Home / Romansa / Binar / Ch3 | Rumah Kedua

Share

Ch3 | Rumah Kedua

last update publish date: 2026-06-23 05:11:33

Motor belok kanan di persimpangan yang sudah hafal sendiri.

Aku tidak langsung pulang.

Sebenarnya tidak ada rencana ke sini. Tapi tangan ini seperti punya memori sendiri ketika pikiran sedang penuh dan badan sudah lelah, jari-jari yang menggenggam setang otomatis memilih jalan ini. Jalan yang lebih sempit, lebih teduh, dengan pohon mangga tua di ujungnya yang sudah tidak pernah berbuah tapi tidak pernah ditebang juga.

Rumah Milo.

Aku memarkir motor di depan pagar yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat sudah mengelupas sejak dulu, dan tidak ada yang pernah repot-repot mengecat ulang. Ada sandal jepit biru tua di depan pintu. Berarti Milo ada.

Aku tidak mengetuk. Tidak perlu.

"Wan?"

Suaranya terdengar dari dalam, dari arah dapur, diiringi bunyi sendok yang beradu dengan gelas.

"Iya."

Beberapa detik kemudian Milo muncul di ambang pintu, kaus oblong abu-abu yang sudah kebesaran, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur padahal sudah hampir sore. Di tangannya ada dua cangkir kopi.

Ia menyodorkan satu ke arahku tanpa bertanya.

"Tadi gua bikin dua. Gatau kenapa." Ia mengangkat bahu. "Kayaknya udah tahu lu bakal mampir."

Aku meraih cangkir itu.

* Rumah kedua * pikirku. * Selalu terasa seperti rumah kedua. *

Kami duduk di teras belakang.

Tempat favorit kami sejak SMP, dua kursi plastik hijau yang sudah retak di bagian sambungannya, meja kecil dari kayu yang permukaannya penuh bekas gelas dan bekas tulisan yang tidak jelas asalnya, asbak kaleng yang tidak pernah benar-benar bersih. Di atas kami, langit sore mulai berwarna oranye di ujung-ujungnya. Rumahnya sedikit mewah, dan juga jarak rumah kami hanya beberapa ratus meter saja.

Milo menyalakan rokok. Mengembuskan asap ke udara.

Aku menyeruput kopi. Lalu menyalakan rokok juga seperti Milo.

Tidak ada yang bicara dulu. Tidak perlu. Ini bagian yang aku suka dari berteman dengan Milo sejak kecil, keheningan di antara kami tidak pernah terasa seperti sesuatu yang harus segera diisi. Kami sudah terlalu lama kenal untuk merasa canggung dengan diam.

"Outbound tadi gimana?" Milo akhirnya bertanya, matanya menatap langit.

"Lumayan."

"Lumayan seneng apa lumayan biasa?"

Aku berpikir sebentar. "Lumayan seneng. Lebih dari yang ada di ekspektasi gua."

Milo melirikku. "Wah. Tumben lu bisa exited di lingkungan baru?"

"Lebay lu."

"Kagak lebay. Lu tu orangnya susah seneng Wan. Kalau lu bilang lumayan, artinya orang lain bilang seru banget." Ia mengetuk abu rokoknya ke tepi asbak, diikuti jariku yang juga mengetuk abu rokokku ke asbak seperti milo. "Jadi cerita. Udah lama kagak denger update kehidupan sosial mu yang isinya satu paragraf."

Aku tertawa pelan.

Dan dari sana aku cerita. Tentang kelompok tujuh yang gagal tiga kali di permainan bola. Tentang Rafi yang paling keras suaranya. Tentang estafet air yang membuat semua orang basah tapi entah kenapa malah jadi lucu. Tentang Sinta yang diam tapi matanya jeli.

Milo mendengarkan sambil merokok. Sesekali mengangguk. Sesekali tertawa kecil di bagian yang memang lucu.

