LOGINBrakkk!
“Meita!” jerit David keras. Lelaki itu berdiri terpaku di tempatnya dengan raut muka shock setengah mati. Struck tagihan listrik di tangannya melayang jatuh tanpa dipedulikan. Keanu menangis dalam gendongannya. Tapi pria itu masih berdiri membeku, tak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan. Sebuah mobil mini cooper merah baru saja menabrak pohon dengan sangat keras. Benda itu masih mengeluarkan bunyi klakson keras-keras. Lampunya pecah sebelah, sementara yang sebelah lagi berkedip-kedip lemah. Bagian depan mobil penyok dan rusak parah, nyaris hancur semuanya. Tabrakan itu begitu keras terdengar, hingga mengejutkan semua orang yang ada di sana. Bahkan David yang sedang berjalan sambil membaca struck tagihannya sampai mendongak. Saat itu dia yakin sekali melihat Meita sedang berdiri bersandar di pohon itu. Hanya beberapa detik saja sebelum mobil itu meleyot dan menghantam pohon. David merasa seluruh tubuhnya lemas. Dia butuh seseorang untuk menopangnya agar tidak terjatuh. “Mas tidak apa-apa?” tanya seseorang. David tak menggubrisnya. Dia bahkan tak memperhatikan siapa orang itu. Yang jelas, dia membantu David berjalan ke arah mobil ringsek itu. Dia gemetar, ingin melihat apakah istrinya baik-baik saja. Keributan di sekelilingnya menjadi tak berarti lagi. Bagi David, yang paling penting adalah Meita. Bagaimana kondisi wanita itu setelah mobil menabraknya? Apakah dia masih sempat untuk menghindar? David berharap demikian. “Telepon ambulans! Ada dua wanita yang terluka!” teriak seseorang yang lain. David merasa jantungnya bertalu-talu memukul dada. Dia sungguh berharap korban itu bukanlah Meita. Tetapi, harapannya musnah ketika dia mendapati blus merah jambu yang dikenakan istrinya tersangkut di salah satu dahan pohon yang patah. Hati David seolah baru saja dilempar ke tanah. Dia tersungkur dengan lemah ke tanah. Orang-orang segera menolong dan membantu mengambil alih Keanu dari gendongannya. “Meita ...,” gumam David lirih, tak percaya menatap tubuh istrinya yang diselimuti dengan kertas koran. Orang semakin banyak berdatangan. Polisi dan ambulans sudah tiba. Mereka menyelidiki TKP dan membawa tubuh Meita. David seketika bangkit berdiri dan mengikuti mereka. “Meita ... Jangan mati, Sayang.” “Bapak, tolong minggir. Kami harus membawa jenazah ke rumah sakit untuk diotopsi,” ucap seorang petugas forensik. Mendengar kata-katanya seolah menusukkan belati ke dada David yang terluka. Pria itu melihat tubuh istrinya yang dimasukkan ke dalam kantong mayat, sejenak merasa seolah seluruh dunianya telah hancur. Tubuh Meita yang berdarah-darah nampak terlalu mengerikan untuk ditatap. David merasa perutnya bergejolak mual. Para petugas forensik berdiskusi sejenak sebelum akhirnya mengijinkan David ikut dalam mobil ambulans menemani jasad sang istri. Sementara Keanu dititipkan pada tetangganya yang dia kenal baik. “Meita, Sayang, kumohon jangan pergi. Kumohon ... Aku akan melakukan apa saja yang kau inginkan. Sayang, jangan pergi ....” Ucapan sedih David membuat dua orang petugas forensik yang duduk di sampingnya saling tatap dalam diam. Keduanya memahami betul bagaimana rasanya ditinggal oleh orang terkasih. Mereka memperhatikan bagaimana David menggenggam erat tangan istrinya, seakan enggan untuk melepasnya pergi. Air matanya mengalir menetes ke tubuh diam Meita yang sudah tak bernapas. Permohonan David terdengar sia-sia dan mustahil. Tapi mereka tak ingin membuat hati pria itu makin