Se connecterKeesokan paginya, Alana terbangun lebih siang dari yang ia bayangkan. Cahaya matahari sudah menembus tirai kamarnya yang lebar. Dengan tergesa, ia mandi dan berpakaian, lalu menuruni tangga marmer yang terasa terlalu sepi untuk ukuran rumah sebesar itu.
Di meja makan, sarapan sudah tersaji rapi. Roti panggang, telur dadar, buah segar, dan segelas jus jeruk. Pelayan yang berdiri di samping pintu segera menunduk hormat begitu melihatnya. “Selamat pagi, Nona Alana,” ucap salah satu pelayan. Alana menarik kursi dengan hati-hati, masih canggung dipanggil seperti itu. “Pagi… Mama mana?” tanyanya sambil menatap piring yang sudah ditata dengan begitu sempurna. “Nyonya berangkat pagi-pagi sekali bersama Tuan Edward,” jawab pelayan dengan sopan. “Ah iya, aku lupa…” Alana mengangguk. “Kalau… Kak Nero sama Kak Axel?” “Mereka juga sudah pergi sejak pagi. Tuan Muda Nero berangkat ke kantor, sedangkan Tuan Muda Axel keluar lebih awal bersama temannya.” Alana terdiam, merasa seperti orang terakhir yang bangun di sebuah dunia yang sudah berjalan lebih cepat darinya. Ia menghela napas, menunduk pada sarapannya, dan mulai makan dengan tenang. Setelah selesai, ia berjalan keluar rumah. Di halaman depan yang luas, sebuah mobil hitam mengilap sudah menunggunya. Sopir membungkuk kecil. “Selamat pagi, Nona. Saya akan mengantar Anda ke kampus.” Alana sempat ragu, semua terasa begitu resmi, tapi akhirnya ia masuk ke mobil. Perjalanan menuju kampus ternyata cukup menyenangkan. Ia menempelkan wajah di jendela, menatap gedung-gedung tinggi yang berjejer di jalan utama kota, sesuatu yang jarang ia lihat di tempat asalnya. Angin AC mobil bercampur dengan hiruk pikuk kota yang baru mulai sibuk. “Lumayan indah juga,” gumam Alana pelan, senyum tipis tersungging tanpa sadar. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan gerbang besar bertuliskan "Valemont University", salah satu universitas paling prestisius di kota itu. Gedungnya menjulang dengan arsitektur modern, dipenuhi mahasiswa yang sibuk dengan jadwal mereka masing-masing. Alana menurunkan langkahnya dengan hati-hati, menyerap semua suasana baru ini. Meskipun berasal dari pinggiran kota, ia cukup percaya diri untuk menemukan ruang kelasnya. Papan informasi dan peta kampus sangat jelas, jadi ia tidak kesulitan. Setelah beberapa menit berjalan, ia menemukan kelas pertamanya hari itu. Ruangannya luas dengan barisan meja berderet. Alana memilih duduk di baris tengah, agak ke samping, agar tidak terlalu mencolok. Ia mengeluarkan buku catatan, mencoba menenangkan diri. Namun ketenangan itu hanya bertahan sebentar. Pintu kelas terbuka keras, dan suara ramai segera memenuhi ruangan. “Bro, ini kelasnya, kan?” “Yoi, santai aja.” Alana menoleh dan nyaris tersedak napasnya sendiri ketika melihat sosok yang masuk. Axel. Dengan kemeja yang separuh keluar dari celana, ransel disampirkan asal, ia melangkah bersama rombongan teman-teman laki-laki dan perempuan yang ramai, tertawa keras-keras tanpa peduli suasana. “Ya Tuhan…” bisik Alana, menunduk buru-buru, berharap Axel tidak melihatnya. Tapi tentu saja itu sia-sia. Begitu mata Axel bertemu dengan sosok adiknya itu, Axel tersenyum lebar, penuh kemenangan. “Eh, lihat siapa ini!” serunya sambil menepuk bahu salah satu temannya. “Guys, kenalin. Ini adik manisku.” Alana mematung di kursinya. Semua mata di kelas beralih ke arahnya. “Dia baru