"Lu ikutan basah juga?"

"Dikit."

"Dikit tu artinya setengah badan," kata Milo yakin.

"Lengan kiri doang."

"Hah." Ia terkekeh. "Tetep aja kena."

Aku tidak membantah. Karena memang benar.

"Lu sendiri gimana?" tanyaku setelah jeda. "Kerjaannya?"

Milo menghembuskan asap panjang. "Jalan. Lumayan."

"Lumayan versi lu atau lumayan versi gua?"

Ia tertawa. "Versi tengah-tengah. Proyek bulan ini agak padat, tapi nggak sampai gila-gilaan. Masih bisa tidur jam sebelas, itu udah syukur."

"Masih di tempat yang sama?"

"Iya. Mungkin sampai akhir tahun dulu, lihat situasi." Ia membuang puntung rokoknya, langsung menyalakan yang baru, begitu juga denganku, entah kenapa semua gerakan kita seperti sudah mempunyai chemistry. "Nggak semua orang bisa langsung lompat-lompat tempat kerja kayak kelihatannya enak di film."

"Bener juga."

Hening sebentar. Angin sore lewat, menggerakkan daun mangga tua di pojok pagar.

"Eh," Milo tiba-tiba bersuara lagi, nadanya sedikit berbeda lebih pelan, agak males. "Gua mau cerita satu hal tapi lu jangan ketawa dulu."

"Oke."

"Cewek gua lagi rewel banget seminggu ini."

Aku menunggu lanjutannya.

"Gara-gara gua lupa balas chat-nya selama empat jam karena lagi meeting. Empat jam, Wan. Bukan empat hari. Empat jam."

Aku tidak langsung merespons.

"Lu nggak ketawa," kata Milo, sedikit heran.

"Lu tadi bilang jangan ketawa."

"Iya tapi biasanya lu tetep ketawa."

"..." Aku menyeruput kopi. "Empat jam itu emang lama sih."

Milo melotot. "Et, kok lu malah pembelaan sama dia?"

"Bukanya pembelaan. Gua cuma bilang, dari sudut pandang dia, empat jam tanpa kabar itu bisa bikin overthinking. Tergantung orangnya."

Milo diam sebentar. Menatap langit.

"...Mungkin." Ia menggumam. "Tapi tetep aja bikin pusing."

"Namanya juga sayang." Aku mengangkat bahu. "Kalau nggak sayang, nggak mungkin dia repot-repot rewel."

Milo melirikku dengan ekspresi yang susah dibaca. Lalu tiba-tiba ia tertawa, bukan tawa kecil, tapi tawa yang agak keras sampai bahunya ikut bergerak.

"Wan, Wan. Lu ngomong soal perasaan orang dengan tenangnya kayak lagi baca buku teks."

"Emang salah?"

"Kagak salah. Cuma aneh. Karena lu sendiri..." Ia berhenti, senyumnya melebar ke arah yang tidak aku suka. "Lu sendiri jangankan punya cewek. Pacaran aja terakhir pas kita SMP"

Aku tidak menjawab.

"Wan."

"Apa."

"Lu udah semester berapa?"

"Satu."

"Dan sebelum kuliah, lu SMA berapa tahun?"

"Tiga."

"Dan selama tiga tahun SMA plus sekarang semester satu, lu nggak pernah sekalipun ..."

"Gua ngerti ke mana arahnya."

"Bagus. Berarti lu juga ngerti kalau ini saatnya." Milo mengetuk meja kecil di antara kami dengan satu jari. "Introvert bukan alasan, Wan. Introvert itu cara lu ngisi energi, bukan cara lu menjalani hidup sendirian sampai tua."

Aku menatap cangkir kopi di tanganku.

Dia tidak salah, pikirku. Menyebalkan, tapi tidak salah.

Aku tidak langsung menjawab.

Milo tidak mendorong. Ia tahu cara menunggu salah satu dari sedikit hal yang ia pelajari lebih cepat dariku.

