LOGINMotor belok kanan di persimpangan yang sudah hafal sendiri.
Aku tidak langsung pulang. Sebenarnya tidak ada rencana ke sini. Tapi tangan ini seperti punya memori sendiri ketika pikiran sedang penuh dan badan sudah lelah, jari-jari yang menggenggam setang otomatis memilih jalan ini. Jalan yang lebih sempit, lebih teduh, dengan pohon mangga tua di ujungnya yang sudah tidak pernah berbuah tapi tidak pernah ditebang juga. Rumah Milo. Aku memarkir motor di depan pagar yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat sudah mengelupas sejak dulu, dan tidak ada yang pernah repot-repot mengecat ulang. Ada sandal jepit biru tua di depan pintu. Berarti Milo ada. Aku tidak mengetuk. Tidak perlu. "Wan?" Suaranya terdengar dari dalam, dari arah dapur, diiringi bunyi sendok yang beradu dengan gelas. "Iya." Beberapa detik kemudian Milo muncul di ambang pintu, kaus oblong abu-abu yang sudah kebesaran, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur padahal sudah hampir sore. Di tangannya ada dua cangkir kopi. Ia menyodorkan satu ke arahku tanpa bertanya. "Tadi gua bikin dua. Gatau kenapa." Ia mengangkat bahu. "Kayaknya udah tahu lu bakal mampir." Aku meraih cangkir itu. * Rumah kedua * pikirku. * Selalu terasa seperti rumah kedua. * Kami duduk di teras belakang. Tempat favorit kami sejak SMP, dua kursi plastik hijau yang sudah retak di bagian sambungannya, meja kecil dari kayu yang permukaannya penuh bekas gelas dan bekas tulisan yang tidak jelas asalnya, asbak kaleng yang tidak pernah benar-benar bersih. Di atas kami, langit sore mulai berwarna oranye di ujung-ujungnya. Rumahnya sedikit mewah, dan juga jarak rumah kami hanya beberapa ratus meter saja. Milo menyalakan rokok. Mengembuskan asap ke udara. Aku menyeruput kopi. Lalu menyalakan rokok juga seperti Milo. Tidak ada yang bicara dulu. Tidak perlu. Ini bagian yang aku suka dari berteman dengan Milo sejak kecil, keheningan di antara kami tidak pernah terasa seperti sesuatu yang harus segera diisi. Kami sudah terlalu lama kenal untuk merasa canggung dengan diam. "Outbound tadi gimana?" Milo akhirnya bertanya, matanya menatap langit. "Lumayan." "Lumayan seneng apa lumayan biasa?" Aku berpikir sebentar. "Lumayan seneng. Lebih dari yang ada di ekspektasi gua." Milo melirikku. "Wah. Tumben lu bisa exited di lingkungan baru?" "Lebay lu." "Kagak lebay. Lu tu orangnya susah seneng Wan. Kalau lu bilang lumayan, artinya orang lain bilang seru banget." Ia mengetuk abu rokoknya ke tepi asbak, diikuti jariku yang juga mengetuk abu rokokku ke asbak seperti milo. "Jadi cerita. Udah lama kagak denger update kehidupan sosial mu yang isinya satu paragraf." Aku tertawa pelan. Dan dari sana aku cerita. Tentang kelompok tujuh yang gagal tiga kali di permainan bola. Tentang Rafi yang paling keras suaranya. Tentang estafet air yang membuat semua orang basah tapi entah kenapa malah jadi lucu. Tentang Sinta yang diam tapi matanya jeli. Milo mendengarkan sambil merokok. Sesekali mengangguk. Sesekali tertawa kecil di bagian yang memang lucu. "Lu ikutan basah juga?" "Dikit." "Dikit tu artinya setengah badan," kata Milo yakin. "Lengan kiri doang." "Hah." Ia terkekeh. "Tetep aja kena." Aku tidak membantah. Karena memang benar. "Lu sendiri gimana?" tanyaku setelah jeda. "Kerjaannya?" Milo menghembuskan asap panjang. "Jalan. Lumayan." "Lumayan