Home / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 11: Satu Harus Mati

Share

CHAPTER 11: Satu Harus Mati

Author: Newa Lim
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-06 11:23:22

“KAMU TIDAK BOLEH MENGUBAHNYA.”

Suara itu tidak datang dari satu arah, tapi terdengar dari mana mana. Dari dinding, lantai, bahkan dari dalam kepala Raka sendiri. Ratusan wajah di dinding basement menatapnya dengan mata kosong, mulut terbuka dan mengucapkan kalimat yang sama dengan nada tinggi menghentak. Tidak ada variasi emosi dan tidak ada jeda sama sekali. Hanya penolakan teramat tegas dan lugas dari mereka.

Raka berdiri di tengah ruangan itu, masih dengan napas berat dan paku masih di tang
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Booking Terakhir   CHAPTER 11: Satu Harus Mati

    “KAMU TIDAK BOLEH MENGUBAHNYA.”Suara itu tidak datang dari satu arah, tapi terdengar dari mana mana. Dari dinding, lantai, bahkan dari dalam kepala Raka sendiri. Ratusan wajah di dinding basement menatapnya dengan mata kosong, mulut terbuka dan mengucapkan kalimat yang sama dengan nada tinggi menghentak. Tidak ada variasi emosi dan tidak ada jeda sama sekali. Hanya penolakan teramat tegas dan lugas dari mereka.Raka berdiri di tengah ruangan itu, masih dengan napas berat dan paku masih di tangannya. Namanya masih tergores dalam papan besar didepannya. Namun tampak sedikit berubah seperti lebih berantakan, tapi terlihat cukup untuk mengganggu “urutan”.“ Gue udah ubah,” bisiknya pelan.Satu langkah kecil, tapi terasa seperti melanggar sesuatu yang sangat besar.Lampu berkedip beberapa kali, lalu kembali stabil.Seketika itu juga, semua wajah di dinding menutup mulut mereka dengan serempak, kemudian situasi menjadi sunyi, bahkan terlalu sunyi.Raka tidak bergerak. Ia tahu jika ini buka

  • Booking Terakhir   CHAPTER 10  :  Jangan Percaya yang Hidup

    “…kali ini, gue yang cari lo.”Langkah Raka berhenti tepat di ambang pintu hotel. Udara di dalam berbeda menjadi lebih dingin dan lebih berat, seolah tempat itu sadar bahwa ia kembali. Pintu di belakangnya menutup cepat dan mengunci sendiri.KLIK.Raka tidak menoleh. Tidak lagi ada kebimbangan. Karena sekarang ia bukan tamu, melainkan pemburu.Lobi mulai meredup dan pria tua di resepsionis sudah tidak terlihat lagi. Tapi, buku tamu seakan dibiarkan terbuka untuk dibaca.Raka berjalan mendekat dengan perasaan bercampur aduk. Matanya langsung tertuju pada halaman itu, meneliti dengan seksama. Nama nama, ada banyak. Tidak hanya namanya. Tidak hanya nama Naya. Tetapi ada puluhan, mungkin juga ratusan. Sebagian dicoret, sebagian lagi diberi tanda:CHECK-INCHECK-OUTHILANGRaka menggertakkan gigi saat menyadari jika selama ini ternyata ia tidak sendirian. Bahkan sepertinya tidak pernah sendirian sepanjang waktu. Tangannya bergerak dengan cekatan membolak balik halaman, sampai berhenti pada

