로그인Rak! Buruan! Kita check in dulu!”
Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.
Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal. Pelan-pelan, ia menatap sekeliling. Koper masih belum dibuka. Semua tampak kembali seperti awal, seperti saat mereka pertama kali masuk.
“Ini loop,” gumamnya. Kata itu terasa berat keluar dari mulutnya. Loop yang mengulang, menghapus, mengganti dan yang paling menakutkan adalah menghilangkan. Raka langsung meraih ponselnya. Aplikasi itu masih terbuka, kali ini ada foto hotel yang lebih terang, lebih hidup dan terlihat baru seakan bukan bangunan tua yang mereka lihat tadi. Tertulis rating: 4.9, Review teramat bagus.
“Rak! Lama banget sih!” Suara Naya terdengar tak sabar.
Raka pun berdiri, Kali ini ia tidak akan bertindak seperti sebelumnya. Kalau ini loop, maka dia harus mengubah sesuatu. Kemudian Raka membuka pintu. Lorong terlihat lebih terang dan lampu menyala normal. Karpet tidak sekusam sebelumnya, bahkan bau lembap itu berkurang.
Naya berdiri di depan kamar 305, melambaikan tangan. “Finally, lo ngapain sih di dalam?”
Raka menatapnya lama dengan detail, mencoba menebak sosok dihadapannya asli atau palsu.
“Kenapa?” tanya Naya, alisnya mengernyit, “Kita turun, yuk.”
Raka tidak langsung bergerak. “Nay, sebelum kita ke bawah, gue mau tanya sesuatu.”
Naya memutar bola matanya. “Serius? Sekarang?”
“Penting.”
Naya menghela napas. “Oke, cepat.”
Raka menatapnya lurus. “Kalau nanti terjadi sesuatu… lo bakal percaya sama gue?”
Naya mengerutkan kening, kebingungan. “Maksudnya?”
“Jawab aja.”
Naya terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Gue nggak tahu lo lagi ngomong apa, tapi ya..., gue percaya sama lo.”
Raka menahan napas. Jawaban yang sama persis seperti sebelumnya.“Oke,” katanya pelan.
Mereka berjalan menuju tangga dan turun kebawah. Tampaklah lobi seperti yang sudah sudah. Seperti yang sudah diduga, pria tua itu masih ada. Sepasang matanya tajam menatap mereka. “Selamat datang,” katanya. Sama, tidak berubah.
Tapi kali ini Raka tidak menunggu. “Kami mau check-out,” katanya langsung.
Naya menoleh kaget. “Hah?”
Pria tua itu tersenyum tipis. “Belum waktunya.”
“Selalu itu jawabannya,” gumam Raka.
Pria itu berhenti, menatap Raka lebih dalam dan tajam. “Kalian baru saja datang dan malam belum dimulai.”
Raka mengatupkan rahang. Kalimat yang sama. Kalau ini loop maka harus ada celah, harus ada yang berubah. Matanya melirik ke arah buku tamu di meja, kemudian melangkah mendekat.
Naya mengikuti, masih bingung. “Rak, lo kenapa sih?”
Raka tidak menjawab. Matanya tertuju pada halaman buku tamu yang terbuka. lalu jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Ada dua nama. Raka, Naya dan di bawahnya ada satu lagi, nama yang tidak ada sebelumnya dalam tulisan tangan dan sedikit berantakan, yaitu Raka (2). Raka menunjukkan halaman itu pada Naya.
Naya membaca lalu tertawa kecil. “Ya itu nama lo, Rak. Kenapa ditulis dua kali?”
Raka menatapnya. “Itu bukan gue.”
Senyum Naya perlahan memudar. “Lo bercanda, kan?”
Raka menggeleng pelan. “Di loop sebelumnya… yang muncul itu lo.”
“Apaan sih?” Naya mulai kesal. “Lo bikin gue takut tau.”
Raka menarik napas. Tampaknya Naya tidak ingat. Berarti dirinya adalah satu satunya yang sadar dan itu masalah serius.
