หน้าหลัก / Zaman Kuno / Bisikan Darah Beku / EPISODE 2 — Rumah yang Tak Pernah Hangat

แชร์

EPISODE 2 — Rumah yang Tak Pernah Hangat

ผู้เขียน: red carnation
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-14 00:14:24

Salju telah mencair.

Namun dingin itu tidak pergi.

Ia hanya berpindah—menyelinap masuk ke dinding rumah keluarga Lin, ke tatapan orang-orang di sekitarnya, ke cara mereka menyebut namanya seolah Lin Yuelian bukan bagian dari darah yang sama.

Pagi itu, langit cerah. Terlalu cerah, seakan badai semalam hanyalah mimpi buruk seorang gadis enam belas tahun.

Namun bekasnya masih ada.

Di sudut halaman dalam, rumput membeku sebagian. Daun bambu berkilau pucat seperti dilapisi embun es. Para pelayan berjalan dengan langkah hati-hati, wajah mereka tegang, suara mereka diturunkan setengah oktaf lebih pelan dari biasanya.

Tidak ada yang berani menyebut salju musim panas itu secara langsung.

Karena setiap kali nama itu hampir terucap, mata mereka—tanpa sadar—akan melirik ke satu arah.

Ke paviliun paling timur.

Tempat Lin Yuelian tinggal.

Di dalam paviliun itu, Yuelian duduk di depan meja kayu rendah, punggungnya tegak namun bahunya sedikit kaku. Di hadapannya, secangkir teh sudah dingin, uapnya lenyap bahkan sebelum sempat dihirup.

Tangannya bergetar halus.

Bukan karena dingin.

Melainkan karena sesuatu di dalam tubuhnya belum sepenuhnya tenang.

Semalam, setelah badai itu mereda, ia pingsan.

Ia tidak ingat bagaimana akhirnya bisa kembali ke kamarnya. Yang ia ingat hanyalah rasa dingin yang bukan dingin—lebih seperti air es yang mengalir di nadinya, memenuhi dada, menekan tulang rusuknya dari dalam.

Dan suara.

Bukan suara manusia.

Seperti gemerincing es yang retak perlahan.

“Tenang, tenang, Nona… jangan panik dulu.”

Suara itu datang dari belakangnya.

Lembut. Agak ceria. Sedikit terlalu santai untuk pagi seberat ini.

Yuelian menoleh.

Seorang wanita muda berdiri di dekat jendela, sedang menuangkan air panas ke kendi keramik. Rambutnya hitam kebiruan, panjang, diikat sederhana. Matanya berwarna biru tua—warna danau yang dalam, tenang, tapi menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.

Bai Shuqing.

Di mata dunia, ia hanyalah pelayan pribadi yang diwariskan dari mendiang ibu Yuelian. Setia, cekatan, sedikit aneh karena terlalu protektif.

Namun Yuelian tahu.

Ia bukan manusia.

“Shuqing,” suara Yuelian serak, “kenapa semua orang menatap paviliun ini seperti… seperti menunggu sesuatu meledak?”

Bai Shuqing menutup kendi, lalu berbalik sambil tersenyum kecil.

“Oh, itu?” katanya ringan. “Mungkin mereka takut Nona tiba-tiba bersin dan salju turun lagi.”

Yuelian terdiam.

“……”

“K-kau bercanda?” tanyanya ragu.

“Sedikit,” jawab Shuqing, lalu segera mengangkat tangan. “Sedikit saja. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat.”

Itu satu-satunya humor pagi itu. Tipis, nyaris tak terasa.

Shuqing mendekat, menaruh secangkir teh baru di depan Yuelian. “Minum. Aura dalam tubuhmu masih bergejolak.”

Yuelian menggenggam cangkir itu. Hangatnya terasa… aneh. Seolah panas itu tidak sepenuhnya sampai ke telapak tangannya.

“Shuqing,” bisiknya, “apa yang sebenarnya terjadi semalam?”

Siluman ikan biru itu tidak langsung menjawab.

Matanya melirik ke pintu. Ke jendela. Ke sudut ruangan.

Baru setelah yakin tidak ada siapa pun yang mengintip, ia berlutut di depan Yuelian, menurunkan suaranya.

“Segelmu,” katanya perlahan, “retak.”

Kata itu jatuh berat.

“Retak?” Yuelian menelan ludah. “Tapi… ibu bilang segel itu akan bertahan seumur hidup.”

“Segel itu dibuat untuk melindungimu,” jawab Shuqing. “Bukan untuk mengurung selamanya. Dan… kau sudah enam belas.”

Ada sesuatu di udara ketika angka itu diucapkan.

Enam belas.

Usia ketika darah Frostblood mulai berdenyut.

Sebelum Yuelian sempat bertanya lebih jauh, pintu paviliun terbuka tanpa diketuk.