  • Booking Terakhir   CHAPTER 9  : Dunia yang Tidak Mengingat

    “Kenapa kamu tinggalin aku, Kak?” Suara anak kecil itu tidak keras, tidak pula menuduh, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Raka terasa membatu.Raka masih berlutut di lantai empat dengan napas berat disertai kepala berdenyut seperti ada sesuatu yang dipaksa masuk kembali ke dalam pikirannya. Perlahan, Raka mengangkat kepala, memandang ke ujung Lorong dimana anak itu berdiri. Anak itu kecil, kurus dan berbaju lusuh dengan mata tanpa getaran emosional sedikitpun, hanya kosong. Tidak marah, tidak sedih, terlihat hampa.“Siapa lo?” suara Raka memecahkan suasana.Anak itu tidak langsung menjawab, hanya melangkah satu langkah ke depan tanpa suara, seolah tidak menapak lantai.“Kakak lupa lagi?” katanya pelan.Jantung Raka berdetak keras, “Kakak? Siapa yang sebenarnya lo maksud?””Anak itu memiringkan kepala. Persis seperti makhluk “Naya” tadi. Tapi ini terasa lebih mengganggu, karena gerakannya terlalu janggal.“Kakak yang janji mau balik,” kata sang anak lagi.Tiba tiba potongan memori

  • Booking Terakhir   CHAPTER 8 : Naya yang Tidak Seharusnya Ada

    “NAYA?!”Suara Raka menggema di lobi.Tidak ada jawaban, tidak ada langkah kaki, tidak ada tanda-tanda kalau Naya pernah berdiri di sana. Hanya lantai kosong…, dan bayangan tubuhnya sendiri saja yang tersisa.Raka berdiri terpaku. Tangannya masih terulur ke udara, seperti mencoba menggenggam sesuatu yang sudah tidak ada. “…enggak…”, Napasnya bergetar. “Enggak. Enggak. Enggak,” sangkalnya berulang. Ia berbalik cepat dengan matanya menyapu seluruh ruangan.“NAYA!” Teriaknya lagi. Sunyi. Hotel itu kembali diam. Seolah baru saja memakan sesuatu… dan puas karena sudah kenyang.Raka perlahan melangkah mundur. Satu langkah, dua langkah, lalu ia tertawa kecil sendiri. “Bagus,” gumamnya pada diri sendiri, “Sekarang gue sendirian lagi.”Raka merasakan seluruh emosi dan logikanya berguncang dan berkecamuk dengan hebat. Karena sekarang ia berkesimpulan bahwa tidak ada lagi yang bisa dia percaya. Tidak ada lagi yang bisa dia lindungi. Dan mungkin yang paling buruk adalah karena tidak ada lagi ya

  • Booking Terakhir   CHAPTER 7  : Check-Out Pertama

    TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “Apa pun yang terjadi, jangan buka.” Bujuk Naya penuh kecemasan.Raka tidak langsung menjawab. Kepalanya dipenuhi dengan suara batinnya sendiri. Tentang aturan, loop, kamar 307, dan kalimat itu, “Besok… giliran kamu yang hilang.” Dan kalau dia tidak membuka..., apa itu berarti dia menolak “gilirannya”? Atau bahkan justru mempercepatnya?“Kalau ini bagian dari aturan…” gumam Raka pelan, “berarti gue nggak bisa cuma diam.”“Lo mau buka?” suara Naya naik terdorong rasa panik.Raka menatapnya. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Naya. Bukan cuma takut, tapi memohon.“Rak, jangan,” kata Naya pelan. “Gue baru inget lo…, gue nggak mau lo hilang.”

  • Booking Terakhir   CHAPTER 6 – Aturan yang Tidak Tertulis

    “Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya, berputar seperti jarum rusak yang tidak bisa berhenti, bagai piringan hitam macet yang terus mengulang nada tak henti.“Giliran kamu yang hilang.” Suara itu pun terdengar lagi.“Enggak…” bisik Raka pelan. “Enggak mungkin…” Tapi bahkan saat ia menyangkal, seolah tubuhnya tahu bahwa ada sesuatu yang berubah. Dan perubahan itu tidak akan bisa dibatalkan.Lantas Raka berjalan cepat menjauh dari kamar 307. Lorong terasa lebih panjang dari sebelumnya. Lampu berkedip tidak beraturan. Karpet di bawah kakinya terasa lembap. Seperti… basah. Ia menunduk sekilas dan langsung berhenti. Ada jejak kaki yang basah dan sudah pasti bukan miliknya. Jejak itu muncul dari arah kamar 307, dan mengarah ke ujung lo

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status