versi lu atau lumayan versi gua?" Ia tertawa. "Versi tengah-tengah. Proyek bulan ini agak padat, tapi nggak sampai gila-gilaan. Masih bisa tidur jam sebelas, itu udah syukur." "Masih di tempat yang sama?" "Iya. Mungkin sampai akhir tahun dulu, lihat situasi." Ia membuang puntung rokoknya, langsung menyalakan yang baru, begitu juga denganku, entah kenapa semua gerakan kita seperti sudah mempunyai chemistry. "Nggak semua orang bisa langsung lompat-lompat tempat kerja kayak kelihatannya enak di film." "Bener juga." Hening sebentar. Angin sore lewat, menggerakkan daun mangga tua di pojok pagar. "Eh," Milo tiba-tiba bersuara lagi, nadanya sedikit berbeda lebih pelan, agak males. "Gua mau cerita satu hal tapi lu jangan ketawa dulu." "Oke." "Cewek gua lagi rewel banget seminggu ini." Aku menunggu lanjutannya. "Gara-gara gua lupa balas chat-nya selama empat jam karena lagi meeting. Empat jam, Wan. Bukan empat hari. Empat jam." Aku tidak langsung merespons. "Lu nggak ketawa," kata Milo, sedikit heran. "Lu tadi bilang jangan ketawa." "Iya tapi biasanya lu tetep ketawa." "..." Aku menyeruput kopi. "Empat jam itu emang lama sih." Milo melotot. "Et, kok lu malah pembelaan sama dia?" "Bukanya pembelaan. Gua cuma bilang, dari sudut pandang dia, empat jam tanpa kabar itu bisa bikin overthinking. Tergantung orangnya." Milo diam sebentar. Menatap langit. "...Mungkin." Ia menggumam. "Tapi tetep aja bikin pusing." "Namanya juga sayang." Aku mengangkat bahu. "Kalau nggak sayang, nggak mungkin dia repot-repot rewel." Milo melirikku dengan ekspresi yang susah dibaca. Lalu tiba-tiba ia tertawa, bukan tawa kecil, tapi tawa yang agak keras sampai bahunya ikut bergerak. "Wan, Wan. Lu ngomong soal perasaan orang dengan tenangnya kayak lagi baca buku teks." "Emang salah?" "Kagak salah. Cuma aneh. Karena lu sendiri..." Ia berhenti, senyumnya melebar ke arah yang tidak aku suka. "Lu sendiri jangankan punya cewek. Pacaran aja terakhir pas kita SMP" Aku tidak menjawab. "Wan." "Apa." "Lu udah semester berapa?" "Satu." "Dan sebelum kuliah, lu SMA berapa tahun?" "Tiga." "Dan selama tiga tahun SMA plus sekarang semester satu, lu nggak pernah sekalipun ..." "Gua ngerti ke mana arahnya." "Bagus. Berarti lu juga ngerti kalau ini saatnya." Milo mengetuk meja kecil di antara kami dengan satu jari. "Introvert bukan alasan, Wan. Introvert itu cara lu ngisi energi, bukan cara lu menjalani hidup sendirian sampai tua." Aku menatap cangkir kopi di tanganku. Dia tidak salah, pikirku. Menyebalkan, tapi tidak salah. Aku tidak langsung menjawab. Milo tidak mendorong. Ia tahu cara menunggu salah satu dari sedikit hal yang ia pelajari lebih cepat dariku. Angin lewat lagi. Daun bergerak. Dari dalam rumah, terdengar suara kulkas yang berdengung pelan. "Ada satu orang," aku akhirnya berkata. Milo tidak bergerak. Tidak langsung bereaksi. Ia hanya menyeruput kopinya pelan, seolah tidak ingin menakut-nakuti momen ini dengan respons yang terlalu besar. "Siapa?" "Namanya Melva. Satu prodi." "Kenal dari kapan?" "Kemarin malam. Dm duluan nanya jadwal ospek." Milo mengangguk pelan. "Dan?" "Dan tadi kami ketemu di outbound. Sebentar. Dia kasih gua air mineral waktu istirahat. Terus pergi." Hening. Lalu Milo berkata, "Itu doang?" "Itu doang." "Dan lu sebut dia ke gua karena...?" Aku tidak menjawab langsung. Menyeruput sisa kopi yang