hancur karenanya. Karena itu mereka hanya duduk diam dan membiarkan David menangis sampai hatinya merasa puas. Sementara itu di rumah mewah keluarga Askara sedang ribut karena berita kecelakaan itu. Rhea dikabarkan tengah koma di rumah sakit akibat kecelakaan yang dia alami. Gadis itu sedang dalam rencana pelariannya dari rumah. Dia membawa mobil mini cooper hadiah ulang tahunnya dan sebuah koper berisi pakaian. Hendra Askara murka melihat berita itu tayang di televisi, memuat wajah cantik putrinya semasa hidup dan potret dirinya sendiri sebagai seorang pengusaha sukses yang selalu disorot media. Berita itu disampaikan seolah dirinya ikut terlibat dalam kecelakaan yang telah menewaskan seorang warga sipil itu. Hendra merasa malu dan marah. Rhea, putri semata wayangnya itu telah mencoreng nama baik yang telah ia bangun selama bertahun-tahun ini. Gara-gara kecelakaan ini, dia pasti akan kena dampaknya. Semoga saja rekan-rekan bisnisnya tidak menonton berita ini, harap Hendra. “Segera panggil sopir untuk mengantar kita ke rumah sakit!” perintah Hendra kepada Wina, istrinya. Wanita itu hanya mengangguk singkat dan bergegas pergi menuruti perintah Hendra. Setelah itu dia kembali lagi ke ruang tamu, menemani suaminya yang berdiri dengan raut wajah kusut. “Kenapa kau tidak mencegah dia untuk pergi?” tanya Hendra sambil tetap memunggungi istrinya. “Sudah,” sahut Wina. “Aku sudah melarangnya. Tapi dia tak mau mendengar. Kau tahu sendiri kan bagaimana sifat Rhea. Semakin dilarang, semakin nekat dia berbuat.” “Beginilah jadinya kalau aku membesarkan seorang anak yang tidak tahu diri,” ucap Hendra. Wina diam saja. Dia tak mau ikut disalahkan dalam kasus ini. “Lalu, bagaimana kondisinya? Apa dokter mengatakan sesuatu?” Wina menghela napas panjang. Nada suaranya lantas berubah muram. “Kata mereka Rhea hanya belum sadar. Tapi dia akan baik-baik saja jika dia siuman nanti,” sahutnya. “Anak sial!” umpat Hendra menumpahkan kekesalan. “Kenapa dia tidak mati saja?!” Wina tersentak mendengar ucapan kasar Hendra tentang putrinya sendiri. Dia mendongak menatap Hendra dengan kening berkerut dalam. “Jangan sembarangan bicara. Bagaimana kalau dia beneran mati? Apa kau tidak akan menyesal?” Hendra berdecih. Dia berbalik menatap istrinya dengan mimik muka serius. “Tidak. Aku pasti akan merasa lega setelah terlepas darinya.” “Mas!” pekik Wina sembari bangkit berdiri. “Kau ini keterlaluan! Biar bagaimanapun juga Rhea itu anakmu, darah dagingmu sendiri. Kenapa kau begitu kasar terhadapnya?” “Tanyakan saja padanya sendiri. Kenapa dia suka mencari masalah? Apa aku sudah salah mendidiknya selama ini? Kenapa dia senang membuat keributan yang tak perlu?” Wina tak punya jawaban untuk itu. Dia sendiri merasa kesal dengan tingkah Rhea yang sudah membuat mereka selalu kerepotan. Tapi, sekarang gadis itu sedang terbaring koma di rumah sakit. Dan membayangkan Rhea mati malah membuat Wina bergidik ngeri. “Rhea hanya seorang gadis remaja. Mereka memang suka mencari perhatian.” “Bah! Itu tak berlalu bagi Rhea. Dia sudah aku manjakan selama hidupnya. Aku berikan segala yang dia minta. Kurang perhatian bagaimana lagi? Malah dia sendiri yang mencari masalah di luar sana. Membuat aku malu saja! Aku tak tahu kenapa dia begitu membenci diriku, Win. Kurasa dia ingin membuat hidupku hancur saja.” “Tak mungkin Rhea berbuat begitu, Mas,” hibur Wina. “Andai saja aku tahu, apa sih yang dia inginkan sebenarnya. Apa tujuannya melakukan semua dosa itu kalau memang bukan untuk menyakiti aku. Apa aku sudah salah mendidiknya sampai dia menjadi begini?” Wina menggigit bibirnya sendiri dengan gugup. Dia mendekati suaminya dan menyentuh bahu pria itu dengan lembut. “Ini salahku. Aku yang seharusnya mendidik dia dengan baik. Tapi aku terlalu lalai dalam pekerjaanku sehingga mengabaikan tugasku yang utama, yakni mendidik Rhea. Kalau dia bertingkah buruk, itu sebagian karena aku kurang memberikan perhatianku padanya.” Hendra menoleh menatap wajah sendu Wina. Dia melihat kesedihan di mata istrinya itu. Perlahan amarahnya mereda, nada suaranya pun berubah. “Jangan menyalahkan dirimu begitu, Win. Aku tahu kau sudah berusaha. Rhea memang anak yang sulit. Aku bersyukur kau masih mau bertahan untuk mencoba.” Wina tersenyum kecil. “Iya, Mas. Aku akan berusaha untuk mencintai Rhea seperti anakku sendiri.” Hendra meraih perempuan itu ke dalam pelukannya. Dia berharap masalah ini akan segera selesai.Meita terbangun pukul empat pagi. Kedua matajya terbuka nyalang walau sebenarnya dia masih lelah. Secara otomatis, tangannya meraih ke sisinya, tempat biasanya si bayi tertidur pulas. Lalu dia bangun dan mencari-cari panik ketika tidak menemukan David maupun Keanu di tempat tidur. Lalu dia ingat. Oh benar, dia bukan sedang di rumah kontrakan dua petak yang disewa bersama David. Dia bahkan bukan Meita lagi. Dia adalah Rhea. Gadis tujuh belas tahun yang kaya raya. Meita tersenyum miris. Bukankah ini yang dia inginkan selama ini? Me-reset hidupnya, mulai dari awal lagi? Dia sudah mendapatkannya. Entah dengan cara bagaimana dia bisa bertukar tubuh dengan Rhea. Dia bisa merasakan kembali muda lagi, menjadi gadis tujuh belas tahun yang bebas. Tubuh muda yang tak sakit-sakitan, wajah cantik dan plus bonus kaya raya! Tapi entah mengapa ada sudut hatinya yang terasa hampa. Mungkin karena dia belum terbiasa dengan kesunyian ini. Dia merasa ada sesuatu yang hilang. Tangisan bayi dan ...
Kembali ke kamar, Meita merasakan kepalanya berdenyut-denyut nyeri. Ada sesuatu yang salah. Dia merasa sesuatu seolah sedang memperhatikan dirinya. Seolah dia sedang bersama seseorang meski kenyataannya dia sendirian. AC kamar itu membuatnya menggigil, walau tadinya tidak. Tapi dia tidak mematikan atau menaikkan suhunya. Dia hanya duduk di meja belajar. Menatap ponsel. Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Dia membuka laci-laci meja, berharap menemukan sesuatu. Dia membongkar buku-buku di rak, menurunkannya satu per satu. Tak ada apapun. Mengembalikannya lagi ke tempat semula. Membuka-tutup laci-laci, lagi. Hanya ada buku-buku catatan, pulpen, kotak pensil, aksesoris, gantungan kunci dan macam-macam benda perintilan yang tidak penting. Ayolah, Rhe. Pasti ada sesuatu. Semacam ... buku diary? Apa Rhea tipe anak yang tidak suka menulis diary? Meita dulu selalu menulis di buku diary tentang perasaannya. Buku yang kemudian berakhir di tong sampah. Meita mulai membuka-buka buku-buk
Kamar itu dipenuhi aroma surga. Itulah yang dipikirkan Meita. Hidungnya membaui kuat-kuat. Aroma parfum yang enak, tidak memualkan. Entah mengapa memberikan perasaan nyaman. Dia coba berbaring di tempat tidur, yang terasa seperti tumpukan selimut tebal. Empuk, seperti di atas awan. Tanpa sadar dia tersenyum. Apakah ini semua anugerah untuknya? Setelah semua kesulitan yang dia hadapi selama ini? Mungkin Tuhan akhirnya merasa kasihan, sehingga memberinya kesempatan kedua ini. Apapun itu, untuk saat ini dia akan menikmatinya saja. Oh, betapa enaknya hidupmu, Rhea! Kau pasti gadis paling beruntung di muka bumi ini. Bagaimana rasanya hidup dalam kenyamanan ini setiap hari? Trims, sudah membagi sedikit hidupmu denganku, batin Meita. Tuk! Tuk! Senyumnya terhenti. Saat itu dia yakin telah mendengar sesuatu. Sebuah suara samar. Dia menajamkan telinga. Tuk. Tuk. Tuk. Dia bangkit berdiri, agak kesusahan. Berjalan ke arah sumber suara sambil terus mendengarkan. Suara itu hilang-timbu
"Kamu mau dibantu ganti baju?" Pertanyaan itu menyentak Meita dari lamunan. Dia baru sadar bahwa mereka sedang mengamati dirinya. Meski bingung, dia menggeleng. Tangannya mengambil pakaian dari tangan Wina dan segera masuk ke dalam kamar mandi dengan memakai kruk. Kamar mandi itu cukup luas. Dengan keramik putih mengkilat. Kesannya mewah. Bahkan ada sebuah cermin besar panjang yang memantulkan bayangan seorang gadis kurus pucat dengan rambut riap-riapan yang sedang membelalak padanya! "Aaaargh!" Meita terlompat mundur dan menabrak pintu. "Rhea, kau baik-baik saja?" Suara Wina dari balik pintu terdengar cemas. "Ada apa disana?" Untuk sesaat jantungnya berlompatan. Dia terus menatap bayangan di cermin itu, yang jelas-jelas bukan dirinya. Siapa itu? Perlahan dia mengangkat tangannya, menatapnya gemetar. kedua tangan itu bukan tangannya. Dia menyentuh wajah, terasa halus dan berbeda. Hidungnya mancung dan mungil, rambutnya hitam lebat lurus sepinggang. Terasa halus walaupun ac
“Dokter, apa dia mengalami amnesia?” Hendra Askara bertanya dengan nada heran. Pria paruh baya itu menatap dokter meminta penjelasan. Sikap Rhea sungguh di luar dugaan. Hendra bisa memahami jika putrinya akan berontak dan marah-marah jika dia tidak mau menuruti perintah papanya. Dia bahkan mengira Rhea akan berusaha kabur darinya. Tapi, kenapa dia justru bersikap seolah tak mengenalinya? Apakah ini salah satu tipu daya sebagai usaha untuk lolos dari masalah ini? Ataukah ini akibat kecelakaan yang meninggalkan cedera di kepala anaknya? “Saya rasa tidak, Pak.” Dokter yang berdiri tak jauh dari Rhea menjawab. “Lalu kenapa dia tidak dapat mengenali kami?” Dokter Rima, yang baru saja merasa yakin bahwa pasiennya cukup baik untuk dibawa pulang mendadak merasa heran. “Berdasarkan pemeriksaan CT, kami dapat menyimpulkan bahwa tidak ada trauma dalam. Dia hanya mengalami benturan kecil saja, berkat Airbag yang berfungsi dengan baik. Jadi kecil kemungkinan Rhea bisa mengalami amnesia,
Meita membuka kedua matanya dengan berat. Kepalanya terasa pusing dan sakit sekali. Dia merasa seperti sudah dipukuli dengan palu godam. “Argh ....” Meita mengerang pelan seraya memegang kepalanya. Di area sekitar pelipis terbalut perban sampai memutar mengitari seluruh kepalanya. Dia terus meraba-raba, sampai merasakan sebuah cairan merembes keluar mengenai jari-jarinya. Meita mengernyit, berharap cairan itu bukanlah darah. Ditatapnya jari-jarinya yang berlumur sesuatu berwarna kemerahan. Dia berpikir mungkin itu adalah betadine. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh. Dia mencoba memikirkan apa yang berbeda. Sejak kapan jariku menjadi lentik dan terawat? pikir Meita heran. Dia membolak-balik jemari tangannya dan mengamati. Jari-jarinya sungguh indah, mirip jari tangan para model yang mulus dan tak bercela. Seingatnya dia memiliki jari tangan yang pendek dan bulat, bukan tipe yang panjang dan lentik seperti ini. Lagipula, sejak kapan dia mengenakan cat kuku berwarna m