Seorang pelayan perempuan masuk dengan langkah tergesa, wajahnya pucat.

“N-Nona Yuelian,” katanya gugup, “Madam Qiu memanggilmu ke aula utama. Sekarang.”

Shuqing berdiri lebih dulu. Senyumnya menghilang.

“Ada apa?”

Pelayan itu menggeleng cepat. “Saya… saya tidak tahu. Tapi Nona Qiuya juga ada di sana. Dan Tuan Besar sudah dipanggil.”

Yuelian merasakan perutnya menegang.

Aula utama.

Tempat di mana keputusan keluarga dibuat.

Dan jarang—sangat jarang—keputusan itu berpihak padanya.

Aula utama keluarga Lin pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Madam Qiu duduk di kursi utama, punggungnya lurus, jari-jarinya dihiasi cincin giok berkilau. Wajahnya tenang, terlalu tenang—seperti permukaan danau sebelum badai.

Di sisi kanannya, Lin Qiuya berdiri anggun, mengenakan gaun merah muda pucat. Senyumnya lembut, tapi matanya menyimpan kilau puas yang tidak berusaha ia sembunyikan.

Di sisi lain, ayah Yuelian—Lin Weishan—duduk dengan wajah lelah. Kerutan di dahinya lebih dalam dari biasanya.

Yuelian melangkah masuk.

Setiap langkahnya terasa berat.

Ia memberi hormat.

“Yuelian memberi salam.”

Madam Qiu mengangguk tipis. “Bangun.”

Nada suaranya datar.

“Yuelian,” lanjutnya, “kau tahu apa yang terjadi semalam?”

Yuelian mengangkat kepala. “Hujan salju… terjadi tiba-tiba.”

“Bukan hujan salju,” potong Qiuya lembut. “Itu pertanda.”

Yuelian menoleh ke kakak tirinya.

“Pertanda apa?” tanyanya.

Qiuya tersenyum. “Pertanda buruk.”

Ruangan itu seolah membeku.

Madam Qiu meletakkan cangkir tehnya. Tok.

“Salju turun di musim panas,” katanya pelan, “sejak zaman leluhur, itu selalu berarti satu hal.”

Ia menatap Yuelian lurus-lurus.

“Kutukan.”

Kata itu menggema.

“Sejak kau lahir,” lanjutnya, “keluarga ini tidak pernah benar-benar tenang. Ibuku—nenekmu—sakit-sakitan setelah kelahiranmu. Beberapa pelayan jatuh sakit. Dan sekarang ini.”

Lin Weishan menghela napas. “Qiu… cukup.”

Madam Qiu tidak menoleh. “Aku hanya menyebut fakta.”

Yuelian mengepalkan tangannya.

“Kalau aku bertanya,” katanya pelan tapi jelas, “Ibu Tiri yakin ini semua salahku?”

“Aku tidak bilang salahmu,” jawab Madam Qiu. “Aku bilang kehadiranmu… membawa malapetaka.”

Qiuya menunduk, berpura-pura sedih. “Adik, kami hanya khawatir. Demi keluarga.”

Kekhawatiran yang terasa seperti pisau.

Lin Weishan menatap Yuelian. Ada konflik di matanya. Tapi seperti biasa, ia tidak berkata apa-apa yang benar-benar membelanya.

“Mulai hari ini,” kata Madam Qiu, “kau tidak perlu menghadiri jam belajar keluarga. Tetaplah di paviliunmu. Demi kebaikan semua orang.”

Itu pengasingan halus.

Bukan hukuman resmi.

Tapi cukup untuk memutusnya dari dunia.

Yuelian membuka mulut. Menutupnya lagi.

Lalu ia membungkuk.

“Yuelian mengerti.”

Ia berbalik dan berjalan keluar.

Di belakangnya, Qiuya tersenyum lebih lebar.

Di luar aula, udara terasa lebih lega.

Namun sebelum Yuelian sempat menarik napas penuh—

BRAK.

Sesuatu jatuh di dekat kakinya.

Sebuah vas kecil pecah, serpihannya berserakan.

Pelayan yang menjatuhkannya langsung berlutut. “A-ampun! Ampun! Saya tidak sengaja!”

Beberapa orang berkerumun.

Bisik-bisik mulai terdengar.

“Lihat? Baru keluar aula sudah pecah barang.”

“Auranya memang buruk.”

Shuqing muncul di samping Yuelian, matanya menyipit.

“Menarik,” gumamnya pelan. “Vas itu tadi ada di rak. Tingginya satu setengah zhang. Pelayan itu pendek.”

Yuelian meliriknya.

“Kau bilang…?”

“Tidak apa-apa,” Shuqing tersenyum tipis. “Anggap saja lantainya licin.”

Namun saat mereka berjalan pergi, Yuelian merasakan sesuatu.