Angin lewat lagi. Daun bergerak. Dari dalam rumah, terdengar suara kulkas yang berdengung pelan.

"Ada satu orang," aku akhirnya berkata.

Milo tidak bergerak. Tidak langsung bereaksi. Ia hanya menyeruput kopinya pelan, seolah tidak ingin menakut-nakuti momen ini dengan respons yang terlalu besar.

"Siapa?"

"Namanya Melva. Satu prodi."

"Kenal dari kapan?"

"Kemarin malam. Dm duluan nanya jadwal ospek."

Milo mengangguk pelan. "Dan?"

"Dan tadi kami ketemu di outbound. Sebentar. Dia kasih gua air mineral waktu istirahat. Terus pergi."

Hening.

Lalu Milo berkata, "Itu doang?"

"Itu doang."

"Dan lu sebut dia ke gua karena...?"

Aku tidak menjawab langsung. Menyeruput sisa kopi yang sudah mulai dingin.

"Karena tadi di jalan pulang gua kepikiran kenapa gua nggak bisa ngomong apa-apa waktu dia nyapa."

Milo menatapku. Lama. Lalu senyumnya naik perlahan bukan senyum mengejek, tapi senyum dari seseorang yang sudah kenal sahabatnya cukup lama untuk tahu bahwa ini bukan hal kecil.

"Wan."

"Jangan lebay."

"Gua nggak lebay." Ia mematikan rokoknya. "Gua cuma mau bilang ini bagus. Ini langkah yang bagus."

"Ini bukan langkah. Gua cuma cerita."

"Cerita ke gua soal cewek itu udah langkah, Wan. Lu nggak pernah cerita soal cewek ke aku sebelumnya, sewaktu SMA lu paling banter cerita soal kucing tetangga yang lucu."

"Kucingnya emang lucu."

"Itu bukan poinnya!" Milo tertawa. "Poinnya adalah ini pertama kalinya lu nyebut nama seseorang dengan nada yang beda."

Aku ingin membantah. Tapi aku tidak yakin bantahanku akan terdengar meyakinkan.

"Deketin aja," kata Milo akhirnya, nadanya lebih serius dari sebelumnya. "Nggak usah langsung nembak. Nggak usah bikin drama. Cukup deketin. Ngobrol. Jadi ada dulu di hidupnya."

"Semudah itu?"

"Nggak ada yang mudah. Tapi juga nggak ada yang harus serumit yang lu pikir." Ia menatapku langsung. "Lu orangnya pendengar yang bagus, lu nggak pernah bikin orang nggak nyaman, dan kalau elu udah cocok sama seseorang, obrolan kalian itu bisa panjang banget. Itu modal, Wan. Itu modal yang banyak orang nggak punya."

Aku diam.

* Modal *, pikirku. * Milo selalu punya cara untuk membingkai sesuatu yang aku anggap biasa menjadi terdengar seperti kelebihan. *

"Kalau dia nggak mau gimana."

"Kalau dia nggak mau, ya lu tetep punya teman baru. Dan lu tetep punya gua." Milo mengangkat cangkirnya seolah bersulang. "Tapi coba dulu sebelum nyerah. Deal?"

Aku menatap cangkir kopinya yang sudah hampir kosong.

"Deal."

Suara pintu depan terbuka sekitar pukul setengah tujuh.

"Milo, Mama pulang, kamu sudah ma—" Suara itu berhenti. Lalu, dengan nada yang langsung berubah hangat, "Eh, Awan! Kapan datang?"

Tante Rina, mamanya Milo berdiri di ambang pintu teras belakang dengan tas belanja di satu tangan dan sandal yang masih belum dilepas. Rambutnya ditata rapi seperti biasa, tapi ada beberapa helai yang lepas di sisi kanan, tanda hari yang cukup panjang.

"Tadi sore, Tante. Mampir sebentar."

