkan wajahnya di pangkuan Anggun. Kedua tangannya menggenggam lembut tangan perempuan itu, seolah takut kehilangan kesempatan untuk merasakan kehangatannya lagi.Sejak tadi, air matanya tidak berhenti mengalir.Ia masih ingat betapa terkejutnya dirinya ketika pertama kali melihat Anggun duduk di kursi roda. Ia bahkan sempat berharap bahwa penglihatannya keliru, bahwa ada penjelasan lain yang lebih baik daripada kenyataan yang harus ia terima.Namun, setelah mendengar cerita Anggun tentang kecelakaan yang menimpanya setahun lalu, hati Vino seolah diremas kuat-kuat.Selama ini, ia sibuk mengejar karier, berusaha mengumpulkan uang, dan mempersiapkan masa depannya bersama Bita. Sementara itu, sesuatu yang begitu besar telah terjadi pada perempuan yang selama ini sudah ia anggap seperti ibu sendiri.Dan ia bahkan tidak mengetahuinya.“Vin, ayo, Nak. Bangun dulu.” Anggun mengusap kepala Vino perla
Bita baru bisa menyelesaikan pekerjaannya setelah jam pulang kantor lewat cukup lama. Beberapa kali ia harus memeriksa ulang laporan auditnya, memastikan tidak ada lagi angka yang keliru sebelum akhirnya diizinkan pulang.Meski begitu, ia sama sekali tidak merasa kesal karena harus lembur.Sepanjang perjalanan pulang dengan ojek, Bita justru sibuk membayangkan kemungkinan bertemu Vino lagi.Siapa tahu mereka berpapasan di lobi. Atau bertemu lagi di lift seperti tadi pagi. Bita bahkan membayangkan Vino keluar dari apartemennya tepat saat ia tiba, lalu mereka saling bertatapan sebelum laki-laki itu kembali tersenyum dan tertawa kecil dengan ekspresi manisnya yang sukses membuat jantung Bita berdebar tak karuan.Membayangkannya saja sudah cukup membuat Bita tersenyum lebar. Bahkan, ia sampai terkikik sendiri di atas motor, membuat pengemudi ojek sempat meliriknya lewat kaca spion.Namun, tawanya perlahan berhenti ketika motor itu akhirnya ti
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be