Seperti tatapan.

Dari jauh.

Dari tempat yang tidak bisa ia lihat.

Di istana Changan, jauh di pusat kota—

Seorang pemuda membuka matanya perlahan.

Udara di sekelilingnya masih bergetar.

Es.

Aura es yang sangat samar… tapi jelas.

Jiang Wuyin berdiri dari mejanya.

“Salju musim panas…” gumamnya.

Tangannya mengepal.

“Dan sekarang… aku merasakannya lagi.”

Di sudut ruangan, bayangan pedangnya bergetar pelan.

Takdir telah bergerak satu langkah ke depan.

Dan Lin Yuelian—belum tahu apa-apa—telah resmi menjadi pusat badai.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 28 — Pintu yang Salah Dibuka

    Hal pertama yang hancur bukan lantai, bukan dinding, bukan bahkan retakan itu—melainkan batas di dalam diri Lin Yuelian sendiri. Dalam satu detik yang terlalu cepat untuk dicegah dan terlalu lambat untuk diabaikan, sesuatu yang selama ini hanya beresonansi kini benar-benar terhubung, bukan sebagai dua hal yang saling menyentuh, tetapi sebagai satu jalur yang terbuka. Udara di aula runtuh menjadi dingin yang hidup, tekanan meningkat bukan lagi seperti beban, melainkan seperti tangan tak terlihat yang menekan setiap orang ke tempatnya, memaksa mereka menjadi saksi.Wuyin merasakannya paling jelas—perubahan itu tidak datang dari retakan, melainkan dari Yuelian. Energi yang sebelumnya ia kenal kini berubah menjadi sesuatu yang asing namun tidak sepenuhnya baru, seperti melodi lama yang dimainkan dengan nada yang salah. “Tarik tanganmu,” katanya tajam, suaranya rendah namun mendesak.Yuelian tidak langsung menjawab. Ujung jarinya masih menyentuh sesu

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 27 — Yang Kembali Tidak Datang Sendiri

    Tidak ada yang bergerak ketika kata itu selesai diucapkan—“Sudah waktunya.”—seolah kalimat itu bukan sekadar suara, melainkan perintah yang mengikat tubuh dan pikiran sekaligus, membuat setiap orang di aula kehilangan kendali atas reaksi paling dasar mereka. Udara tidak lagi sekadar dingin; ia menjadi berat, padat, seperti sesuatu yang memiliki kehendak, menekan dari segala arah tanpa memberi celah untuk bernapas dengan benar. Retakan itu kini bukan lagi garis di udara, melainkan celah yang terbuka sepenuhnya, dan dari dalamnya, sesuatu yang selama ini hanya bisa dirasakan kini benar-benar hadir, nyata, dan terlalu dekat untuk disangkal.Jiang Wuyin adalah orang pertama yang memaksa dirinya bergerak, bukan mundur, bukan menghindar—maju, satu langkah tegas yang memotong jarak antara Yuelian dan sesuatu yang keluar dari retakan itu, energi di sekitarnya langsung meningkat, tidak lagi sekadar bertahan, tetapi siap menekan balik. “Cuku

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 26 — Retakan yang Tidak Bisa Ditutup Kembali

    Tidak ada suara ledakan, tidak ada cahaya yang menyilaukan, tidak ada tanda dramatis yang biasa mengiringi sesuatu yang besar—yang ada justru kebalikannya: keheningan yang terlalu dalam, terlalu berat, sampai terasa seperti menelan suara apa pun sebelum sempat lahir. Di tengah aula yang penuh orang, di antara napas yang tertahan dan langkah yang membeku, retakan itu terbuka tanpa suara, tetapi dampaknya menjalar ke setiap inci ruang, membuat udara sendiri terasa seperti benda padat yang menekan paru-paru. Mereka yang berdiri paling dekat merasakannya lebih dulu—sensasi seperti kulit disentuh oleh sesuatu yang dingin namun hidup, bukan sekadar suhu, melainkan keberadaan. Dan di pusat semua itu, Lin Yuelian berdiri tanpa bergerak, seolah ia bukan lagi bagian dari kerumunan, melainkan titik di mana semua hal itu berpusat dan berputar.“Apa… itu?” suara seseorang akhirnya pecah, parau, hampir seperti milik orang yang baru saja tenggelam dan berhasil

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 25 — Sesuatu yang Ikut Masuk