pindah dari pinggiran kota. Anak baru, masih manja, tapi jangan salah… bisa ngegemesin banget kalau lagi bingung,” tambah Axel dengan tawa kecil, jelas menikmati perhatian yang ia ciptakan. Alana ingin membantah, tapi lidahnya kelu. Pipinya memanas, separuh karena malu, separuh karena kesal. Baginya, ini bukan pujian. Axel memperkenalkannya seperti anak kecil yang butuh perlindungan, padahal ia berusaha keras terlihat mandiri. Salah satu teman Axel tertawa. “Serius, manis banget sih. Nggak heran kalau kamu betah di rumah, Xel.” Axel menyeringai, menepuk meja Alana sebelum duduk di belakangnya. “Jangan salah, adik kecilku ini gampang tersipu. Makanya jangan ganggu dulu, biar dia menyesuaikan.” Alana menggenggam pensilnya erat-erat. Kenapa harus dia ada di sini? Kenapa harus Axel?Keheningan yang mencekam itu seolah membekukan udara di dalam lorong apartemen. Axel menatap layar ponsel Nero dengan rahang yang mengatup rapat, kilatan syok di matanya perlahan berubah menjadi kemarahan baru yang lebih pekat. Namun, alih-alih mundur, cengkeraman tangan Axel pada pergelangan tangan Alana justru semakin mengencang."Aku bisa atasi masalah itu sendiri, kau jangan ikut campur!" desis Axel, suaranya rendah dan penuh penekanan, mencoba menutupi badai yang sedang bergemuruh di dalam dadanya.Nero tidak bergeming. Dengan gerakan yang tidak kalah cepat dan kuat, tangan besarnya kembali menyambar pergelangan tangan Alana yang satunya, menahan gadis itu agar tidak bergeser satu senti pun. "Selagi itu urusan Alana, aku akan terus ikut campur."Kedua pria dominan itu saling melempar tatapan mematikan. Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah satu percikan kecil saja bisa meledakkan seluruh tempat itu. Alana yang berada di tengah-tengah merasa tubuhnya seperti hendak terb
Di pinggir jalan raya yang diterangi lampu neon temaram, Axel duduk diam di atas motor sportnya. Deru mesin motornya yang sengaja tidak dimatikan berpadu dengan gemuruh amarah di dadanya.Ponsel di dalam saku jaket kulitnya bergetar. Axel langsung menyambar benda itu dan menempelkannya ke telinga tanpa membuang waktu."Bagaimana?" tanya Axel, suaranya rendah dan sarat akan ancaman."Aku sudah mengikutinya sejak dari rumah sakit, Bang. Mobil Nero berhenti di sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Dia membawa Alana masuk lewat lift khusus," lapor suara seorang pria di seberang telepon. "Akan aku kirimkan alamat lengkapnya sekarang.""Bagus," jawab Axel singkat.Ting. Sebuah notifikasi pesan masuk, menampilkan sebuah alamat lengkap beserta nomor lantai penthouse milik Nero. Mata Axel berkilat tajam di balik kaca helmnya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol."Kena kau, Nero," desis Axel penuh dendam.Ia langsung menarik kaca helmnya ke bawah, memutar gas dengan
Tiga hari berlalu di rumah sakit, dan akhirnya Dokter Clarissa mengizinkan Alana untuk pulang. Namun, kepulangan Alana kali ini sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. Langkahnya di sepanjang koridor rumah sakit tidak dibiarkan bebas. Tangan besar Nero menggandengnya dengan begitu erat, seolah-olah Alana adalah porselen rapuh yang bisa hancur kapan saja jika tersenggol orang lain."Kak, tidak usah seperti ini. Aku bisa jalan sendiri, sungguh," bisik Alana pelan, merasa agak risih karena beberapa perawat sesekali melirik ke arah mereka. "Aku sudah sehat, Kak Nero."Nero tidak melepaskan genggamannya, bahkan tidak menoleh sedikit pun. "Diam dan jalan saja, Alana. Jangan membantah."Alana hanya bisa menghela napas pasrah. Ketika mereka sampai di lobi, sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu. Nero melangkah maju, membukakan pintu bagian belakang untuk Alana. Setelah Alana masuk dengan ragu, Nero ikut masuk dan duduk tepat di sampingnya, menutup pintu dengan bunyi debuman yang s