Tiba tiba pria tua itu berbicara lagi. “Kalian tidak boleh mengubah urutan.”
Raka langsung menoleh,“Urutan apa?”
Pria itu menutup buku tamu. Ekspresinya tampak mengancam.“Kalau diubah, akan ada yang hilang.”
Naya menatap Raka. “Ini makin nggak jelas.”
Tapi Raka tidak melepas pandangan dari pria itu. “Apa yang hilang?”
Pria itu tersenyum lebih lebar. “Kalian akan tahu.”
“Udah, gue nggak nyaman di sini,” kata Naya. “Kita ke kamar aja.”
Raka ingin menolak, tapi urung. Kalau ada urutan, maka dia harus mempelajarinya, bukan melawannya.
Mereka pun kembali naik melalui tangga, kembali ke lantai tiga. Lorong kembali terlihat lebih redup, tidak secerah saat mereka turun, seakan hotel ini berubah tergantung waktu.
Raka mencatat itu dalam pikirannya. Pagi sama dengan normal, sedangkan malam sama dengan rusak.
Akhirnya mereka sampai di depan kamar masing-masing.
Naya memegang gagang pintu kamarnya, lalu berhenti. “Rak…”
Raka menoleh.
“Kalau lo beneran lagi nggak bercanda dan ini semua loop atau apapun itu…” Naya menelan ludah. “...jangan tinggalin gue sendirian.”
Raka menangkap ketakutan di wajah Naya.
“Gue nggak akan,” jawabnya. Untuk sesaat, dirinya hampir percaya bila semuanya akan baik baik saja hingga mereka masuk ke kamar masing masing. Kali ini, Raka tidak duduk. Ia langsung bergerak memeriksa setiap sudut kamar. Semuanya tetap sama, tidak ada perubahan. Namun saat ia membuka laci meja, Ia menemukan selembar kertas dilipat berwarna kuning, seperti sudah lama di sana. Raka membukanya perlahan. Tulisan tangan yang berantakan seperti ditulis terburu buru.
JANGAN PERCAYA NAYA
Raka mematung dengan jantung berdebar kencang. Ini temuan baru, tidak ada sebelumnya. Ia membaca lagi, melihat lebih teliti. Raka langsung meraih ponselnya dan bergegas ke kamar sebelah.
“Nay! Buka!”
Tidak ada jawaban.
“Naya!” Ia mencoba lagi. Masih tidak dijawab.
“Naya! Ini gue!” Raka menambah volume teriakannya, namun masih tanpa sahutan.
Perlahan, Raka memutar gagang pintu, ternyata tidak terkunci. Pintu terbuka dan kegelapan langsung menyambut. “Kok lampunya mati?” gumam Raka, melangkah masuk lalu menyalakan lampu. Ternyata kamar itu kosong melompong. Tidak ada koper, tidak ada tas, tidak ada tanda-tanda Naya pernah masuk, seolah kamar itu tidak pernah ditempati. Raka mundur pelan. “Ini, nggak mungkin.” gumamnya.
Ia berlari keluar, menoleh ke lorong. Kosong, sunyi. Tidak ada siapa siapa.
“Naya!” teriaknya.Tidak ada jawaban, hanya gema suaranya sendiri. Raka berlari ke tangga, turun ke lobi.
Pria tua itu tidak ada. Meja resepsionis kosong dan buku tamu terbuka.
Raka mendekat. Tangannya gemetar saat melihat halaman itu. Sekarang, hanya ada satu nama.
Raka
Nama Naya sudah hilang, seolah tidak pernah ada.
Napas Raka tercekat, lantas membalik halaman. Kosong, semua kosong. Tidak ada Naya.
“Ini gara-gara gue…” bisiknya. Kalimat pria tua itu terngiang, “Kalau diubah, akan ada yang hilang.”
Raka menggertakkan gigi. “Balikin dia…” katanya pelan penuh memohon. Keadaan tetap sunyi.
“BALIKIN DIA!” teriaknya.