    Tidak ada yang melihatnya masuk, tetapi semua orang merasakan saat ia hadir. Udara yang tadi hanya tegang berubah menjadi berat, seperti ditekan dari segala arah, membuat napas terasa pendek dan dada seolah kehilangan ruang. Cahaya lampu di aula bergetar halus, bayangan di sudut ruangan memanjang tidak wajar, dan untuk satu detik yang terasa terlalu lama, waktu seperti tersendat—cukup untuk membuat insting paling dasar setiap orang berteriak bahwa sesuatu yang salah baru saja terjadi.Seorang pejabat mencoba bicara, suaranya terpotong di tengah kalimat, matanya melebar bukan karena melihat sesuatu yang jelas, melainkan karena tubuhnya merespon lebih dulu daripada pikirannya, sementara di barisan belakang seseorang tersandung langkahnya sendiri karena mundur terlalu cepat, dan tidak ada yang menertawakan karena tidak ada yang benar-benar bernapas dengan normal. Jiang Wuyin sudah bergerak sebelum siapa pun selesai memahami, ia berdiri satu langkah di depan Lin Yuelian, bu

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 24 — Sidang yang Tidak Adil

    “Bawa dia masuk.”Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara keras, tetapi cukup untuk membuat seluruh aula barat langsung jatuh dalam keheningan yang menekan. Tidak ada yang berdiri, tidak ada yang bergerak, tetapi semua mata mengarah ke satu pintu yang perlahan terbuka, dan dalam celah itu, sesuatu yang lebih berat dari sekadar kehadiran manusia ikut masuk—prasangka, ketakutan, dan keputusan yang sudah hampir dibuat bahkan sebelum siapa pun benar-benar berbicara.Langkah kaki terdengar teratur, tidak terburu, tidak ragu. Jiang Wuyin masuk lebih dulu, wajahnya tenang seperti biasa, tetapi aura di sekitarnya jelas berbeda, lebih dingin, lebih tertutup, seolah ia tidak hanya datang untuk menghadiri sidang, melainkan untuk menguasainya. Di belakangnya, Lin Yuelian berjalan tanpa menunduk, tanpa mempercepat langkah, tanpa menunjukkan tanda gentar yang diharapkan banyak orang untuk mereka lihat. Justru ketenangan itulah yang membuat beberapa orang di dalam

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 23 — Garis yang Mulai Ditarik

    Rumor tidak lagi berjalan; ia berlari. Dalam satu pagi yang terasa terlalu panjang, nama Lin Yuelian berpindah dari bisikan ke tuduhan yang setengah diucapkan, dari tatapan curiga ke keputusan yang hampir jadi. Di koridor istana, orang-orang berhenti berbicara saat ia lewat—padahal ia tidak lewat—dan di ruang rapat, orang-orang mulai menyusun kalimat yang akan mereka ucapkan jika dipaksa memilih sisi. Di tempat seperti ini, kebenaran tidak selalu menang; yang lebih cepat seringkali lebih dulu dipercaya. Dan hari itu, yang lebih cepat adalah rasa takut.Di paviliun timur, pintu terbuka tanpa ketukan kedua, dan Jiang Wuyin masuk dengan langkah yang tidak tergesa tetapi tidak memberi ruang untuk diabaikan, sementara Jiang Wenyu yang sudah lebih dulu di dalam ruangan hanya mengangkat alis tipis, seolah berkata: akhirnya kau muncul juga. Yuelian masih duduk di dekat jendela, cahaya siang memantul di matanya yang terlalu tenang, dan untuk sesaat tidak ada yang berbicara

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 20 — Kunci yang Tidak Seharusnya Dibuka

    Jiang Wuyin tidak langsung bergerak. Bukan karena ragu, melainkan karena untuk pertama kalinya ia dihadapkan pada sesuatu yang tidak bisa ia pecahkan hanya dengan logika atau kekuasaan. Pantulan di permukaan es itu masih ada—jelas, tajam, dan salah. Ia melihat Lin Yuelian berdiri di depannya, napas

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 5 — Jejak Dingin yang Tidak Mencair

    Orang itu mati sebelum fajar.Tubuhnya tergeletak di balik paviliun timur Akademi Lingyun, di tempat yang bahkan para murid malas lewati karena bau lembap dan lumut tua. Darah tidak mengalir ke mana-mana. Tidak ada luka terbuka. Wajahnya membeku dalam ekspresi terkejut—bukan karena ketakutan, melai

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 4 — Saat Dunia Mulai Mendekat

    Malam itu datang terlalu cepat.Langit Changan yang biasanya perlahan menggelap, malam itu seolah runtuh sekaligus—tanpa peringatan, tanpa transisi. Bulan terpotong awan kelabu, cahaya bintang tertelan satu per satu, meninggalkan kesan seolah langit sengaja menutup mata.Di paviliun timur, Lin Yuel

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 3 — The Knowing and the Pretenders

    Paviliun timur menjadi lebih sunyi sejak pagi itu.Bukan karena tidak ada orang—melainkan karena semua orang yang datang, datang dengan kepala tertunduk, suara direndahkan, dan langkah yang terlalu hati-hati. Seolah tempat itu bukan lagi hunian seorang putri bangsawan, melainkan ruang yang bisa run

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status