sudah mulai dingin. "Karena tadi di jalan pulang gua kepikiran kenapa gua nggak bisa ngomong apa-apa waktu dia nyapa." Milo menatapku. Lama. Lalu senyumnya naik perlahan bukan senyum mengejek, tapi senyum dari seseorang yang sudah kenal sahabatnya cukup lama untuk tahu bahwa ini bukan hal kecil. "Wan." "Jangan lebay." "Gua nggak lebay." Ia mematikan rokoknya. "Gua cuma mau bilang ini bagus. Ini langkah yang bagus." "Ini bukan langkah. Gua cuma cerita." "Cerita ke gua soal cewek itu udah langkah, Wan. Lu nggak pernah cerita soal cewek ke aku sebelumnya, sewaktu SMA lu paling banter cerita soal kucing tetangga yang lucu." "Kucingnya emang lucu." "Itu bukan poinnya!" Milo tertawa. "Poinnya adalah ini pertama kalinya lu nyebut nama seseorang dengan nada yang beda." Aku ingin membantah. Tapi aku tidak yakin bantahanku akan terdengar meyakinkan. "Deketin aja," kata Milo akhirnya, nadanya lebih serius dari sebelumnya. "Nggak usah langsung nembak. Nggak usah bikin drama. Cukup deketin. Ngobrol. Jadi ada dulu di hidupnya." "Semudah itu?" "Nggak ada yang mudah. Tapi juga nggak ada yang harus serumit yang lu pikir." Ia menatapku langsung. "Lu orangnya pendengar yang bagus, lu nggak pernah bikin orang nggak nyaman, dan kalau elu udah cocok sama seseorang, obrolan kalian itu bisa panjang banget. Itu modal, Wan. Itu modal yang banyak orang nggak punya." Aku diam. * Modal *, pikirku. * Milo selalu punya cara untuk membingkai sesuatu yang aku anggap biasa menjadi terdengar seperti kelebihan. * "Kalau dia nggak mau gimana." "Kalau dia nggak mau, ya lu tetep punya teman baru. Dan lu tetep punya gua." Milo mengangkat cangkirnya seolah bersulang. "Tapi coba dulu sebelum nyerah. Deal?" Aku menatap cangkir kopinya yang sudah hampir kosong. "Deal." Suara pintu depan terbuka sekitar pukul setengah tujuh. "Milo, Mama pulang, kamu sudah ma—" Suara itu berhenti. Lalu, dengan nada yang langsung berubah hangat, "Eh, Awan! Kapan datang?" Tante Rina, mamanya Milo berdiri di ambang pintu teras belakang dengan tas belanja di satu tangan dan sandal yang masih belum dilepas. Rambutnya ditata rapi seperti biasa, tapi ada beberapa helai yang lepas di sisi kanan, tanda hari yang cukup panjang. "Tadi sore, Tante. Mampir sebentar." "Sebentar dari tadi sore sampai hampir malam itu namanya sebentar?" Ia tertawa, meletakkan tas belanjaannya di meja. "Sudah makan belum?" "Belum, Tan." "Ya sudah, makan di sini. Tante masak tadi pagi, tinggal panaskan." Ia sudah bergerak ke dapur sebelum aku sempat menjawab. Milo melirikku dengan wajah lihat-kan-aku-bilang-apa. "Lu emang nggak bisa nolak Mama," bisiknya. "Nggak ada yang bisa nolak nyokap lu." Dari dapur, terdengar suara kompor dinyalakan dan bunyi wajan. Lalu suara Tante Rina berteriak, "Milo, tolong ambilkan piring tiga!" "Tiga kenapa?" Milo balik teriak. "Kan ada Awan!" "Itu dua, Ma, bukan tiga!" Hening sebentar. "Oh iya. Dua! Dua piring!" Milo menggeleng pelan sambil berdiri mengambil piring. Aku mengikutinya masuk, dan untuk beberapa menit setelah itu dapur kecil minimalis itu penuh dengan suara tiga orang yang bergerak di ruang yang tidak terlalu besar, Tante Rina memindahkan masakan, Milo mengambil sendok garpu, aku membawakan gelas tanpa ada yang merasa perlu menjelaskan peran masing-masing. Sudah terlalu sering. Semuanya sudah hafal. Makan malam berlangsung