หน้าหลัก / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 9  : Dunia yang Tidak Mengingat

แชร์

CHAPTER 9  : Dunia yang Tidak Mengingat

ผู้เขียน: Newa Lim
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-30 12:46:59

“Kenapa kamu tinggalin aku, Kak?” Suara anak kecil itu tidak keras, tidak pula menuduh, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Raka terasa membatu.

Raka masih berlutut di lantai empat dengan napas berat disertai kepala berdenyut seperti ada sesuatu yang dipaksa masuk kembali ke dalam pikirannya. Perlahan, Raka mengangkat kepala, memandang ke ujung Lorong dimana anak itu berdiri. Anak itu kecil, kurus dan berbaju lusuh dengan mata tanpa getaran emosional sedikitpun, hanya kosong. Tidak marah, ti
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Booking Terakhir   Chapter 39 : Ruang Penyimpanan Nama

    "Kalau kalian membuka pintu ini, pastikan kalian siap mengingat semuanya." Lalu suara perempuan itu menghilang menyisakan kesunyian disepanjang lorong. Tidak lagi terdengar ketukan ataupun suara bisikan. Yang ada hanyalah cahaya redup dari lampu tua yang menggantung di langit langit.Namun ada satu hal yang menjadi perhatian Raka yaitu perbedaan wilayah itu dengan yang lainnya. Karena sampai sekarang, belum ada hitung mundur, aturan permainan yang diumumkan atau ancaman apapun. Semuanya hanya keheningan yang mungkin saja merupakan sebuah jebakan tersendiri."Aneh." Gumam Naya."Apa?""Sekarang nggak ada yang maksa kita buat ngapain gitu…"Raka mengangguk pelan sepakat dengan Naya. Selama ini setiap anomali selalu mempunyai pola, misalnya batas waktu, hukuman, monster menakutkan, dan pilihan yang dipaksakan. Namun sekarang keadaannya seperti tidak ada apa apa sama sekali. Hanya sebuah pintu yang menimbulkan rasa penasaran.Pria berkacamata langsung berdiri di depan lorong seperti hen

  • Booking Terakhir   Chapter 38 : Tamu Pertama

    Kriiieeek...Pintu depan rumah terbuka perlahan tanpa ada satu pun fenomena aneh yang menyertainya. Kali ini tidak ada ledakan maupun tangan raksasa yang sering kali muncul sebelumnya.Hanya malam yang gelap dan sunyi serta seorang laki laki berdiri di depan pagar kayu. Usianya tampak sekitar tiga puluh tahunan dan memakai jaket hitam yang basah kuyup oleh hujan. Wajahnya biasa saja jika tak dapat disebut tampan, bahkan cenderung gampang untuk dilupakan.Raka menatap selama beberapa detik lalu mengernyitkan dahinya, "Lo..."Kalimatnya terhenti begitu saja karena sesuatu anomali terjadi. Ia baru saja melihat wajah laki laki itu dengan jelas, tetapi sedetik kemudian ia kesulitan mengingat bentuk hidung, mata serta rambutnya sekalipun, seolah nalar logikanya menolak menyimpan detail apa pun dari sang tamu.Di sampingnya, Naya mengusap pelipis sambil menyipitkan sepasang matanya, "Aneh...""Apa yang aneh?” Mira ikut bertanya karena juga merasakan sensasi yang serupa."Aku lupa dia mirip

  • Booking Terakhir   Chapter 37 : Pria Di Balik Pintu Ketujuh

    "Kalau sudah selesai saling curiga..., masuklah kedalam! Aku sudah menunggu kalian sejak sebelum petualangan ini dimulai."Tidak ada teriakan maupun ancaman dalam suaranya yang sama sekali tidak menyeramkan walau datangnya dari balik kegelapan, namun justru itulah yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri, karena suara itu terdengar terlalu normal.Raka menatap lekat pintu ketujuh saat kegelapan di baliknya bergerak perlahan seperti kabut yang bernapas, tapi tidaklah menyerang ataupun mendekat. Dia seolah hanya menunggu sesuatu."Sebaiknya jangan masuk." Kata Dito tiba tiba membuat semua orang menoleh padanya. Anak itu tampak lebih pucat daripada sebelumnya. "Aku nggak tahu siapa dia!" Sambungnya lagi sambil menelan ludah. "Tapi aku tahu satu hal.""Apa?" Tanya Mira dengan suara agak tertahan.Dito menunjuk hotel yang terlihat samar di salah satu pintu lain, "Dia lebih tua dari semuanya."Lebih tua dari Lautan Hitam dan juga lebih tua dari kota yang hilang…Kalau pernyataan itu bena