Masih sepi. Lalu dari arah belakang ada suara, pelan dan dingin, “Siapa?”
Raka membeku.
Itu suara Naya.
Ia berbalik cepat.
Naya berdiri di sana di ujung lobi. Basah oleh hujan seraya menatap tajam. Tatapannya kosong seperti tidak mengenalinya.
“Maaf…” Suara Naya hampir tak terdengar, “Kamu… siapa?”
Dunia Raka seakan runtuh dalam satu detik.
“Kamu adalah alasan hotel itu lahir.”Kalimat Mira membuat seluruh ruangan terasa membeku.Hujan masih menghantam kaca toko elektronik di luar, tapi suara itu terdengar jauh dan samar, seolah dunia mulai menjauh dari Raka. “Bullshit…” gumamnya pelan.Mira tidak bereaksi apapun. Dia tahu bahwa penjelasannya sangat diluar nalar manusia normal.Naya justru menatap Raka dengan wajah pucat. “Rak?”Raka bangkit berdiri dengan paras menyangkal, “Enggak mungkin!”Tangannya gemetar. “Gue nggak pernah bikin hotel ini.”Mira menghela napas, lalu dengan sabar melanjutkan, “Semua orang yang masuk hotel itu punya trauma.” Kemudian dia membuka map tua lain di meja. “Kehilangan, rasa bersalah, penyesalan.”Lembar-lembar koran lama tersebar. Ada kasus bunuh diri, orang hilang, kebakaran, bahkan pembunuhan. Dan semuanya punya satu kesamaan, yaitu mereka pernah “mengunci” sesuatu dalam hidup mereka.“Tapi lo itu beda, Raka,” lanjut Mira. “Hotel ini bereaksi paling kuat ke lo.”Raka menatap foto panti as
“HOTEL TERHUBUNG KE DUNIA LUAR.”“PENYEBARAN DIMULAI.”Tulisan merah di layar ponsel Raka berkedip seperti luka terbuka. Di depan Raka, ada sekitar puluhan orang berdiri diam di tengah jalan. Hanya menatap, tidak bergerak bahkan tidak berkedip sekalipun. Kemudian Hujan turun dengan deras. Lampu kota memantul di aspal basah. Suara kendaraan perlahan menghilang. Entah kenapa, satu per satu mobil berhenti dengan sendirinya di jalan, seperti mengalami mati mesin bergiliran. Dan semua pengemudi keluar dari kendaraan masing masing.Melihat itu semua, Naya sontak mundur perlahan. “Rak…” Suara gadis itu bergetar.“Kenapa mereka lihat kita kayak gitu…?”Raka tidak menjawab, karena dia sedang melihat sesuatu yang lebih buruk. Ada lingkaran hitam tipis di sekitar pupil mata mereka, sama dengan mata orang orang yang pernah “diproses” oleh hotel.“Jangan kontak mata,” bisik Raka ditelinga Naya.“Apa?”“JANGAN LIHAT MATA MEREKA!” Ulang Raka tegas.Terlambat.Seorang pria tua di depan mereka tersen
“Kalau mau keluar, kamu harus jadi satu-satunya Raka yang tersisa.” Kalimat itu seperti menggantung di udara dingin dapur basement, membuat Raka berdiri kaku. Bahkan sepasang lututnya mulai terasa gemetar karena di depannya sekarang tampak belasan versi dirinya sendiri sedang turun perlahan dari meja meja stainless.Kondisi tubuh mereka masing masing berbeda beda. Ada yang hangus, setengah busuk, memiliki leher terputus sebagian, dan kondisi menyeramkan lainnya. Namun ada satu kesamaan dari mereka semua, yaitu mata yang sama persis dengan dirinya, masih berkondisi bagus untuk dilihat.Naya mundur perlahan sampai punggungnya menabrak meja. “Rak…” suaranya pecah. “Ini enggak normal…”Salah satu Raka lain tertawa serak. “Normal?” katanya. “Kita udah lewat jauh dari normal.”Lampu dapur berkedip. Dan dalam setiap kedipan, posisi mereka maju bertambah dekat.Raka menggertakkan gigi sambil terus berusaha untuk berpikir tenang. “Oke…” katanya pelan. “Kalau kalian itu gue…, berarti kalian ju