di meja dapur yang kecil. Menu malam ini sederhana ' ayam kecap, tumis kangkung, dan tempe goreng yang sedikit gosong di bagian pinggirnya '. Tante Rina langsung minta maaf soal tempenya begitu makanan tersaji. Milo bilang yang gosong justru paling enak. Aku setuju, dan itu bukan basa-basi. "Erni gimana kabarnya?" tanya Tante Rina di sela suapan, nadanya penuh perhatian yang tulus. "Baik, Tante. Mamah masih sering nanya soal Tante juga." "Aduh, lama banget nggak ketemu Erni. Terakhir ketemu waktu kondangan-nya Bu Sari ya, itu sudah berapa hari lalu?" "Empat hari kayaknya, Tan, dan itu tu nggak lama." "Empat hari!" Tante Rina menggeleng-geleng. "Padahal rumahnya cuma beda komplek. Kalau kalian berdua nggak kesini-sini, kita juga nggak kepikiran jalan ke sana." Ia menunjuk aku dan Milo bergantian dengan sendoknya. "Ini salah kalian berdua juga." "Mama yang nggak pernah W******p duluan," kata Milo santai. "Kata siapa kita nggak pernah W******p an?" "Serah Mama deh." "Milo." "Iya, Mah." Tante Rina mengembuskan napas panjang, lalu meraih ponselnya dari saku baju. "Yaudah, sekarang Tante telepon sekalian. Sudah lama banget." "Tante, kita lagi makan—" "Sambil makan juga bisa." Jarinya sudah mencari nama di kontak. Aku dan Milo bertukar pandang. Tidak ada yang berkomentar lagi. Beberapa detik kemudian, layar ponsel Tante Rina menyala dengan nama yang aku hafal sejak kecil. Video call tersambung. Wajah ibuku muncul di layar rambut yang sedikit berantakan, baju rumah, latar belakang ruang keluarga yang aku kenali sampai ke detail gantungan kunci di sudutnya. Ekspresinya terkejut sebentar, lalu langsung berubah jadi senyum lebar ketika menyadari siapa yang memanggil. "Rina!" "Erni! Eh, kamu cantik banget kelihatannya, lagi perawatan apa?" "Apanya yang cantik, ini muka habis masak!" "Tetap cantik!" Tante Rina tertawa. "Eh, ini lihat siapa yang ada di sini." Ia memutar kamera ke arahku. Ibuku di layar langsung bereaksi. "Kakak! Kamu di sana? Nggak bilang-bilang!" "Mampir bentar, Mah." "Bentar dari jam berapa?" Suara ibuku terdengar seperti sedang menahan tawa. "Sudah makan?" "Lagi makan ini, Mah." "Oh syukurlah. Mama tadi nunggu kamu pulang untuk makan bareng." Aduh. "Maaf, Mah. Tadi nggak kepikiran." "Ya sudah, nggak papa." Ibuku melambaikan tangan. "Makan yang banyak di sana. Masakan Rina pasti enak." "Aduh Erni, nggak usah sanjung," kata Tante Rina, tapi wajahnya jelas senang. "Eh, kamu kapan ke sini? Sudah lama banget. Terakhir kita ketemu kan udah empat hari yang lalu." "Iya nih, kita harus ketemu lah. Minggu depan gimana?" "Bisa! Sini main ke sini aja, nanti Rina masak." "Jangan masak, nanti kamu repot. Kita makan di luar aja." "Nggak repot! Seneng malah." "Ya sudah terserah kamu lah, Rin." Keduanya tertawa. Tawa yang tidak perlu alasan kuat untuk muncul tawa orang-orang yang sudah cukup lama berteman untuk tahu bahwa percakapan singkat pun bisa terasa seperti menghangatkan sesuatu yang selama ini hanya menunggu untuk dinyalakan lagi. Di sebelahku, Milo makan dengan tenang, sesekali menimpali percakapan dua ibu itu dengan komentar singkat yang langsung disambut tawa dari keduanya. Aku makan perlahan. Memperhatikan. Ada sesuatu yang terasa penuh di ruangan kecil ini malam ini, bukan karena makanannya, bukan karena obrolannya, tapi karena ada jenis kehangatan yang tidak