  • Booking Terakhir   Chapter 36 : Arsitek yang Dihapus Dari Sejarah

    ARSITEKTulisan itu terukir di atas pintu ketujuh, bukan hasil dari goresan cat maupun tinta, melainkan seperti bekas luka yang dipahat langsung ke permukaan kayu berwarna hitam.Selama beberapa saat lamanya tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa sanggup untuk bergerak. Bahkan ayah Sera yang baru muncul pun tampak enggan mendekati koridor itu. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pria tua tersebut terlihat takut, atau lebih tepatnya, benar benar takut."Ayah...," suara Sera bergetar tak terbendung.Pria itu menoleh. Ternyata untuk kali ini, ia mengenali putrinya.Air mata langsung muncul berderai di mata Sera karena setelah bertahun tahun, pada akhirnya ada seseorang yang masih mengingat dirinya.Namun ternyata ekspresi pria tua itu justru membuat suasana semakin buruk, karena yang terlihat di wajahnya bukanlah suatu kebahagiaan, melainkan lebih terlihat seperti penyesalan."Sera...," bisiknya. "Kalian seharusnya nggak datang ke sini."Raka maju selangkah. "Siapa Arsitek

  • Booking Terakhir   Chapter 35 : Penghianat di Meja Makan

    "PINTUNYA TIDAK TERKUNCI DARI LUAR."Kalimat itu terpampang di belakang foto panti asuhan, membuat mereka semua terdiam tanpa bicara dan bergerak, hingga bahkan suara napas terasa terlalu keras di aula itu.Raka memandang foto tersebut sangat lama sambil merenungkan kalimat itu karena sudah jelas telah mengubah segalanya. Selama ini mereka percaya bahwa Lena terjebak dalam api dan seseorang sudah gagal menyelamatkannya. Mereka juga sudah terlanjur percaya jika kebakaran itu adalah sebuah tragedi yang mengenaskan.Tapi kalau pintu tidak dikunci dari luar, berarti seseorang di dalam kamar menguncinya sendiri. Atau..., seseorang ingin tetap berada di sana."Omong kosong." Kata Mira akhirnya memecah keheningan. Suaranya terdengar lebih keras daripada yang ia kira sebelumnya. "Foto bisa saja dipalsukan." Sambungnya lagi dengan nada sedikit emosi."Di sini?" Tanya Sera dingin penuh nada ragu. "Kita bahkan nggak tahu mana yang nyata dan mana yang bukan."Kemudian Naya mengambil foto itu lalu

  • Booking Terakhir   CHAPTER 34 : Versi yang Selamat Sendirian

    "Kalau malam itu aku yang mati..., Apa kamu akhirnya bakal ingat aku?" Pertanyaan dari Naya membuat seluruh ruangan terasa teramat menegangkan dan membuat bulu kuduk meremang.Namun sebelum Raka sempat menjawab, tiba tiba terdengar suara keras…BRAK!Pintu kelas terbuka sendiri dan sudah pasti bukan karena didorong ataupun dihancurkan, melainkan layaknya seseorang membuka pintu rumahnya sendiri. Ketika tampak sosok yang berdiri di ambang pintu, Raka spontan merasa panas dingin sekujur tubuh.Sosok itu adalah dirinya sendiri, tapi bukan dirinya yang sekarang, melainkan Raka yang berusia sekitar empat puluh tahunan dengan rambut mulai sedikit beruban. Wajahnya dipenuhi bekas luka dengan sepasang mata terlihat sangat lelah. Dijarinya tampak memakai sebentuk cincin nikah dan itu sangat mengganggu perasaannya.Kemudian pria itu menatapnya lumayan lama lalu tersenyum kecil, "Akhirnya."Ternyata suara mereka terdengar sama, bahkan persis sama. Namun terdengar putus asa seperti seseorang yang

  • Booking Terakhir   CHAPTER 12 : Yang Dipilih Hotel

    Gelap total tanpa bentuk, tanpa cahaya sama sekali dan hanya menyisakan dua suara saja yang terdengar, sungguh membuat bulu kuduk Raka berdiri.“Pilih aku.”“Rak…, jangan percaya dia!”Raka berdiri membeku di tengah ruangan. Napasnya terdengar terlalu keras di telinganya sendiri. Tangannya mengepal

  • Booking Terakhir   CHAPTER 11: Satu Harus Mati

    “KAMU TIDAK BOLEH MENGUBAHNYA.”Suara itu tidak datang dari satu arah, tapi terdengar dari mana mana. Dari dinding, lantai, bahkan dari dalam kepala Raka sendiri. Ratusan wajah di dinding basement menatapnya dengan mata kosong, mulut terbuka dan mengucapkan kalimat yang sama dengan nada tinggi meng

  • Booking Terakhir   CHAPTER 10  :  Jangan Percaya yang Hidup

    “…kali ini, gue yang cari lo.”Langkah Raka berhenti tepat di ambang pintu hotel. Udara di dalam berbeda menjadi lebih dingin dan lebih berat, seolah tempat itu sadar bahwa ia kembali. Pintu di belakangnya menutup cepat dan mengunci sendiri.KLIK.Raka tidak menoleh. Tidak lagi ada kebimbangan. Kar

  • Booking Terakhir   CHAPTER 8 : Naya yang Tidak Seharusnya Ada

    “NAYA?!”Suara Raka menggema di lobi.Tidak ada jawaban, tidak ada langkah kaki, tidak ada tanda-tanda kalau Naya pernah berdiri di sana. Hanya lantai kosong…, dan bayangan tubuhnya sendiri saja yang tersisa.Raka berdiri terpaku. Tangannya masih terulur ke udara, seperti mencoba menggenggam sesuat

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status