"Sebentar dari tadi sore sampai hampir malam itu namanya sebentar?" Ia tertawa, meletakkan tas belanjaannya di meja. "Sudah makan belum?"

"Belum, Tan."

"Ya sudah, makan di sini. Tante masak tadi pagi, tinggal panaskan." Ia sudah bergerak ke dapur sebelum aku sempat menjawab.

Milo melirikku dengan wajah lihat-kan-aku-bilang-apa.

"Lu emang nggak bisa nolak Mama," bisiknya.

"Nggak ada yang bisa nolak nyokap lu."

Dari dapur, terdengar suara kompor dinyalakan dan bunyi wajan. Lalu suara Tante Rina berteriak, "Milo, tolong ambilkan piring tiga!"

"Tiga kenapa?" Milo balik teriak.

"Kan ada Awan!"

"Itu dua, Ma, bukan tiga!"

Hening sebentar.

"Oh iya. Dua! Dua piring!"

Milo menggeleng pelan sambil berdiri mengambil piring. Aku mengikutinya masuk, dan untuk beberapa menit setelah itu dapur kecil minimalis itu penuh dengan suara tiga orang yang bergerak di ruang yang tidak terlalu besar, Tante Rina memindahkan masakan, Milo mengambil sendok garpu, aku membawakan gelas tanpa ada yang merasa perlu menjelaskan peran masing-masing.

Sudah terlalu sering. Semuanya sudah hafal.

Makan malam berlangsung di meja dapur yang kecil.

Menu malam ini sederhana ' ayam kecap, tumis kangkung, dan tempe goreng yang sedikit gosong di bagian pinggirnya '. Tante Rina langsung minta maaf soal tempenya begitu makanan tersaji. Milo bilang yang gosong justru paling enak. Aku setuju, dan itu bukan basa-basi.

"Erni gimana kabarnya?" tanya Tante Rina di sela suapan, nadanya penuh perhatian yang tulus.

"Baik, Tante. Mamah masih sering nanya soal Tante juga."

"Aduh, lama banget nggak ketemu Erni. Terakhir ketemu waktu kondangan-nya Bu Sari ya, itu sudah berapa hari lalu?"

"Empat hari kayaknya, Tan, dan itu tu nggak lama."

"Empat hari!" Tante Rina menggeleng-geleng. "Padahal rumahnya cuma beda komplek. Kalau kalian berdua nggak kesini-sini, kita juga nggak kepikiran jalan ke sana." Ia menunjuk aku dan Milo bergantian dengan sendoknya. "Ini salah kalian berdua juga."

"Mama yang nggak pernah W******p duluan," kata Milo santai.

"Kata siapa kita nggak pernah W******p an?"

"Serah Mama deh."

"Milo."

"Iya, Mah."

Tante Rina mengembuskan napas panjang, lalu meraih ponselnya dari saku baju. "Yaudah, sekarang Tante telepon sekalian. Sudah lama banget."

"Tante, kita lagi makan—"

"Sambil makan juga bisa." Jarinya sudah mencari nama di kontak.

Aku dan Milo bertukar pandang. Tidak ada yang berkomentar lagi.

Beberapa detik kemudian, layar ponsel Tante Rina menyala dengan nama yang aku hafal sejak kecil.

Video call tersambung.

Wajah ibuku muncul di layar rambut yang sedikit berantakan, baju rumah, latar belakang ruang keluarga yang aku kenali sampai ke detail gantungan kunci di sudutnya. Ekspresinya terkejut sebentar, lalu langsung berubah jadi senyum lebar ketika menyadari siapa yang memanggil.

"Rina!"

"Erni! Eh, kamu cantik banget kelihatannya, lagi perawatan apa?"

"Apanya yang cantik, ini muka habis masak!"

"Tetap cantik!" Tante Rina tertawa. "Eh, ini lihat siapa yang ada di sini." Ia memutar kamera ke arahku.