perlu diciptakan karena ia memang selalu ada. Menunggu. Seperti kompor yang sudah mati tapi burnernya masih hangat. Aku tidak salah mampir ke sini, pikirku. Tidak pernah salah. Aku pamit sekitar pukul delapan malam. Tante Rina membekali dengan sepiring tempe goreng sisa yang dibungkus kertas minyak "Buat ibumu, bilang salam dari Tante" dan pesan agar aku lebih sering mampir tanpa harus menunggu ada alasan. Milo mengantarku sampai ke depan pagar. "Pulang hati-hati." "Iya." Aku memakai helm. "Mil, soal yang tadi—" "Si Melva?" "Gua belum janji apa-apa ya." Milo tertawa kecil. "Gua tahu. Tapi lu udah cerita. Itu udah cukup untuk sekarang." Aku tidak menjawab. Menghidupkan mesin motor. "Wan." "Apa." "Besok masih ada ospek?" "Masih." "Kalau ketemu dia lagi," kata Milo, nadanya ringan, "nggak perlu ngomong panjang. Cukup balas senyumnya." Aku menoleh. "Sesimpel itu?" "Sesimpel itu." Ia memasukkan tangan ke saku. "Sisanya nanti ngikut sendiri." Motor melaju meninggalkan rumah itu. Langit sudah gelap sepenuhnya. Lampu jalan menyala oranye di sepanjang jalan kompleks. Angin malam sedikit lebih dingin dari sore tadi, masuk dari celah-celah helm dan menerpa kerah bajuku. Di tangan kiri, tergantung bungkusan tempe dari Tante Rina. Di kepala, masih ada percakapan tadi dengan Milo, Tante Rina, ibuku yang tertawa di layar ponsel, dua cangkir kopi di teras belakang, dan satu nama yang aku sebut untuk pertama kalinya kepada orang lain. Cukup balas senyumnya, kata Milo. Aku tidak tahu apakah itu semudah kedengarannya. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku merasa seperti mau mencoba.Pukul dua siang, aku sudah berdiri di depan lemari lagi.Kemeja biru muda yang sama masih menempel di badan sejak pagi, tapi sekarang giliran bagian bawah yang harus menyusul. Kolor kotak-kotak sudah kulepas, digantikan celana panjang berwarna abu gelap yang kuseterika terburu-buru sepuluh menit lalu karena ternyata masih ada bekas lipatan yang membandel di bagian lutut. Aku menariknya, memasukkan ujung kemeja ke dalam dengan rapi, lalu berdiri sekali lagi di depan cermin.Kali ini dari atas sampai bawah semuanya cocok. Tidak ada yang perlu ditutupi meja.Zoom tidak melihat ke bawah meja, batinku, tapi tatap muka melihat semuanya. Jadi kali ini semuanya harus benar.Aku menyambar tas ransel yang sudah kusiapkan sejak makan siang, isi seadanya, laptop, buku catatan yang masih kosong halamannya kecuali beberapa poin yang kutulis waktu Zoom tadi pagi, dan botol minum yang belum sempat kuisi ulang. Kuisi cepat-cepat di dispenser dekat dapur, lalu berjalan keluar.Motor sudah menunggu di
Alarm berbunyi pukul enam pagi.Aku tidak langsung mematikannya. Membiarkannya berbunyi beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena mengantuk, tapi karena ada sesuatu yang ingin ditunda dari momen sebelum alarm dimatikan. Momen ketika hari belum benar-benar dimulai. Ketika semuanya masih mungkin dan belum ada yang bisa salah.Lalu kutap layarnya. Diam.Aku duduk di tepi kasur.Hari ini hari pertama kuliah.Kalimat itu sudah ada di kepala sejak semalam, sejak aku meletakkan ponsel dan memejamkan mata, sejak tidur yang tidak terlalu nyenyak karena pikiran terus berputar di frekuensi yang tidak bisa dimatikan. Bukan cemas atau mungkin iya, sedikit, tapi bukan jenis cemas yang melumpuhkan. Lebih ke jenis perasaan yang muncul sebelum sesuatu yang besar dan baru dimulai, yang membuat tidur terasa lebih dangkal dari biasanya dan membuat pagi datang lebih cepat dari yang seharusnya.Aku berdiri. Membuka lemari.Zoom pagi, tatap muka sore. Itu jadwal hari ini dua mode yang ber