Gelap total tanpa bentuk, tanpa cahaya sama sekali dan hanya menyisakan dua suara saja yang terdengar, sungguh membuat bulu kuduk Raka berdiri.“Pilih aku.”“Rak…, jangan percaya dia!”Raka berdiri membeku di tengah ruangan. Napasnya terdengar terlalu keras di telinganya sendiri. Tangannya mengepal, tapi tubuhnya tidak bergerak.Karena sekarang ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya diantara salah memilih atau tidak memilih sama sekali.Suara pertama kini terdengar lagi lebih dekat dari sebelumnya, namun lebih lembut.“Rak… gue Naya…”Lalu terdengar suara kedua bersuara patah dan bergetar, “ Dia bohong!”Tak pelak, Raka memejamkan mata untuk berkonsentrasi penuh dan memusatkan pikiran.Aturan. Selalu ada pola.Hotel ini sepertinya tidak pernah benar benar acak. Dan bila demikian, pasti ada sesuatu yang membedakan mereka berdua.Sekejap kemudian lampu menyala.Dan Raka akhirnya melihat dua sosok Naya berdiri berhadapan, satu di kiri dan lainnya disebelah kanan. Yang kiri tampak norma
“KAMU TIDAK BOLEH MENGUBAHNYA.”Suara itu tidak datang dari satu arah, tapi terdengar dari mana mana. Dari dinding, lantai, bahkan dari dalam kepala Raka sendiri. Ratusan wajah di dinding basement menatapnya dengan mata kosong, mulut terbuka dan mengucapkan kalimat yang sama dengan nada tinggi menghentak. Tidak ada variasi emosi dan tidak ada jeda sama sekali. Hanya penolakan teramat tegas dan lugas dari mereka.Raka berdiri di tengah ruangan itu, masih dengan napas berat dan paku masih di tangannya. Namanya masih tergores dalam papan besar didepannya. Namun tampak sedikit berubah seperti lebih berantakan, tapi terlihat cukup untuk mengganggu “urutan”.“ Gue udah ubah,” bisiknya pelan.Satu langkah kecil, tapi terasa seperti melanggar sesuatu yang sangat besar.Lampu berkedip beberapa kali, lalu kembali stabil.Seketika itu juga, semua wajah di dinding menutup mulut mereka dengan serempak, kemudian situasi menjadi sunyi, bahkan terlalu sunyi.Raka tidak bergerak. Ia tahu jika ini buka
“…kali ini, gue yang cari lo.”Langkah Raka berhenti tepat di ambang pintu hotel. Udara di dalam berbeda menjadi lebih dingin dan lebih berat, seolah tempat itu sadar bahwa ia kembali. Pintu di belakangnya menutup cepat dan mengunci sendiri.KLIK.Raka tidak menoleh. Tidak lagi ada kebimbangan. Karena sekarang ia bukan tamu, melainkan pemburu.Lobi mulai meredup dan pria tua di resepsionis sudah tidak terlihat lagi. Tapi, buku tamu seakan dibiarkan terbuka untuk dibaca.Raka berjalan mendekat dengan perasaan bercampur aduk. Matanya langsung tertuju pada halaman itu, meneliti dengan seksama. Nama nama, ada banyak. Tidak hanya namanya. Tidak hanya nama Naya. Tetapi ada puluhan, mungkin juga ratusan. Sebagian dicoret, sebagian lagi diberi tanda:CHECK-INCHECK-OUTHILANGRaka menggertakkan gigi saat menyadari jika selama ini ternyata ia tidak sendirian. Bahkan sepertinya tidak pernah sendirian sepanjang waktu. Tangannya bergerak dengan cekatan membolak balik halaman, sampai berhenti pada