Ibuku di layar langsung bereaksi. "Kakak! Kamu di sana? Nggak bilang-bilang!"

"Mampir bentar, Mah."

"Bentar dari jam berapa?" Suara ibuku terdengar seperti sedang menahan tawa. "Sudah makan?"

"Lagi makan ini, Mah."

"Oh syukurlah. Mama tadi nunggu kamu pulang untuk makan bareng."

Aduh.

"Maaf, Mah. Tadi nggak kepikiran."

"Ya sudah, nggak papa." Ibuku melambaikan tangan. "Makan yang banyak di sana. Masakan Rina pasti enak."

"Aduh Erni, nggak usah sanjung," kata Tante Rina, tapi wajahnya jelas senang. "Eh, kamu kapan ke sini? Sudah lama banget. Terakhir kita ketemu kan udah empat hari yang lalu."

"Iya nih, kita harus ketemu lah. Minggu depan gimana?"

"Bisa! Sini main ke sini aja, nanti Rina masak."

"Jangan masak, nanti kamu repot. Kita makan di luar aja."

"Nggak repot! Seneng malah."

"Ya sudah terserah kamu lah, Rin."

Keduanya tertawa. Tawa yang tidak perlu alasan kuat untuk muncul tawa orang-orang yang sudah cukup lama berteman untuk tahu bahwa percakapan singkat pun bisa terasa seperti menghangatkan sesuatu yang selama ini hanya menunggu untuk dinyalakan lagi.

Di sebelahku, Milo makan dengan tenang, sesekali menimpali percakapan dua ibu itu dengan komentar singkat yang langsung disambut tawa dari keduanya.

Aku makan perlahan.

Memperhatikan.

Ada sesuatu yang terasa penuh di ruangan kecil ini malam ini, bukan karena makanannya, bukan karena obrolannya, tapi karena ada jenis kehangatan yang tidak perlu diciptakan karena ia memang selalu ada. Menunggu. Seperti kompor yang sudah mati tapi burnernya masih hangat.

Aku tidak salah mampir ke sini, pikirku.

Tidak pernah salah.

Aku pamit sekitar pukul delapan malam.

Tante Rina membekali dengan sepiring tempe goreng sisa yang dibungkus kertas minyak "Buat ibumu, bilang salam dari Tante" dan pesan agar aku lebih sering mampir tanpa harus menunggu ada alasan.

Milo mengantarku sampai ke depan pagar.

"Pulang hati-hati."

"Iya." Aku memakai helm. "Mil, soal yang tadi—"

"Si Melva?"

"Gua belum janji apa-apa ya."

Milo tertawa kecil. "Gua tahu. Tapi lu udah cerita. Itu udah cukup untuk sekarang."

Aku tidak menjawab. Menghidupkan mesin motor.

"Wan."

"Apa."

"Besok masih ada ospek?"

"Masih."

"Kalau ketemu dia lagi," kata Milo, nadanya ringan, "nggak perlu ngomong panjang. Cukup balas senyumnya."

Aku menoleh. "Sesimpel itu?"

"Sesimpel itu." Ia memasukkan tangan ke saku. "Sisanya nanti ngikut sendiri."

Motor melaju meninggalkan rumah itu.

Langit sudah gelap sepenuhnya. Lampu jalan menyala oranye di sepanjang jalan kompleks. Angin malam sedikit lebih dingin dari sore tadi, masuk dari celah-celah helm dan menerpa kerah bajuku.

Di tangan kiri, tergantung bungkusan tempe dari Tante Rina.

Di kepala, masih ada percakapan tadi dengan Milo, Tante Rina, ibuku yang tertawa di layar ponsel, dua cangkir kopi di teras belakang, dan satu nama yang aku sebut untuk pertama kalinya kepada orang lain.

Cukup balas senyumnya, kata Milo.

Aku tidak tahu apakah itu semudah kedengarannya.

Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku merasa seperti mau mencoba.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Binar   Ch 4 | Malam yang Tidak Perlu Banyak Kata

    Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung

  • Binar   Ch3 | Rumah Kedua

    Motor belok kanan di persimpangan yang sudah hafal sendiri.Aku tidak langsung pulang.Sebenarnya tidak ada rencana ke sini. Tapi tangan ini seperti punya memori sendiri ketika pikiran sedang penuh dan badan sudah lelah, jari-jari yang menggenggam setang otomatis memilih jalan ini. Jalan yang lebih sempit, lebih teduh, dengan pohon mangga tua di ujungnya yang sudah tidak pernah berbuah tapi tidak pernah ditebang juga.Rumah Milo.Aku memarkir motor di depan pagar yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat sudah mengelupas sejak dulu, dan tidak ada yang pernah repot-repot mengecat ulang. Ada sandal jepit biru tua di depan pintu. Berarti Milo ada.Aku tidak mengetuk. Tidak perlu."Wan?"Suaranya terdengar dari dalam, dari arah dapur, diiringi bunyi sendok yang beradu dengan gelas."Iya."Beberapa detik kemudian Milo muncul di ambang pintu, kaus oblong abu-abu yang sudah kebesaran, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur padahal sudah hampir sore. Di tangannya ada dua cangkir

  • Binar   Ch 2 | Tadi kenapa diem aja?

    Motor melaju pelan meninggalkan kompleks perumahan.Aku menyetel helm dengan satu tangan, mataku menyapu jalan yang masih sepi pagi-pagi begini. Baru setengah tujuh. Matahari belum terlalu tinggi, tapi udaranya sudah cukup hangat untuk membuat kerah bajuku terasa sedikit gerah.Aku tidak terburu-buru, Tapi juga tidak bisa diam.Semalam, setelah meletakkan ponsel dan memejamkan mata, ku pikir otakku akan langsung beristirahat. Tapi ternyata tidak. Pikiranku malah memilih untuk replay percakapan tadi malam, pesan demi pesan, seperti seseorang yang menonton ulang film yang baru saja ku tonton setengahnya.* Ngapain sih. * ucapku sembari menggeleng pelan di balik helm.Bukan apa-apa. Aku hanya menemukan seseorang yang nyambung diajak ngobrol. Itu saja yang terpikir olehku. Di kampus baru, di hari pertama yang panjang dan melelahkan, menemukan orang yang bisa diajak bicara tanpa harus menjelaskan diri sendiri terlalu banyak itu terasa... melegakan. Sesederhana itu.Melva suka film, begitu

  • Binar   Ch 1 | Namanya Melva

    Malam itu aku merebahkan tubuh di atas kasur.Hari pertama ospek akhirnya selesai."Melelahkan."Aku menghela napas panjang, memandangi langit-langit kamar yang diam. Tidak ada yang menarik di sana hanya cat putih yang mulai kusam di sudut-sudutnya, dan seekor cicak kecil yang dari tadi tidak bergerak di dekat lampu. Dari luar kamar, sayup-sayup terdengar suara televisi yang masih menyala di ruang keluarga.Ibu pasti belum tidur.Hari ini, ospek dijalani sepenuhnya lewat Zoom.Delapan jam penuh menatap layar laptop, mendengarkan suara-suara yang kadang terputus di tengah kalimat, melihat wajah-wajah kecil dalam kotak-kotak persegi yang berjajar rapi, tapi tetap saja terasa jauh. Ini tahun ketiga sejak pandemi melanda. Pemerintah masih mewajibkan masker untuk kegiatan di luar rumah, dan kampus memilih jalan aman: semua sesi hari ini dipindahkan ke dunia maya.Bukan hal yang asing bagiku. Selama tiga tahun terakhir, layar sudah menjadi jendela utamaku ke mana-mana. Tapi tetap saja, dela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status