Pintu kamar rawat VIP itu bergeser pelan saat Dokter Clarissa melangkah keluar dengan senyum tipis yang tampak sedikit dipaksakan. Di tangannya terdapat berkas medis yang baru saja ia perbarui. Ia menatap Alana yang masih duduk bersandar di ranjang, lalu beralih menatap Nero yang berdiri di koridor."Semuanya sudah benar-benar stabil, Nero," ucap Clarissa dengan nada profesional yang tenang. "Reaksi alerginya sudah ditekan sepenuhnya. Dia hanya butuh istirahat total dan makanan bergizi untuk memulihkan staminanya. Aku sudah memberikan resep vitamin tambahan."Nero hanya mengangguk singkat, matanya sudah tidak sabar untuk kembali masuk ke dalam ruangan."Oh, satu lagi," Clarissa menahan langkah Nero sejenak. "Jangan terlalu keras padanya. Dia baru saja melewati trauma fisik dan mental. Pastikan dia merasa aman.""Aku tahu," jawab Nero datar.Begitu Clarissa menjauh, Nero segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat, mengunci kebisingan rumah sakit di luar sana. Suasana mendadak menjadi s
Gudang tua di pinggir kota itu berbau karat, debu, dan anyir darah yang menyengat. Suara musik diskotik semalam telah digantikan oleh suara daging yang dihantam benda tumpul dan rintihan yang menyayat.Bugh! Bugh!"Ampun... ampun, Kak! Akh!" teriakan itu menggelegar, memantul di dinding-dinding seng yang berkarat.Axel tidak berhenti. Napasnya memburu, matanya memerah seperti iblis yang baru saja bangkit dari neraka. Ia tidak menggunakan senjata; ia menggunakan kepalan tangannya sendiri untuk menghancurkan wajah pria yang malang itu. Dua pemuda lainnya sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai semen yang dingin, tubuh mereka bengkok tak beraturan. Dua sisanya masih terikat di kursi kayu dengan mata melotot ketakutan, gemetar hebat melihat rekan mereka dihancurkan satu per satu.Di sudut gudang, teman-teman Axel—Kevin, Drean, Guen, dan Leon—berdiri menyandar ke tumpukan peti kayu, memperhatikan tontonan brutal di depan mereka."Sepert
Sinar matahari pagi mulai menyerobos masuk melalui celah gorden ruang VIP rumah sakit, memberikan nuansa hangat yang kontras dengan aroma obat-obatan yang tajam. Di dalam ruangan itu, hanya terdengar detak ritmis dari mesin pemantau jantung dan desah napas halus Alana yang masih terlelap. Nero duduk di sisi ranjang, matanya merah dan wajahnya tampak kuyu. Ia tidak beranjak sedikit pun sejak semalam, seolah sedetik saja ia berpaling, Alana akan menghilang.Ponsel Nero yang tergeletak di atas nakas bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan rentetan telepon dan pesan dari Axel yang dipenuhi amarah."DI MANA DIA, NERO?!""JANGAN SEMBUNYIKAN ALANA DARIKU. KATAKAN DI MANA RUMAH SAKITNYA!""AKU AKAN MENGOBRAK-ABRIK SELURUH RUMAH SAKIT DI KOTA INI KALAU KAU TIDAK MENJAWAB!"Nero hanya melirik layar itu dengan tatapan dingin. Jangankan membalas, menyentuhnya pun ia enggan. Ia kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada tangan mungil Alana