Di pagi yang sama, di tempat yang berbeda. Kamar Melva lebih rapi dari yang bisa diduga dari seseorang yang baru saja bangun. Kasurnya sudah dirapikan, bukan rapi sempurna, tapi cukup rapi untuk menunjukkan bahwa ini bukan kebetulan, bahwa ada seseorang yang memang terbiasa merapikan tempat tidurnya sebelum melakukan hal lain. Buku-buku di rak tersusun tidak sepenuhnya lurus tapi tidak berantakan. Meja belajarnya bersih kecuali satu gelas yang setengah isinya sudah tinggal sisa air dari semalam. Melva berbaring di atas kasur dengan laptop terbuka di depannya. Bukan untuk belajar. Bukan untuk mengerjakan sesuatu yang produktif. Pagi Minggu tidak seharusnya diisi dengan hal-hal yang produktif, itu prinsip yang tidak pernah ia ucapkan dengan keras tapi selalu ia praktikkan. Jadi laptop terbuka, platform streaming sudah menyala, film yang sudah lama masuk daftar tonton akhirnya mulai diputar. Opening credit masih berjalan. Musik latar yang pelan. Nama-nama yang ia tidak kenal. D
Tidak ada alarm pagi ini. Hari Minggu. Hari di mana dunia tampaknya menyepakati secara kolektif bahwa tidak ada yang perlu terburu-buru. Aku membiarkan mataku terbuka dengan kecepatan mereka sendiri pelan, malas, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sudah masuk dari celah gorden yang tidak pernah benar-benar rapat. Aku berbaring diam sebentar, membiarkan kesadaran kembali pelan-pelan, seperti air yang mengisi bejana dari bawah. Langit-langit kamar. Kipas yang masih berputar. Suara sendok dari arah dapur. Ibu sudah bangun. Tentu saja sudah bangun. Ibu tidak pernah benar-benar tidur sampai siang bahkan di hari libur, ada saja yang dikerjakan, ada saja yang dibenahi, ada saja suara yang keluar dari dapur sebagai bukti bahwa hari ini sedang dimulai oleh setidaknya satu orang di rumah ini. Aku meraih ponsel di sisi kasur. Beberapa notifikasi dari semalam yang belum kubuka. Grup angkatan. Satu pesan dari Milo yang dikirim tengah malam isinya hanya meme yang tidak ada konteksnya, c
Satu notifikasi.Aku yang baru saja memejamkan mata membukanya kembali.Layar ponsel menyala di sisi kasur, cahayanya terlalu terang untuk ruangan yang sudah gelap ini. Aku meraihnya setengah sadar, setengah berharap itu hanya notifikasi grup angkatan yang tidak penting.Tapi bukan."Wan.."Dua kata. Bahkan bukan dua kata, satu kata dan dua titik yang menggantung, seperti kalimat yang belum selesai, seperti seseorang yang membuka mulut lalu ragu untuk melanjutkan.Aku duduk.Mataku yang tadi sudah hampir menyerah pada kantuk tiba-tiba tidak lagi mengantuk. Aku membaca pesannya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Bukan karena tidak mengerti isinya hanya dua karakter, tidak ada yang perlu diurai tapi karena ada sesuatu yang aneh dari cara dua titik kecil itu bisa membuat dadaku tidak bisa tenang.Apa maksudnya?Bisa apa saja. Bisa sapaan biasa. Bisa ia mau bertanya sesuatu. Bisa ia lagi iseng. Bisa ia tidak sengaja mengirim. Bisa...Sudah. Jangan dipikirkan terlalu dalam.Aku mengetik."Gima
Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung







